
Pagi ini seluruh keluarga Alisa dan keluarga besar Gilang begitu sibuk menyiapkan acara pernikahan dua orang berbeda usia itu.
Untuk acara ijab qobul dilaksanakan tertutup. Sedangkan untuk resepsinya sudah disediakan di aula hotel milik Bhaskara Group.
Alisa sedari subuh sudah selesai mandi dan mulai siap-siap. Sebelum mengenakan pakaian untuk acara ijab qobul nya, Alisa terlebih dahulu sholat Dhuha pada pukul setengah tujuh.
Setelah siap, Alisa mulai dirias oleh MUA yang dikirim kan oleh Mama Dewi untuk meriasnya.
Ia tidak ingin kalau calon menantunya itu make-up nya luntur gara-gara menangis nantinya.
Karena di acara ini akan banyak kejutan yang Gilang berikan untuk sang istri tercintanya. Sedari pagi Gilang sudah melafalkan bahan ijab qobul untuk Alisa dengan secarik kertas putih yang ia terus lafalkan sejak tadi.
Keringat dingin mengucur di dahinya. Ia begitu gugup saat ini. Padahal ini adalah pernikahan keduanya dengan Alisa.
Begitu pun sebaliknya. Papa Angga menggeleng kan kepalanya melihat Gilang. Papa Yoga baru tiba disana, setelah semua selesai.
Dan sekarang mereka akan dibawa ke aula hotel oleh mobil keluarga Gilang. Dengan tiga mobil Alphard milik Papa Angga, dua mobil pribadi Gilang, dan tiga buah sedan Avanza sedang melaju ke hotel tempat acara pernikahan Gilang dan Alisa.
Butuh waktu setengah jam untuk tiba disana. Setibanya disana, mereka semua di tuntun untuk menuju meja ijab qobul.
Tiba di meja ijab qobul, Para penghulu sudah menunggu nya disana. Secarik kertas ia sodorkan kepada Papa Yoga untuk ia lafalkan.
Papa Yoga menerima secarik kertas dan membaca nya. ''Astaghfirullah!! I-ini... Nak??'' pekik Papa Yoga begitu terkejut dengan mahar yang Gilang berikan untuk Alisa.
Gialng yang sedang duduk dihadapan Papa Yoga terkekeh kecil. ''Ini tidak seberapa dengan pengorbanan putri Papa untuk menunggu Gilang selama lima tahun ini,'' imbuh Gilang dengan tersenyum lembut menatap Papa Yoga.
Papa Yoga mematung melihat tulisan itu. Masih dengan terkejut, ia mencoba lafalkan tulisan itu agar ijab qobul antara Gilang dan Alisa sah nantinya.
Sementara diluar sana Para tamu sudah tiba di ballroom hotel tempat acara diadakan. Mereka masuk dengan pengawasan ketat.
__ADS_1
Sebelum masuk, mereka harus menyerahkan bukti undangan yang mereka terima dari sang pemilik acara.
Seperti itu contoh undangan nya. Jangan dibaca nama yang terpajang disana π€£π€£π€£ anggap diatas nama itu menjadi nama Gilang dan Alisa. ππ
Setelah mereka menyerahkan undangan itu, baru mereka bisa masuk. Yang di undang bukan hanya pengusaha terkenal saja.
Namun tamu tamu biasa pun di undang oleh Mama Dewi untuk memeriahkan pernikahan Alisa.
Satu yayasan yatim piatu di daerah Medan, di undang oleh Mama Dewi untuk melakukan pertunjukan. Semua itu sudah diatur oleh sang Nyonya Dewi Bhaskara.
Sementara di kediaman Alisa, saat ini Andi dengan menunggu dirinya. Alisa keluar dari kamar tamu rumah mereka, dengan perlahan.
Andi yang melihat kedatangan Alisa terkesima. Ia menatap tanpa kedip pada Alisa. Alisa terkekeh melihat nya.
''Andi??''
''Andi!! Potong gaji!!'' seru Alisa dengan suara naik satu oktaf.
