Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Kenapa bukan Papi yang jadi ayah kandung Abang??


__ADS_3

''Abang...'' panggil Gilang. Ia melihat Lana yang terus saja menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


''Hiks.. Papiii!!!!'' tangis Lana pecah. Tak tahan ia bangkit dan menubruk Gilang.


Duk..


''Ya Allah.. Abang kenapa?? Kok nangis??'' tanya Gilang panik.


''Hiks.. hiks.. Papi...''


''Iya.. ini Papi! Abang kenapa?? Cerita sama Papi! Ada salah kah dari ucapan Papi, hem?? Hingga Abang menangis seperti ini??'' tanya nya lagi.


Lana tak menyahut, ia masih larut dalam pelukan Gilang. Alisa yang mendengar Lana menangis, berlari keluar.


Ia mematung melihat Lana berada dalam pelukan Gilang. Dengan Gilang terus mengusap kepala Lana dengan sayang.


Alisa tertegun melihatnya.


''Hei! sini dulu lihat Papi! Apakah ucapan Papi salah ya?? Atau ada yang mengganjal dihati Abang??'' tanya Gilang, ia masih saja mendesak Lana untuk berbicara.


Dalam pelukan Gilang, Lana menggeleng. ''Ng-nggak! Papi nggak sa-salah! Abang sa-sayang ba-banget sa-sama Papiii...'' ucapnya dengan sesegukan.


''Lah loh tambah deras ini nangisnya! Aduh.. Abang kenapa sih?! Ayo ngomong! Papi tau itu.. Papi juga sayang Abang! melebihi diri Papi sendiri!'' ujar Gilang masih dengan mengusap kepala Lana.


''Hiks.. hiks.. Papiii.. huaaa.... aaa.. Abaaaang... sa-sayaaang Papiii.. huaaaa...'' Lana menangis sejadi jadinya.


Alisa yang melihatnya pun ikut menangis. Begitu juga dengan Ira. Ia sesegukan melihat Lana menangis seperti itu.


Apa yang dikatakan Lana sudah mewakili perasaan nya saat ini. Bahwa ia sangat sayang dan beruntung memiliki ayah sambung seperti Gilang.


Walaupun ia tahu, jika Gilang masih menjadi calon ayah sambungnya, itu tak kan merubah apapun. Ia menyayangi Gilang seperti ayah kandungnya.


''Kenapa bukan Papi saja yang menjadi ayah kandung Abang??''


Deg!

__ADS_1


Alisa tersentak mendengarnya ucapan Lana. Begitu juga dengan Gilang.


Gilang mematung. Tubuhnya terkunci. Tangannya terasa kaku untuk mengelus kembali kepala Lana.


Gilang menatap Lana yang juga tengah menatapnya.


''Kenapa?? Kenapa Abang bukan terlahir dari ayah seperti Papi?? Kenapa Abang, harus memiliki ayah seperti ayah Emil?? Abang maunya, Papi yang menjadi ayah kandung Abang! bukan ayah Emil! Berhari-hari, bahkan berbulan-bulan Abang selalu memikirkan hal ini?? Kenapa Allah memberikan ayah Emil sebagai ayah kandung Abang?? Kenapa bukan Papi??'' lagi Lana bertanya, dengan mata yang sembab.


Gilang menatap nanar pada Lana. Wajah yang tadinya tegang, kini berubah menjadi sendu.


''Karena kelahiran Abang memang sudah di tentukan! Sudah menjadi kodrat Abang terlahir dari ayah Emil, bukan Papi! Karena memang takdir sudah mengikat kita dengan seperti ini! Jauh sebelum kita dipertemukan, Mak sama Papi sudah lebih dulu dipertemukan! Kami berdua berjanji, jika suatu saat kami akan mengikuti keputusan takdir! Kami tidak bisa menentang nya sayang! Kamu memang terlahir untuk menyatukan kami berdua.'' Imbuhnya seraya menatap mata Lana.


Lana memandangi Gilang dengan wajah sendunya.


''Maksud Papi, Mak sama Papi memang sudah ditakdirkan bersama namun terlebih dahulu kalian harus menjalani takdir kalian masing-masing, begitu??'' tanya Lana.


Gilang tersenyum, ''pintar! Karena itulah kita berdua dipersatukan disini! Abang ingat, bagaimana adek menangis saat Papi akan pergi??''


Lana mengingat bagaimana Annisa menangis hingga demam, karena merindukan Gilang.


''Itu karena adek tau, jika orang selama ini ditunggu nya sudah kembali! Kelahiran kalian bertiga memang sudah ditakdirkan oleh yang maha kuasa. Kalian terlahir dari ayah Emil, tapi yang menjadi ayah kalian seutuhnya adalah Papi!'' jelas Gilang.


''Percayalah sayang.. walaupun Kalian bertiga tidak terlahir dari Papi, tapi Papi tetap menganggap kalian bertiga seperti anak kandung Papi!'' ujarnya lagi.


''Tapi Abang maunya Papi yang jadi ayah kandung Abang!'' serunya lagi.


