
Keesokan harinya.
Saat ini Alisa sedang dalam perjalanan menuju rumahnya. Rumah Papa yoga dan Mama Alina yang sudah di renovasi oleh Gilang sebulan yang lalu.
Tiba di depan rumah berlantai dua dengan cat luar coklat susu dan warna krem kesukaan nya, Alisa terbengong.
Ia jadi bingung. Ingin turun, takut salah rumah. Sang supir travel melihat termenung menegur nya.
''Maaf Bu.. apakah ini rumahnya?'' tanya sang supir travel
Alisa terkejut, ''Eh, saya juga nggak tau Pak!'' sahut Alisa.
Pak supir mengernyitkan dahinya, ''Loh, kenapa nggak tau? Bukannya ini alamat yang ibu katakan tadi?''
''Iya sih. Tapi... melihat rumah ini saya jadi ragu.''
''Maksud Ibu?''
''Rumah kedua orang tua saya tidak besar seperti ini. Hanya gubuk reyot dengan dua kamar di dalamnya. Lah ini? Dua lantai euuuyyy..''
Pak supir terkekeh mendengar ucapan Alisa. ''Coba aja dulu Bu, ditanya gitu. Barangkali rumah ini memang rumah kedua orang tua ibu. Tapi udah di renovasi. Bisa jadikan?''
''Iya juga sih. Hampir delapan belas tahun saya tidak pulang.. bisa jadi. Hah. Ayo Pak! Turunin semua barang bawaan saya,'' kata Alisa pada sang supir travel
Supir travel itu mengangguk, dengan segera ia keluar dan menurunkan dua buah koper berukuran sedang. Miliknya dan juga perlengkapan Rayyan putranya.
Setelah turun dari mobil travel itu, Alisa berdiri mematung di depan pagar berwarna hitam rumah Papa Yoga dan Mama Alina.
''Mari Bu, jika ibu nanti ibu kembali lagi ibu hubungi kantor saja. Saya yang akan menyusul ibu kemari.'' ucapnya dengan tersenyum pada Alisa.
Alisa mengangguk. ''Terimakasih, Pak!'' supir travel itu mengangguk dan berlalu meninggalkan Alisa yang berdiri mematung di depan pintu besi berwarna hitam.
Kepalanya mendongak keatas melihat bangunan dua lantai itu. ''Benar nggak sih ini rumah nya? Ah, coba aja dulu. Kalau bukan keluar! Apa payah nya sih?'' gerutu Alisa sampai terdengar di telinga Rayyan.
''Mami??''
''Ya, Sayang? Adek udah bangun? Mami kirain masih bobok tadi. Cup!'' Alisa mengecup sekilas pipi chubby Rayyan.
Mata bulat bening mirip Vita itu mengerjab-ngerjab lucu. ''Kita udah sampai ya dirumah Kakek?'' tanya nya.
Alisa mengangguk, ''Udah. Tapi Mami ragu, ini beneran nggak ya rumah Kakek? Mami kan udah lama nggak pulang kampung. Sekali pulang, rumahnya udah gedong aja kayak gini.'' Kata Alisa lagi, matanya masih menatap lurus ke depan.
Rayyan yang masih bersembunyi di ceruk leher Alisa yang tertutup hijab, melonggarkan pelukannya.
Ia menoleh pada mata Alisa yang sedang melihat sesuatu. Mata bulat bening itu mengerjab lagi.
Sementara didalam rumah Papa Yoga dan Mama Alina, mereka berdua sedang sarapan pagi. Karena masih jam setengah tujuh.
Biasanya mereka berdua akan sarapan jam delapan. Tapi hari ini entah kenapa, Mama Alina merasakan sesuatu.
Seperti...
Mata Mama Alina mengerjab melihat keluar jendela. Mata tua itu mengintip dari celah jendela yang tertutup tirai.
Ia memicingkan matanya melihat dua orang berdiri mematung di depan pagar rumahnya. Seorang wanita dengan hijab hitam, dengan gamis merah muda melekat cantik di tubuh berisi nya.
