
Gilang masih menerka-nerka siapa kiranya pemuda yang menjaga Alisa selama ini. Memikirkan seorang pemuda membuat darah nya mendidih.
Takut jika pemuda itu akan merebut Alisa darinya. Lana cekikikan melihat Gilang yang berulang kali menghela nafas berat.
''Pi.. kok diam?''
Gilang menoleh pada Lana dengan senyum terpaksa. "Enggak.. hanya saja.."
"Kenapa? Takut jika pemuda itu akan merebut perhatian Mak dari Papi?" terka Lana namun wajahnya itu tersirta sedang menggoda Gilang.
"Nggak lah! Mana Papi takut! Jika dia berani merebut Mak kalian, Papi tidak akan membiarkan nya! huh! Enak saja dia, mau merebut Mak kalian! Papi aja butuh waktu yang cukup lama untuk meluluhkan hatinya? Dan sekarang, ia datang untuk mengambil Mak kalian dari Papi? Begitu? Tak kan ku biarkan! Biar tau sekali ini, dengan siapa dia berhadapan!" imbuh Gilang begitu marah.
Rahangnya mengeras dengan gigi menggelutuk. Lana tersenyum jahil melihat tingkah Gilang yang kepanasan karena ulahnya. ''Papi tenang saja.. ia tidak menyukai Mak.. tapi dia adalah putra nya Mak!''
Deg!
Gilang terkejut, ''Putra Alisa?''
"Ya, dia adalah putra angkat Mak. Namanya Adrian Pratama," sahut Lana.
Ia cekikikan melihat wajah terkejut Gilang. "Adrian Pratama? Seperti pernah mendengar nama itu. Tapi dimana ya?" gumam Gilang
Lagi, Lana cekikikan. "Bang Tama, putra nya Fabian Pratama dari Mama Linda Sumarni! Pengusaha sukses di bidang otomotif! Papi pasti kenal! Bukankah motor Papi, ada bersama nya sekarang? Dan akan Papi berikan untuk Abang nanti?"
Gilang tersentak mendengar ucapan Lana. "Dari mana Abang tau, jika motor Papi ada di tempat itu? Siapa yang bilang jika motor itu untuk Abang?" selidik Gilang.
Lana tertawa. "Bang Tama!" sahutnya.
Lagi dan lagi Gilang heran. Siapa sebenarnya Tama ini. Namanya sungguh familiar di telinga nya.
Ah, ini akibat terlalu lama di luar negeri jadi lupa tentang segala sesuatu nya di kampung sendiri.
Hadeuhhh...
Lana tertawa melihat tingkah Gilang yang semakin penasaran karena ulahnya. "Udah ah! Besok aja kita bahasnya! Ayo bobok Pi! Udah jam sepuluh malam loh.."
"Hah? Jam sepuluh? Bukannya tadi masih jam delapan ya? Ck! keasikan dengar cerita Abang, Papi jadi tak ingat waktu." Imbuhnya sembari berlalu ke kamar mandi Lana untuk membersihkan diri.
Lana yang paham, keluar menuju kamar Alisa untuk mengambil baju Papinya. Ia mengambil baju kaos oblong putih, CD, dan kain sarung.
Setelah mengambil itu ia segera keluar. Sebelumnya melihat Alisa yang tertidur dengan lelap bersama Rayyan dan Annisa.
Annisa.
Saking rindunya pada Gilang, Lana sampai melupakan adik perempuan nya itu. Ia terkekeh, kemudian berlalu meninggalkan ketiga orang yang di sayangi nya.
Ia masuk ke kamar bertepatan dengan Gilang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggang nya.
Dengan rambut basah masih meneteskan air di seluruh wajah Gilang. Lana mematung melihat tubuh Gilang.
Gilang berjalan mendekati ranjang, saat ingin mengambil kain sarung milik Lana, Gilang menoleh ke depan.
Ia merasa ada seseorang yang sedang memperhatikan nya. Dan benar. Jika Lana berdiri mematung disana dengan mulut menganga.
Gilang terkekeh melihat tingkah Lana. "Kamu kenapa Bang?"
__ADS_1
"Hah? Apa Pi?"
Lagi Gilang terkekeh, "Sini! kemarikan baju Papi!" titahnya, Lana menurut.
Ia melangkah kan Kaki nya menuju Gilang dengan mata terus menatap tubuh Papi nya yang padat berisi.
Bahkan sedikit terlihat perut kotak-kotak disana. Tidak besar sih. Yang jelas sudah ada bentuknya.
"Abang liatin apa sih? Papi Kenapa? Ada yang aneh kah?" tanya Gilang, walaupun ia tau apa yang ada di pikiran Lana saat ini.
"Enggak... Hanya saja banyak perubahan pada diri Papi. Dulu Papi begitu kurus sama kayak Abang sekarang. Tapi ini... apa yang Papi lakuin hingga tubuh Papi kayak tubuh orang pelatih senam gini?"
