Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Kabar gembira


__ADS_3

Setelah berbicara seperti itu yang membuat Mama alina dan kedua anaknya kebingungan, kini Gilang sedang menaiki tangga untuk menuju kamarnya dengan Rayyan berada di gendongan nya.


''Mamiii!!'' pekik Rayyan saat melihat Alisa sedang memainkan ponselnya.


Alisa menoleh dan tersenyum. ''Sini!'' kata Alisa sambil merentangkan tangannya.


Rayyan turun dari gendongan Gilang dan berlari menuju Alisa di ranjang yang sedang tersenyum padanya.


Rayyan merangkak menaiki ranjang, Alisa tertawa melihat nya. Gilang pun terkekeh. Setelah bisa naik dan duduk di pangkuan Alisa, Rayyan berbicara.


''Mamiii.. Mami sakit??'' tanyanya.


Alisa tersenyum dan mengelus kepala Rayyan yang ditumbuhi rambut begitu lebat Sama seperti Gilang.


''Ya, sakit perut. Adek pelan-pelan ya duduknya? Takutnya perut Mami ketimpa kaki adek..''


''Hoo.. iyakah? Kalau gitu Abang turun aja deh. Papi?'' Gilang tersenyum.


''Ya, kita main di bawah saja ya? Jangan ganggu Mami. Mami sedang sakit perut nya karena ada adek bayi di dalamnya.'' Alisa terkejut mendengar ucapan Gilang.


''Apa?! Apa katamu?! Dari mana kamu tau jika aku sedang hamil?'' tanya Alisa dengan tatapan serius nya.


''Adek bayi? Mami punya adek bayi? Di dalam perut?'' Gilang mengangguk dan tersenyum.


''Maka dari itu, tadi Papi manggil kamu dengan-,''


''Abang!! Sama kayak bang Lana kan?'' potong Rayyan dengan cepat.


Gilang tertawa. Alisa semakin heran dibuatnya. ''Tunggu dulu! Ini kenapa kalian bicara bayi sih? Emang siapa yang punya bayi?'' tanya Alisa lagi.


Gilang terkekeh, dengan segera ia membungkuk dan membiarkan Rayyan naik di belakang nya.


''Hiaaa... huhuhu.. hiaaaaa...'' pekik Rayyan begitu senang.


''Jawab ih!'' kesal Alisa. Bibirnya cemberut.


''Hahaha ... Mami ngambek Pii! Hahaha..'' Rayyan tertawa melihat wajah Alisa cemberut seperti bibir bebek.


''Hahaha...'' Gilang tertawa dengan kerasnya Karena Rayyan berbisik, ''Bibir Mami kayak Bebek Pi! hihi..''


''Hahaha....'' suara tertawa Gilang menggema satu ruangan. Hingga terdengar sampai keluar.


Sementara diluar sana, Papa Yoga dan dokter Andini sedang berjalan masuk kerumah Papa Yoga.


''Assalamu'alaikum..'' sapa dokter Andini.


''Wa'alaikum salam.. Dini! Ayo masuk! Alisa dan suaminya ada dikamar. Entah apa yang terjadi dengan kedua orang itu. Papa temani tamu kita aja ya?'' punya Mama Alina pada Papa Yoga.


''Ya, sudah. Buatkan kami teh ya Ma?''


''Ya,'' sahut Mama Alina.


Dengan segera Mama Alina membawa dokter Andini menuju ke atas. Dari tangga saja sudah terdengar suara gelak tawa Gilang dan Rayyan.


Mama Alina tersenyum, ''Mari Dek,''


''Iya Kak.'' sahut dokter Andini.


Tiba di depan pintu berukiran emas dengan nama Gilang dan Alisa, Mama Alina mengetuk pintu itu.


Tok, tok, tok.

__ADS_1


''Nak?? Dokter nya sudah ada ini. Mama masuk ya?''


''Masuk aja Ma!'' sahut Gilang dari dalam kamar mereka.


Ceklek!


Pintu kamar terbuka. Mama Alina tersenyum saat melihat Gilang sedang menjadi kuda untuk Rayyan putranya.


''Assalamu'alaikum, nak? Apa kabar?''


