
Gilang memacu mobilnya begitu kencang. Tidak sadar dengan keselamatan dirinya. Dengan hanya memakai celana pendek di bawah lutut serta baju kaos berwarna biru laut, ia pergi ke rumah sang istri.
Hanya butuh waktu lima belas menit untuk tiba di kediaman Alisa. Dengan segera, ia masuk kerumah itu tanpa mematikan mesin mobilnya.
Saking terkejutnya dan paniknya Gilang, pintu pagar rumah mereka pun tidak di tutup olehnya.
Ia membuka pintu sekali sentakan, dengan cepat ia berlari ke atas menuju tangga. Nafasnya memburu.
Keringat membanjiri seluruh tubuhnya. Ia masuk dengan tergesa hingga mendobrak pintu dengan kasar.
Brruuaakk..
''Astaghfirullah!!'' pekik salah satu pegawai salon itu Karena terkejut.
Mereka melihat Gilang jadi terbengong. Dengan nafas yang masih tersengal-sengal karena baru saja habis berlari, ia mendekati Alisa dan menyuruh ketiga orang itu keluar dari kamarnya.
''Hosshh.. hosshh.. Kalian keluar! Biar saya yang mengurus istri saya!'' tegasnya. Masih dengan nafas tersengal ia duduk di tepi ranjang dan mulai mengobati luka di dahi Alisa yang sudah di bersihkan terlebih dahulu oleh tiga pegawai salon.
Para pegawai itu dengan serentak mundur walau sesekali menoleh pada Alisa dan Gilang.
Melihat perlakuan Gilang terhadap Alisa, mbuat ketiga orang itu menjadi iri. Iri ingin memilki suami sepeti Gilang.
''Hu.. so sweeeeetttt.. moga-moga kita jauh dapat yang sama seperti tuan Gilang ya?''
''Amiinn... semoga saja!'' sahut dua orang pegawai salon itu.
Dengan cekatan Gilang membersihkan darah pada dahi Alisa. Mukenah putih yang ia berikan kini sudah berlumur darah.
Ingin ia membuka mukenah itu, tapi ia dan Alisa belum sah. Masih sah terikat hukum belum agama.
Dengan berat, ia tetap membersihkan luka itu walau harus menyingkap sedikit mukenah yang di kepala Alisa.
Sempat ia rasakan halusnya rambut Alisa yang terurai karena baru saja mandi dan masih basah.
Gilang menggeleng kan kepala nya. ''Astaghfirullah! Sadar Gilang! Tiga hari lagi! Sabaaarr...'' Gilang mengelus dadanya dramatis.
Semua itu tak luput dari pengamatan sang pujaan hati. Seutas senyum tersungging di bibir tipisnya.
Melihat Alisa tersenyum, gialng bergidik ngeri. ''Hii.. kamu menyeramkan sayang, Jika senyum sambil tidur seperti itu!''
__ADS_1
Lagi, senyum itu masih terpatri disana. ''Jangan senyum gitu dalam tidur.. berasa akunya kayak gentayangan aja! Emang aku setan apa?!'' ketus Gilang dengan tangan terus bergerak mengoleskan cairan antiseptik pada luka Alisa.
Bukannya meringis, Alisa malah tertawa terbahak dengan mata terpejam. Gilang terkejut hingga jatuh terjengkang kebelakang.
''Astaghfirullah!''
Brrrruuuaakkk..
''Aduhh .. ya Allah... ishhh.. jatuhnya kok nggak keren amat sih? Kamu lagi sayang! Kok ketawanya gitu amat? Ishh..'' gerutu Gilang sambil menggosok bok*ngnya yang terasa sakit.
''Hahaha .. hihihi...'' Alisa masih saja tertawa.
Gilang berdiri dan mendekati ranjang. Ia melohat pujaan hatinya sedang tertawa hingga meringkuk karena sakit perut.
Melihat itu Gilang pun ikut tertawa. Ia terkekeh sendiri. Dengan cepat ia berbaring di sebelah Alisa.
Alisa terdiam saat merasakan tubuh Gilang mendarat di sebelah nya. Ia menatap Gilang yang sedang tersenyum padanya.
''Sakit kamu kambuh lagi?''
''Ya.. begitulah. Tak apa. Eh? Kok kamu bisa kesini sih? Bukannya kamu masih diluar kota ya?'' tanya Alisa sambil menatap Gilang dengan dalam.
Alisa tersenyum namun sendu. ''Maaf By...''
''Apa?'' tanya Gilang memastikan pendengaran nya.
Alisa mendongak. ''Maaf Papi..'' lirih Alisa lagi. Lidahnya kelu untuk mengucapkan kata-kata tadi.
