Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Luka akibat masa lalu


__ADS_3

''Aku tidak benci Mama dan Papa! Aku sudah memaafkan kalian berdua! Aku hanya benci dengan kelakuan kalian berdua! Tingkah kalian berdua begitu keterlaluan! Tega-teganya kalian membuat sebuah perjanjian dengan ku dengan dalih demi menyelematkan Keluarga Bhaskara. Kalian rela mengancam ku, walaupun kalian tau aku tidak akan melakukan itu. Tega Kalian! Tapi tak apa! Semua ini memang sudah seperti ini jalan nya. Jika bukan karena Alisa yang memintanya, maka sedari dulu aku sudah tidak disini lagi. Aku menghargai kalian berdua sebagai orang tuaku. Aku menghormati kalian berdua. Aku tak ingin menjadi anak durhaka, maka dari itu aku kembali lagi kesini untuk meminta restu dari kalian berdua untuk menikahi Alisa secepatnya. Apakah kalian keberatan??''


Gilang bergantian menatap kedua orang tua nya. Ia menghela nafas berat. Tekad nya sudah bulat, maka dari itu ia akan tetap pada jalan nya.


Mama Dewi dan Papa Angga saling pandang. ''Kami... sebenarnya.. kami berniat ingin menjodohkan mu dengan Ibu susu Rayyan.. eh tak tau nya ternyata Ibu susu Rayyan adalah istri sah mu, Nak.. maaf, Mama terlambat menyadari jika Alisa memang lah wanita yang baik. Bahkan jauh di dalam hati Mama, jika kamu menolak perjodohan ini, maka Mama akan memaksa nya. Kasihan Rayyan jika sampai berpisah darinya nanti..'' lirih Mama Dewi dengan air mata bercucuran.


Sudut bibir Gilang tertarik membentuk senyum tipis. Hingga lama kelamaan senyum tipis itu berubah menjadi senyum lebar yang begitu manis.


Mama Dewi tertegun melihat senyum Gilang yang begitu manis. Mata nya berkaca-kaca. ''Maafkan Mama Nak.. karena dulu pernah menentang mu untuk menikahi Alisa.. maafkan Mama yang terlambat tau apa keinginan mu.. mulai sekarang Mama merestui hubungan mu dan Alisa. Pergilah temui kedua orang tua nya. Tapi... sebelum kamu datang kesana, ke kantor lah lebih dahulu. Karena Papa akan mengumumkan jika penggantinya sudah kembali begitu juga dengan asisten mu.'' Imbuh Mama Dewi .


Ia menatap Gilang yang sedang menatapnya dengan tersenyum manis. Mama Dewi pun ikut tersenyum, namun buliran bening itu mengalir di pipi tua nya.


Gilang bangkit dan bersimpuh di kaki Mama Dewi. ''Terimakasih.. terimakasih karena Mama merestui Gilang untuk menikahi nya.. Sedari dulu, inilah yang Gilang inginkan! Tapi Gilang tak bisa membujuk Mama. Karena Gilang tau seperti apa Mama dan Papa. Maka dari itu, Gilang selalu berdoa agar yang menjadi ibu susu Rayyan adalah Alisa. Istri sah Gilang. Dan benar, Allah mengabulkan nya. Terimakasih Mama.. terimakasih..'' lirih Gilang dengan duduk sungkeman di kaki Mama Dewi.


Mama Dewi menangis melihat Gilang. Papa Angga tersenyum, namun ada buliran bening yang menetes tanpa sengaja.


''Bangun Nak..'' Mama Dewi menarik Gilang untuk melihatnya.


Cup!


Kecupan lembut di dahi Gilang di berikan oleh Mama Dewi setelah sekian lama. Dari Gilang berumur dua belas tahun, semua itu tidak pernah terjadi. Dan sekarang terwujud berkat Alisa.


''Mama sayang sama kamu. Sangat sayang.. maaf jika dulu Mama keterlaluan. Pergilah! Pasti saat ini Alisa membutuhkan dirimu. Terlihat jika sakit kepalanya itu bukanlah sakit biasa Nak.. setiap kali ia datang kesini, pastilah sakitnya itu kambuh! Pernah dulu Mama menyuruhnya untuk menginap disini dan tidur di kamar mu, tapi Alisa tidak mau. Ia memaksa untuk pulang juga. Coba kamu paksa dia untuk periksa ke rumah sakit. Pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan dari mu! Pergilah Nak sebelum terlambat!''


