
Seminggu berlalu sejak kejadian dimana mereka berdua jatuh dari ranjang dan mengakibatkan Alisa harus di pijat oleh Mak Ijah, kini Gilang dan Alisa sudah beraktivitas seperti biasa.
Dan Gilang benar-benar menepati janjinya untuk tidak menyentuh Alisa selama seminggu.
Alisa berulang kali mengatakan jika ia tidak apa-apa. Tapi Gilang tetap Keukeh tidak ingin menyentuhnya, sampai pinggang Alisa kembali normal kembali seperti sedia kala.
Dan pagi ini rencananya, keluarga besar akan datang berkunjung kerumah mereka. Papa Angga, Mama Dewi, Mama Alina, Papa Yoga dan keempat anak mereka.
Untuk Tante Irma sudah pulang dua hari sebelum nya. Karena Om Karim yang merupakan seorang pegawai di kantor camat tidak boleh cuti terlalu lama.
Dan Tante Irma mendapatkan tugas dari Papa Yoga untuk melihat rumah mereka sudah jadi atau belum. Seperti yang disampaikan Gilang dua hari yang lalu.
Pukul sepuluh pagi, seluruh keluarga Alisa sudah tiba di kediaman Alisa dan Gilang. Pertama kali menginjakkan kaki di rumah sang putri, Papa Yoga tertegun.
Ia menatap rumah dua lantai yang berdiri kokoh diantara rumah yang lain.
Papa Yoga menatap sekitar rumah Alisa. Komplek perumahan biasa bukan seperti komplek perumahan milik Papa Angga.
Tapi rumah itu berdiri begitu megah diantara yang lain. ''Masyaallah Besan... rumah anak-anak kita luas dan besar! Apakah besan tau tentang rumah ini?'' tanya Mama Alina pada Mama Dewi.
Mama Dewi tersenyum kecut. ''Bahkan untuk rumah ini pun aku tidak tau Besan! Gilang menyembunyikan nya dari kami termasuk tentang Alisa. Wanita yang ia cintai..'' lirih Mama Dewi sendu.
Mama Alina menoleh dan terkejut. ''Ada apa Besan? Apakah ada sesuatu yang tidak kami ketahui?'' tanya Mama Alina penasaran.
Mama Dewi tersenyum pada Mama Alina. ''Nanti besan akan tau sendiri dari Gilang. Aku tidak bisa memberitahu mu Besan. Ayo, kita masuk!'' ajak Mama Dewi.
Dengan segera mereka masuk ke dalam rumah Gilang dan Alisa. Pertama kali masuk kerumah itu, mereka sudah di suguhkan foto Gilang, Alisa dan ketiga anak-anak nya lima tahun yang lalu.
Mama Alina dan Mama Dewi tertegun. ''Bahkan Gilang sudah menyiapkan ini sejak lima tahun yang lalu Besan! Maaf.. karena kami berdua, mereka harus berpisah begitu lama..'' lirih Mama Dewi dengan menitikkan air matanya.
''Apa maksudmu Besan?! Ada apa ini? Ada yang bisa jelaskan?!'' seru Mama Alina dengan wajah gusar.
Ira, Lana dan Annisa terdiam. Mereka tidak berani menjawab pertanyaan Mama Alina. ''Gilang yang akan menjelaskan semuanya pada Mama dan Papa. Semuanya. Tanpa ada yang ditutupi lagi dari kalian semua.'' ucap Gilang dengan suara lembutnya.
Ia mendekati Mama Alina dan menyalami wanita paruh baya yang mirip dengan Alisa itu.
__ADS_1
''Ayo, Mama duduk dulu. Akan Gilang jelas kan! Sayang?'' panggil Gilang pada Alisa.
Alisa keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi makan dan cemilan khas buatan tangan Alisa.
Tangan dan kaki Alisa masih saja berhiaskan Henna yang masih ada warnanya. Melihat itu Gilang selalu tersenyum.
''Kenapa sih liatin aku begitu banget? Yang kayak ada hutang aja aku sama kamu!'' ketus Alisa dengan melewati Gilang yang sedang duduk bersama Mama Alina.
Gilang terkekeh. ''Ya, kamu punya hutang sama aku! Satu Minggu, Neng! Harus lunas! Aku tak mau di cicil!'' goda Gilang pada Alisa.
Membuat Alisa mendelik tak suka. Gilang tertawa. Para orang tua pun ikut tertawa. Papa Yoga masih saja berdiri di depan figura besar itu.
''Sejak kapan kalian bersama seperti ini?'' tanya Papa Yoga masih dengan menatap figura besar yang terpajang di dinding rumah mereka.
Foto lima tahun yang lalu, saat mereka liburan ke taman safari Medan pancur batu. Gilang tersenyum, ''Sejak lima tahun yang lalu. Sejak kejadian dimana Alisa diceraikan oleh bang Emil, dan pergi dari rumah mereka. Di saat itulah Gilang selalu hadir di dalam kehidupan mereka.''
