Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Mengantar Gilang


__ADS_3

Setelah pertemuan antara dirinya dan Reza, hari ini Gilang akan berangkat ke Amerika. Ditemani Papa Angga, Mama Dewi, dan juga Vita.


Gilang duduk didalam mobil dengan mata menerawang jauh. Bersama Andi dan juga Pak Kosim.


Andi dan Pak Kosim saling lirik dan memberikan kode, kemudian mereka tersenyum misterius.


Tiga jam kemudian, mereka tiba di bandara Kuala Namu. Gilang turun dengan langkah lunglai.


Berat rasanya ingin meninggalkan tempat dimana ia bisa menemukan belahan jiwa nya. Terutama istrinya itu.


Ngomong-ngomong tentang istri, bagaimana pula hubungan nya dengan Vita?? Di depan kedua orang tua Gilang, Vita sangat baik dan mereka tidur dalam satu ruangan.


Padahal tidak. Semenjak kejadian seminggu yang lalu, Gilang sengaja menjauhi Vita. Vita pun maklum dan menerima nya.


Karena itulah yang dia inginkan. Sempat Gilang bertanya apakah ia keberatan dengan pernikahan nya dan juga Alisa.


Vita mengatakan tidak. Bahkan ia sangat bersyukur bisa mengenal Alisa. Jika Alisa adalah wanita yang baik menurut nya.


Usut punya usut, ternyata Vita juga terpaksa harus menikahi Gilang Karena permintaan kedua orang tua nya.


Dan juga Vita ingin menebus rasa bersalah nya kepada Gilang dengan cara memberikan apa yang seharusnya ia berikan kepada Gilang.


Gilang berterima kasih akan hal itu. Kini Gilang tau, jika Vita juga sama seperti nya. Padahal saat ini ia juga mencintai lelaki lain.


Sekarang hubungan Vita dan Gilang sudah kembali normal seperti dulu. Mereka berdua sahabat.


Dan kebetulan selama seminggu ini Vita mengalami hal yang aneh pada tubuhnya. Ia makan begitu lahap, tapi makanan itu harus dari resto milik Gilang.


Juga kue kesukaan Gilang. Yaitu puding lumut buatan Alisa. Gilang menuruti semua keinginan Vita.


Mama Dewi yang melihatnya sangat senang. Terlihat jika wanita paruh baya itu wajahnya sangat berseri-seri.


''Andi!''


''Saya Bos!'' sahut Andi.


''Temani saya sebentar! Ma, Pa! Gilang kesana sebentar ya? Ada yang perlu kami bahas, sedang disini berisik!'' ucap Gilang, dengan terus berlalu meninggalkan kedua orang tuanya yang saling pandang.


''Dimana berisik nya Pa?? Disini kan ruang tunggu khusus VVIP?? Ada apa dengan Gilang??'' tanya Mama Dewi pada Papa Angga.


''Sudah! Biarkan saja! Jangan membuatnya marah Ma! Ingat! Hari ini ia akan berangkat ke Amerika, biarkan sejenak ia melepas rasa rindunya disini sebelum keberangkatan nya dua jam Lagi.'' Sahut Papa Angga, sengaja untuk menegur Mama Dewi.


Sedangkan Vita sudah tau kemana Gilang akan pergi. Dia hanya tersenyum simpul saja melihat kedua mertua nya itu berdebat karena Gilang.


Gilang terus berjalan menyusuri jalan yang menuju ke suatu tempat. Dari kejauhan seseorang itu berdiri disana dengan mata berkaca-kaca.


Gilang yang melihat itu mempercepat langkahnya dan...


Grep!


''Sayang...'' sapanya


''Assalamualaikum, Pi... gitu atuh Ih!'' sahut Alisa.


Ya, yang ingin ditemui oleh Gilang adalah Alisa. Istri sah nya secara hukum. Gilang memeluk wanita beranak tiga itu semakin erat.