Gilang terkejut mendengar nya. ''Baik, akan Gilang akan kesana. Besok, Gilang akan ke kantor dari rumah Alisa. Papa duluan saja tidak usah menunggu Gilang. Kalau begitu Gilang pulang ya Ma, Pa. Assalamualaikum..'' ucap Gilang, ia menyalami Mama dan Papa nya setelah itu ia berlari meninggalkan kedua orang tua yang tertegun karena kelakuan nya.


''Putra kita sudah dewasa Pa..''


''Ya... semau ini karena Alisa. Kita harus berterima kasih kepada nya, Ma..''

__ADS_1


''Tentu. Pasti akan kita lakukan.''


Satu jam kemudian Gilang tiba dirumah Alisa. Rumah itu sudah sepi karena penghuninya sudah beristirahat.


Padahal masihlah jam delapan malam. Tadi dari rumah Mama Dewi, Gilang singgah di mesjid untuk melaksanakan sholat Maghrib sekalian sholat isya.


Setelahnya ia pulang ke rumah mereka. Sejenak Gilang berdiri mematung disana. Ia menatap bangunan megah yang dulunya pernah ia rehab hingga menghabiskan hampir satu Milyar.


Gilang terkekeh kecil, apa yang akan terjadi jika istrinya itu tau. Kakinya beranjak dari sana dan masuk ke dalam rumah.


Ia menaiki tangga dan menuju kamar utama yang berada di atas. Tiba disana, samar-samar terdengar seperti suara orang berbicara namun sangat lirih.


Gilang menajamkan telinga nya. Ia berdiri di depan pintu yang terbuka sedikit. Ia melihat jika Alisa dan Lana sedang menangis bersama.


Ingin masuk, tapi terhenti karena mendengar ucapan Lana.


''Mak.. sebaiknya beritahu Papi tentang sakit Mak ini.. bahaya loh.. jika dibiarkan. Bukankah dokter sudah menyatakan agar Mak melakukan operasi?''


Deg!


''Mak .. tolong, sekali ini... saja Mak menuruti mau Abang. Katakan yang sebenarnya pada Papi. Hanya Papi yang bisa menolong Mak.. Abang masih mau bersama Mak.. Abang masih ingin melihat Mak di dunia ini.. Abang mohon Mak.. hiks..''


Lagi Gilang terkejut dengan ucapan Lana. ''Apa maksudnya semua ini? Aku harus masuk dan bertanya langsung pada nya. Ini tidak bisa di biarkan!'' seru Gilang.


''Assalamualaikum.. sayang..''


Deg!


''Papi!!'' seru Lana terkejut. Dengan segera ia mengusap bulir bening yang mengalir di pipinya. Ia tersenyum manis melihat Gilang mendatangi mereka.

__ADS_1


Alisa pun demikian. ''Belum tidur?'' tanya Gilang seraya mendudukkan dirinya di tepi ranjang di sebelah Alisa yang bersandar di kepala ranjang.


''Belum, Pi.. kamu udah makan?''


''Sudah tadi sama Pak Kosim di jalan. Rayyan udah bobok ya? Sedari sore sampai sekarang tiduran aja nih bocah!''


Lana tertawa. Begitu juga dengan Alisa. ''Udah mendingan sakit kepala nya??'' tanya Gilang. Ia menatap lekat pujaan hatinya itu, berharap Alisa jujur kepadanya.


''Sudah agak mendingan. Kalau di bawa tidur pasti akan lebih baik lagi.'' Sahutnya.


Gilang tersenyum namun sendu. Lana menatap Gilang dengan sendu. Ia bertekad dalam hati agar menceritakan yang sebenarnya kepada Gilang.


Tentang penyakit yang di derita Alisa sekarang ini. Penyakit yang di akibatkan oleh masa lalu Mak nya.


''Sudah waktunya Papi tau, maaf Mak.. Abang terpaksa mengatakan yang sebenarnya kepada Papi.. semual ini Abang lakukan demi Mak.. Abang masih ingin melihat Mak di dunia ini.. Biarlah nanti Mak marah sama Abang.. Abang tak peduli. Yang penting Mak bisa sembuh itu sudah cukup untuk Abang. Hanya Abang yang tau seperti apa rasa sakit itu Mak.. Abang akan mengatakan hal ini kepada Papi. terserah jika nanti Papi ingin melakukan apa terhadap Mak, yang penting harus Abang katakan.'' Tekad Lana di dalam hatinya.


💕💕


Makin greget euuuyyy..


TBC


Sambilan nunggu update cerita Gilang, Mampir dulu yuk di cerita teman othor yang satu ini.


Karya : Teh ijo


Judul : Menikahi ketua OSIS


__ADS_1


Like dan komen klean selalu di tunggu! 😘😘


__ADS_2