Begitu juga depan putra kecil yang wanita itu gendong, anak itu memakai baju kaos warna biru muda dengan celana pendek selutut warna krem.
__ADS_1
Dengan sendal ikat mirip punya Lana. ''Lana?'' mata nya membulat sempurna saat mengenali siapa wanita dan juga anak kecil itu.
Pandangan matanya mengabur, ''Alisa!!!'' panggil nya dengan suara tinggi.
Deg!
''Mama!!!'' balas Alisa tidak kalah tinggi.
Wanita tua itu dengan segera membuka pintu rumah mereka dan berlari keluar dengan air mata bercucuran.
''Alisa!!!''
''Mama!!! hiks.. Mama!!!'' Seru Alisa dengan terisak.
Rayyan mematung melihat Sang Mami menangis. ''Mami kok nangis, bukannya satu bulan yang lalu baru ketemu nenek ya?'' tanya bocah kecil mirip Gilang dan Alisa itu.
Alisa terisak melihat Mama Alina, sedangkan Mama Alina tertawa mendengar sang cucu berbicara seperti itu.
''Nak?? Sayangku! Mama kangen banget sama kamu! Sama Rayyan juga!'' ucap Mama Alina dengan segera memeluk Alisa dan Rayyan bersamaan.
Rayyan tertawa saat sang nenek menciumi seluruh wajahnya. Papa Yoga mematung di depan pintu melihat sang putri pulang kerumah tuanya setelah tujuh belas tahun berlalu.
''Putriku... kamu pulang Nak??'' Alisa menoleh pada Papa Yoga.
Lagi, dada itu sesak. Entah apa yang terjadi dengan nya. Ia memberikan Rayyan pada Mama Alina dan berlari kepada Papa Yoga untuk memeluk pria paruh baya cinta pertama nya itu.
Papa Yoga terisak, buliran bening itu mengalir di wajah tuanya. Dengan kedua tangan terbuka lebar, ia menangis terharu melihat Alisa pulang lagi ke rumahnya setelah sekian lama.
Grep!
''Papa!!! haaaa... Alisa kangen Papa!! haaaa...'' Alisa tersedu seperti anak kecil.
Ia mengangguk setuju. ''Hooh. Dari kemarin Mami nangis... terus loh Nek? Adek jadi heran lihat Mami. Di tanya, malah bilang nggak apa-apa. Cuma kelilipan! Mami cengeng ih!''
Mama Alina tertawa mendengar ucapan putra sulung Gilang ini. Gemas, ia mengecup seluruh wajah Rayyan.
Membuat putra sambung Alisa itu tertawa terbahak-bahak karena kegelian. Para tetangga mendengar kehebohan di depan rumah Alina, keluar.
Mereka terkejut melihat Alisa sudah kembali lagi setelah tujuh belas tahun tidak pernah pulang ke kampung halaman.
Bahkan ketika rumah mereka di renovasi, para tetangga Mama Alina menebak jika Alisa lah yang mengirimkan uang melalui pemuda tampan yang saat itu pernah datang kerumah mereka.
Melihat dan mendengar suara tetangga berbisik-bisik, Mama Alina menyuruh Papa Yoga untuk membawa Alisa masuk.
''Kita masuk, nak. Ih, kamu kok cengeng gini sih? Mana Alisa yang papa kenal itu kuat? Mana Alisa yang selalu tersenyum walau hati sedang menangis?''
Alisa semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Papa Yoga. Bukannya tambah berhenti, tapi tambah menangis.
Ia semakin tersedu di pelukan Papa Yoga. Dengan segera Alisa di bawa masuk kerumah mereka.
Rumah tua yang sudah di renovasi oleh sang menantu satu bulan yang lalu. Saat acara pernikahan Alisa akan dilangsungkan di Medan.
Alisa di dudukkan di kursi dapur. Ruang yang tertata rapi dan bagus itu membuat Alisa menelisik ke seluruh ruangan.
