
Setelah tugas mereka selesai, yaitu membantu Alisa membuat kue timpan labu pesanan Bude Yuli tetangga Alisa.
Sekarang waktunya untuk istirahat.
''Kakak didalam sama Mak, kamu dan Lana tidur diluar! kelambu nya masih bagus, kok. Jadi aman, kalian berdua tidak akan terserang serangga penghisap darah!'' tukas Alisa membuat mereka bertiga bingung.
''Serangga penghisap darah??'' beo Lana.
''Hooh. Apa itu artinya nyamuk??'' tanya Ira. Dan Alisa tersenyum.
''Pintar! ayo sekarang kalian istirahat ya! besok sekolah.'' ujarnya seraya berlalu meninggalkan Gilang dan Lana disana.
Saat Alisa ingin berlalu masuk kamar, Gilang menghentikan nya.
''Tunggu Mbak! boleh kita bicara sebentar??'' tanya Gilang dengan raut wajah sendu.
Alisa tersentak. Dari tadi ia tidak memperhatikan raut wajah Gilang. Karena sangat fokus pada pekerjaan nya.
''Ada apa? Apa yang ingin kamu bicarakan? Besok aja ya? Ini sudah sangat larut, lihatlah! Lana sudah mendengkur! tuh, Ira juga sudah terlelap! cepat banget mereka tidurnya. Ck ck!'' Alisa berdecak melihat kelakuan kedua anaknya.
''Sebentar aja Lis! aku mohon? aku sangat butuh seseorang untuk mengurangi beban di pundak ku ini. Sebentar aja ya? Please..'' pintanya dengan memelas.
Alisa yang melihat tatapan Gilang, ia jadi bertanya dalam hati. 'Ada apa? kenapa matanya itu menunjukkan kesedihan yang mendalam? Lalu kenapa? rasanya hatiku ikut merasa kan sakit yang dirasakan nya??'
''Baiklah, tapi sebentar! kayaknya Annisa nangis deh? Saya susui dulu ya? tak apa kan??'' tanya nya.
''Ya,'' sahut Gilang.
Setelah nya Alisa masuk ke kamar dan menyusui Annisa. Cukup lama bayi kecil itu menyusu. Hingga saat Alisa selesai, ia melihat Gilang masih duduk bersandar di dinding dengan mata menatap keatas.
Tatapan matanya seperti kosong. Alisa menghampiri Gilang.
''Gi...'' panggilnya
Gilang tersentak, ia menoleh dimana Alisa berdiri sedang menatapnya. Gilang melambaikan tangannya.
''Sini!'' serunya. Alisa menurut dan duduk disebelah Gilang.
''Apa yang ingin kamu bicarakan??'' tanya Alisa.
Gilang menatapnya sendu. ''Bolehkah aku tidur dipangkuan mu Lis?? Sebentar.... saja! itu pun jika kamu mengijinkan!'' ujar Gilang.
Alisa menatapnya tanpa kedip, ''kenapa?? Apakah ada sesuatu yang menganggu pikiran mu??'' tanya nya.
__ADS_1
Gilang menggeleng. ''Nggak ada.. aku hanya sedang merasa lelah..'' jawab nya.
Setelah nya ia ingin berbaring di pangkuan Alisa, tapi ia bertanya sekali lagi, '' bolehkah aku tidur dipangkuan mu Lis??'' tanya nya lagi.
Alisa terpaksa mengangguk. Hanya sebentar kan pikirnya. Lalu, Gilang merebahkan kepalanya dipangkuan Alisa.
Alisa duduk bersila, otomatis kaki nya pun terlipat. Gilang merebahkan kepala tepat di depan pusat intinya. Alisa berdebar.
Baru kali ini ia memangku kepala seorang pemuda. Dulu, ketika dengan Emil jangan kan pangkuan, di peluk pun jarang. Ada sih saat habis melakukan ritual saja.
Alisa menggeleng. Gilang tanpa sadar menggoyang kan sedikit kepalanya, mencari posisi yang nyaman.
Setelah menemukan tempat yang nyaman, Gilang mendongak, yang juga Alisa menunduk sedang menatapnya.
Gilang tersenyum. ''Terimakasih! karena telah menerima diriku yang masih kekanakan ini!'' ujarnya seraya terkekeh.
Dalam kekehan nya, sebutir bening mengalir dari sudut matanya. Alisa yang melihat ada air mata yang mengalir mengusapnya.
Begitu Alisa mengusap, tangan Gilang menyentuh tangan Alisa, dan menggenggam nya. Gilang membawa tangan Alisa ke bibirnya untuk di kecupnya.
