Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Belanja tanpa Mak


__ADS_3

''Nih orang kayak kenal deh?? tapi dimana ya??''


Setelah Lana mengingat tentang Raga, barulah ia sadar jika supir di sebelah nya ini adalah Raga bukan supir nya Ummi.


Lana terkekeh. Akhirnya ia punya kesempatan untuk mengejek Raga lagi. Lana ambil ancang-ancang untuk menyerang Raga.


''Bukannya ini kak-'' ucapan Lana terputus karena mereka semua sudah tiba di pasar. Lana langsung saja terdiam.


Sedangkan seseorang itu terkekeh. ''Emang enak??'' gumam nya tanpa suara tapi bisa dipahami oleh Lana.


''Ayo kita turun!'' ajak ummi Hani.


Ira mengangguk, tapi tidak dengan Lana. Wajahnya berubah menjadi masam. Ira yang peka bertanya.


''Kamu kenapa Bang??'' Ummi Hani menoleh dan melihat Lana.


Sedangkan Lana tetap sama. Raut wajahnya tidak enak di pandang. Asam kayak jeruk purut.


"Nggak ada!" sahutnya.


"Kalau nggak ada kenapa wajah mu asam kayak jeruk purut begitu! Ubah ah! nggak sedap banget di pandang mata!" sewot Ira.


Membuat Kedua orang di belakang mereka tergelak.


"Ishh.. tanya aja tuh sama supirnya Ummi!" sahut nya ketus.


Ummi menoleh. "Raga??"


"Eh? Kak Raga?? Mana? Di mana orang nya??" tanya Ira celingukan mencari Raga.


Sedang yang dicari berdiri tepat di belakangnya. Ia terkekeh melihat pujaan hatinya begitu antusias saat ummi menyebut namanya.


"Nggak ada Ummi.."


"Ada! tuh di belakang kamu!" tunjuk ummi Hani.


Ketika Ira berbalik betapa terkejutnya ia ketika melihat Raga sudah berdiri tepat di belakangnya.


"Kak Raga!!!" pekik Ira membuat Lana memutar bola mata jengah.


Ia benar-benar jengah dengan kelakuan Raga. Bisa-bisanya Raga merangkap menjadi supir serta menipu mereka berdua.


''Hadeeeuuhh... mulai.. bucin dah..! kayak Sam sama cinta! Dasar penipu!!'' ketus Lana.


Membuat Raga benar-benar tertawa ngakak. Ia sangat suka menggoda Lana. Entah mengapa, melihat Lana seperti melihat nya dulu ketika kecil.


Sama kelakuan nya seperti Lana sering ketus saat bicara. Namun setelah beranjak remaja Raga berubah sedikit demi sedikit.


Apalagi saat pertama kali melihat Ira masuk ke sekolah di tempatnya berada membuat pemuda baru gede itu, akan berubah demi pujaan hatinya.


Dan itu berhasil. Seperti kali ini. Ia berhasil menggoda Lana yang notabene nya masih anak-anak.


Ira terdiam, sedang ummi terkekeh. ''Sudah, ah! kapan belanjanya ini??'' tanya ummi memastikan.


''Jadi dong Ummi! Besok Abang kan mau masuk sekolah pakai seragam sama sepatu??''


''Baiklah, pangeran.. hamba siap membantu kali ini! Janji! nggak akan usil lagi!'' ucap Raga dengan serius.


''Oke! Lana pegang janji Abang!'' ucapnya juga dengan serius.


Jika Lana sudah menyebut namanya, berarti dia akan serius kali ini. Setelah nya mereka masuk kepasar dan belanja bahan perlengkapan untuk sekolah.


Mulai dari seragam, sepatu, tas, buku-buku serta alat tulis lainnya yang kiranya di butuhkan.


Juga pakaian sehari-hari mereka. Ira tidak berani membeli lebih dari tiga karena takut uang ayah nya akan habis.


Ummi maklum akan itu. Pada saat mereka semua sedang berbelanja, tak sengaja mata Raga menatap sesuatu yang terpajang di etalase toko emas.


Ia melihat, jika ada sepasang gelang dan cincin sangat cocok di kenakan Ira. Karena penasaran, ia pun melangkah kesana.


Sesampainya disana, penjual itu menyapanya.


''Ada yang bisa kami bantu Dek??''


''Oh, ada Kak! Satu set perhiasan ini berapa ya harganya??''


''Yang ini'' tunjuk pen jual toko itu.


''Ya,'' sahut Raga.

__ADS_1


''Yang ini emas murni Dek, harganya berkisar sekitar 36.667.000 Rupiah. Bukan cuma gelang dan cincin ini aja ya dek tapi ada juga kalungnya. Semuanya pas kalau adek nanti untuk melamar seseorang tapi tidak sekarang..'' usir nya secara halus.


Raga tetap kekeuh pada pendiriannya. ''Coba saya lihat kalungnya!'' titahnya dengan tatapan tajam.


