
Gilang dan Alisa tiba dirumah mereka sudah pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Sengaja. Agar Alisa bisa terlelap walau hanya sebentar saja.
Andi dan Pak Kosim terus saja menggoda Gilang. Tap Gilang masa bodoh. Ia tak peduli. Ia pun memilih tidur untuk mengistirahatkan tubuh nya walau sejenak.
Karena setelah ini, Gilang tidak bisa menjamin kapan ia akan tidur. Andi dan Pak Kosim terus saja terkikik geli di depan.
Entah apa yang diceritakan oleh mereka berdua, Gilang pun tak tahu. Larut dalam tubuh yang begitu lelah, Gilang tertidur hingga sampai di depan rumah mereka.
Andi sengaja tidak membangunkan Bos nya itu. Karena itu adalah pesan Gilang sebelum ia tidur tadi.
Andi dan Pak Kosim turun dari mobil dan berjalan keluar dari rumah mereka. Di luar sana, sudah ada supir Mama Dewi yang akan membawa mereka pulang kesana.
Sementara Alisa, merasa jika mobil yang di tumpangi nya tidak bergerak lagi, ia mengerjabkan matanya.
Ingin bergerak, namun tidak bisa. Seluruh tubuhnya terasa berat. Ia menoleh ke sisi kanannya.
Ternyata Gilang tertidur di ceruk lehernya yang masih tertutup hijab. Ia memandangi paras tampan yang sedang terlelap di ceruk lehernya itu.
''By? Kamu kelelahan ya? kasian kamu. By... bangun! Kita udah sampai loh..'' Gilang menggeliat.
Ia semakin menyurukkan wajahnya ke ceruk leher Alisa. Membuat wanita itu menggigit bibirnya.
''Hubby! bangun! Berat ih!''
''Ehemm.. sebentar sayang.. masih ngantuk..'' keluh Gilang. Ia masih betah nemplok di tubuh Alisa bagai cicak.
Alisa terkikik geli. ''Sayang, bangun! Kalau mau tidur itu di kamar loh.. jangan disini ah! Gerah akunya! Mana belum ganti baju lagi! Masih baju yang sama saat kita di pesta tadi! Bangun ih!'' ucap Alisa sengaja mengelus pipi halus Gilang dengan lembut.
Darah Gilang berdesir hebat saat merasakan tangan halus Alisa nan dingin menyentuh kulitnya. Ia mengerjab.
Klep, klep.
Mata sipit itu terbuka perlahan. Pertama kali yang ia lihat adalah sang istri yang sedang menatapnya dengan terkikik geli.
Gilang tersadar dan bangun seketika. ''Astaghfirullah! Aku ketiduran ternyata! Waduh! Udah jam dua belas lagi! Dasar si kampret! Bukannya di bangunin malah dia ngeloyor pergi! Kalau kita di bawa kabur maling bagaimana?! Ck! Awas kau! Potong gaji!!'' imbuh Gilang bersungut-sungut.
Dengan segera ia keluar dari mobil dan menuntun Alisa untuk masuk ke dalam rumah mereka.
__ADS_1
Sembari turun dari mobil, Alisa terus saja tertawa melihat tingkah Gilang. Gilang tersenyum.
Alisa membuka heels tujuh centinya dan berjalan di lantai nan dingin tanpa alas masuk menuju rumah mereka.
Ceklek!
Pintu rumah mereka terbuka. Mulut Alisa menganga melihat dekorasi rumah mereka menjadi berubah dalam waktu satu hari.
''Kamu suka?'' tanya Gilang sambil memeluk tubuhnya dari belakang.
''Kapan kamu menyiapkan semua ini?'' bukan menyahuti, Gilang malah terkekeh. Dengan segera ia menuntun sang istri untuk menuju ke atas.
Kamar utama. Kamar mereka berdua. ''Tadi pagi. Saat kamu sudah berangkat ke hotel. Ada orang suruhan ku untuk mendekorasi rumah ini Sampai kita pulang tadi. Jam enam sore sih sebenarnya sudah siap. Ayo, mandi dulu, ganti baju terus sholat. Setelah ini akan banyak hal yang akan kita lakukan!'' ucap Gilang ambigu.
Alisa menautkan alisnya karena bingung. Namun kakinya tidak berhenti untuk melangkah menuju ke kamar utama.
Sepanjang perjalanan mereka disuguhi dengan lilin dan bunga mawar merah jambu dan putih yang bertaburan di lantai.