''Ck! Bukan yang itu!''
''Terus?'' tanya Alisa dengan wajah polos.
Gilang gemas mencubit pipi chubby Alisa. Membuat sang empu kesal dan menepuk tangan Gilang.
''Haha... By?''
''Hah?''
''Apakah Hubby???'' ledek Gilang dengan wajah nakalnya.
__ADS_1
Alisa melengos. Gilang tertawa. Sementara diluar kamar mereka, pegawai salon yang sedang dihubungi oleh Mama Dewi tersenyum.
''Nyonya Alisa, sudah baikan Nyonya Dewi. Itu sudah terdengar gelak tawa dari tuan Gilang di dalam.''
''Hoo.. terimakasih. Ya sudah, saya tutup dulu. Assalamualaikum.''
''Waalaikum salam.''
Mama Dewi menghela nafas lega. ''Ada apa sebenarnya Bu Besan?'' tanya Papa Yoga.
Sejak tadi, ia penasaran dengan Gilang pergi tanpa pamit. Saking paniknya, ia mengabaikan dua orang paruh baya yang berdiri mematung di hadapan nya.
Mama Dewi menatap Papa Angga dan menghela nafasnya. ''Seharusnya, Gilang yang mengatakan hal ini kepada besan. Tapi karena terbuka sekarang, terpaksa saya harus berbicara.'' imbuhnya sembari menatap ke empat besannya itu.
Ira dan Lana juga ada di sana. Mereka hanya bisa diam. Tidak berani menyela jika tidak di suruh untuk berbicara.
Mama Dewi menatap kedua anak Alisa yang sudah besar. ''Ceritakan yang sebenarnya nya Nak? Mereka wajib tau tentang keadaan Mak kalian berdua. Bukan ranah Oma untuk membicarakan hal ini. Karena Papi kalian sudah melarang Oma untuk menceritakan nya kepada siapa pun.'' lirih Oma Dewi dengan Mata berkaca-kaca.
Papa Yoga semakin tidak tenang. Ia menatap kedua cucunya yang sudah beranjak remaja dan dewasa itu.
''Katakan yang sebenarnya. Apapun Yang akan kalian sampai kan, Kakek tidak akan marah. Kakek janji!'' ucapnya serius menatap Lana dan Ira.
Kedua anak Alisa itu saling pandang dan mengangguk. ''Mak sakit karena masa lalunya saat tinggal bersama ayah Emil. Penyakit yang di sebabkan oleh ayah Emil enam tahun yang lalu berakibat fatal untuk saat ini. Selama lima tahun ini Mak selalu merasakan sakit di kepalanya. Tapi Mak menahan rasa sakit ini Karena kami berempat. Ingin Abang kasi tau Papi, tapi Mak melarang. Katanya jangan ganggu Papi yang sedang sekolah. Dan saat Papi pulang kemarin... Mak jatuh pingsan lagi. Disitulah Papi tau penyakit Mak yang sebenarnya.''
''Rencana nya setelah acara pernikahan ini selesai, Papi akan membawa Mak ke Singapura untuk melakukan operasi.''
''Operasi?'' tanya Mama Alina.
''Ya, operasi penyumbatan darah yang sudah lama membeku karena benturan keras yang terjadi ensm tahun lalu. Dan sekarang sudah menimbulkan penyakit baru di saluran itu. Tumor!''
''Apa?!!!'' pekik ke empat orang paruh baya itu.
''Ya, Mak Alisa menderita penyakit tumor yang hampir merenggut nyawanya. Semua ini terjadi karena Ayah Emil pernah mendorong Mak begitu kuat hingga membentur dinding dan pintu saat dimana Malam terakhir ayah menceraikan Mak enam tahun yang lalu.'' jelas Lana dengan air mata yang sudah bercucuran.
''Astaghfirullah al'adzim... Alisa..'' lirih Papa Yoga dan Mama Alina.
''Semua ini Mak akui ketika dua tahun setelah Papi berangkat ke Amerika untuk belajar. Abang terpaksa mendesaknya untuk mengatakan ada apa yang sebenarnya. Dan ternyata.. Mak selama ini, ia menahan sakit sendiri tanpa mau berbagi nya dengan kami.. ia ingin menunggu Papi pulang dari Amerika baru mengatakan nya. Dan Allah mengabulkan itu semua. Pertama kali bertemu Papi setelah sekian lama dirumah ini Mak pingsan.. hiks..''
''Ya Allah.. putriku..'' lirih Papa Yoga dengan dada yang begitu sesak saat ini merasakan sakit yang Alisa rasakan hingga ke relung hati yang paling dalam.
__ADS_1