Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Bahagia bersamamu


__ADS_3

Keseharian bersama si kembar membuat Alisa dan Gilang semakin bahagia. Hari ini adalah hari libur.


Rencananya, mereka akan menginap dirumah Oma Dewi. Karena Rayyan sudah sangat merindukan adik kembarnya itu.


Saat ini usia si kembar sudah berumur 18 bulan yang berarti sudah satu setengah tahun.


Dan ya, bayi kembar itu sedang begitu lincahnya kesana kemari tanpa melihat di depan mereka itu ada kerikil atau gundukan. Yang penting, jalan!


Bayi kembar itu sedang dalam masa-masa aktifnya. Inilah saat-saat yang ditunggu Alisa dan Gilang. Melihat bayi kembar mereka tumbuh dengan sehat dan begitu pintar dalam mengenal sesuatu.


Mbak Sus dan Tina dengan setia menemani mereka. Begitu juga dengan Rayyan. Putra sulung Gilang itu begitu senang saat melihat kedua adiknya berlarian mengejarnya.


''Hahaha... adek jatuh! Hihihi.. Mamiiii... adek Nara makan eek!!''


''Loh?''


''Astaghfirullah!! Adek makan apa nak?'' tanya Alisa pada Nara.


Bayi kecil itu hanya tertawa saja melihat raut wajah Alisa begitu panik. ''Mi.. mi.. mi.. mamam! eek!!'' celutuk nya.


Membuat Rayyan yang sedang di kejar oleh Algi tertawa terbahak. ''Hahaha.. adek mamam eek!!'' pekiknya sambil tertawa dan berlari.


''Abangggg.... ii..tuuuttt....'' pekik Algi.


Bukan malah berhenti, Rayyan malah semakin tertawa terbahak saat berhasil mengerjai Algi. ''Hahaha.. adek, Abang tinggal! Abang mau beli buah sama bang Lana!''


Algi berhenti. Ia menoleh kesana kemari. ''Bang Nana? Nana??'' tanya Algi dengan bahasa yang tidak di mengerti oleh semua orang.


''Hahaha.. Bang Lana nggak ada. Bang Lana belum pulang! Itu Papi! Papiiiiii..'' pekik Rayyan saat melihat mobil Gilang baru saja pulang dari kantor.


Tin.


Tin.


Algi dan Nara menoleh secara bersamaan. Mereka berlari bersama saat mengenali mobil Gilang.


''Tunggu nak.. Papi belum turun! Haisshh...'' gerutu Alisa sambil berlari mengejar kedua anaknya.


Gilang masuk perlahan, setelah melihat Algi dan Nara diambil oleh Alisa dan Tina. Sedang mbak Sus, menarik tangan Rayyan untuk menepi.

__ADS_1


Gilang terkekeh saat melihat ketiga anaknya saling berebutan ingin di gendong olehnya. Terutama Nara.


Bayi perempuan mirip Annisa itu begitu semangat ingin mendatangi Gilang yang baru saja turunan dari mobilnya.


''Pa.. Piiii... ndong!'' kata Nara.


Gilang tertawa, Alisa juga begitu. Gilang mendekati Alisa dan mengucapkan salam. ''Assalamu'alaikum sayang.. gadisku!'' seru Gilang pada Nara.


Bayi kecil yang sedang berada dalam gendongan Alisa.


''Waalaikum salam Papi..'' jawab Alisa dengan mengecup tangan Gilang. Gilang tersenyum, dengan segera Alisa menyerahkan Nara pada Gilang.


Algi pun ikutan juga. Oma Dewi dan Opa Angga yang baru saja tiba dari dalam terkekeh melihat kelakuan ketiga cucunya itu.


''Assalamu'alaikum Pa, Ma..''


''Waalaikum salam... baru pulang? Gimana sama proyek kita yang di Batam? Berjalan beres?'' tanya Opa Angga setelah melihat Gilang duduk dengan memangku si kembar.


Kedua bayi kembar itu begitu senang ketika sedang berpangku pada Papinya. Algi menepuk pipi Gilang, sedang Nara menyurukkan wajahnya pada leher Gilang.


Membuat Gilang terkekeh. Begitu juga dengan Papa Angga dan Oma Dewi. Sementara Alisa sedang ke dapur untuk mengambil kan minuman untuk Gilang dan kedua mertuanya itu.


Setelah selesai, ia kembali dengan nampan berisi air putih, teh dan juga cemilan buatannya tadi saat kedua bocah usil itu tertidur.


''Ya, ya, ya.. mamam eek!'' celutuk Nara.


Membuat Gilang melototkan matanya. ''Kok eek?? Kenapa ini? Adek makan eek? Siapa yang kasi nak??'' tanya Gilang pada Nara.