Andi terkejut. ''Hah? I-iya Bos! Ba-baik! Saya tidak akan melihat Mbak Alisa lagi! Jangan potong gaji! Saya menunduk!'' sahut Andi spontan.
Alisa tertawa sarkas hingga Andi menoleh padanya. Lagi, Andi terkesima dengan tawa Alisa. Sangat cantik! celutuk nya dalam hati.
''Ayo ah! Buruan Andi Prajaditya! Saya mau ke nikahan ini!'' seru Alisa. Sengaja untuk menggoda Andi.
Alisa berjalan tanpa memakai high heels yang berukuran lima centi. Ia berjalan dengan menjinjing bajunya.
Terlihat kaki Alisa saat ini sudah memakai kaos kaki senada dengan kulitnya. Tapi tetap saja terlihat diakibatkan karena warna Henna itu masih terlihat jelas oleh mata Andi.
__ADS_1
Andi tersenyum melihat itu. ''Di pakai atuh Mbak sepatutnya? Masa' pengantin nya nyeker?''
Alisa terkekeh. ''Nanti saja saat sampai di hotel! Sekarang mah saya pakai sendal jepit aja dulu.'' jawabnya.
Dengan segera ia masuk kedalam mobil itu dan duduk dengan tenang. Di susul oleh tiga MUA dan tiga perias baju lainnya.
Sementara Alisa masuk ke mobil dan melaju meninggalkan rumah mereka, satu buah mobil pickup masuk ke pekarangan rumah itu.
Dengan segera mereka mengangkat semua barang yang akan mereka gunakan nanti dirumah itu. Andi mengulum senyum saat melihat para pekerja suruhannya itu begitu sigap melaksanakan tugasnya.
Satu jam kemudian, Andi dan Alisa tiba hotel tempat diadakan acara itu. Seseorang menuntun mereka untuk menuju sisi lain dari hotel, Karena acara ijab Qobul itu akan segera dimulai.
Alisa berjalan menuju kamar yang sudah di persiapkan untuknya. Ia duduk setelah pertigaan itu berlalu.
Di depannya saat ini, terpampang sebuah Televisi ukuran 50 inci terpampang dihadapan Alisa.
Ia begitu gugup, hingga tidak melihat jika Gilang sedang melafalkan ijab qobul secara berulang sebelum acara itu di mulai.
Alisa tertunduk. Ia begitu gugup saat ini. Seorang MUA mendekati nya untuk membetulkan letak mahkota yang terletak di hijab Alisa karena sedikit bergeser.
''Nyonya cantik sekali! Tuan Gilang pasti pangling melihatnya!'' ucap salah satu MUA itu.
Alisa tersenyum, ''Terimakasih pujiannya. Tapi saya tidak merasa cantik. Segala sesuatu Yang cantik adalah milik Allah. Saya hanya di titipkan sementara kecantikan ini sebelum diambil kembali oleh Nya. Setiap wanita itu terlahir cantik. Cantik parasnya, cantik juga akhlaknya. Seorang wanita dikatakan cantik, jika perilaku nya juga cantik. Cantik itu relatif. Dan sesuatu yang harus kita syukuri sebab kecantikan ini adalah nikmat yang Allah berikan untuk kita. Maka dari itu bersyukur kepada Nya. Itu saja dariku. Eh? Kayak ceramah ya?'' imbuh Alisa, kemudian terkekeh-kekeh.
Para MUA pun ikut terkekeh-kekeh bersama Alisa. Seseorang disana tertegun melihatnya.
''Masyaallah .. beruntung sekali Gilang mendapatkan wanita sepertimu.. aku turut berbahagia. Kita akan bertemu nanti di pelaminan untuk pertama kalinya, Mbak Alisa..''
Setelah mengucapkan itu, ia berlalu ke aula dimana acara sakral Gilang dan Alisa akan segera terlaksana.
__ADS_1
πΈπΈπΈπΈ
Masih ada lagi. Di tungguin yah! π