Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Kamu kenapa??


__ADS_3

Setelah mengusap air matanya, Ira menggeser duduknya agak jauh dari Gilang. Gilang tersenyum tipis melihat Ira bergeser menjauhi dirinya.


Sambil menunggu Alisa pulang, mereka berdua mengerjakan tugas sekolah yang tadinya belum selesai.


Seminggu lagi, mereka akan mengadakan ujian. Terutama Gilang. Ia akan mengikuti ujian akhir. Karena sebentar lagi ia mau tamat.


Sementara diluar rumah mereka. Alisa masih saja berdiri mematung. Sesaat setelah pelukan Gilang dan Ira, ia melihat putrinya itu menjauh dari Gilang.


Apa maksudnya? Apakah mereka berdua takut ketahuan?? Atau apa?? Banyak macam pikiran negatif menghantui dirinya. Namun setelah ia sadar, barulah ia memantapkan hati bertemu dengan mereka berdua.


'Aku harus ikhlas!' gumam nya dalam hati. Walaupun kaki dan tangannya gemetar, karena pemandangan yang menusuk relung hatinya tadi. Ia tetap melangkah masuk kerumah.


Toh, itu rumahnya kan? Bukan rumah Gilang?? Begitulah isi pikirannya saat ini. Ia melangkah masuk dan mengucapkan salam.


''Assalamualaikum...''


''Waalaikum salam... Mak udah pulang??'' tanya Ira. Wajahnya begitu berseri.


''Ya, Mak baru aja balik dari tempat bude Yuli,'' imbuhnya tanpa menatap Gilang.


Gilang yang di cuekin merasa heran. Ada apa? Pikirnya. Alis matanya terangkat sebelah, pertanda jika ia sedang memikirkan sesuatu.


''Ya sudah, ganti baju gih! Lalu makan! Nih, Mak bawa bekal dari rumah bude Yuli. Beliau memaksa, Mak untuk membawa pulang makanan lebih sisa dari hajatan di rumahnya tadi. Ayo.. tunggu apa lagi??'' tanya nya


Ira bingung melihat tingkah Alisa. Kok bisa nggak tau sih, jika Gilang ada di sana? Ira menatap Gilang yang juga sedang menatap Alisa.


Alisa tau jika mereka saling pandang. Tapi, ia berusaha biasa saja, walau hatinya tercubit dengan apa yang di lihatnya.


'Kok sesak sih?? Ni lagi hati mellow banget juga'


Bayi enam bulan itu sudah dari tadi bergerak lincah ingin turun dari gendongan Alisa. Ia melihat Gilang disana. Tangan dan kakinya bergerak seirama menunjukkan, jika ia ingin digendong oleh Gilang.


Gilang yang paham, berdiri dan mendekati Alisa.


''Mmmmmm...'' bayi kecil itu bergumam ketika melihat Gilang di depannya.


''Apa sayang? Ingin di gendong Papi ya??'' tanya pada bayi kecil itu.


Deg!


Jantung seseorang bergemuruh hebat, ketika mendengar kata sayang yang ditujukan untuk putrinya.


Gilang yang melihat Alisa tidak merespon sama sekali, akhirnya mengambil Annisa secara paksa. Lalu di gendong nya dan dibawa ke depan.


Alisa termangu. Ia bingung dengan keadaan. Jika memang Gilang menyukai Ira putrinya, kenapa pula memanggil putri nya yang lain dengan sebutan sayang? Ada apa ini? Apakah ia salah paham??


Alisa larut dalam lamunannya. Ia tersentak saat Ira memanggilnya.

__ADS_1


''Mak... kok diam sih?? Ada yang salah ya sama kakak?'' tanya Ira, ia jadi khawatir tentang Alisa.


Mungkin ibunya ini salah paham, karena melihat Ira dan Gilang berdua dirumah.


''Hah? oh, eh A-apa??'' tanya gelagapan.


''Mak, kenapa? Apa ada yang salah sama kakak?? Apakah Mak, marah karena kakak berdua dengan Papi dirumah??'' ujar Ira begitu pelan diujung kalimatnya. Ira menunduk tak berani menatap Alisa.


''Hah? maksudnya?? Siapa yang marah sih?? Mak, nggak marah kok!'' sahut Alisa, ia masih sibuk dengan pemikiran nya sendiri.


''Mana tau, Mak marah.. bilang aja! kakak nggak pa-pa kok! beneran?'' ujarnya lagi


Alisa membuang nafasnya. 'Kentara banget ya? keliatan banget ya aku cemburu? Eh?' Alisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Semua itu tak luput dari pengawasan Gilang.


Gilang tau, pasti ada sesuatu. Alisa melihat Ira yang menunduk, mengusap kepalanya.