Andi yang melihat nya terharu. Ia berbalik dan menunggu Giang disana sembari bermain ponsel.


Sengaja untuk memberi ruang pada pasangan yang sudah sah terikat secara hukum, tapi belum sah secara agama.


''Hiks.. hiks..'' isakan lirih itu terdengar oleh telinga Alisa.


Alisa memeluk Gilang semakin erat. Ia mengusap tubuh kurus nan jangkung itu dengan lembut, semakin membuat Gilang tersedu.


''Jangan tinggalkan aku Lis.. aku nggak sanggup.. hiks..'' Isak Gilang lagi.


''Aku tak akan pergi, Pi.. jika bukan kamu yang memintanya..'' lirih Alisa, masih dalam pelukan Gilang.


Alisa mengurai pelukan nya tapi ditahan oleh Gilang. ''Pi.. kita di jalan loh.. kesana yuk? Masih ada dua jam lagi kan sebelum berangkat??''


Gilang mengurai pelukannya dari tubuh Alisa. Ia menatap sendu wanita pujaan hatinya itu. Gilang tersenyum, dibalas senyum teduh oleh Alisa.


''Ayo...'' ajak Alisa lagi masih dalam pelukan Gilang. Gilang mengangguk.


Mereka berjalan beriringan menuju tempat dimana Alisa meletakkan sesuatu untuk Gilang. Dengan saling berpelukan. Sangat romantis sekali.

__ADS_1


Tangan Gilang masih nangkring di pinggang ramping Alisa. Begitu juga dengan Alisa, tangannya juga masih memeluk pinggang Gilang dengan erat.


Tiba nya disana Alisa menyuruh Gilang untuk duduk. ''Duduk, Pi!'' titah Alisa, Gilang menurut.


Dengan cekatan Alisa membuka rantang itu dan mengambil makanan dan disuguhkan di depan Gilang.


Gilang tersenyum. Ia makan makanan itu dengan lahap. Alisa yang melihatnya terkekeh.


''Pelan-pelan Pi.. nanti kesedak loh..'' tegur Alisa, membuat Gilang terkekeh di sela makan nya.


''Jam berapa tadi kamu kesini?''


''Kalau nggak salah habis sholat subuh langsung kemari tadi. Diantar oleh mobil rental yang kamu pesankan.'' Sahut Alisa dengan sedikit senyum di bibirnya.


Gilang terkekeh. ''Anak-anak??''


''Ada Kakak dan juga...'' ucapan Alisa terhenti saat melihat Andi mendatangi mereka.


''Ada apa??'' Gilang menoleh kemana arah mata Alisa.


''Ngapain kesini?'' ketus Gilang.


Alisa melotot kan matanya. ''Pi..'' tegur Alisa.


Gilang berdecak. ''Maaf Bos.. non Vita sangat ingin makan Bolu pisang buatan Mbak Alisa sekarang, juga sama...''


''Apa??'' tanya Gilang tak sabaran dengan ucapan Andi.


''Telur balado buatan Mbak Alisa.'' lirih Andi sembari menunduk tak berani menatap Gilang, karena Gilang wajahnya begitu dingin sekarang ini.


''Kamu ini gimana sih?! Mana ada bolu pisang disini! Ini lagi di bandara Oon!'' seru Gilang begitu kesal.


Alisa mengulum senyum nya Karena melihat wajah Andi yang berubah menjadi pias. ''Papi.. nggak baik ah! Ngomong kayak begitu! Andi! Berikan ini pada Vita! Makanan nya yang Mbak bawa banyak kok! Tuh, lihat aja!''


Gilang berdecak sebal. ''Sayang...''


''Pi .. nggak boleh gitu loh.. aku tuh sengaja buatin banyak makanan nya! Ada empat rantang! Kamu nggak usah takut! Satu untuk kamu makan disini, satu untuk kamu bawa, satu untuk Vita, dan satu lagi untuk Andi dan pak Kosim! Jangan membantah!'' tegas Alisa saat melihat Gilang ingin membantah nya.


