
Sesaat terasa hening dan sunyi. Hanya terdengar suara keriuhan para siswa didalam kelas karena mereka semua bersorak sorai.
'' Sebaiknya elu pulang deh Lang! bel pulang udah dari tadi berbunyi! yuk! kita balik?'' setelah kian lama mereka terdiam satu sama lain.
Gilang diam saja. Ia lebih betah di mushola ketimbang rumah yang seperti bukan rumahnya.
''Nggak Baik disini terlalu lama, kita harus segera pulang! ayo! gue temenin elu dirumah! biar elu ada temennya.'' ujarnya lagi yang melihat Gilang dari tadi terdiam.
Gilang menghela nafasnya berat. Bukannya Gilang tak mau pulang, hanya saja ia merasa tidak nyaman disana.
Belum lagi setelah pertemuan antara dirinya dan Vita, yang membuat dirinya terluka. Pastilah ada jarak untuk mereka berdua. Dan mungkin, setelah ini gadis itu pasti akan datang ke kediaman nya untuk berbicara pada Gilang.
Gilang malas ingin pulang, tapi melihat Aldi yang begitu serius padanya, membuat ia sedikit terenyuh atas perbuatannya itu.
'' Okelah, kita pulang! tapi janji ya? elu jangan tinggalin gue?? Kalau elu sampai ninggalin gue sendiri an, gue pastiin! kalau gue hanya akan tinggal nama!'' ancamannya, membuat Aldi terkejut.
Aldi terkejut dengan ucapan Gilang, bagaimana tidak. Ia begitu serius saat mengatakan nya.
Sorot mata kekecewaan dan terluka itu begitu jelas terlihat. Membuat Aldi iba melihatnya.
''Ba-baik, ayo kita pulang! gue nggak akan kemana mana! gue akan tetap nemenin elu! tapi... jika nanti Nyak gue nelpon nyuruh gue untuk pulang, elu nggak keberatan kan??'' tanyanya.
Gilang menatap datar pada Aldi. Sulit untuk ditebak apa yang ada dalam pikiran nya. Aldi hanya berharap, jika Gilang tidak nekat melakukan hal-hal yang merugikan dirinya sendiri.
''Ya,'' hanya itu yang bisa Gilang ucapkan. Selebihnya mereka diam, hingga mereka tiba dirumah Gilang.
Gilang dan Aldi berada dikamar saat Bi Inah datang memanggil untuk makan malam. Karena sudah masuk waktu untuk makan malam.
Tok, tok.
''Aden... makan malam udah siap!'' imbuh Bi Inah seraya berlalu meninggalkan pintu yang tertutup rapat setelah mendengar sahutan dari dalam.
''Ya, kami akan segera turun.'' ujarnya seraya beranjak untuk pergi. Sesaat ia menoleh ke Aldi yang masih setia dengan sajadahnya.
Ingat waktu maghrib? ah, Gilang melupakan nya. Sholat ketika terluka saja ia menghadap yang maha kuasa. Jika hatinya sudah tenang, ia tak teringat lagi atas kewajibannya.
Berbeda dengan Aldi. Walaupun ia terkenal urakan, tapi soal ibadah ia nomor satu. Aldi sedang sholat ketika Bi Inah datang untuk mengajak mereka makan malam.
Gilang yang melihat Aldi masih duduk tepekur di sajadah, ia pergi meninggalkan nya begitu saja.
__ADS_1
Setelah selesai sholat, Aldi pun menyusul Gilang ke meja makan. Disana sudah ada Gilang yang sedang menikmati makan malamnya.
Aldi datang dan duduk disebelah Gilang.
''Silahkan Den..'' seru Bin Inah, setelah menyiapkan makanan kedalam piring Aldi seperti Gilang.
''Terimakasih Bi..''
Bi Inah hanya mengangguk setelahnya ia berlalu ke belakang.
Makan malam sudah selesai. Kini Gilang dan Aldi udah masuk ke kamar untuk istirahat, tapi belum lagi Aldi merebahkan tubuhnya di ranjang king size punya Gilang, ponsel nya berbunyi nyaring.
Suara dering yang begitu nyaring hingga mengganggu Gilang yang sedang belajar, membuat Aldi merutuki hape bututnya itu.
Kring, kring, kring, tutuit, tutuit..
