Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Alisa Bakery


__ADS_3

''Itu semua sesuai dengan dirimu sayang.. sengaja aku membayarnya mahal. Agar uang itu bisa kamu gunakan untuk keperluan modal usaha mu nanti. Akan ku tunggu kelanjutannya dari Pak Kosim!'' imbuh Gilang sembari terkekeh-kekeh.


Andi pun sama. Ia terkekeh geli melihat tingkah Alisa. ''Bagaimana dengan istri Bos yang sekarang??''


Gilang memandang Andi dengan sendu. ''Vita sangat baik sama gue Ndi! Nggak tega nyuekin dia.. belum lagi perlakuan nya itu sama persis yang Alisa lakukan sama gue..'' lirih Gilang dengan wajah sendu.


''Nafkah batin??'' tanya Andi spontan saja.


Gilang menghela nafasnya. ''Nggak tau Ndi.. berat kalau masalah itu.. Yang ada tiap kali gue lihat dia, yang terlihat di mata gue itu Alisa! Gimana mau konsen coba?! Salah-salah malah nyakitin tuh gadis lagi!'' gerutu Gilang


Membuat Andi tergelak kencang. ''Move on Bos.. move on.. masa' ada istri cantik di depan mata dianggurin?? Rugi Bos...'' ledek Andi.


Gilang berdecak sebal. ''Keluar Lu! bikin kepala gue pusing aja!'' sewot Gilang dengan wajah kesal nya.


Lagi, Andi tertawa. ''Pusing itu tandanya harus dilepas Bos itu bibit! Nggak kepingin apa ngerasain yang namanya belah duren??'' ledek Andi lagi.


Plaakk


Sebuah buku tebal melayang ke pangkuan Andi karena Gilang.


''Pegi nggak lu!!'' sentak Gilang.


Bukannya pergi malah Andi sengaja menertawakan Gilang hingga terpingkal-pingkal.


Membuat pemuda tampan berusia sembilan belas tahun itu kesal setengah mati. ( Umur Gilang terserah othor ya? Orang othor yang buatnya! 😄😄 ✌️✌️)


Sedangkan dirumah Alisa, kini Pak Kosim sedang membicarakan hal serius tentang pencarian tempat yang strategis untuk bisa buka usaha kue Alisa.


Pak Kosim hanya mendengar kan apa yang dikatakan Alisa dan dengan sigap, ia sudah merekam semua hal yang disebutkan Alisa ke dalam ponsel nya.


Setelah selesai, Pak Kosim kembali ke kantor untuk menjemput Gilang.


''Aden! ini yang Aden butuhkan! Dengarkan dulu baru setelahnya putuskan!'' titah Pak Kosim.


Gilang mengangguk. Gilang duduk di depan di samping Pak Kosim. Ia lalu membuka rekaman percakapan Alisa dan Pak Kosim siang tadi dirumah mereka.


Setelah selesai, Gilang tersenyum. Ia mulai membuka tabletnya dan melihat dimana kira-kira lokasi yang pas dan strategis untuk usaha istrinya ini.


''Oke. Jaraknya nggak jauh dari rumah kami ya Pak! Hanya berjarak dua puluh lima menit saja dengan berjalan kaki sudah sampai. Tempatnya ramai dan pas untuk usaha ini. Modal nya pun sangat lebih dari cukup. Besok Bapak dan Alisa kesana ya? Untuk nego toko nya? Kayaknya toko ini sedang di lelang karena pemiliknya minjam uang di Pegadaian.'' ucap Gilang sembari terus mengotak ngatik tablet miliknya.


''Baik, Den!''


Setibanya dirumah, ia disambut hangat oleh Vita. Gilang tetap sama masih saja datar tanpa ekspresi.


Vita tetap semangat, karena ia mengingat jika ia melakukan ini untuk Alisa. Istri pertama Gilang.


