
Gilang masih saja terduduk di sofa ruang tamu. Dimana tadi mereka berkumpul bersama, untuk membahas masalah perjodohan yang tertunda.
Gilang menghela nafasnya. Lama ia duduk disana sendri. Sedang kedua orang tua nya telah pergi ke kamar sahabatnya. Untuk melihat, ada apa dan kenapa sangat lama mereka belum juga turun, untuk melanjutkan masalah perjodohan itu.
Kesal, karena bosan menunggu. Menunggu yang tidak pasti, ia bangun dan bergegas ke kamarnya dilantai dua. Tepatnya di kamar yang juga ditempati oleh Vita dan keluarganya.
Sesampainya disana, Gilang melihat Vita yang sesegukan dipeluk oleh Mama Dewi. Sedangkan papa Angga, sedang mencoba membujuk papa Alan yang masih tersedu.
Gilang menatap mereka lama. Walau hanya sebentar disana, tapi Gilang mendengar apa yang dikatakan oleh papa Alan.
''Sekarang kalian sudah tau bukan? apa yang dilakukan oleh Vita?? Bagaimana rasanya saat mendengar itu? Sakitkah?? Sama seperti aku! yang merasakan sakit saat melihat dengan mata kepala ku sendiri! kalian hanya mendengar ceritanya saja! sedangkan aku?? hah....'' Gilang bergumam, dan membuang nafasnya.
Setelah nya ia beranjak ke kamar. Mengambil dompet, ponsel dan kunci motor. Ia memakai jaket, serta peralatan untuk sekolahnya besok, ia masukkan semua kedalam ransel.
Setelah selesai, bergegas lah Gilang keluar. Tanpa peduli dengan mereka yang masih tersedu disana.
Sesampainya dibawah, Gilang berpapasan dengan Bik Inah.
''Loh, loh! Aden mau kemana, bawa ransel segala??'' tanya nya pada Gilang.
Gilang berhenti sejenak. ''Gilang mau nginap dirumah Mbak Alisa, Bik.. malas dirumah! mau rembuk, tapi nggak selesai-selesai dari tadi! belum lagi.... hah! ya sudahlah Bik.. Gilang pamit mau pergi ke sana.'' ujarnya seraya berlalu.
''Tapi Den.. jika nanti Nyonya tanya, Bibik harus jawab apa??'' imbuhnya, sambil terus mengekor Gilang dari belakang.
Gilang berhenti tepat disebelah motornya. ''Bilang aja, jika Gilang nginap dirumah temen! ada kerja kelompok!'' imbuhnya santai.
Membuat Bi Inah, mengangguk patuh. ''Baik Den.. hati-hati dijalan! jangan ngebut! salam untuk neng Alisa ya?? Udah lama Bibik nggak kesana!'' imbuhnya seraya menerawang tentang Alisa.
''Woke! Gilang pergi Bik.. assalamualaikum..'' imbuhnya seraya berlalu dari hadapan Bisa Inah.
''Waalaikum salam.. kasihan den Gilang! ketika ia sedang merasa gelisah, pastilah pergi kesana. Seharusnya, ia kan betah tinggal di rumah sendiri?? Tapi malah ketempat lain! Semoga Aden bahagia ya.. setelah bertemu dengan neng Alisa. Kalian berdua sama-sama terluka, semoga kalian berdua berjodoh! Eh? kok malah doa in itu sih?! kalau terkabul gimana?? haduuhh.. ni mulut dasar nggak ada saringannya! ishh..'' desis Bi Inah. Kemudian ia berlalu meninggalkan garasi dan masuk kedalam.
Sedang kan diatas sana, papa Alan yang mendengar suara motor keluar dari gerbang. Melihat jika dibawah sana, Gilang pergi dengan membawa ransel serta motornya.
''Ya Allah... bahkan Gilang pun tidak mau tinggal disini. Sejak kedatangan kami kesini, pantas saja ia berubah. Aku nggak ngeh sama sekali, kalau Gilang kembali terluka saat melihat kehadiran Vita disini! Ya Allah.. apa yang harus ku perbuat, untuk menebus kesalahan ini??'' gumam papa Alan, tapi masih terdengar oleh papa Angga.
Sejenak ia menghela nafasnya berat. Ia sudah menebak, jika Gilang akan pergi lagi setelah tau jika Vita akan datang ke rumah mereka. Ia hanya bisa pasrah.
__ADS_1
Untuk sekarang, biarlah Gilang pergi. Sedangkan papa Angga akan berusaha membujuk papa Alan agar mau memaafkan kelakuan Vita.
****
Satu jam kemudian, ia sudah tiba dirumah Alisa. Ia turun dari motornya, dan membuka gerbang untuk membawa motornya masuk. Saat Gilang membawa motornya masuk halaman rumah Alisa, pintu rumah itu terbuka lebar.
Ceklek!
''Papiiiii..... Papi datang! Yeee...'' sorak sorai Lana, membuat Gilang menatapnya dengan tersenyum.
''Iya sayang.. Papi datang! ayo sini bantuin Papi!'' ujarnya, sambil menurunkan barang bawaannya yang lumayan banyak.