''Waalaikum salam, Tante Andini!'' seru Alisa kegirangan.


Ia ingin bangun, tapi di cegah Gilang. ''Jangan bergerak sayang! Ingat perutmu!'' tegur Gilang begitu panik karena melihat Alisa yang tiba-tiba ingin berlari mendekati sepupu Papa Yoga.


''Auuuccchh... aduhh...'' rintih Alisa.


Gilang refleks saja bangun. Untuknya Rayyan sudah turun dari tubuhnya. Jika tidak, pastilah Rayyan akan jatuh terjungkal ke belakang.


''Baru aja dibilangin! Kamu kok ngeyel banget sih? Ayo Tante! Di periksa dulu! Takutnya terjadi apa-apa dengan perut nya. Sedari tadi meringis terus, masih juga bilang nggak apa-apa!'' ketus Gilang begitu kesal.


Mama Alina dan Tante Andini terkekeh-kekeh melihat suami Alisa jutek seperti itu. ''Hehehe.. sabar atuh nak. Biar Tante periksa dulu ya? Sini Lis. Berbaring. Udah berapa lama sakit nya?'' tanya Tante Andini sembari tangannya bergerak menyentuh perut Alisa yang lumayan keras.


Deg!


Tante Andini menatap Alisa dan Gilang. Begitu juga Mama Alina. ''Ada apa Dek?''. tanya Mama Alina khawatir.


''Ini...''


''Apa Tante?'' tanya Gilang tidak sabaran.


''Sebentar! Kamu udah cek pakai tesp*k Lis?''


Tante Andini terkekeh. ''Udah pernah hamil kok malah lupa sih? Ingat dulu, kapan terakhir kamu datang bulan?''


''Seingat ku nih ya Tante, Alisa belum dapat tamu bulanan deh selama hampir dua bulan ini? Iyakan sayang??'' celutuk Gilang, membuat Alisa melongo memandang nya.


Tante Andini tergelak keras. Mama Alina terkekeh-kekeh. ''Kamu lihat Lis, suami kamu saja hafal tentang tamu bulanan kamu? Apa jangan-jangan.. selama ini kamu selalu menghitung nya Gilang?'' goda Tante Andini.


Gilang tersenyum meringis. ''Iya Tante. Aku masih ingat, pada saat aku baru pulang dari luar negeri dan tiga hari setelah nya kami menikah. Pada waktu itu Alisa baru saja mandi bersih. Aku masih ingat tanggalnya. Pernikahan kita kan tanggal 10? Berarti dihitung dari hari itu, kamu terakhir tamu bulanan nya.. Tanggal 7 Tante!''


Tante Andini tertawa lagi. Lebih keras dari yang tadi. Alisa masih melongo memandangi Gilang.


''Kamu tau darimana, Papi? Aku tidak pernah memberi tahukan hal ini padamu loh..''


Gilang hanya tersenyum saja. Nggak mungkin dong, ia kasi tau di depan kedua orang tuanya ini? Bisa-bisa ia di tuduh menguntit Alisa nanti.


Padahal ia tau tanpa sengaja pada saat ngobrol sama Lana dulu. ''Pi??''


Gilang terkekeh, ''Apa yang aku tidak tau tentangmu Alisa? Luar dan dalam dari tubuhmu, aku pun tau! apalagi hal seperti itu. Hal yang memang harus diperhitungkan, jika aku harus tiba-tiba puasa mendadak!''


Buhahahaha...


Suara gelak tawa di dalam kamar itu menggelegar. Ketiga anak Alisa yang sedang bermain di bawah, mereka berlarian ke atas.


Tiba disana, terlihat jika Alisa sedang memukul Gilang dengan bantal karena malu.


Bugghh ..


Bugghh ..


Bugghh..

__ADS_1


''Papi! ih, maluuuu...'' rengek Alisa. Gilang tertawa-tawa.


Dengan segera ia memeluk Alisa yang merasa malu pada Kedua orang tuanya. Ira dan Lana terkekeh geli melihat Papi mereka berhasil membuat Mak Alisa menjadi malu seperti itu.


''Hahaha .. ayo nak. Di tes dulu pakai ini. Jika nanti ingin lebih akurat lagi, besok kalian harus ke dokter ya?''


