Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Ketahuan


__ADS_3

''Den Gilang?? Lana?? Sedang apa kalian disini??''


Deg!


Gilang dan Lana mematung. Mereka tahu, siapa pemilik suara itu. Suara yang dulu pernah mengantar Gilang kerumah Alisa.


Lana berbalik.


"Kakek!! Hehehe..." Lana cengengesan melihat Pak Kosim ada di belakangnya.


"Hayoo.. kenapa kalian berdua disini?? Apakah yang bapak dengar tadi benar?? jika resto ini milik Mbak Alisa?? Mak nya Lana??" tanya pak Kosim, serta memandangi Gilang dan juga Lana.


Gilang dan Lana yang di tatap seperti itu, mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Hehehe.. bener Kek! Ini resto punya Mak, Abang! Tuh, lihat aja logo nya! Kan nama Mak Abang??" tunjuk Lana.


"Hah?? Alisa resto?? Kenapa sama dengan yang di luar ya?? Alisa Store??" gumamnya.


"Hehe.. betulkan Kek! Jika itu adalah Nama Mak, Abang! Tunggu dulu! Kenapa pula kakek ada disini?? Bukannya Kakek bekerja di rumah Papi ya??" tanya Lana.


Pak Kosim menghela nafasnya.


"Kakek kesini mau beli handphone baru yang kayak punya den Gilang.. handphone kakek yang ini udah butut! Udah rusak pula! Rencananya sih.. mau beli yang ada kamera nya gitu.. biar bisa, apa sih namanya ya?? Hmm.. Vario got? Eh bukan! Vi.. Vi.. vio.. apa sih? Kakek juga kurang paham Lana! Karena permintaan cucu kakek, makanya kakek nekad kesini. Kebetulan mang Ujang bilang, ada satu toko menyediakan semua produk mulai dari ponsel, baju, perabotan rumah, dan juga alat-alat memasak! Begitu kata mang Ujang!'' jelas pak Kosim.


Gilang tersenyum. ''Oh begitu toh.. ya sudah! mari Pak! biar Gilang yang tunjukkan dimana tempat dan handphone yang bagus untuk Bapak gunakan!'' ajaknya.


Gilang berjalan di depan, sedangkan Pak Kosim dan Lana berjalan di belakangnya. Sedangkan Andi, di tunjuk untuk memandu mereka bertiga.


''ALISA PONSEL??'' gumam pak Kosim, saat mereka bertiga sampai di tempat yang mereka tuju.


''Ya! Alisa ponsel!'' seru Gilang.


Ia tersenyum saat membayangkan seluruh toko yang ia gunakan atas nama Alisa. Ia jadi ingat tentang wanita pujaan hati nya itu dirumah.


Tiba-tiba saja pak Kosim berhenti. Ia berdiri mematung disana. Sedangkan Gilang dan Lana terus berjalan.


''Ayo dipilih, Pak! mau yang mana ponsel nya?? Mau yang berapa Ram??'' tanya Gilang tanpa melihat Pak Kosim ada dimana.


Dirasa sunyi, tak ada sahutan Gilang pun menoleh. Ia melihat Pak Kosim berdiri mematung disana dengan mulut menganga lebar.


Jika seandainya ada lalat, maka penuhlah mulut pak Kosim. Yang pasti akan tersedak lalat dong..


Matanya tak berkedip memandangi setiap toko yang ia lewati. Semua berlogo ALISA. Apa jangan-jangan...


''Pak..?? Kok malah bengong sih?? Ada apa??'' tanya Gilang.

__ADS_1


''Jangan bilang, jika ALISA STORE ini punya Den Gilang?!''


Deg!


Deg!


Mampus! gue ketahuan lagi! Aduhh.. gimana ini?? Nggak mungkin dong.. gue bohong?? Secara kan Pak Kosim ini, orang yang paling setia saat gue membutuhkan bantuannya?? Jujur nggak ya?? Jujur aja kali ya?? bisiknya dalam hati.


Matanya bergerak gelisah. Pak Kosim terus saja memandangnya tanpa kedip. Lana yang melihatnya juga merasa heran.


Mengapa dari tadi, setiap toko yang dijumpainya atas nama ibu nya, Alisa. Ada apa ini pikirnya, Apakah jangan-jangan...


''Den...??'' panggil pak Kosim.


Gilang menunduk, ''ya... ALISA STORE ini punya Gilang! Usaha ini Gilang dirikan, saat Gilang masih kelas satu SMA. Dan sekarang telah berjalan selama tiga tahun, Pak...'' lirih Gilang.


''Masyaallah.. Nak.. kamu memang pantas untuk di banggakan! Tidak sia-sia selama ini kedua orang tua Aden, menyekolahkan Aden hingga bisa sukses seperti ini! Bapak bangga sama Aden! Sebaiknya kita beritahu kan hal ini kepada tuan dan nyonya ya? Biar mereka tahu, jika putra nya sudah sukses dan maju seperti ini walau masih sangat muda.'' Imbuhnya seraya tersenyum lebar menatap Gilang.