Gilang yang mendengarnya tertawa hingga kepalanya mendongak ke atas. "Nggak Papi apa-apa in!"
"Masa?"
"Beneran Nak.. udah ah! ayo bobok! Nanti Papi kasi tau deh rahasia nya sama Abang!"
"Beneran?"
"Ya! Tapi ketika Abang udah tamat SMA!"
"Ishhh.. lama lagi Papi!" sungut Lana.
Lagi, Gilang tertawa. "Memang harus tamat sekolah Nak.. nggak boleh sekarang. Tubuh kamu masih lemah. Sebelum menjadi seperti Papi, kamu harus mondok dulu. Selesai mondok, maka Papi sendiri yang akan mengajarkan mu. Gimana? Mau?"
Lana memikirkan hal ini sejenak. Setelah nya ia mengangguk. "Mau Pi! Ayo kita bobok! Abang kangen bobok bareng Papi!"
"Tentu!"
Setelah itu mereka mulai tidur di ranjang milik Lana. Lana yang sangat merindukan Gilang, langsung saja memeluk tubuh itu dengan erat.
Gilang terkekeh melihat itu. Ia mengusap kepala Lana dengan sayang. Lama kelamaan mata itupun tertutup juga karena tubuh yang lelah akibat perjalanan jauh.
Pagi hari nya.
Pagi ini Alisa sedang memasak di dapur sendiri. Bau harum semerbak memenuhi ruangan besar rumah itu.
Gilang tersenyum melihat Alisa sudah sibuk sejak subuh tadi. Ya, tadi subuh Lana mengatakan jika Tama putra angkatnya akan datang.
Sedang asyik-asyiknya memandangi Alisa di pintu dapur mereka, bel rumah mereka berbunyi.
''Itu pasti Tama!'' celutuk Alisa.
Melihat Alisa yang ingin ke depan untuk membuka pintu, Gilang mendekati nya. ''Lanjutkan aja masaknya. Biar Papi yang buka.'' Kata nya pada Alisa.
Alisa yang ingin bergerak pun tak jadi. ''Oke!'' sahutnya.
Dengan segera Gilang ke depan dan membuka pintu rumahnya.
Ceklek.
Pintu terbuka. Pandangan mata Gilang menatap tiga orang yang baru saja turun dari mobil dengan membawa banyak bingkisan.
Pemuda itu berbalik dan menoleh.
__ADS_1
Deg!
''Papi!!'' serunya terkejut.
Gilang mengernyitkan dahinya. Matanya terus menatap dua orang paruh baya disana. Belum terlalu tua sih.
Lebih tuaan dari Alisa sedikit. Begitulah pemikiran Gilang. Seorang laki-laki bertubuh tinggi, kulit putih dan juga rambutnya ada belahan di samping kiri.
Begitu familiar di matanya. Ia memperhatikan terus tanpa menoleh ke Tama yang tadi memanggilnya. Saat ia sadar jika itu seseorang yang ia kenal, Gilang melotot melihat seseorang itu. ''Om Bian!!'' pekik Gilang.
Lelaki itu menoleh dan..
''Loh? Gilang? Ngapain kamu disini? Bukannya ini rumah Alisa ya? Kenapa kamu-,''
Ucapannya terputus saat mendengar suara Alisa. ''Udah datang orang nya, Pi?'' tanya Alisa dari belakang Gilang.
''Papi?'' beo Fabian.
''Mak!!! Abang datang!!'' serunya kegirangan.
''Tama!!'' pekik Alisa.
Tama berlari menuju Alisa yang juga sedang mendekat i nya.
Grep!
''Ya Allah.. kangen banget Mak sama Abang! Gimana kabar nya Nak? Kamu sehat? Lah? Loh? Kok nangis? Ishh.. udah besar juga masih nangis ih!''
Tama semakin erat memeluk tubuh Alisa dan sesegukan di dada Mak angkatnya itu. Dua orang di depan mobil itu terkekeh melihat tingkah putra mereka.
Sedang Gilang melototkan matanya. Geram, ia berdehem.
''Ehem! Kamu sayang! giliran putra mu datang di peluk seperti itu! Giliran aku pulang, kamu nangis! Malah yang kamu peluk itu Rayyan!'' ketus Gilang.
''Eh, Papi! hehehe...''
''Hahaha .. Papi ngambek!''
Gilang melototkan matanya.
Buahaha...
TBC
Gimana masih mau lanjut? Cerita ini panjang loh.. 🤣
Hallo ha.. othor promo lagi nih. Mampir yuk ke cerita teman aku yang satu ini. Sambilan nunggu cerita ini update!
Karya : Julia Fajar
Judul : Mutiara terabaikan untuk Adam
Like dan komen klean selalu di tunggu! 😘
__ADS_1