
''Vita bilang tadi kalau nggak salah Ar.. Rayyan! Ya, Ar Rayyan! sangat bagus nama nya. Dan panggilan nya Baby Ray.. ya sayang ya?'' ucapnya sembari menyentuh pipi cucu nya itu.
Deg!
Gilang mematung mendengar ucapan Mama Dewi. ''Ar Rayyan??''
''Ya, Ar Rayyan! Baby Ray! sangat bagus sekali nama yang diberikan oleh Ibu susu Baby Ray!'' sahut Mama Dewi.
''Ar Rayyan?? Rayyan Putra Bhaskara??''
''Hah? Apa kamu bilang? Ar Rayyan putra Bhaskara?? Wooaahh.. cucu Oma ini sudah punya nama ya? Sangat bagus nama yang diberikan oleh Ibu susu mu ini! Sekarang ditambah lagi oleh Papi kamu! Kayaknya Papi kamu sama Ibu susu kamu ini ada sesuatu ya??'' tebak Mama Dewi.
Membuat Gilang mengernyitkan dahinya. ''Ibu susu?? Untuk Baby Ray?? Siapa??'' tanya Gilang masih dengan raut terkejut nya akan perkataan Mama Dewi baru saja.
''Ya, Vita bilang jika Baby Ray sudah memiliki Ibu susu. Tapi yang tau Ibu susu Baby Ray itu cuma Vita. Dan sekarang Vita telah pergi meninggalkan Baby Ray...'' sahut Mama Dewi dengan raut wajah begitu sendu.
Gilang menghela nafasnya. ''Biarkan Vita pergi, Ma! Karena memang inilah perjanjian kami berdua. Vita akan pergi setelah putra ku lahir ke dunia. Apakah ada seseorang yang membawa nya??''
''Ya, sahabat kamu saat kamu masih SMP dulu.'' sahut Mama Dewi masih dengan wajah sendu.
''Syukurlah kalau begitu, aku pikir Vita pergi sendiri. Ternyata dia menepati janjinya padaku. Dan sekarang yang harus kita pikirkan adalah putraku. Kemana kita harus mencari Ibu susu yang cocok untuknya. Ada sih satu orang? Tapi entah mau atau tidak.'' Ucap Gilang dengan sedikit menghela nafasnya.
Sesak di dada saat mengingat seseorang itu. Seandainya putraku di susui olehmu sayang.. pastilah aku sangat bahagia sekarang ini. Kemana aku harus mencari Ibu susu untuk Ray?? Rayyan putraku! Nama yang pernah diselipkan oleh mu untuk putra kita nantinya! Apakah kamu yang memberi kan nama itu untuk putra ku sayang? Kenapa hati ku mengatakan jika Ibu susu Rayyan adalah kamu, Alisa. Hah! Andai memang kamu. Tapi.. yang tau dengan nama ini hanya kita berdua.. semoga kamulah orang nya sayang.. Gumam Gilang didalam hatinya.
Setelah berbicara panjang lebar tentang ibu susu Ray dan juga Baby Ray sudah di adzan kan oleh Papa Angga.
Kini mereka sudah bisa membawa pulang Baby Ray kerumah mereka. Sedangkan nan jauh disana, ia menangis kala mengingat bayi kecil yang baru saja lahir.
Jika benar itu adalah Vita istri Gilang, maka bayi tampan itu adalah putra kandung Gilang. ''Apakah ini dulu maksud mu, Pi? Maka nya kamu bertanya padaku tentang nama anak-anak kita? Aku bodoh Pi! Tidak menyadari perkataan mu itu. Aku harus apa sekarang. Aku sangat ingin menyusui bayi itu. Seperti ada ikatan antara aku dengan nya.. Apakah Mama mu mengizinkan nya, Pi? Aku rindu putraku. Rayyan putraku...'' lirih Alisa di dalam kamar nya.
Ia menangis tersedu disana. Alisa menginginkan bayi itu. Tapi itu tidak mungkin. Karena ada Vita bersama nya.
Dua hati yang terpisah tapi terikat secara lahir dan batin. Alisa dan Gilang adalah pasangan yang terpisah karena jarak dan waktu.
Dan sekarang hubungan itu akan dipersatukan oleh bayi kecil yang begitu merindukan kasih sayang seorang ibu.
Karena ibu kandungnya telah pergi meninggalkan nya dengan seorang yang lebih mencintai dirinya apa ada nya.
Karena sebuah perjanjian.
...****************...
Sebulan kemudian..