Setelah tadi Papa Yoga mengurai pelukannya. Papa Yoga terkekeh melihat Alisa kebingungan seperti itu.
''Hiks.. Pa.. ini kapan di renovasinya? hiks..'' kata Alisa masih dengan sesegukan.
Papa Yoga tersenyum, ''Sebulan yang lalu sebelum kamu menikah dengan Gilang.''
__ADS_1
Alisa menoleh pada Papa Yoga. ''Apakah...''
''Mami!!! Adek laperrr...'' seru Rayyan di kursi di sebelah Papa Yoga.
''Iyakah? Cucu tampan kakek ini lapar?''
''He'em. Adek cuma makan tadi malam saja sama Mami. Pagi ini 'kan belum?''
Papa Yoga tersenyum, ''Ma?''
''Sebentar Pa.. ini lagi diambilkan!'' sahut Mama Alina dari arah dapur yang terbatas dengan tembok separuh dada.
Alisa terdiam. Tiba-tiba saja ia ingat jika Gilang juga belum sarapan pagi.
Inikan sudah pagi? Kira-kira kamu udah bangun belum ya? Abang ngurusin kamu nggak? Gimana sama Mual dan muntah kamu?
Hah....
Biarin ajalah! Biar tau rasa! Kesel aku sama kamu, By!
Gumam Alisa dalam hati. Wajahnya tiba-tiba berubah datar dan dingin. Papa Yoga melihat ada keanehan pada wajah Alisa.
''Nak??''
''Kamar Alisa yang mana, Pa? Alisa mau istirahat dulu. Masih ngantuk. Capek juga mangku Rayyan sambil duduk.'' ucap Alisa masih dengan wajah datar nya.
''Kamar kamu ada dilantai atas. Dengan warna cat pintu warna kuning keemasan di setiap reliefnya. Pergilah. Biar Rayyan, papa dan Mama yang jaga. Istirahat kan dulu tubuhmu. Nanti, Mama yang akan antarkan sarapan untukmu keatas,'' jawab Papa Yoga masih dengan menatap putri tunggal nya itu.
Alisa mengangguk, dengan segera ia menuju ke atas dan membawa kedua kopernya. Ia menaiki tangga satu persatu dengan langkah gontai.
Pikiran berkelana entah kemana. Hati meraba-raba dan menerka tentang Gilang. Suami yang begitu ia cintai sejak lima tahun yang lalu.
Sementara Mama aliran datang dengan Membawa semangkuk nasi goreng dan juga empat buah piring.
Tian disana ia terkejut melihat Alisa sudah tidak ada. ''Loh? Alisa mana Pa?''
Papa Yoga menoleh, ''Sudah masuk ke kamar. Capek katanya. Papa suruh aja langsung masuk ke kamarnya. Ada yang aneh dengan Alisa, Ma?''
''Maksudnya?''
''Apakah kamu melihat Gilang ikut bersamanya?'' Mama Alina tertegun.
''Iya ya? kok Mama nggak ngeh ya, kalau Gilang nggak ikut bersamanya. Ya sudah, biarkan saja dulu, tidak usah ditanya-tanya. Barangkali ada masalah sedikit, ataupun Alisa memang sedang ingin pulang kesini?''
''Entahlah. Papa pun tak tau. Udah, suapi cucu tampan ku ini. Setelah ini mandi, laku ikut kakek ke sungai ya untuk lihat kerbau kita yang sedang mandi.''
''Sungai?'' tanya Rayyan, Papa Yoga mengangguk.
''Ya, sungai!''
Mata bulat bening mirip Vita itu berbinar senang. ''Horeee .. adek mandi sungai! huhu.. aseeeekkk...'' serunya
Papa Yoga dan Mama Alina tertawa melihat tingkah lucu Rayyan. Tidak tau dengan Alisa, istri Gilang itu sedang melalang buana entah kemana.
💕💕💕💕💕
Hehehe..
Kebut! Biar cepat end! 😁😁😁
__ADS_1