Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Aqiqah baby twins


__ADS_3

Enam hari berlalu sejak kepulangan Alisa dari rumah sakit. Hari dimana Mama Alina dan Papa Yoga tiba di Medan jam tujuh pagi.


Beliau menelpon Gilang, tapi tidak di angkat. Lana yang mendengar ponsel Gilang berdering mengambil paksa dari Gilang. Gilang pasrah, karena saat itu ia ingin masuk kedalam ruangan Alisa bersalin.


Dan ya, Lana lah yang menyusul Kakek neneknya itu dengan menghubungi Andi sebagai supirnya. Dengan senang hati Andi bersedia.


Dan hari ini adalah hari ketujuh baby twins lahir ke dunia. Dan hari ini juga rumah Gilang begitu sibuk dan ramai orang undangan untuk menghadiri aqiqah putra kedua dan ketiga Gilang.


Gilang mengundang lima puluh orang miskin dari daerah Medan, anak yatim piatu lima puluh orang, dan untuk panti jompo, Gilang sediakan makanan sudah siap untuk bisa mereka makan.


Maklum, sudah tua pikir Gilang. Nggak mungkin dong harus memanggil mereka semua kerumah Gilang?


Yang ada bisa nggak bisa nafas itu orang tua. Kata Alisa. Gilang tertawa saat Alisa mengatakan hal itu padanya.


Dan ya, hanya anak yatim dan orang miskin saja yang memenuhi acara aqiqah anak mereka.


Saat ini Algi dan Nara sedang di doakan oleh seluruh anak yatim dan orang miskin di dalam rumah Gilang.


Dengan Gilang menggendong Nara, dan Papa Yoga menggendong Algi. Mereka berdua mengitari seluruh umat manusia yang begitu penuh di dalam rumah Alisa untuk mendoakan kedua bayi tersebut.


Alisa sebagai Maminya, hanya di izinkan kan untuk duduk dan berbaur dengan yang lainnya.


Karena ia baru saja melahirkan. Selama enam hari ini rumah mereka begitu heboh dan ribut dengan suara kedua bayi mereka.


Setiap pagi kedua nenek itu memandikan satu-satu cucu mereka. Mereka bergantian untuk mengurus cucu kembarnya itu.


Alisa dan Gilang hanya bisa menonton saja keseruan kedua orang itu. Rumah yang dulunya ramai karena Rayyan, kini bertambah ramai dengan kehadiran Algi dan Nara.


Seluruh kenalan Alisa dan Gilang di undang untuk acara aqiqah anak mereka. Gilang sudah menyediakan tiga ekor kambing.


Dua untuk anak laki-laki, satu untuk anak perempuan. Dan saat ini kambing itu sudah siap untuk dimasak. Setelah tadi pagi, Papi Yoga lah yang menyembelihnya.


Kambing itu dikhususkan untuk seratus orang yang Gilang undang makan dirumah mereka.


Sedangkan untuk tamu lainnya, Alisa sudah menyiapkan koki terbaiknya yaitu bude Yuli. Bude Yuli terkenal dengan masukannya yang enak.

__ADS_1


Maka dari itu, Alisa sebagai pemilik dari usaha rumah makan itu merekrut bude Yuli sebagai koki unyuk memanjakan lidah pegawai Gilang di kantor Bhaskara group.


Alisa, benar-benar menekuni ide usahanya. Semakin lama ia bergelut dengan dunia usahanya, namanya sudah tidak asing lagi bagi penjaja kuliner di seluruh Nusantara.


Prestasi yang sangat membanggakan menurut mereka semua. Semua itu tidak lepas dari dukungan Gilang.


Dan ya, seorang istri Presdir di Bhaskara group sudah memilki usaha dimana-mana. Namanya pun sedang menjadi trending topik saat ini.


Terlepas dari itu semua, Alisa tidak berbangga diri. Malah dirinya semakin bersahaja kepada orang yang berada di bawahnya.


Semua orang yang tinggal di komplek itu, Alisa bantu keuangan mereka agar bisa hidup layak sepertinya.


Dan saat ini, semua karyawan di tokonya dan juga restoran nya sedang berkumpul dirumah besar Bhaskara II.


Untuk mengikuti serangkaian acara yang sedang berlangsung. Pukul satu dini hari acara itu selesai semua.


Para tamu yang Gilang undang pun sudah makan dengan kenyang. Dan sempat di bungkus lagi untuk mereka makan dirumah.