Alisa melihat Andi, ''Katakan pada nya makanan itu ada tapi nanti saat akan pulang Mbak berikan sama kamu! Pergilah!'' titah Alisa, Andi mengangguk dan segera berlalu dari hadapan Gilang.


Alisa terkekeh. ''Cemburu itukan tanda cinta, Pi.. aku suka!''' celutuk Alisa, membuat Gilang yang tadinya merengut masam kini berubah menjadi sumringah.


''Dapat jatah nggak nih sebelum pergi??'' goda Gilang.


Alisa menatap nya dengan bingung. ''Jatah?? Jatah apa??''


Gilang mendekat dan berbisik di telinga Alisa. ''Jatah cium bibir mu, sebelum aku pergi! Vitamin. Cup!''


Alisa melototkan matanya. ''Eh? Kamu curi kesempatan ya?'' cebik Alisa.


Gilang tertawa. Semua itu tidak luput dari tatapan seseorang nan jauh disana. ''Semoga kamu bahagia Gilang... Hem.. aku sangat ingin makan bolu pisang buatan Mbak Alisa sekarang.. juga sama telur balado nya.. Hem yammii...'' ucap Vita sembari membayangkan makanan itu di pikiran nya.


Hingga rasanya liurnya ingin menetes saking inginnya akan makanan buatan Alisa. ''Ada apa sih dengan ku?? Kenapa seminggu ini, aku sangat ingin makan makanan Mbak Alisa ya??'' tanya Vita sembari menggaruk kening nya yang tidak gatal.


''Aneh!!'' celutuk nya. Kemudian ia berlalu meninggalkan sepasang kekasih yang sedang melepaskan rindu di sana.


''Sayang..''


''Hem, kenapa Pi?? Mau nambah lagi kah??'' tanya Alisa dengan menatap Gilang.


Gilang menggeleng. ''Nggak.. hanya saja..''


''Hanya apa??''


''Bagaimana jika suatu saat kita berdua memiliki anak, siapa kira-kira nama yang pantas untuk mereka??'' tanya Gilang hati-hati.


Alisa terkekeh. ''Masih lama atuh Papi.. Lima tahun lagi loh..'' sahut Alisa masih dengan kekehan di bibirnya.


''Umpama nya sayang.. umpama nya.. aku kan nanya gimana sih?!'' sewot Gilang.


''Eh? Kamu marah Pi?? Aku becanda loh..''


''Becanda mu nggak lucu! Orang nanya nya serius juga!'' ketus Gilang, membuat Alisa tergelak keras.


''Oke, oke aku jawab. Jika anak kita nanti lahir nya perempuan namanya.. Almayra Zivanna Bhaskara, Dan jika dia laki-laki namanya Ar Rayyan Bhaskara. Dan jika anak kita kembar sepasang namanya.. Algiandra Bhaskara sedang perempuan Kinara Zivanna Bhaskara! Jika kembar kan bisa disingkat tuh namanya. Alginara! Gimana? Cocok nggak??''

__ADS_1


Gilang tertegun mendengar ucapan Alisa. Segitu siapkah dirimu ku persunting Alisa?? Hingga nama anak-anak kita nantinya pun sudah kamu persiapkan! Hah! Aku semakin tidak sabar menunggu waktu lima tahun lagi. Bisik Gilang dalam hatinya.


''Terimakasih sayang.. aku semakin tidak sabar untuk menunggu waktu lima tahun lagi.'' ucap Gilang, ia melihat wajah Alisa yang berubah menjadi sendu.


''Sayang?? Ada yang salahkah dengan ucapan ku??'' selidik Gilang, karena melihat wajah Alisa semakin sendu.


Alisa memaksakan senyumnya. ''Tidak! Hanya saja.. setelah lima tahun lagi maka umurku akan lebih tua dari sekarang.. dan kamu masih muda dan tampan seperti saat ini..'' lirih Alisa dengan menundukkan kepalanya.


