
Rasa sakit yang di derita Alisa semakin parah. Rasa sakit akibat kejadian masa lalu berefek panjang sekarang.
Lana menatap sendu pada Alisa yang berbaring disana. Ingin sekali ia mengatakan hal ini kepada Gilang, tapi dilarang oleh Alisa.
Semakin di tahan semakin sakit. Lana tau itu. Luka akibat masa lalu mereka, kini Alisa harus menanggung nya.
''Sebaiknya kamu tidur ya? Agar rasa sakit di kepala mu berkurang. Masih sakit kan?''
''Ya,'' sahut Alisa sambil memejamkan matanya dan memeluk Rayyan. Melihat itu Gilang tersenyum.
Lana menatap sendu pada Alisa. ''Sudah waktunya Papi tau, maaf Mak.. Abang terpaksa mengatakan yang sebenarnya kepada Papi.. semual ini Abang lakukan demi Mak.. Abang masih ingin melihat Mak di dunia ini.. Biarlah nanti Mak marah sama Abang.. Abang tak peduli. Yang penting Mak bisa sembuh itu sudah cukup untuk Abang. Hanya Abang yang tau seperti apa rasa sakit itu Mak.. Abang akan mengatakan hal ini kepada Papi. terserah jika nanti Papi ingin melakukan apa terhadap Mak, yang penting harus Abang katakan.'' Tekad Lana di dalam hatinya.
''Ya sudah, istirahat lah! Agar rasa sakit itu berkurang. Aku akan ke kamar Abang. Ayo bang, banyak yang harus kamu ceritakan kepada Papi selama lima tahun ini!''
Lana tersenyum, begitu juga dengan Gilang. Mereka berlalu meninggalkan Alisa yang sudah beristirahat.
Ia pun ikut tersenyum, namun senyum itu berubah menjadi sendu. Luka akibat masa lalu nya.
Gilang dan Lana menuju ke kamar Lana yang berada tepat di kamar Alisa. Saat masuk ke dalam kamar itu, Gilang tersenyum.
Ia tersenyum melihat figura yang ia pasang lima tahun lalu masih kokoh tergantung di dalam kamar Lana. Tidak bergeser sedikit pun.
Grep!!
Gilang terkejut saat merasakan tubuhnya di peluk Lana. Gilang terkekeh saat merasakan pelukan Lana semakin kuat.
Runtuh lah sudah pertahanan Lana. Ia sudah tidak sanggup menahan rasa sesak di hatinya saat di kamar Alisa tadi.
''Loh? Abang kenapa? Kok nangis? Ayo cerita sama Papi!''
Lana semakin erat memeluk tubuh Gilang. Ia sesegukan di dada Gilang. Gilang membalas pelukan Lana tak kalah erat.
Tadi saat Gilang menatap figura di kamarnya, Lana sudah menangis tapi Gilang tidak menyadari nya.
Karena masih menatap figura itu dengan tersenyum. Lana yang sudah tidak tahan langsung saja memeluk Gilang.
''Nak??''
__ADS_1
Lana semakin menangis sesegukan di dada bidangnya. Ia menumpahkan rasa sakit yang selama ini terpendam selama lima tahun ini.
''Sayang...'' panggil Gilang.
Lagi, Lana semakin sesegukan di dada Gilang dan semakin erat memeluk tubuh tegap itu. Gilang yang tau jika Lana sedang ingin menangis, ia biarkan untuk sejenak.
Setelah dirasa cukup, Lana mengurai pelukan nya. Dan mendongak melihat Gilang.
Cup!
Lana memejamkan matanya saat Gilang mengecup keningnya dengan sayang.
''Kenapa Abang menangis? Ada apa? Ayo ceritakan sama Papi! Jangan ada yang ditutupi lagi!''
Lana tidak menyahut namun ia melangkah kan kakinya dengan lemah menuju ranjang dan duduk disana.
Tiba disana, tangan Lana dengan segera membuka lemari nakas dan mengambil sesuatu dari dalam nya.
Gilang melihat saja. Kakinya melangkah menuju Lana. Tiba disana ia melihat di tangan Lana ada sebuah map berlogo rumah sakit Adam Malik Medan.
Gilang menerima nya dan mulai membacanya. Disana tertulis nama Alisa. Gilang membuka bait ke bait tulisan rapi yang ada kertas putih itu.
Melihat Gilang sudah membuka map dan membaca nya, Lana berbicara. ''Mak sakit Papi... kepala sebelah kirinya luka parah dan harus segera di operasi. Jika tidak di operasi maka Mak akan pergi untuk meninggalkan kita selamanya..''
Deg!
Gilang tersentak dengan ucapan Lana. Tangannya gemetar karena terkejut akan hal yang tidak dia inginkan saat ini.