''Berapa banyak bunga mawar untuk di taburi di lantai ini? Kan kasian kalau harus ke injak begini?'' gumam Alisa, namun masih terdengar oleh Gilang.
Ia tertawa mendengar gumaman Alisa. ''Kamu tidak usah tau. Yang ada kamu akan pingsan nanti. Ayo, mandi dan sholat! Pakai baju yang ada di dalam lemari itu ya? Aku ingin melihat mu memakai baju itu!'' Gilang mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Alisa.
''Kenapa? Capek?'' Alisa hanya mengangguk malu-malu.
Giksng terkekeh, dengan sekejab Gilang mengangkat tubuh Alisa hingga berada di gendongan nya. Alisa tertawa begitu juga dengan Gilang.
''Kamu menyukainya?'' tanya Gilang sambil terus berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka.
''Apapun yang kamu lakukan, aku menyukainya. Sangat menyukai nya! Bantu aku melepaskan baju ini ya? Berat ih!'' gerutu Alisa dengan mencebik kesal pada bajunya itu.
Gilang terkekeh kecil. ''Tentu sayang. Aku siap membantu kapan pun kamu butuhkan!''
Ceklek!
Pintu kamar terbuka, namun gelap. ''Nyalakan lampunya!'' titah Gilang.
Alisa meraba dinding dan menekan saklar di dinding itu.
__ADS_1
Cetak. Lampu menyala.
Lagi, mulut Alisa menganga lebar. Bagaimana tidak, jika kamar utama mereka sudah dihias sangat cantik.
Dengan lantai bertabur Bunga mawar merah jambu kesukaan nya berikut dengan ranjang mereka.
Di setiap sisi ranjang itu sudah terpasang kain tipis yang berenda, bunga-bunga berwarna putih, serta lampu hias yang menyatu dalam setiap lengkungan bunga yang di lilitkan di sisi ranjang.
''For you my wife! Gimana? Suka??'' tanya Gilang lagi. Dengan segera ia menuntun Alisa untuk duduk ditepi ranjang mereka.
Seprei tebal berwarna putih. Sangat cantik. Senyum Alisa terukir di bibir tipisnya. Gilang pun ikut tersenyum. Ia puas melihat Alisa begitu menyukai dekorasi kamar mereka.
Alisa melihat kesana kemari. ''Sangat cantik! Ini seperti yang aku inginkan selama ini. Bagaimana kamu tau?'' selidik Alisa sambil menoleh pada Gilang dengan tatapan sedikit tajam.
Gilang tersenyum. Ia menuntun Alisa untuk duduk di tepi ranjang. Dengan segera ia melepaskan semua Jarum pentul, dan mahkota yang tersemat di kepala Alisa.
''Sudah aku katakan, apa yang tidak aku ketahui tentang mu? Aku tau semuanya. Sangat tau. Hanya saja.. belum ada waktu untuk aku bisa mewujudkan itu semua. Dan inilah waktunya! Waktu untukku bisa mewujudkan semua keinginan mu, sayangku! Cup!'' imbuh Gilang, ia mengecup sekilas kening Alisa dan mulai melepas lagi setiap belitan di kepala Alisa yang tertutup hijab.
''Terimakasih, karena kamu mau menerimaku yang sudah tidak muda lagi. Aku hanya takut, jika suatu saat kamu muak denganku! Aku-,''
Ucapan Alisa terhenti, karena jari telunjuk Gilang menempel di bibirnya. ''Ssssttt.. gimana aku bisa muak sama kamu? Sedang aku saja belum merasakan nya? Cup!''
Alisa terkejut. Ia menoleh pada Gilang, naas bibir mereka berdua bersentuhan. Tanpa di duga, Gilang malah ******* bibir merah jambu milik Alisa.
Gilang ******* nya hingga Alisa melenguh. Alisa mencengkram tangan Gilang untuk menyalurkan rasa di hatinya.
Gilang melepas kan pagutan itu setelah selesai menghisap manis madu yang ada pada bibir Alisa.
Alisa membeku. Ia tak berani menatap Gilang. Sementara Gilang, ia menyatukan kedua kening mereka dengan nafas memburu.
''Mandi! Setelahnya sholat! Aku mandi di kamar Abang aja biar cepat! Ayo!'' titah Gilang pada Alisa.
Alisa Hanya bisa mengangguk pasrah. Seluruh tubuhnya terasa lemas. Wajahnya saat ini begitu hangat. Sehangat hatinya atas perlakuan Gilang padanya.
💕💕💕💕
__ADS_1
Otw ngadon! eh? Ngiler maksudnya! eh apa sih?! hehehe..