''Maaf Pak Kosim.. bukan maksud Gilang melarang Bapak.. hanya saja.. Gilang tidak ingin sampai mereka tau.. jika Gilang memiliki usaha sendiri! Karena usaha ini akan Gilang jadikan mahar untuk Alisa, ketika kami menikah nanti!'' ujar Gilang, membuat pak Kosim terkejut.


''A-apa?? Aden mau menikah?? Kapan??'' tanya nya panik.


''Bukan sekarang, Pak! Nanti setelah dirasa Gilang cukup pantas untuk menjadi pendamping Alisa! Mungkin setelah lulus kuliah?'' ujar nya santai tanpa melihat raut wajah seseorang disana yang berubah menjadi sendu.


''Begitu kah??''


Mereka melangkah mendekati toko ponsel milik Gilang. Pak Kosim melihat, begitu banyak merek handphone keluaran terbaru.


Pak Kosim menggeleng kan kepalanya. Sungguh putra majikannya ini sangat spesial. Masih muda, tapi sudah sukses.


Sangat jarang memiliki seorang putra seperti Gilang yang mau berusaha dari masih lajang seperti ini.


''Ayo Pak! Plihlah! Mau yang mana?? Mau yang tinggi Ram nya atau yang yang rendah Ram nya?? Ayo dipilih!'' ucap Gilang, sambil menunjuk kan merek handphone keluaran terbaru.


'Andai.. Abang punya uang.. pastilah Abang bisa membeli ini untuk Mak.. Tapi Abang nggak punya apapun untuk itu?? Dengan cara apa ya, Abang punya uang?? Abang pingin banget punya handphone terbaru merek apel gigit itu...'' gumamanya dalam hati.


Apa yang dibicarakan oleh Gilang, Lana tidak menyimaknya lagi. Matanya masih tertuju pada handphone dengan merek apel gigit di belakangnya.


''Bang!'' panggil Gilang.


''Lana!'' Panggil pak Kosim.


''Eh? Apa Pi??''


''Abang kenapa??''

__ADS_1


''Hah?? Abang nggak Kenapa-kenapa, kok.'' sahutnya masih dengan menatap handphone di dalam etalase kaca itu.


''Aden, yang ini berapa ya??''


''Oh.. yang itu.. Sinta! Berapa merek apel gigit ini?'' tanya Gilang, sengaja untuk memancing keinginan tahuan Lana.


''Merek Apple iPhone ini berbeda-beda, Tuan! Tergantung dari tinggi Ram nya. Semakin tinggi Ram nya, semakin tinggi pula harga nya.'' ucap karyawan ditoko handphone milik Gilang.


''Oo kalau yang ini berapa??'' tanya pak Kosim.


''Kalau yang ini Apple iPhone Pro Max 256 GB seharga 18.500.000,00 Pak!'' sahut nya.


''A-apa?? Delapan belas juta????'' tanya Lana.


Gilang dan pak Kosim menoleh, ia tersenyum. Benar tebakan nya, jika Lana sedang menginginkan handphone dengan logo apel gigit ini.


''Saya mau yang murah aja sesuai dengan budget saya.. saya hanya punya uang sekitar 3.500,000 saja. Apakah ada merek hape yang sesuai dengan budget saya??'' tanya pak Kosim.


''Ada Pak! Yang ini Apple iPhone X 64 GB seperti yang bapak inginkan! Apakah Bapak memilih yang ini??''


''Ya! saya pilih yang ini saja!''


''Baik! Ditunggu sebentar ya, Pak!''


Setelah nya karyawan Gilang memberikan bukti pembelian dan juga kartu asuransi. Setelahnya handphone itu dimasukkan ke dalam paper bag dan diserahkan kepada pak Kosim.


''Terimakasih dan sampai jumpa kembali!'' ucap karyawan ditoko Gilang.


Pak Kosim mengangguk. Sedangkan Lana hanya mematung disana. Tidak beranjak sedikit pun.


''Ayo bang! kita harus pulang! Mak, pasti nungguin kita di rumah, ayo!'' ajak Gilang. Lana mengangguk dengan lesu.


Setelah Lana berjalan dengan pak Kosim di depan, Gilang membisikkan sesuatu kepada Andi. Dan Andi mengangguk, setelahnya mereka bergegas kembali dimana motor mereka tadi diparkir kan.


Saat ingin menaiki motor, Andi memanggil Gilang dan memberikan sebuah paper bag padanya.


Gilang menerima dan segera meninggalkan tempat usahanya itu. Gilang melihat Lana yang begitu murung setelah kembali dari toko ponsel miliknya.


Gilang hanya tersenyum melihat Lana.


'Tunggu kejutannya, Bang! kamu pasti suka!'


💕


Ada yang tau apa isi dalam paper bag itu??

__ADS_1


TBC


__ADS_2