''Selama ini Mak sengaja menutupi rasa sakit itu sendirian. Agar kami tidak merasa khawatir akan keadaan nya. Semua ini kami tau saat dua tahun yang lalu ketika sedang menyusui adek Rayyan. Saat itu tiba-tiba saja Mak terhuyung dan membuat adek jatuh ke sofa. Beruntungnya saat Mak merasakan sakit kepala itu, Mak dengan segera mendekati sofa. Hingga adek jatuh tepat di atas sofa. Jika tidak, maka adek pasti sudah jatuh kelantai.''
''Kami yang panik dengan segera membawa Mak kerumah sakit Adam Malik Medan. Betapa terkejutnya kami sesaat setelah di periksa, dokter mengatakan jika penyakit yang di derita Mak sudah begitu parah dan harus segera di operasi. Operasi itu hanya bisa dilakukan di rumah sakit di Singapura, karena hanya disana operasi ini dilakukan. Mendengar kata operasi Mak terkejut. Mak tidak ingin di operasi. Berulang kali kami memaksanya namun Mak tetap bersikeras tidak ingin operasi.''
''Jadilah selama tiga tahun ini, Mak hanya melakukan rawat jalan dengan catatan Mak harus minum obat-obatan yang disediakan oleh pihak Rumah sakit.'' lirih Lana dengan leher tercekat. Sedangkan Gilang semakin terkejut dengan ucapan Lana.
''Apa?! Operasi? Ke Singapura? Kenapa nggak bilang sama Papi!'' Seru Gilang dengan suara meninggi.
''Abang ingin bilang sama Papi, tapi Mak melarang nya. Takut jika sekolah Papi terganggu disana karena memikirkan kami disini, apalagi tentang Mak. Berulang kali kami memaksa Mak untuk melakukan operasi, tapi Mak tak mau. Katanya, nanti jika terjadi sesuatu dengan Mak, siapa yang akan mengurus kami berempat jika nanti terjadi sesuatu dengan Mak. Dan juga, Papi jauh dari kita karena masih melanjutkan sekolahnya di Amerika!''
__ADS_1
''Ya Allah..'' lirih Gilang, ia mengusap wajahnya dengan kasar, sedang Lana sesegukan lagi dan tertunduk.
''Kenapa? Apa yang terjadi dengan kalian dimasa lalu? Apa yang terjadi pada rumah tangga Mak kalian dengan Ayah Emil sebelum bertemu Papi? Ceritakan yang sebenarnya! Jangan ada yang di tutupi lagi! Sudah cukup selama ini kalian menutupinya dari Papi! Sekarang Papi sudah kembali! Ceritakan yang sebenarnya!'' tegas Gilang dengan menatap Lana dengan lekat.
Begitu juga dengan Lana. Ia menatap lekat Gilang, setelahnya ia menghembuskan nafas berat.
''Baik, akan Abang ceritakan. Tapi Abang harap Papi jangan marah ya setelah mengetahui cerita ini?''
''Ya, nggak akan! ceritakan, dan jangan ada yang di tutupi lagi!'' tegas Gilang.
''Sebenarnya.. ini Rahasia masa lalu yang tidak boleh kami ceritakan kepada siapapun, karena ini adalah aib di dalam keluarga kami. Tapi karena Papi ingin tau, maka dengan terpaksa Abang ceritakan..''
''Saat itu Abang sedang tiduran bersama kakak di dalam kamar. Kami berdua sedang berdiskusi tentang PR matematika yang lumayan rumit. Tiba-tiba saja dari luar kami mendengar jika Ayah berteriak memanggil Mak. Kami keluar dengan segera, tiba disana kami melihat jika Mak ditampar berulang kali oleh Ayah hingga terhuyung ke belakang dengan kepala membentur dinding begitu keras akibat Ayah mendorongnya setelah ia menampar nya!''
''Apa?!''
''Astaghfirullah...''
💕💕
TBC
Cerita ini akan banyak bab nya ya? Semoga klean nggak bosan untuk baca nya. Seperti yang othor bilang dulu, jika cerita ini adalah sekuel dari AKU BUKAN PEMBAWA SIAL cerita othor yang pertama.
Segala hal yang tersembunyi disana akan othor tuntaskan disini. Tenang.. semakin ke dalam semakin seru kok cerita nya.
Uhuyyyyy..
Oke deh, sambil nunggu cerita othor ini update, mampir dulu yuk di cerita teman othor yang satu ini!
Karya : Rahayu Ningtiyas Bunga Kinanti
Judul : Posesif Husband
Like dan komen klean selalu othor tunggu! See you.. 😘
__ADS_1