
Praaanggg..
Suara hantaman benda seperti kaleng jatuh kelantai hingga menimbulkan suara berisik. Seseorang sedang menatapnya dengan wajah memerah karena marah.
''Apa yang kamu lakukan Azizah?! huh?! Kau menghabiskan seluruh uangku lagi?!'' pekik Emil begitu menggelegar di rumah kecil milik Emil.
Rumah peninggalan Ayah Ibra untuk Emil. Nenek Rima juga tinggal disana. Emil tak menyangka, jika ia akan bertemu dengan wanita seperti Azizah yang sangat mirip kelakuannya dengan Alisa.
Melakukan dalam hal menghambur kan uang. Begitu menurutnya. Azizah yang sedang duduk di pojokan itu menatap datar pada ayah Emil.
Tadi ayah Emil sempat mendorong Azizah hingga jatuh menabrak dinding. Sama seperti Alisa dulu nya.
Azizah menatapnya dengan senyum miring. ''Bahkan kelakuan mu tidak berubah sama sekali! Dulu, kau mendorong mbak Alisa hingga kepalanya jatuh membentur dinding! Dan sekarang aku! Kau sengaja melakukan ini karena uang mu habis di tangan ku? Sebelum kau menyiksa ku lebih lanjut, tanya kan itu pada Surgamu yang dengan tega sudah menipu selama puluhan tahun! Hingga kau bercerai dari istri pertama mu!''
Deg!
''Apa maksudmu?! Kau ingin menuduh Mak ku yang melakukan itu?!'' sentak ayah Emil hingga Azizah terjingkat kaget.
''Kenapa tak kau tanyakan pada mak mu yang pura-pura sakit itu! Uang sudah habis baru dia pusing! Ketika punya uang banyak, malah disrerahkan ke penipu! sama seperti kejadian enam tahun yang lalu!'' ketus Azizah begitu kesal terhadap ayah Emil.
Ayah Emil terkejut. Lagi, kejadian yang sama selalu Azizah ucapkan. ''Apa maksudmu?! Aku tidak mengerti Azizah! Jangan berbelit-belit! Mengaku saja, jika itu semua karena mu yang terlalu boros, makanya uang simpanan ku habis! Dasar kau pembawa Sial!!!'' pekik ayah Emil begitu lantang.
Azizah berdiri menjulang di hadapannya. ''Kau!!! berani mengatai ku Pembawa Sial?!?! Huh?!! lalu, bagaimana denganmu yang juga suami tak berguna!!! huh?!?! Kau yang pembawa sial!! Bukan aku!!!'' pekik Azizah begitu lantang.
Ayah Emil semakin terkejut dengan ucapan istrinya ini. ''Kau...!!''
Dengan segera tangan kasar itu menyentuh pipi lembut Azizah yang selama ini selalu di cium olehnya.
Plaakk...
Suara tamparan itu menggema di dalam rumah kecil mereka. Azizah terhuyung ke kanan karena tamparan ayah Emil.
__ADS_1
Tangannya mengepal erat saat merasakan panas di pipi dan panas di hatinya. Ia menoleh pada ayah Emil dan ..
Plaaakk..
Plaaakk..
Plaaakk..
''Itu untuk rasa sakit hatiku pada mu, suamiku! Dan juga rasa sakit Mbak Alisa yang dulu juga kau sakiti dengan cara yang sama! Jika tujuan mu menikahi kami hanya untuk memukul kami, maka kau berhasil! Dan aku menyesal bisa menikah denganmu! Ku pikir kau sudah berubah Bang! Ternyata tidak sama sekali!''
''Kau menuduhku melakukan kesalahan yang sama seperti enam tahun yang lalu? Kenapa tidak kau tanyakan pada mak mu yang pura pura sakit itu?! Tanyakan padanya! kemana uang yang selama ini kau berikan padanya bukan kau berikan pada ku!!!'' pekik Azizah lagi dengan suara kerasnya.
Ayah Emil terkejut mendengar ucapan Azizah. ''Selama ini aku selalu diam dengan perbuatan mu dan Mak mu. Karena aku sedang mencari bukti tentang kejadian enam tahun yang lalu. Tentang mbak Alisa. Aku melakukan semua ini karena Tuan Gilang yang menyuruh ku! Aku rela masuk ke kandang singa demi abdi ku pada tuan Gilang yang telah membantu keluarga ku selama ini! bahkan Abang ku juga ia sekolahkan hingga menjadi seseorang yang berguna bagi perusahaan nya! Dan kau!'' tunjuk Azizah pada ayah Emil.