Keesokan harinya Pak Kosim dan Alisa menuju ke ruko yang dikatakan oleh Gilang kemarin sore.


Dan benar seperti kata Gilang. Jika ruko itu sedang di lelang. Akhirnya Alisa menelpon pihak Pegadaian dan berbicara tentang ruko dua tingkat itu.


Butuh waktu dua hari untuk menyiapkan surat-surat nya. Setelah dua hari barulah Alisa masuk dan membuka ruko itu ditemani Pak Kosim dan juga Andi.

__ADS_1


Gilang?? Ada. Tapi ia tak keluar dari dalam mobilnya. Alisa tau jika Gilang ada disana, karena sekilas ia melihat Gilang di dalam mobil itu.


Mata Alisa berkaca-kaca melihat Gilang disana yang tersenyum manis padanya.


''Bahkan toko ini pun kamu juga yang memberikan nya untukku.. terimakasih Papi.. aku sangat menyayangimu..'' lirih Alisa dengan bibir bergetar.


Matanya terus melihat mobil sedan yang berdiri tak jauh dari toko nya itu. Begitu juga dengan Gilang.


Pemuda tampan itu menangis sesenggukan disana. Ingin sekali menjumpai pujaan hati ya itu.


Tapi itu tak mungkin, mengingat janji yang ikrar kan pada Papa Angga. Dan lagi ia sudah berjanji, Gilang akan menemui Alisa lima tahun lagi.


Setelah ia layak dan pantas bersanding dengan Alisa.


''Aku kangen banget sama kamu sayang.. hiks .. ah! aku jadi lelaki cengeng sekarang! Mulai hari ini aku berjanji akan berubah menjadi lebih kuat lagi agar aku bisa melewati lima tahun ke depan. Maaf sayang.. aku terpaksa..'' lirih Gilang dengan air mata yang terus beruraian.


Alisa juga sama. Matanya tak pernah lepas dari mobil yang berada tak jauh dari toko ke nya itu.


ALISA BAKERY


Sesaat setelah logo toko kue Alisa di pasang oleh Andi dan Pak Kosim, pelanggan Alisa sudah datang.


''Neng Alisa??'' sapanya pada Alisa yang terus menatap Gilang di kejauhan sana.


''Loh? Bude Yuli?? Ngapain disini??'' tanya Alisa, karena terkejut melihat Bude Yuli berada di depan stand kue nya.


''Ya, mau belilah Neng.. gimana sih?!'' kesal Bude Yuli.


''Yang kayak biasa! Besok buatin lagi ya bolu pisang nya lima loyang. Sama risol seratus picsis juga puding lumutnya lima belas loyang. Besok di kantor desa lagi ada acara. Dan kebetulan mereka semua mintanya kue dari kamu. Makanya Bude kemari!'' sahutnya sembari menjelaskan berapa jumlah pesanan kue nya untuk besok.


''Loh? bukannya toko kue Mbak ini hanya khusus yang kayak didepan itu ya?'' tanya Andi karena kebingungan mendengar pesanan wanita paruh baya di depan nya itu.


''Mbak jualan kue tidak hanya kue bolu saja Andi.. tapi juga kue yang lainnya. Karena keahlian Mbak itu bukan hanya di satu kue aja. Namun beribu macam kue!'' sahut Alisa sedikit jumawa.


Setelah nya ia meringis karena telah membanggakan diri sendiri. Andi tertawa. Begitu juga dengan Gilang.


Ia terkekeh pelan melihat Alisa bertingkah seperti itu. Dari mana Gilang bisa tau? Karena Gilang menyuruh Andi untuk menelpon dirinya saat Alisa berbicara dengan pelanggan pertama nya itu.


Padahal Bude Yuli bukan pelanggan pertama Alisa. Tapi pelanggan tetap. Gilang tau itu. Maka dari itu ia terkekeh ketika mendengar Alisa yang sedikit menyombongkan diri nya.