Nara tertawa melihat wajah panik Gilang. Sama seperti Alisa tadi. ''Hahaha.. tak da Papi iii!! ndong! Ndong Pi!!'' kata Nara pada Gilang.


Papa Angga tertawa begitu juga dengan Mama Dewi. Alisa pun sama. Mereka begitu bahagia saat mendengar celutukan Nara.


Gadis kecil kesayangan semua orang tapi tidak di manja. Alisa tidak mau memanjakan semua anaknya.


Puas bercakap-cakap ria dengan kedua orang tuanya, kini Gilang dan Alisa sedang berada dikamar nya.


''Sayang..''


''Hem?''

__ADS_1


''Terimakasih! Karena kamu sudah mau melahirkan bocah usil seperti Nara dan Algi. Begitu juga keempat anakku yang lain. Aku bahagia bisa hidup bersama mu. Impian yang dulu pernah kutulis disebuah buku. Buku yang entah dimana keberadaan nya.'' Ucap Gilang sambil terkekeh.


Alisa pun ikut terkekeh. Ia duduk disamping Gilang dan menatap pujaan hatinya itu dengan senyum teduh.


''Aku juga bahagia bisa menikah dengan pemuda brandal, suka tawuran, dan juga suka paksa! sepertimu!''


Gilang tertawa.


Cup.


''Tapi.. walaupun kamu dulunya seperti itu, aku tidak pernah kecewa ataupun marah padamu. Aku bahagia. Saaangggaatt.... bahagia bisa menikah dengan pemuda yang terpaut usia jauh denganku. Kadang aku berpikir, kenapa hidupku dulunya begitu pelik hingga aku disebut sebagai pembawa Sial oleh mantan suamiku. Tapi itulah yang namanya hidup.''


''Aku dan kamu dipertemukan pada waktu yang memang sudah di tentukan. Waktu yang sudah menjadi goresan takdir kita berdua. Ya... walaupun pertemuan pertama itu tidak mengesankan. Tapi aku senang dan bahagia bisa bertemu pemuda Sholeh dan baik sepertimu, Gi... terimakasih sayang .. aku bahagia hidup bersama mu. Sangatt bahagia!''


Gilang tersenyum. ''Begitupun denganku. Aku pun bahagia hidup bersamamu. Kita akan menua bersama dan kita akan tiada bersama-sama. Karena inilah permintaan ku pada yang kuasa jika suatu saat, aku diberikan kesempatan bisa memiliki mu, maka kita berdua akan tiada bersama saat ajal menjemput kita nanti.''


''Dan sebelum itu terjadi, izinkan aku agar bisa membuatmu selalu bahagia hidup bersama ku. Jika aku punya salah, tolong katakan. Karena manusia tak luput dari rasa salah. Begitu juga denganku.'' Imbuh Gilang dengan tersenyum lembut pada Alisa.


Alisa pun ikut tersenyum. Senyum yang selalu memikat hati Gilang saat pertama kali melihatnya tersenyum.


''Tentu, aku pun begitu. Maafkan segala kesalahanku yang dulu maupun sekarang. Izinkan aku untuk bisa mendampingi mu dalam hidup sementara di dunia ini. Aku yakin, jika memang kita ditakdirkan untuk hidup bersama, maka matipun akan tiada bersama mu. Aku bahagia bersamamu, Gilang Bhaskara. Cinta pertama dan terakhir ku! Cup,'' Alisa mengecup pipi Gilang


Setelah nya ia memeluk tubuh tegap yang selama ini selalu menghangat kan tidur malamnya.


Gilang membalas pelukan itu tidak kalah erat. ''Aku pun begitu. Kamu lah cinta pertama dan terakhir ku. Kamu lah tempat aku berlabuh. Tempat cinta dan kasih ku bermuara dan berlayar di lautan lepas untuk menuju surga Nya. Mari bersama kita menggapai surga Nya Allah dengan saling mendukung dalam bahtera rumah tangga kita. Setiap detik dan tetesnya keringat kita berdua, merupakan ladang pahala untuk kita. Aku mencintaimu, Alisa. Sangat mencintai mu.''


Alisa memeluk tubuh Gilang begitu erat. Dua hati satu cinta kini sudah berlabuh pada tempat nya.


Mereka berdua akan mengarungi samudera bersama, karena mereka sudah menemukan tempat terakhir mereka berlabuh.


Tempat terakhir, mereka berdua menyatukan cinta mereka untuk menggapai surga Nya Allah SWT. Dalam ibadah yang halal.


💕💕💕💕💕


Maaf ye, lambat othor update. Bocil othor demam gegara kejeduk tepi lemari dan jatuh ke lantai dengan kepala jatuh duluan 😥😥


Othor mohon doanya dari kalian semua untuk kesembuhan bocil othor ini.


Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah SWT.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya untuk othor!


Othor tunggu! 😘😘


__ADS_2