Gilang mengangguk namun masih tertawa. Alisa tidak bisa berkata apa-apa lagi. Saking malunya, ia mencubit pinggang Gilang.


Bukannya marah, malah Gilang tertawa-tawa. Karena telah berhasil menggoda nya. ''Ayo sayang, biar ku temani kamu untuk mengecek ini. Aku yakin, pasti positif! Jika ini positif, Maka aku akan memberikan tuan Hamid hadiah yang besar nanti!'' imbuh Gilang masih dengan terkekeh-kekeh.


Alisa mengurai pelukan nya. ''Siapa tadi? Tuan Hamid? Siapa tuan Hamid?''


Gilang tersenyum, ''Nanti aja bahas masalah itu. Sekarang, kita periksa dulu. Ayo! Aku yakin kamu hamil! Pasti dua sekaligus! hihihi..'' Gilang terkikik geli


Alisa semakin malu dibuatnya karena Tante Andini masih saja menertawai nya. Sementara Mama Alina sudah turun kebawah untuk membuatkan mereka semua minuman.


Wanita paruh baya itu bisa menebak, jika saat ini Alisa tengah mengandung putra Gilang. Ia terkekeh-kekeh tadi saat Gilang mengatakan puasa mendadak.


''Kamu sangat berbeda dengannya nak.. Kamu sangat humoris. Sedangkan Emil? Dia lebih banyak diam jika sedang berkumpul! Hah! Aku bahagia akan menjadi nenek lagi! hihihi..'' Mama Alina terkikik geli.


Alisa yang sedang berada di kamar mandi bersama Gilang, sedang menampung urinnya ke dalam mangkuk kaca bekas Alisa luluran tadi saat ia mandi pagi.


''Sini duduk sayang. Kamu nggak boleh banyak gerak. Takutnya aku puasa lagi nanti!''


Plaak..


Alisa menepuk tangannya. Gilang terkekeh. Ia masih berjongkok dihadapan Gilang yang sedang menampung urinnya.


Alisa malu pusat intinya ditatap seperti itu. ''Usah di liatin napa?!'' ketus Alisa karena malu.


Gilang menoleh padanya dan tersenyum manis. ''Kenapa memangnya? Aku melihat sesuatu yang telah Halal untuk ku lihat? Palung surga milikmu sangat nikmat sayang.. bagaimana bisa aku mengabaikan nya begitu saja?'' lirih Gilang dihadapan Alisa.


Wajah Alisa memanas. Ia menjadi malu, jika Gilang membahas hal itu. ''Udah ih, usah di ceritakan napa?! Maluuuu...'' rengek Alisa.


Gilang tertawa-tawa. ''Hanya dengan mu sayang ku. Ayo, cuci dulu yang bersih. Biar aku yang mencobanya. Tadi, Tante udah ajarin aku kok caranya.'' dengan cekatan Gilang membuka alat tes kehamilan itu dan ia meletakkan ke dalam mangkuk yang udah di isi urinnya.


Sedangkan Alisa, baru saja siap membersihkan pusat intinya. Ia mendekat pada Gilang yang sedang menangis.


Alisa terkejut melihat Gilang menangis sesegukan seperti itu. ''Loh? Kamu kenapa


sayang? Kok nangis?''


Gilang tidak menyahut, ia malah memeluk Alisa dengan erat. ''Terimakasih sayang. Terima kasih! Kamu sudah memberikan kebahagiaan yang lengkap di hidupku! Kamu hamil sayang! Kamu hamil sayang ku! Buah cinta kita!''


Deg!


Deg!


''Benarkah?''


''Tante Andini! Sampaikan kabar gembira ini pada orang yang ada dibawah sana! Alisa hamil Tante!''


''Alhamdulillah.. kabar gembira yang tidak di duga-duga!''


Alisa dan Gilang menangis sambil berpelukan. Dua insan yang terpisah oleh waktu dan usia berbeda kini akhir nya bahagia.


💕💕💕💕💕


Tuh, siapa yang kemarin tebak jika Mami Alisa sedang hamil?


Selamat! Kamu benar! Lope lope sekebun tebu untuk mu! eh?? 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2