Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Wanita istimewa


__ADS_3

''Terimakasih sayang.. karena kehadiran mu di dalam hidupku, membuat hidupku yang dulunya datar-datar saja kini berubah menjadi berwarna. Aku sangat menyayangimu Alisa Febriyanti!'' Gumam Gilang dalam hati.


Ia melihat Papa Yoga dan Mama Alina sedang tertawa karena tingkah Lana yang begitu menghibur mereka saat ini.


''Sungguh baik hatimu Bos! Sebelum kamu ingin menikahi Mbak Alisa, kamu lebih dulu ingin meluluhkan hati kedua orang tua Mbak Alisa. Aku salut pada mu Bos! Aku akan mengikuti jejak mu Bos! Aku yakin! Di dunia pasti ada yang sama seperti Mbak Alisa!'' celutuk Andi.


Pak Kosim terkekeh sedangkan Gilang memutar bola mata malas. ''Ck! Ingin menyaingi ku rupanya! Nggak boleh! Kamu nggak boleh memiliki yang sama seperti istriku! Kamu dengar Andi?'' tanya Gilang dengan menatap tajam Andi.


''Loh? Kenapa Bos?'' tanah Andi kebingungan.


''Ck! Alisa itu seribu dari satu wanita istimewa di muka bumi ini! Jadi mana mungkin ada lagi?'' dengus Gilang pada Andi.


Pak Kosim lagi dan lagi terkekeh. Wajah Gilang yang sedang kesal terlihat menggemaskan saat ini.


Papa Yoga menatap Gilang lamat-lamat. ''Apakah aku harus menerima mu? Dari yang Lana katakan tadi, Gilang ini sangatlah baik. Bahkan ketika Alisa dulu baru bercerai dengan Emil, Gilang penutup luka lara yang dialami oleh putri tunggal ku. Tapi.. aku masih bingung dengan hatiku. Ah! Ku coba saja di nanti. Dan aku akan sholat istikharah malam ini. Untuk mencari jawaban dari semua kegalauan hatiku.'' Gumam Papa Yoga dalam hati.


Ya, Papa Yoga sudah tau semau cerita tentang Alisa dari Gilang dan Lana. Semuanya sama. Tanpa ada kebohongan ataupun di lebihkan oleh Gilang.


Dan sekarang, Papa Yoga ingin melihat sejauh mana Gilang akan mampu bertahan dari tantangan nya. Lama ia melamun tak sadar jika Gilang sudah mendekati nya.


''Pa...''


''Hah? Astagfirullah Gilang!'' seru Papa Yoga.


Ia yang sedang melamunkan keadaan Alisa disana jadi terkejut karena Gilang memanggilnya.


Gilang terkekeh. ''Papa kenapa?''


''Hah.. nggak ada. Kamu mau ikut Papa ya ke sawah?''

__ADS_1


''Hah? Sawah? Maksud Papa, tempat menanam padi?'' tanya Gilang. Ia menatap Papa Yoga dengan dalam dan serius.


''Ya, sawah. Kamu tidak pernah kan kesawah? Bukankah selama ini kerjaan mu cuma dikantor saja? Ayo ikut Papa! Jika kamu ingin Papa merestui pernikahan mu dengan putri Papa!'' tegas Papa Yoga dengan serius.


Gilang tersenyum mendengar hal itu. ''Oke. Ayo kita ke sawah. Tapi asisten ku ikut ya Pa?''


''Silahkan! Sebentar, Papa panggil Mama dulu. Kita sekalian kesana nya. Jalan kaki!''


''Loh?'' Gilang terkejut mendengar ucapan Papa Yoga.


Papa Yoga mengulum senyum. ''Ya, jalan kaki! Hanya dua ratus meter dari sini. Cukup dengan jalan kaki. Ganti bajumu dengan baju biasa saja! Jangan terlalu mewah seperti itu!'' tujk Papa Yoga pada pakaian Gilang yang begitu rapi.


Gilang menoleh ke bajunya. ''Emang nya baju ku ini terlalu mewah ya Pa?'' tanya Gilang dengan sedikit menunduk.


Papa Yoga terkekeh kecil. ''Ya sudah jika kamu tidak punya. Pakai itu saja tidak apa-apa. Nanti kita kesorean. Ayo! Setelah ini Papa harus ke kandang kerbau juga.''


Semua itu ia tau dari Alisa. Dulu. Sebelum ia berangkat ke Amerika. ''Kerbau itu sengaja Papa beli dari uang tabungan Alsa. Selama ia sekolah, ia sangat rajin menabung. Katanya ia ingin berangkatkan kami ke haji dengan uang tabungan nya itu. Tapi ...'' wajah Papa Yoga berubah menjadi sendu mengingat Alisa.


''Jangan diteruskan jika Papa tidak sanggup. Gilang menginginkan Alisa bukan karena hartanya. Tapi karena agama nya. Kelembutan nya dalam bersikap. Alisa wanita istimewa, Pa! Gilang sangat beruntung memilikinya. Maaf.. dulunya Gilang terpaksa mendaftar kan pernikahan kami tanpa seijin Papa.''


''Tapi Gilang berani bersumpah, Gilang tidak akan menyentuh nya jika bukan Alisa yang memintanya..'' lirih Gilang dengan menunduk di hadapan Papa Yoga.


''Papa tau. Ayo kita ke sawah! Kami baru saja panen! Cocok sekali kamu datang kesini. Kamu bisa bantu Papa untuk mengangkat karung-karung yang berisi padi itu.'' Imbuh Papa Yoga dengan menepuk lembut bahu Gilang.


Hati Gilang menghangat saat mendengar ucapan Papa Yoga. ''Ayo, Pa! Nanti malam aku harus bekerja. Jadi untuk sore ini aku bisa membantu Papa terlebih dahulu.''


''Bekerja?'' tanya Papa Yoga dengan terus berjalan disampingnya Gilang. Sedangkan Andi di belakang mereka.


Gilang mengangguk, ''Ya, Pa. Karena Gilang harus kemari maka semua pekerjaan Gilang tetap harus berjalan. Siang hari dengan Papa. Sedang malamnya Gilang bekerja untuk mencari pundi-pundi rupiah agar bisa menikahi putri Papa secepatnya!'' seloroh Gilang.

__ADS_1


Papa Yoga tertawa. Hatinya menghangat melihat sikap Gilang. Sikap yang begitu welcome terhadap orang lain yang baru saja ia kenal.


''Apakah karena ini Alisa dan ketiga anaknya sangat menyukai mu, Nak? Jika memang iya, maka beruntung sekali anak dan cucuku memiliki suami seperti Gilang.'' Bisik hati Papa Yoga dengan sesekali melihat wajah Gilang yang begitu tenang.


Mereka berjalan beriringan menuju ke sawah Papa Yoga. Tiba di ujung jalan ada seseorang yang mematung melihat Gilang.


Ia begitu terkejut begitu melihat sosok itu ada disini lagi setelah lima tahun yang lalu.


''Bang Emil? Kamu pulang lagi ke sini? Ini Siapa?''


''Kamu Siapa?''


''Loh??''


TBC


Ada yang tau siapa itu?


Hehehe..


Permisi para pembaca.. othor mau promo lagi nih. Cerita ini punya temen othor Nurma Azalia.



Jangan lupa mampir ya!


Like dan komen klean selalu othor tunggu loh.. 😘😘


Luv yu all..

__ADS_1


__ADS_2