''Hihi.. kan betul yang Abang bilang, jika Papi malam ini, akan nginap disini! iyakan Pi?? Secara kan lusa hari minggu? Papi janji, mau ngajak Abang ketaman safari Medan. Iyakan Pi??'' tanyanya pada Gilang.
Gilang tersenyum. ''Ya.. Papi akan ajak Abang kesana, beserta dengan yang lain. Kita akan jalan-jalan kesana sekeluarga!'' imbuhnya.
Sedangkan didalam rumah, Alisa yang mendengar suara Gilang dan Lana, keluar. Ia menatap heran pada Gilang.
''Kenapa malam-malam kesini Gi??''
''Loh! bukannya besok kamu sekolah ya?? gimana sama kelurga kamu? Nanti mereka cariin loh..'' ujar Alisa.
''Nggak Mbak! mereka udah tau, tadi udah nitip pesan sana Bik Inah kalau Gilang kerumah Mbak Alisa.'' imbuhnya, membuat Alisa pasrah.
''Ya sudah, mari masuk! kunci motor mu atau dirantai, sekarang lagi rawan rampok! nanti kalau motor mu hilang, Mbak nggak mau tanggung jawab!'' ujar Alisa seraya berlalu.
''Oke! ayo Bang! bantu Papi masukkan barang-barang ini!'' ujar Gilang pada Lana.
Lana mengangguk. ''Kok banyak amat sih?! belanjaan nya? emang Papi mau arisan ya??'' tanya Lana.
''Abang gimana sih?! esok lusa kan hari Minggu?? Katanya mau ketaman safari... kok malah lupa? kayak aki-aki aja mudah lupaan!'' gerutu Gilang.
Lana cengengesan. ''Hehehe.. lupa Pi.. selow Pi.. selow... jangan marah lah.. kan kita sahabatan?? ya nggak? ya nggak??'' tanya Lana, dengan menggerakkan alisnya naik turun.
Gilang tersenyum dan mengacak rambut Lana. ''Ya sudah, bawa masuk! tuh Mak udah nungguin! mau Abang kena damprat sama Nyonya Alisa??'' cibir Gilang.
Lana terkekeh. ''Haha iya, iya Abang masuk! Papi juga ya! kita bongkar nih sama-sama barang bawaan Papi! Abang mau tau apa aja isinya!'' imbuh Lana.
__ADS_1
''Siip .. silahkan pangeran! hamba siap sedia kapan pun anda membutuhkan nya!'' imbuhnya lagi seraya menunduk hormat pada Lana.
Lana tertawa. Inilah yang disukai oleh Gilang. Saat dirinya sedang gelisah, ada pengobat hati nya yang mungkin sengaja diturunkan oleh penguasa alam untuk dirinya.
'Nikmat mana lagi yang kau dustakan Gilang?' batin Gilang berbisik.
''Assalamualaikum.. Kakak..'' sapa Gilang.
Ira yang melihat Gilang datang tersenyum dan menjulurkan tangannya untuk bersalaman.
''Waalaikum salam Pi .. ayo masuk! Mak lagi buat kue timpan labu tuh didapur. Papi duduk aja ya? Kakak buatin minum!'' ujar Ira seraya berlalu.
Gilang mengangguk. Lana yang baru saja masuk membawa barang belanjaan Gilang, kini terduduk disebelah Gilang. Ia duduk menyender di tepi dinding.
Sesekali Lana memandangi Gilang yang matanya terpejam sambil duduk. Ingin dibangunkan, tapi takut dimarahi.
''Ya sudahlah! Abang tinggal aja deh kedapur, bantuin Mak lagi buat timpan labu. Mumpung adek lagi tidur.'' gumam Lana sambil berlalu kedapur.
Lana kedapur dan berpapasan dengan Ira yang membawakan teh hangat untuk Gilang.
''Loh bang! mana Papi??'' tanya nya.
''Tuh lagi tiduran sambil nyender. Mau dibangunin, tapi takut kena marah! ya udah, Abang tinggalin lah! kalau nanti bangun, kan Papi tau harus kemana? Rumah kita ini tidak sebesar rumah Papi Lo..'' ujar Lana dengan bibir mencebik.
Ira terkekeh.''Iya deh iya.. Kakak kesana dulu mau nganterin teh ini!''
''Woke!!'' sahut Lana.
Ira kedepan dan melihat Gilang, benar sedang tidur sambil menyenderkan kepalanya ke dinding. Ira mendekati Gilang, menaruh teh di bawah.
Tangannya terangkat untuk memeriksa dahi Gilang. ''Tidak panas? lalu kenapa Papi tidur disini? kan dingin? ishh Lana sih, biarin Papi tidur disini! ck! Atau... apakah terjadi sesuatu pada Papi dirumahnya, makanya Papi kesini..??'' gumam Ira, tapi masih terdengar oleh Gilang.
Gilang hanya memejamkan matanya, bukan berarti tidur. Dalam tidurnya ia tersenyum mendapati perhatian dari putri sambungnya. Belum, tapi sebentar lagi. Semoga saja.
💕
TBC
__ADS_1