Termasuk anak yatim yang Gilang undang. Sebelum pulang, Alisa menyalami anak-anak itu dengan amplop berwarna putih yang lumayan tebal.


Karena ingin tinggal bersama Alisa. Alisa tertawa melihat semua anak yatim itu bertingkah sangat lucu menurutnya.


''Sayang.. dengarkan Mami!'' Suara lembut nan tegasnya mampu menghipnotis semua anak panti itu.


Mereka semua mental Alisa yang sedang duduk di sofa bersama Gilang, dan Ira. Mereka berdua yang meamngku Algi dan Nara.


''Kalian tetap menjadi anak Mami tanpa kalian harus tinggal disini. Kalian sekolah bukan?''


''Ya,'' sahut mereka dengan kompak


''Maka dari itu, Mami tidak mengizinkan kalian semua untuk tinggal disini. Terlepas dari kalian masih sekolah, rumah Mami Alisa juga sempit loh.. ini aja nampak nya luas. Karena semua sofa nya sudah di geser kebelakang! Dan ya, kamar dirumah Mami tidak selebar di panti.''


''Kalau di sana kalian semua bisa bermain dengan bebas. Lah ini? Coba perhatikan? Cukup untuk kalian yang ramai seperti ini?''


Mereka semua menggeleng kompak. Ibu panti sampai terkekeh melihat nya. Alisa tersenyum.

__ADS_1


''Maka dari itu kalian semua harus pulang! Tanpa terkecuali! Jika kalian ingin bermain kesini, minta izin sama bunda, ya?''


Mereka mengangguk patuh walau wajah terlihat sendu. ''Rumsh Mami selalu terbuka untuk kalian semua. Kapanpun kalian ingin datang kesini, katakan itu pada Bunda. Mami akan menunggu kalian. Dan ya, kalaupun kalian semua tidak bisa datang kerumah Mami... maka Mami yang akan berkunjung kerumah kalian. Paham??''


''Paham Mami... Terimakasih Mami.. Kami semua sayaaanggg sekali sama Mami. Karena Mami lah yang selama ini telah membantu panti kami dan juga Bunda kami. Terimakasih Mami Alisa..'' ucap mereka begitu kompak.


Membuat Alisa tertawa, tapi tidak dengan Gilang. Ia terkejut dengan pernyataan para anak panti itu.


Ingin bertanya, tapi belum waktunya. Biarkan nanti malam saja. Pikir Gilang.


Selesai dengan anak panti yang berpamitan, kini giliran para tamu mereka. Termasuk sahabat Alisa dan juga kenalan Gilang.


Salah satunya Ipank. Sahabat Gilang saat tawuran dulu. ''Ohoho.. my Bro! What's up Bro! Apa kabar Bro! Aihhh.. tak sangka aku. Akhirnya kau sudah memilki istri dan anak. Sedang aku? masih membujang! Hiks! Miris sekali nasibku!'' ucapnya mendrama ia menyeka sudut matanya yang tidak basah.


Gilang tertawa. ''Hahaha.. ya, ya.. terserahmu lah Bro! Sudah makan? Tidak bawa anggota kah?''


Ipank tertawa, ''Ya enggaklah, wong Mak nya pun sama kayak istri kamu! Lagi bongkar mesin!'' celutuk Ipank.


Alisa membulat kan matanya. Gilang tertawa terbahak-bahak. Semua yang ada disana ikut tertawa.


Ipank sudah pulang, begitu juga dengan kenalan-kenalan Gilang di komplek itu sudah pulang semua.


Kini tinggal sahabat Alisa yang belum pulang. Mereka masih betah disana. Ada Hendra dan Hani, Ema dan Andi, Sinta dan Tian, dan juga Umay yang baru pulang dari luar negeri bersama Suaminya.


Menyempatkan diri untuk memenuhi undangan Alisa. Kakak kelas mereka pun ikut hadir.


Yaitu, Kak Madan dan istri. Serta kedua anak gadisnya yang sedari kecil dulu sudah menjadi incaran Lana.


Yaitu gadis kecil yang begitu jutek jika berhadapan dengan nya. Maura putri Kartika. Putri kedua kak Madan yang sudah mereka ikat untuk menjadi calon Lana untuk masa depan.


Mereka akan pulang sore nanti. Untuk saat ini, mereka ingin bersantai-santai dirumah megah milik Alisa.


💕💕


Satu!

__ADS_1


__ADS_2