''Tidak perlu ada ikatan darah diantara kita agar bisa menjadi ayah dan anak! Seperti ini saja sudah menunjukkan jika kalian bertiga adalah anak kesayangan Papi!''


''Papi yakin??'' tanya Lana.


''Ya! seratus persen Papi yakin!'' sahut nya tegas.


''Bagaimana kalau seandainya, Papi memiliki putra dari perempuan lain, maksud Abang jika nanti menikah, tapi tidak dengan Mak Abang, Akankah Papi menyayangi kami seperti putra kandung Papi?? Secara Papi sudah memiliki Istri yang lain..'' lirih Lana dengan pelan di ujung Kalimat nya.


Gilang terdiam. Begitu juga dengan Alisa dan Ira. Gilang menghela nafasnya.

__ADS_1


''Jangan berpikir sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi. Ya.. kalaupun nanti Papi, memiliki anak dari wanita lain. Bagi Papi, kalian tetaplah anak Papi! Jangan kalian mengira, jika Papi tidak akan menyayangi kalian lagi karena kehadiran nya. Papi! Tetaplah Papi kalian bertiga! Ingat itu!'' tegas Gilang.


Lana menatap Gilang dengan instens. Mencari kebohongan dibalik ucapannya itu. Setelah ia tahu, jika Gilang jujur dan tulus dengan perkataan nya, Lana memeluk Gilang lagi.


''Terimakasih, Papi mau menerima kami yang bukan siapa-siapa ini! Abang sangat bersyukur memiliki Papi, seperti Papi Gilang! Sampai kapanpun Papi tetaplah Papi Abang! Abang sangat, sangat menyayangi Papi! Jangan pernah tinggalkan Kami, Pi!'' ujar Lana dengan memeluk Gilang dengan erat.


''Ya, Papi juga sangat, sangat menyayangi kalian bertiga! Bagi Papi, kalian adalah harta yang sesungguhnya yang sengaja dititipkan kepada Papi melalui ayah Emil. Ingat! Abang tidak boleh berbicara seperti itu lagi ya?? Bagaimana pun, beliau tetaplah ayah kandung Abang! Hormati dia sama seperti Abang menghormati Papi!''


Lana mengangguk, ''Ya.. Abang akan ingat itu! Tapi untuk sekarang dan selamanya... Papi adalah ayah Abang! Jadi.. jika ada yang bertanya seperti ulat bulu kemarin, Abang bilang aja kalau Papi, Papi nya Abang! ya... walaupun ulat bulu itu nggak percaya sih..''


Gilang tergelak, ''ulat bulu kan gatel bang!''


''Ya iyalah gatel! tuh sama kayak cewek kemarin yang gatel datangin Papi! Udah tau ada Abang disana! eh? masih aja ngeyel! untung aja nggak Abang bilang dia ulat bulu!''


Lagi, Gilang tergelak, ''haha... kamu ada ada aja bang! nggak lihat kamu wajahnya memerah karena menahan marah??''


''Biarin! Siapa suruh dekatin Papi, Abang?? Belum lagi pakai baju kekurangan bahan kayak begitu! Nih, ya! Kalau Abang nanti udah besar kayak Papi! Abang akan cari perempuan yang sama Kayak Mak! Nggak ada perempuan yang bisa menandingi Mak abang! Jika pun ada.. mereka itu wanita pilihan!'' ujarnya santai, membuat Alisa melotot kan matanya.


Gilang tersenyum, ''ya... memang wanita seperti Mak Abang tidak ada duanya! Walaupun dia sudah memiliki putra dan putri seperti kalian, tapi hati dan kecantikannya tulus dan murni. Papi suka itu!''


''Heleh! kecil-kecil udah mikirin cewek! sekolah dulu yang bener! baru mikirin cewek! Bahagia kan, Mak dulu.. baru setelahnya kamu boleh menikah! Selagi kakak ada! Kakak nggak akan biarkan Abang pacaran! Pacaran itu dilarang dalam Islam! Tapi pacaran setelah pernikahan itu boleh! Halal bagi kita! Kamu dengar itu Bang?!''


''Ya.. ya.. ustadzah Ira Sarasvati! saya mendengar ceramah ustadzah! telinga saya masih dengar kok! Nggak budeg!'' cebiknya.


''Hishh.. dibilangin malah katanya ceramah! gimana sih?!'' sungut Ira.


Gilang dan Alisa tergelak. Anak-anak Alisa ini selalu membuat nya tertawa. Walau ada perkataan nya yang sedikit menyentil hati Gilang.


Tak apa.. semua itu butuh proses. Dan sekarang sebelum waktunya tiba, Gilang akan berpuas diri dengan keluarga kecil ini.


Karena setelah ini, mungkin mereka akan jauh dalam waktu yang lumayan lama. Semoga saja semua itu hanya pikiran Gilang, yang sedang dilanda kecemasan.


Ya, semoga saja!


💕

__ADS_1


TBC


__ADS_2