'' Ishhh.. siapa sih ganggu gue malam-malam begini?! gue capek woi.. belum lagi punggung gue rebahan , ni hape butut udan bunyi aje! hadeuuuhhh.. sial banget sih hidup gue! nggak bisa apa! lihat orang senang sebentar aja?! ishhh.. gue banting tau rasa lu!'' gerutunya pada hape butut yang terus berbunyi nyaring sedari tadi.
Gilang yang mendengar nya terkekeh. Ada ada saja tingkah Aldi. Ia tersenyum melihat Aldi yang masih menggerutu karena hapenya tak berhenti berbunyi.
''Iye...'' sahutnya malas, setelah mengangkat panggilan dari seseorang disana.
''....''
Bibirnya pucat pasi karena terkejut. Gilang hanya menatap Aldi tanpa berbicara sidikitpun.
Setelah panggilan itu selesai barulah Aldi berbalik.
'' Lang, gue harus pulang! Nyak gue jatuh dikamar mandi! barusan adek gue bilang, Nyak gue belum sadarkan diri! Nyak gue kritis Lang! gue pulang ya??'' ucapnya dengan mata memerah menahan tangis.
Gilang terkejut. Ia kemudian bangkit menuju lemarinya. Lama ia disana, Aldi tetap menunggu.
Setelah Gilang berbalik barulah Aldi gegas ingin berlari tapi ditahan Gilang.
''Tunggu Al! bawa ini! elu pasti butuh ini disana! jangan ditolak!'' tegas Gilang, seraya memberikan lima ikat uang berwarna merah kepada Aldi.
Aldi termangu.'' Ta-tapi Lang.. i-ini...''
''Nggak usah lu pikirin! sekarang Nyak lu lebih butuh dari gue! nanti kalau gue butuh tinggal minta bokap! lu tenang aja! bawa dan bayar administrasi Nyak lu dirumah sakit! gue nggak bisa nemenin elu! gue hanya bisa berdoa semoga Nyak elu cepat siuman dan sehat kembali seperti sedia kala.''ujarnya serta menepuk bahu Aldi.
__ADS_1
Aldi tersenyum dalam tangis. Ia memeluk Gilang erat sambil mengucapkan terimakasih kasih tiada henti.
''Gue pergi! lu jaga diri! jangan berbuat hal macam-macam!'' tukas Aldi tajam.
''Ya.'' Gilang terkekeh melihat Aldi yang begitu menyayangi nya.
Aldi pun pergi dari rumah Gilang dengan buru buru. Saking buru-buru nya seragam serta tas sekolahnya ketinggalan dirumah Gilang. Tapi tak apa, nanti ia bisa kembali lagi setelah Nyak nya membaik.
Setelah Aldi pergi kini menyisakan Gilang seorang diri disana. Sunyi sepi rasa hatinya. Ia melamun. Ia melamunkan Vita yang entah apa kabarnya setelah tau ia menolak gadis itu kemarin siang.
Saat ia melamun, terdengar suara ketukan pintu. Gilang menoleh dan membuka pintu perlahan.
Krieeet.
''Ada apa Bi?'' tanya nya pada Bi inah.
Bi Inah yang melihat anak majikan nya terlihat lesu, jadi tak enak hati.
''A-anu Den..'' jawabnya gugup.
''Ada apa? katakan saja?'' imbuhnya, seraya menatap Bi Inah yang terlihat gugup.
''A-anu De-Den.. diluar ada Non Vita dan teman Aden. Mereka udah nunggu dibawah. Mereka bilang, ingin ketemu Aden! udah Bibi bilang, kalau Aden kurang sehat, tapi mereka tetap kekeuh ingin ketemu Aden. Ma-maaf Den!'' jawab Bisa Inah takut takut.
Gilang menghela nafasnya berat. ''Baiklah Bi, Gilang akan menemui mereka! Bibi siapkan minum aja ya?'' ujar nya lembut pada Bi Inah, membuat Bibir Inah tersenyum, ia mengangguk dan segera berlalu.
Gilang pun turun untuk menemui tamunya. Tamu yang tak ingin dilihat olehnya sama sekali.
Sampainya pada undakan tangga, ia melihat Vita yang sedang menangis dalam pelukan Kevin.
Ia menatap nanar pemandangan itu. Wajahnya berubah menjadi dingin. Sedingin hatinya pada saat ini.
''Ada apa kalian kemari!''
Deg!
💕
Tinggalkan jejak cinta kalian ya.. agar othor tau, jika cerita recehan othor ini ada yang singgah dan baca!
__ADS_1
🤗🤗🤗
TBC