''Oke. Besok jam dua siang akan ada orang dari balai desa yang akan datang kemari untuk mengambilnya. Bude pamit Lis! Semoga semakin banyak yang suka ya sama kue buatan kamu?''


''Amiinn.. semoga saja Bude..'' sahut Alisa mengaminkan ucapan Bude Yuli.


Setelah Bude Yuli pergi tinggallah Andi dan Pak Kosim disana. Sedangkan di dalam ada Ira dan juga Raga.


Sedangkan Lana sedang menidurkan Annisa dirumah mereka.


''Kalau begitu, kami pulang ya Mbak? Sudah malam juga? Ayo Pak!'' ajaknya pada Pak Kosim.


Pak Kosim mengangguk setuju. ''Tunggu sebentar.'' cegat Alisa saat melihat dua orang itu ingin pergi.

__ADS_1


Alisa lari ngacir masuk kedalam mengambil empat bingkisan dan diberikan kepada dua orang itu.


''Ini untuk Pak Kosim! Ini untuk kamu Andi! Dan ini... untuk Gilang...'' ucap Alisa, sembari melihat dimana arah mobil itu berada.


Pak Kosim dan Andi saling pandang. ''Terimakasih Neng. Akan bapak sampaikan. Berarti untuk den Gilang dua ya Neng??''


''Ya, satu untuk Gilang dan istrinya dan satu lagi untuk kedua orang tua Gilang.'' sahut Alisa dengan tersenyum namun sendu.


Semua itu tak luput dari perhatian Gilang. ''Terimakasih sayang ku..''


Andi sangat senang menerima bingkisan kue dari Alisa. Sedangkan Gilang datar tanpa ekspresi.


Mereka pulang dengan hati yang entah seperti apa. Setibanya dirumah, Gilang menuju meja makan.


Dari kejauhan Vita melihat Gilang masuk ke dapur. Ia mengikuti nya. ''Biar ku bantu!''


''Yang ini saja, kamu berikan kepada Papa dan Mama.'' cegah Gilang saat Vita ingin menyentuh bingkisan khusus untuknya dari istri tercintanya.


Melihat logo di kotak kue itu Vita sedikit terkejut. ''Mbak Alisa punya toko kue ya??'' tanya nya tanpa sadar. Gilang terkejut mendengar ucapan nya.


''Darimana kamu tau??'' tanya Gilang dengan dingin.


''Nih, ada namanya disini.'' sahut Vita dan itu semakin membuat Gilang curiga terhadap Vita, apakah Vita sudah tau tentang Alisa istri sah nya? Pikir Gilang.


''Aku ke atas dulu!''


''Hem,'' sahut Gilang.


Karena ia sudah sibuk makan bolu pisang, risol juga puding lumutnya kesukaan Gilang. Gilang tersenyum saat merasakan hal yang sama saat ia berada dirumah Alisa.


Alisa pernah marah padanya gegara Gilang salah memasukkan telur ke dalam puding lumut buatan nya.


Gilang terkekeh. Semua itu tak luput dari perhatian Vita. Ia pun ikut tersenyum melihat Gilang tersenyum.


Jangan ditanya kenapa panggilan mereka berubah. Semua itu karena Mama Dewi yang memaksa Gilang untuk mengubah panggilannya untuk Vita.


Melihat Gilang makan dengan lahap, membuat Vita terkekeh. Ternyata bolu satu loyang sudah habis ia makan.


Begitu juga dengan risol dan puding lumutnya. Gilang sengaja tidak makan siang dan juga makan malam karena ingin makan kue buatan Alisa.


Sedangkan Seseorang di atas undakan tangga sana tersenyum smirk.


''Besok malam. Tunggu besok malam!''


💕


Haih? siapa tuh? Apa yang akan terjadi besok malam?


Penasaran?


Ikutin terus kelanjutannya!

__ADS_1


TBC


__ADS_2