''Kak... Mak, nggak marah kok sama kakak..? Mak, hanya lagi nggak enak badan saja. Beneran? Udah lebih baik, Kakak ganti baju, terus kita makan ya?'' titah Alisa.


''Bagaimana dengan Papi?? Dari tadi Mak, kok diamin Papi??'' tanya nya tepat pada sasaran.


''Eh? Siapa yang marah sama Papi?? Mak, nggak marah kok. Udah ganti baju sana! lalu ajak Papi masuk dan makan ya??'' sahut nya.


''Kamu bohong Lis! Aku tau, pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan! Apakah ini ada kaitannya dengan kami berdua tadi dirumah?? '' tanya Gilang pada dirinya sendiri.


''Jika iya, yang mana?? Apa jangan-jangan??'' terkait Gilang, setelah nya mata Gilang membola dengan mulut tersenyum. ''Kamu cemburu??'' ujarnya sumringah.


Saat asik dengan Annisa dan tertawa sendiri, Ira memanggilnya untuk masuk dan makan siang bersama.


''Pi??''


''Ya..''


''Masuk Pi! makanannya udah siap!'' ujar Ira.


''Oke! Si gadis Papi ini udah mamam??'' tanya nya pada bayi kecil itu.


Annisa menjawab dengan tertawa. Bayi kecil itu begitu senang dengan Gilang. Dari tadi ia tak mau lepas dari Gilang.


''Ayo kita makan!'' ajak Alisa.


''Ya, adek bobok disini ya?? Papi mau makan dulu okey??'' ucapnya pada bayi kecil itu.


Annisa menangis, pertanda ia tak mau.


''Jadi.. gimana dong Papi makan??'' tanya dengan wajah memelas.


Ira tergelak. ''Sini Pi, adek nya biar kakak yang gendong! Papi sama Mak, makan aja ya? Kami kedepan dulu!'' imbuhnya seraya berlalu.

__ADS_1


Setelah kepergian Ira. Gilang menoleh pada Alisa.


''Sayang??'' panggilnya.


Alisa diam. Gilang tak putus semangat. Sekali lagi,


''Sayang?? Hei! Aku disini loh.. kamu kenapa??'' tanya nya.


Alisa menoleh dengan wajah datar. Ia menggeleng. ''Nggak pa-pa! kamu makan aja! aku ambilin!'' imbuh nya dengan segera mengambil nasi serta lauk pauknya ke dalam piring dan di suguhkan di depan Gilang.


Gilang bergeming. Ia masih saja menatap Alisa.


''Lis! lihat sini! kamu kenapa?? Ada masalah apa? Ayo cerita sama aku??'' ucap Gilang, ia mencoba untuk membujuk Alisa.


''Kamu makan dulu, setelah nya kamu sholat dan nanti sore jangan lupa jemput Abang di sekolahnya, ia begitu ingin di jemput oleh mu!'' imbuhnya, tanpa melihat Gilang.


Gilang menghela nafasnya. ''Baiklah, jika kamu tidak ingin bicara, maka aku tidak akan makan! lebih baik aku pulang!'' ujar Gilang, seraya bangun dan meninggalkan Alisa disana.


Tapi belum lagi Gilang berjalan, tangannya sudah dicekal oleh Alisa tanpa menoleh.


''Duduk! dan makan!'' titah nya.


''Aku akan makan! Jika kamu pun ikut makan!'' ujar Gilang.


''Ck! dasar keras kepala! Ayo.. kita makan!'' imbuhya lagi. Ia menarik Gilang dan duduk disebelahnya.


''Kamu Kenapa sih?? Dari tadi diaaamm aja! Ada yang salahkah dengan diriku?? Jika iya, coba katakan!'' ujar Gilang.


'Kamu nggak salah! tapi hatiku yang salah! terlalu berharap padamu! yang akhirnya sangat menyakitkan untukku!'


Ingin sekali ia menjawabnya, tapi bibirnya terasa Kelu untuk menjawab pertanyaan Gilang.


''Ayo makan!'' imbuhnya lagi.


''Oke! kita makan sepiring berdua! Aku yang suapin kamu makan!'' imbuh Gilang.


Alisa melotot. Gilang tertawa. ''Santai sayang... kamu kenapa sih? Dari tadii liatin aku begitu banget? Seolah aku ini kasat mata aja!'' Sewot Gilang.


Ia makan terlebih dahulu baru kemudian ia menyuapi Alisa dari sendok yang sama.


Dari luar, Ira melihat jika Papi dan Mak nya sudah baikan. Ia mengucap hamdalah.


''Alhamdulillah.. Papi sama Mak, udah baikan! Semoga setelah ini, tidak ada lagi rintangan untuk mereka berdua! Kakak berdoa semoga Mak dan Papi bisa bersama sampai maut memisahkan kalian berdua.. Amiiin...''


💕


TBC

__ADS_1


__ADS_2