Lagi Gilang tertegun dengan ucapan Alisa. ''Dengar sayang! Aku tak peduli jika umur mu sudah tua! Apa salahnya coba memiliki istri yang sudah dewasa? Aku memilihmu karena hatiku yang menginginkan mu! Bukan karena kecantikan atau apapun itu. Aku tak melihat umur mu Alisa Bhaskara! Aku mencintaimu apa adanya. Ingat! Jangan sekali-kali kamu merendahkan dirimu lagi seperti itu di hadapan ku! Jika tidak mau aku hukum!'' tegas Gilang, dengan tatapan mata yang serius.


Alisa tertawa namun sendu. ''Sudah waktunya kamu berangkat, Pi! Andi sudah datang bersama Pak Kosim untuk menyusul mu!'' ucap Alisa, ia tersenyum pada dua orang yang beda usia terlihat berjalan mendekat kearah nya.


Gilang berdecak. ''Padahal baru sebentar aku disini!'' gerutu nya sembari menoleh kepada dua orang itu.


Alisa terkekeh. ''Pergilah, Pi! Sudah waktunya!''


''Hem,'' sahutnya dengan wajah datar.


''Apa kabar Pak? Sehat?'' tanya Alisa pada Pak Kosim.


''Alhamdulillah, sehat Neng! Aden sudah di tunggu oleh tuan dan nyonya. Mereka berdua akan pulang, karena pesawat Aden akan segera landing lima belas menit lagi.'' sahut pak Kosim, sembari melihat Gilang yang terus menatap Alisa.


Gilang menghela nafasnya. ''Ya, kalian duluan saja! Aku menyusul berdua dengan Alisa.'' sahutnya.


Pak Kosim dan Andi mengangguk. ''Baik!''


''Berikan ini pada Vita! Dan ini untuk Gilang untuk dibawa ke Amerika!'' ujar Alisa. Ia menyerahkan tiga rantang pada pak Kosim dan Andi.


''Yang ini??'' tanya pak Kosim.


''Itu untuk Bapak dan Andi! Dimakan ya??''


''Terimakasih, Neng!'' Alisa mengangguk. Setelah nya mereka berdua pergi dari hadapan Alisa dan Gilang


''Ayo, Pi! waktunya kamu berangkat!'' ajaknya pada Gilang.


Gilang bangkit dan berjalan beriringan dengan Alisa. Tiba di depan tembok yang menjulang tinggi batas antara taman dan pintu masuk, Gilang menarik Alisa ke sudut bangunan itu.


Tanpa aba-aba Gilang menarik Alisa hingga terbentur dinding bangunan itu. Alisa yang terkejut ingin berbicara tapi tidak jadi karena ..


Cup!


Sesuatu yang lembab dan basah menyentuh bibirnya. Gilang memagut dan mengecap bibir tipis nan menggoda itu.


Alisa terkejut namun ia terbuai karena perlakuan Gilang yang memabukkan. Gilang yang terus saja memagut bibir itu hingga lenguhan keluar dari mulut Alisa.


Gilang melepas pagutan nya dan menyatukan kedua kening mereka dengan nafas memburu.


''Maaf...'' ucapnya masih dengan nafas tersengal.


Cup!


Kecupan itu mendarat di kening Alisa.


Cup!


Lagi hidung Alisa.


Cup!


Kedua matanya.


Cup!


Terakhir, Gilang memagut lagi bibir tipis nan menggoda itu. Hingga deringan ponsel Gilang membuat pagutan itu terlepas.


Gilang menatap Alisa dan tersenyum. ''Terimakasih. Cup. Cup. Cup. Aku pergi! Tunggu aku lima tahun lagi! Persiapkan dirimu sayang ku! Cup! Assalamualaikum!''


''Waalaikum salam..''


💕


Huaaaa.. panjang lagi.. nggak rela othor euyy..!


TBC

__ADS_1


__ADS_2