''Kau hanya bisa memukul dan menyentak ku karena kesalahan yang tidak pernah aku lakukan! Begitu juga dengan Mbak Alisa! Ia juga kau perlakukan sama seperti ini dulu nya! Menuduhnya tanpa bukti! Mengatakan Jika mbak Alisa pembawa sial di dalam hidup mu! Dan menceraikan nya karena perbuatan yang seharusnya kau tujukan pada Mak mu! Bukan pada kami berdua! Karena yang melakukan kesalahan dari masa lalu hingga ke masa depan itu adalah Surga Mu! Mak mu, bang Emil! Mak Rima Damayanti istri almarhum ayah Ibrahim!!!''
Ddddduuuaaarrrr...
''Aku datang ke rumah ini karena tuan Gilang yang menyuruh ku untuk mencari bukti kebenaran itu! Dan tepat, selama lima tahun aku disini, aku sudah mengumpulkan bukti yang menyatakan Jika Mak mu, Mak Rima yang telah melakukan kesalahan, tapi dengan pandainya dia menuduh Mbak Alisa dan juga menuduhku karena kesalahannya itu!''
Deg!
Lagi, jantung ayah Emil berdegup tak beraturan. Nafasnya memburu. Ia menatap terkejut dan nyalang pada Azizah.
''Kau...! Menuduh Mak ku seperti itu?! Apa hak mu melakukan itu?! Menuduhnya tanpa bukti?! Mak ku tidak mungkin melakukan hal itu kepada ku?! Kau berbohong Zi! Kau bohong! Mak ku tidak seperti itu!!!'' pekik ayah Emil di depan Azizah.
Azizah terkekeh, namun air mata mengalir di pipinya. Ayah Emil terkejut melihat Azizah menangis.
''Zi...'' panggil ayah Emil.
''Berhenti Bang! Cukup sudah aku bertahan selama ini dengan mu! Aku sudah mendapatkan bukti semua ini! Bukti selama lima tahun ini ku simpan rapat-rapat akan ku serahkan kepada Bang Andi! Agar ia menyerahkan bukti itu pada tuan Gilang! Kau akan menyesal bang! Kau akan menyesal membuatku seperti ini! Jika sampai Abang ku tau tentang ini, maka kau tidak akan selamat darinya! Kau akan di penjara bersama Mak mu bang Emil! Kau tunggu saja!'' tukas Azizah, dengan segera ia berlalu meninggalkan Emil yang berdiri mematung karena ucapan Azizah baru saja.
__ADS_1
Sementara Nenek Rima tubuhnya menggigil ketakutan. Seluruh tubuhnya berkeringat dingin.
Tangannya bergetar tak karuan. Ia semakin takut akan perkataan Azizah baru saja.
''Tunggu sayang! Tunggu! kamu mau kemana??'' cegat Ayah Emil dengan memegang tangan Azizah.
''Lepaskan Bang! Aku akan pulang pada keluarga ku! Dan kebetulan sekali jika kedua anakku sedang disana! Maaf Bang! Aku terlalu kecewa dengan mu! Aku pulang kerumah Mak ku! Assalamualaikum..!'' ucap Azizah, dengan segera ia meninggalkan ayah Emil.
''Tunggu sayang! Berhenti kataku! Aku tidak mengijinkan mu pulang kerumah orang tuamu sebelum masalah ini selesai! Aku melarang mu Zi!!'' pekik ayah Emil.
Azizah berhenti di tempat. Seluruh tubuhnya gemetar. ''Tunggu sayang! Tolong maafkan kesalahan ku. Maaf karena kelakuanku yang tidak pernah berubah. Maafkan Abang Sayang! Tolong, beri waktu Abang untuk bertanya hal ini sama Mak. Tapi kamu tetap di sisi Abang! Jangan pergi Zi.. Abang membutuhkan mu. Cukup Alisa yang pergi karena kebodohan Abang.. Abang mohon sayang.. Abang mohon..'' pinta ayah Emil dengan sangat.
Ia memeluk tubuh Azizah dari belakang. Ayah Emil terisak di ceruk leher Azizah. Azizah pun sama.
''Abang jahat! Selalu menuduhku tanpa mencari bukti terlebih dahulu!'' Isak Azizah dari balik tubuh ayah Emil.
''Maafkan Abang sayang.. Maaf .. Abang janji! Kali ini Abang akan mendengar kan semua ucapan mu. Abang mohon.. jangan tinggalkan Abang lagi.. cukup Alisa saja..'' lirih ayah Emil.
Mereka berdua semakin tersedu di depan pintu rumah Ayah Ibra. Tempat dimana Alisa dulu pernah tinggal walau hanya sebentar.
💕💕💕💕
Jangan pada bosan ye!
Kalau ada yang belum tau tentang Cerita masa lalu Alisa. Sok kepoin yang di sebelah.
"Aku Bukan Pembawa Sial''
Okey! Jangan lupa ritualnya! 😁😁
Siramin kembang buat othor ye!
__ADS_1