Hari ini Baby Ray akan dibawa ketaman oleh Suster pengasuh dan Pak Kosim. Mama Dewi ingin pergi bersama Papa Angga untuk menghadiri sebuah cara di kantor cabang mereka yang terletak di kota Bogor.
''Saya titip Baby Ray ya Sus? Kalau ada apa-apa segera hubungi saya! Pak Kosim! Bawa Mbak Sus ke taman. Mana tau Ibu susu Baby Ray ada disana.." lirih Mama Dewi dengan sendu.
Ia melihat pertumbuhan Baby Ray begitu menurun. Pipi yang dulu chubby ketika dilahirkan kini semakin tirus.
Sudah sebulan ini Baby Ray selalu menangis. Ketika di berikan susu Formula ia tidak mau. Tapi tetap dipaksa oleh Mama Dewi.
Mama Dewi menangis setiap malamnya melihat keadaan Baby Ray. Sekarang ia menyadari jika perkataan Gilang berapa bulan yang lalu benar adanya.
"Maafkan Oma sayang.. Oma janji jika nanti Ibu susu Ray sudah ada, siapa pun itu Oma tidak akan melarang nya. Karena Oma tau sekarang, jika kamu hanya mau Ibu susu itu. Dan jika suatu saat Papi mu dan Ibu susu mu ingin melanjutkan hubungan serius ke jenjang pernikahan, maka Oma akan merestui nya! Oma janji Ray.. ini janji Oma padamu..." lirih Mama Dewi dengan air mata bercucuran.
Papa Angga hanya bisa mengusap bahu sang istri untuk menguatkan nya. "Ayo, Pa!"
"Ya," sahut Papa Angga.
__ADS_1
Setelah itu mereka berangkat begitu juga baby Ray dan Pak Kosim. Mereka menuju ke taman dekat dengan toko kue Alisa.
Entah kenapa Pak Kosim sangat ingin membawa bayi kecil itu ketaman di dekat toko roti Alisa
"Semoga kalian di pertemukan disini ya? Kakek sangat berharap, semoga Neng Alisa lah yang menjadi ibu susu mu Rayyan putra Bhaskara." Gumam Pak Kosim dalam hatinya.
Mereka tiba di taman pada waktu tengah hari. Jalan itu agak sunyi dan lengang. Hanya satu-satu kendaraan yang lewat di jalan itu.
Mbak Sus dan baby Ray turun dengan stroler dan ia mendorong nya perlahan. Hingga di jalan yang agak menurun tiba-tiba Mbak sus terpeleset karena keinjak kulit pisang.
"Eh, eh!"
Brruaaak..
"Astaghfirullah! Siapa sih yang buang kulit pisang di tengah jalan begini?! Sakit ****** ku aduhkh.. hah? Baby Ray!!!!!" pekik Mbak sus melihat kereta dorong milik baby Ray berjalan sendiri karena kondisi jalan yang agak menurun.
"Baby Rayy!!! Tolooong... majikan saya!!!!" pekik Mbak sus sekuat tenaga.
Dengan kaki tertatih, ia berlari perlahan. Alisa yang sedang mengendarai motor nya terkejut melihat seseorang itu meminta tolong.
Dari kejauhan ia melihat kereta dorong bayi sedang berjalan menuruni jalan yang agak menurun itu.
Alisa membelalakkan matanya saat melihat di ujung sana ternyata jalan raya. "Astagfirullah!!!" pekiknya, ia melajukan motornya dijalanan turun itu begitu kencang.
Wusshhh...
"Astagfirullah! Apa itu?! Hah?! Mbak itu?? Eh? Mbaaakkk.. tolong majikan sayaaaa!!!" pekik Mbak sus.
Dengan perlahan ia berlari mengejar baby Ray yang hampir menjumpai jalan raya. Sedangkan Alisa semakin kencang membawa motor nya.
Ia tak peduli lagi dengan keselamatan nya. Padahal membawa motor di jalan yang turun itu berbahaya.
Cekkkiiiitttt..
Suara sepatu rem dan ban motor Alisa begitu mengusik pendengaran semua orang disana. Dengan cepat Alisa menyokong motornya.
Saking buru-buru nya motor Alisa hampir saja terbalik, jika tidak seseorang yang menyelamatkan nya.
"Hati-hati Mbak!" pekik orang itu.
Alisa tak peduli, ia berlari mengejar kereta dorong itu yang hampir menemui jalan raya. Semua orang memekik ketakutan melihat itu.
"Ya Allah tolong akuuu!!" pekik Alisa sambil berlari.
Dan...
Grep!
Kereta dorong itu berhenti, tapi bayinya keluar dan melayang. Dengan cepat Alisa berlari menangkap nya.