Penjual toko itu menciut melihat tatapan mata Raga.


''Ba-baik! tunggu sebentar!'' sahutnya.


Sementara ia menunggu kalung pada penjual toko itu. Raga merogoh ponsel nya dan menelpon Abi Hendra.


Tut,Tut, Tut, Tut..


''Assalamualaikum Nak.. ada apa??''


''Kirimkam uang Raga, yang Raga simpan sama Abi sebanyak 40 juta ke rekening Ummi, sekarang!''


''Hah?? Buat apa uang sebanyak itu?? Kamu jangan macam-macam Raga-''


''Nggak macam-macam Abi.. ini tuh untuk Masa depan Raga! Ayo ah! dikirim sekarang! Raga butuhnya sekarang! nggak nanti-nanti! Assalamualaikum!'' ucap Raga.


Kemudian ia melihat pemandangan jual toko itu sudah kembali dan membawa kalung sepaketan dengan cincin serta gelang yang begitu cantik.


Raga tersenyum melihat nya. ''Sebentar saya ambil uangnya.'' ucap Raga setelahnya ia berlalu meninggalkan penjual toko yang termenung itu.


Sedangkan diseberang sana, Abi Hendra sedang bersungut-sungut tentang Raga. Ada apa? pikirnya.


Tak pernah selama ini ia bertingkah seperti itu. Walaupun ia bersungut-sungut tapi tetap mengirim kan uang putra nya itu ke rekening sang istri.


Ting!


Satu notifikasi masuk dalam ponsel ummi Hani. Ummi Hani merogoh ponsel yang berada di dalam tas nya dan melihat ada transaksi penambahan saldo yang begitu banyak ke dalam rekening nya.


Kening ummi Hani mengerut. Belum sempat ia menelpon Abi Hendra tapi sudah dipanggil oleh Raga.


''Ummi!''


''Heh? ah Raga!''


''Minta ATM Ummi! Raga mau beli sesuatu buat calon nya Raga nanti.'' ucapnya sembari menadahkan tangannya pada ummi Hani.


Tanpa berpikir panjang ummi Hani memberikannya. Beruntungnya saat itu, kedua kakak beradik kocak itu sedang memilih CD untuk Lana.


''Tenang.. nanti Raga tunjukan kok. Percaya deh! jangan kayak Abi! ngirim duit Raga tapi banyak tanya! huh! sebal aku!'' gerutu nya seraya berlalu


Ummi Hani yang mendengar nya pun terkekeh. Ia percaya dengan putra nya itu. Sesuatu untuk masa depan itu pasti mahal harga nya? pikir ummi Hani.


Setelah tiba disana, penjual toko itu memaksakan senyum nya pada Raga.


''Saya kira nggak jadi!'' sindir nya lagi.


''Saya bayar dengan ini! saya nggak punya uang cash!'' sahut Raga dengan spontan membuat penjaga toko itu terdiam.


''Ba-baik Dek.. tunggu sebentar saya ambilkan dulu tempat nya!''


Raga mengangguk, setelah ia berlalu mengambil kotak tempat meletakkan satu set perhiasan emas itu yang sudah berisikan dengan perhiasan emas yang tadi Gilang tunjuk.


''Ini Dek.. coba di periksa!''


''Ya! Dan ini!'' ucapnya sembari menyodorkan satu buah kartu tipis kepada penjual toko itu.


Raga memeriksa dan tersenyum. ''Cantik! jika kamu yang memakainya!'' imbuhnya seraya tersenyum begitu manis.


''Kode Pin??''


Raga menekan kode pin kartu Ummi Hani. Setelah berbunyi seperti struk pengeluaran, penjual toko itu mengembalikan lagi kepada Raga.


''Terimakasih, sudah berbelanja di toko kami! Lain kali datang lagi ya??'' ucap penjual di toko itu.


''Ya. Oh ya kak! Surat-surat nya sudah adakan di dalam?? Tadi saya tidak periksa soalnya?''


''Semuanya lengkap! Jika nanti ada yang tidak sesuai, adek bisa kembali lagi kesini! Terimakasih sudah berlangganan di toko kami..'' imbuhnya begitu senang.


Sedang Raga menatap nya datar. ''Lain kali, jika pembeli itu seorang anak kecil jangan dipandang sebelah mata! jangan lihat dari pakaiannya! Tapi lihatlah dari dompetnya! Dan juga, jika ia berniat mencuri? buat apa dia bertanya?? saya permisi!'' tegas Raga membuat penjual di toko emas itu diam terpaku dengan perkataan nya.


Sedangkan ummi Hani dan Ira, mereka sudah selesai berbelanja. Karena melihat Ira sudah bersama ummi Hani, Raga menyimpan kartu itu kedalam saku celana jeans nya.


Ira yang melihat Raga datang dengan menenteng satu bag kecil di tangan kanan nya, heran.