''Dulu, rumah ini tidak sebesar ini Pa. Rumah ini sangat kecil. Dengan atap bocor, lantai semen kasar, dinding papan yang sudah di makan rayap. Tapi Gilang betah tinggal dirumah ini. Di rumah inilah kenangan kami berdua, Papa. Gilang sengaja menyembunyikan semua ini dari Mama dan Papa demi melindungi nya.''
''Melindunginya?'' tanya Mama Alina.
''Ya,'' sahut Gilang.
Alisa menggenggam tangan Gilang dan menggeleng. Gilang tersenyum, ''Tak apa sayang. Semua itu sudah berlalu. Mereka berdua berhak tau tentang masa lalu kita.'' ucap Gilang menenangkan Alisa.
''Tapi ini .. tentang...'' ucapan Alisa terputus karena melihat Mama Dewi dan Papa Angga terisak.
''Lah, loh? Kenapa Besan menangis? Ada yang salah kah? Ini ada apa sih?!'' tanya Mama Alina panik.
''By...'' lirih Alisa dengan bibir bergetar. Alisa memegang erat tangan Gilang.
Gilang tersenyum, ia memegang kepala Alisa dan membawa ke dadanya. Ia mengecup sekilas dahi Alisa dan meluknya kembali.
Alisa terisak. ''Tak apa sayang. Tenang.. semua inia akan baik-baik saja. Hem, percaya padaku!''
Alisa masih terisak di pelukan Gilang, ''Jangan katakan apapun, By.. please...'' pinta Alisa dengan sangat.
Gilang tersenyum lagi. ''Tenang sayang.. it's Okey Hunny. Please .. trust me, hem?''
__ADS_1
''Please.. By! No!'' seru Alisa.
''Hunny?''
''No, Hubby! No!''
''Oh.. come on Hunny...''
''No! once no still no, Hubby!!'' seru Alisa dengan wajah cemberut nya.
Gilang tertawa karena melihat bibir Alisa mengerucut sebal. ''Hunny?''
Alisa mendelik. ''No, Hubby! No! Yuo understand?! huh?! Hem!'' cebik Alisa semakin kesal.
Dua pasang paruh baya itu melongo melihat tingkah Gilang dan Alisa. Padahal mereka tadi sedang membahas tentang masa lalu Gilang dan Alisa.
Tapi malah menonton drama mereka yang saling berdebat. Papa Angga terkekeh melihat Gilang yang kewalahan membujuk Alisa untuk mengatakan yang sebenarnya.
''Hunny? Please.. oh ayolah.. tidak akan terjadi apapun! Percaya padaku! Ya?'' bujuk Gilang lagi.
''Hubby-,''
''Tak apa, Nak. Kedua orang tua mu harus tau yang sebenarnya tentang kejadian masa lalu yang mana kalian berdua berpisah itu karena kami. Karena kami yang egois tidak merestui hubungan kalian berdua. Sampai Gilang harus kami paksa dengan Vita. Mama kandung Rayyan karena sebuah janji. Dan kami pun meminta Gilang untuk tidak menemui mu karena janjinya pada kami, jika tidak kami akan menghabisi mu, Nak.. maafkan kami..'' lirih Papa Angga dengan air mata yang sudah beruraian.
Mama Alina dan Papa Yoga terkejut mendengar nya. ''Itu sudah menjadi masa lalu, Pa.. kami berdua sudah memaafkan kalian untuk masalah itu. Oleh karena itu, aku di pertemukan dengan putra kecilku. Ar Rayyan putra Bhaskara! Putra semata wayang Gilang dan Vita. Tak apa. Aku ikhlas! Inilah takdirku dan takdir Gilang. Sekarang lihatlah kami. Kami berdua telah bersatu untuk selamanya.'' jelas Alisa, membuat dua paruh baya itu semakin tersedu.
''Kami berdua sudah memaafkan kalian. Jangan bersedih. Tapi aku senang, karena kalian berdua mengizinkan Ida yang menjadi ibu susu Rayyan. Karena itu yang aku inginkan sebelum Rayyan lahir ke dunia ini. Dan Alisa menjadi Maminya sesuai dengan permintaan ku dulu, ya kan sayang?''
Alisa mendelik kembali melihat Gilang. ''Ih kok gitu sih liatin aku? Ada yang salah ya sama omongan aku?''
''Ada!''
''Apa?''
''Kamu tega bilang, jika Vita hanya bertugas melahirkan Rayyan saja sedang yang mengurusnya kita berdua! Kamu jahat, By! Kan kasian Vita?'' cebik Alisa semakin kesal dengan ucapan Gilang beberapa hari yang lalu tentang Vita.
Gilang tertawa. ''Tapi itu memang kenyataannya kan? Kita harus berterima kasih pada Mama akan hal itu, hem,'' goda Gilang pada Alisa
__ADS_1
Alisa menepuk lengan Gilang. Gilang hanya tertawa-tawa saja. Hingga membuat ke empat paruh baya itu ikut tertawa.