''Apa pun yang terjadi, jangan pernah tinggalkan aku Lis.. aku tak bisa hidup tanpa mu! aku akan gila! bila itu terjadi pada ku! tolong Lis.. jangan pernah tinggalkan aku ya..'' pintanya pada Alisa.
Alisa yang melihat Gilang menangis, ikut merasakan sesak di dadanya.
''Hidupku terlalu rumit Lis! percayalah bahwa selamanya tidak akan ada wanita lain yang menggantikan posisi mu dihatiku! aku sungguh tersiksa dengan semua ini! aku udah nggak sanggup lagi! aku tidak bisa menahannya lebih lama!'' seru Gilang, dengan suara pelan.
Gilang berbalik dan memeluk tubuh Alisa. Wajahnya tepat berhadapan dengan perut Alisa. Gilang memeluknya erat. Gilang tersedu, Alisa tau itu.
''Seberat apa beban yang kau tanggung Gi.. hingga kau menangis tersedu seperti ini??'' lirih Alisa di telinga Gilang.
Gilang semakin mengeratkan pelukannya. Tubuhnya berguncang. Alisa iba melihatnya.
''Apakah aku tidak boleh tau? Apa yang sebenarnya sedang terjadi??'' tanya Alisa lagi.
Gilang tak menyahutinya, ia masih saja tersedu. Dalam isakannya itu, Alisa mendengar gumaman Gilang.
''Aku nggak kuat Lis... bolehkah aku mati saja? Aku ingin menyusul Oma yang telah tiada..'' lirih Gilang.
Alisa terkejut. Ia menggeleng, ''nggak! kamu nggak boleh pergi! umur mu masih muda! masih sangat panjang untuk kau lalui! seberat apapun masalah yang kau hadapi, kau harus bersabar!'' seru Alisa dengan bibir bergetar.
Gilang semakin mengeratkan pelukannya. ''Aku nggak sanggup Lis... aku terlalu lemah untuk menerima semua ujian ini.. aku nggak kuat... tolong aku Lis..'' lirih Gilang lagi. Ia masih saja membenamkan wajahnya pada perut Alisa.
Baju Alisa basah di bagian perut. Hangat terasa disana karena cairan dari air mata Gilang yang tumpah di baju nya.
__ADS_1
''Hiks.. Apa yang bisa aku lakukan untukmu, agar kau tidak seperti ini lagi?? Adakah caranya Gi..??'' tanya Alisa.
Gilang mendongak. Wajah yang penuh dengan air mata. Alisa sakit melihatnya. Rasanya seperti ada batu yang menghimpit dadanya nya saat melihat tatapan Gilang padanya.
''Ada!''
''Apa??''
''Menikahlah denganku!'' seru Gilang
Deg!
Deg!
Alisa terkejut dengan ucapan Gilang.
''Maksudnya?? Me-menikah??'' beo Alisa. Ia jadi tergagap menjawab ucapan Gilang.
''Ya! hanya itu caranya! aku tak butuh yang lain lagi!'' ujar Gilang lagi.
''Ta-tapi.. kau masih sekolah Gi! mana mungkin kita menikah! sedangkan aku...'' ia terdiam. Tak ingin melanjutkan lagi.
''Janda maksudmu??''
''Hah? bu-bukan masalah itu!''
''Terus apa Lis?!'' tanya Gilang tak sabaran.
''A-aku hanya merasa jika aku tak pantas dengan mu.. umur kita terpaut sangat jauh Gi.. kamu itu pantasnya menjadi Abang Lana dan Ira.. buka ayahnya..'' lirih Alisa.
''Hah! umur bukan jadi penghalang untuk hubungan kita Lis! Apakah kamu memang tidak menginginkan pernikahan lagi? Karena masa lalu mu? termasuk tidak ingin menikah dengan ku??'' terka Gilang.
Membuat Alisa bingung harus jawab apa. Sejauh ia mengenal Gilang, pemuda ini memang sangat baik dan royal tentunya.
Entah kenapa ada sesuatu yang Alisa tidak tahu dengan hatinya. Alisa menghela nafasnya.
''Bukannya aku tidak mau menikah dengan mu GI.. hanya saja aku tidak pantas bersanding denganmu.. terlepas dari masa lalu ku, itu memang menjadi poin utama. Karena aku belum bisa menyembuhkan luka hatiku! Sangat sulit Gi.. untuk hidup mandiri tanpa suami.. jika aku menikah denganmu, apa yang akan dikatakan oleh tetangga ku disini? Tak menutup kemungkinan jika Mereka akan menganggap, aku suka sama berondong! dan hanya mengincar hartanya saja!''
Eh?
💕
TBC
__ADS_1