Hingga ia jatuh di aspal jalan besar itu.
Sreeekkk ..
Grep!
"Oeeekk... oeeekk.. oeekk.."
"Alhamdulillah.. kamu selamat sayang.. hiks.. hiks.." Alisa menangis terharu ketika bayi itu berada dalam pelukan nya.
__ADS_1
Alisa memeluk bayi itu dengan erat. Sedang bayi itu masih saja menangis dengan kencang.
"Sayang..." ucapan nya terhenti saat melihat bayi yang ada dalam pelukan nya.
Deg!
"Gialng!!!" pekik Alisa saat melihat bayi itu begitu mirip dengan Gilang.
Alisa masih termangu dengan bayi yang ada ditangan nya. Bayi itu merasa tangisnya saat merasakan tetesan air mata Alisa jatuh menimpa pipi bayi itu.
Bayi kecil itu tersenyum pada Alisa.
Deg!
"Ray??? Rayyan?? Ar Rayyan??" tanya Alisa pada bayi itu. Seakan tau jika itu adalah ibu susu nya.
Bayi kecil itu menangis seperti mengadu kepada Alisa. "Rayyan putraku! Hiks.. Rayyan putraku!! huhu.. Mami bertemu lagi akhirnya dengan mu, Nak... huhuhu..." Alisa menangis sembari memeluk bayi itu dengan erat.
Mak Sus mematung melihat Alisa sedang menangis sambil memeluk bayi kecil itu. Pak Kosim yang menyadari jika mbak sus tidak ada di taman, ia berlari mencarinya.
Tiba diujung jalan raya, Pak Kosim berdiri mematung di belakang Mbak sus.
"Neng Alisa??"
Alisa menoleh. "Bapak!! Putraku!! huhuhu... putraku Rayyan Bhaskara!!! huhuhu.." pekik nya masih menangis tersedu.
Pak Kosim terharu. Ia pun ikut menangis. Begitu juga dengan Mbak sus. Walaupun ia masih kebingungan, tapi ia bersyukur jika bayi majikan nya itu selamat.
"Neng?? Bangun atuh.. ini dijalan.. ayo kita ke toko Eneng! Kan tidak jauh dari sini??" tanya Pak Kosim pada Alisa.
Dan dingguki oleh Alisa. "Tapi saya sedang mengantar pesanan Pak!"
"Biar Bapak yang mengantar nya! Sebaiknya bawa dulu pulang den Rayyan. Kasian.. selama sebulan ini ia terus menangis siang dan malam. Ia tidak mau minum susu sama sekali Neng.." lirih pak Kosim, mengingat bagaimana putra Gilang itu selalu menangis saat di susui dengan susu formula.
"Maafkan Mami, Nak.. Cup." Mbak sus semakin tertegun dengan ucapan Alisa. Alisa berdiri dan mulai berjalan dengan tertatih.
Gamis Alisa kuyak bagian kanan nya. Beruntung nya Alisa, ia selalu sigap memakai rok di dalam nya untuk antisipasi.
Dan benar sekali dugaannya. Mereka berjalan beriringan ke toko kue milik Alisa. Tiba disana, Ira dan Lana melihat jika Mak nya menggendong seorang bayi dengan bercucuran air mata.
"Mak!!!" pekik Ira dan Lana. Raga pun keluar terkejut karena mendengar suara lengkingan Ira dan Lana.
"Iya, lihatlah Mak bawa siapa kesini, hem?" sahutnya masih menatap bayi kecil itu dengan tersenyum manis.
Baby Ray sudah terdiam dari tangisnya. Ia asik mendusel-dusel wajahnya pada dada Alisa.
Alisa terkekeh. "Adek haus?? Ayo kita ke dalam! Mbak sus yuk masuk! Kakak buatkan minum untuk tamu kita!"
Ira mengangguk patuh. Sedangkan Lana masih mengikuti Alisa. ia ingin tau bayi siapa itu yang dibawa oleh Mak nya.
Tiba di dalam, Alisa meletakkan baby Ray diatas tilam busa milik Annisa. "Adek bobok dulu ya? Mami cuci tangan dulu sebentar. Cup." Alisa mengecup kening bayi kecil itu lagi sebelum beranjak untuk mencuci tangan dan mengganti bajunya yang sudah kuyak akibat tersangkut di motor nya tadi.
Lana yang melihat baby Ray begitu mirip seseorang, mematung di sebelah bayi itu.
"Papi??"
Deg!
💕
__ADS_1
Papi Gilang?? Kok bisa??🤔🤔