''Kakak belanja?? kok nggak bilang sih?? kan bisa di temenin??'' ucap Ira pada Raga dan mendapat tatapan mematikan dari Lana untuknya.

__ADS_1


''Itu apa bang??'' tanya Lana.


''Ada deh.. untuk seseorang! udah hayok! kita makan! Dimana nih tempat yang enak untuk makan? yang adem gitu??'' tanya Raga sengaja tak menjawab ucapan Ira.


Membuat gadis itu murung. Raga tersenyum. Sedangkan ummi Hani melihat ke Raga. Raga mengkode ummi dengan gerakan mata.


Ummi yang paham mengangguk. ''Ya sudah kita cari makan dulu ayo!'' ajak ummi Hani.


Ira mengangguk pasrah. Sedangkan Lana di gandeng Ummi Hani. Sengaja untuk memberi waktu untuk mereka berdua.


Ira tidak sadar, jika Raga juga ada di sebelahnya. Raga yang melihat itu semakin yakin, jika gadis pujaan nya juga menyukai dirinya.


Tapi tidak berani menunjukkan hal itu padanya. Nama nya juga anak gadis??


''Ra...''


''Eh?? kakak ngapain sama aku?? loh? Ummi mana??'' tanya Ira, ia begitu panik mencari keberadaan Ummi.


''Ada.. ummi lagi cari tempat makan! kamu kenapa?? kok malah diam sedari kakak datang??'' tanya nya langsung tepat sasaran.


''Hehehe.. keliatan banget ya??''


''He'em. Ayo cerita, ada apa??''


Dengan ragu Ira menatap Raga. Mereka duduk sejenak di sebuah saung seperti pondok untuk beristirahat.


''Aku hanya sedang memikirkan Mak kami, kak! Biasanya kalau belanja seperti ini pasti Mak yang paling heboh. Nggak boleh ini, nggak boleh itu! Tapi hari ini... sepi...'' lirih Ira.


Raga menghela nafas nya. ''Jika kamu kangen sama Mak, Kenapa nggak datang aja kerumah sakit??''


Ira menoleh, ''Mak melarang kami kak! untuk kesana! katanya kami dirumah aja..'' lirihnya lagi.


Membuat Raga berkali-kali menghela nafas berat. Ia sampai mengepalkan tangannya untuk menahan rasa sesak di dada nya.


Sedangkan Ira sudah terisak. Raga yang melihatnya tidak mampu berbuat apa-apa. Sekuat tenaga ia menahan hatinya agar tidak ikut menangis bersama Ira.


Tapi sayang.. tetap tidak bisa.


''Jangan nangis.. kakak tidak suka melihat mu menangis seperti itu.. andai kakak bisa menyentuh mu, pastilah bahu ini bisa menjadi sandaran untuk keluh kesah mu..'' lirih Raga


Membuat Ira mendongak menatap nya. Ia melihat Raga yang juga sedang menangis seperti dirinya.


Ira terharu, lagi dan lagi ia menangis. Selama ini tidak ada yang bisa memahami isi hatinya seperti apa.


Ira laksana karang ditengah lautan. Walaupun ia diterjang oleh ombak dari arah manapun, terkikis karena air tapi ia tetap berdiri kokoh disana.


''Mulai sekarang, jadikanlah kakak sebagai sahabat untuk mu berbagi dalam segala hal.. baik itu senang maupun susah.. kamu paham??'' tanya Raga begitu lembut kepada Ira.


Membuat gadis itu mengangguk kan kepalanya cepat.


''Tapi... aku ingin lebih dari itu...'' lirih Ira begitu pelan hingga Raga pun tidak mendengar nya.


Ting!


Bawa mantu ummi kemari! jangan kamu apa-apain! itu kenapa sampai menangis begitu?! Awas kamu! kalau berani macam-macam padanya! 😠😠


Raga yang membaca pesan dari ummi Hani melototkan matanya.


Mana ada Raga apa-apain! enak aja ummi! 😝


Sekarang gantian, Ummi Hani yang melotot kan matanya karena Raga mengirim emoticon menjulurkan lidah pada ummi Hani.


Awas kau bocah tengik! Tak sunat itu burung mu sekali lagi biar tau rasa kau! cepat!! bawa mantu ummi kemari!! tak ada bantahan! 😠😠


Raga yang membaca pesan dari ummi Hani terjingkat kaget hingga ia berdiri dari duduknya.


''Ayo!! kita dipanggil Ummi!!'' ajaknya.


Setelah nya ia berlalu dengan membawa dua belanjaan Ira dan juga belanjaan nya tadi tak lupa juga Ira ada di sampingnya.


''Wuaahh.. dari mana nih mantu Ummi??


''Eh??''


💕


Hihihi.. bonus ya jika panjang banget bab nya?


Alhamdulillah othor udah lumayan.. 😁😁

__ADS_1


TBC


__ADS_2