Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Buang yang lama, ganti dengan yang baru


__ADS_3

Seluruh penghuni rumah itu sedang tertawa mengingat Lana. Sedang yang disebut, bersin-bersin.


''Hatcccihhh.. ihh.. gatal banget ini hidung? Sshhuutt...'' Lana menyusut ingusnya.


Rayyan dan Annisa terkekeh geli melihat Lana seperti itu.


''Gimana? Papa mau kan? Jika Papa mau, hari ini kita belanja. Dan keluar. Biar Andi dan Pak Kosim yang membereskan semua itu.'' desak Gilang.


Ia menatap Papa Yoga masih dengan senyum tersungging di bibir tipisnya. Tante Irma terkekeh lagi.


''Sudah Mas. Biarkan saja. Toh, Alisa kan yang akan menempati nya?'' ucap Tante Irma masih dengan kekehan di bibirnya.


Papa Yoga menghela nafasnya. ''Ya, baiklah. Lakukan yang terbaik untuk putri Papa. Papa percaya, jika kamu mampu untuk mewujudkan nya.'' jawab Papa Yoga dengan tersenyum teduh melihat Gilang.


''Oke. Sudah di putuskan. Jika hari ini juga kita akan berbelanja perlengkapan kamar Alisa. Tapi sebelum itu...'' Gilang menghentikan ucapannya dan melirik setiap sudut rumah mertuanya.


''Tapi apa, nak?'' tanya Mama Alina.


''Boleh Gilang minta nomor rekening Papa?'' tanya Gilang dengan menatap Papa Yoga.


Papa Yoga terkejut. ''Buat apa Nak??''


Gilang tersenyum, ''Nanti Gilang ceritakan ya? Sebutkan dulu berapa nomor rekening Papa.''

__ADS_1


Dengan bingung Papa Yoga menyebutkan nomor rekeningnya pada Gilang. ''Oke! sudah Pasti. Coba di periksa.'' ucap Gilang dengan mengulum senyum.


Ting!


''Eh? Sudah masuk saja ni notifikasi dari Bank. Sebentar ya.. kita buka dan...'' mata Papa Yoga membulat sempurna melihat deretan angka yang begitu banyak keluar di dalam ponsel miliknya.


Ponsel jadul. Ponsel jaman dulu. Gilang terkekeh melihat nya. Mana lagi itu ponsel sudah pudar warnanya.


Di ikat karet lagi. Gilang tertawa melihat ponsel Papa Yoga. Sedang Tante Irma menggeleng kan kepalanya saat melihat ponsel kakak tersayang nya ini masih saja butut.


''Padahal ini mah, sudah jaman modern. Sudah tahun 2022! Masih betah aja tuh sama ponsel jadul? Hadeuhhh...'' gerutu Tante Irma dalam hati.


''I-ini.... bu-buat apa uang sebanyak itu Nak?'' tanya Papa Yoga tergagap.


Gilang tertawa. ''Untuk biaya pembangunan ini. Rumah ini harus diubah menjadi dua lsntai. Anggota Gilang, banyak Papa! Ada kakak, Abang, adek Annisa dan adek Rayyan!Apa mungkin rumah ini muat dengan mereka yang super rusuh? Bukan maksud Gilang ingin menghina rumah Papa. Tapi ini keinginan Alisa. Kata nya, jika ia pulang kesini suatu saat nanti, ia ingin membuat rumah ini menjadi dua lantai seperti yang Gilang katakan tadi. Maka dari itu, Gilang ingin mewujudkan impian Alisa, Papa.''


Tak ada kebohongan sama sekali. Benar apa yang dikatakan oleh Gilang. Jika rumah ini memang sudah sangat tua.


Di setiap dindingnya sudah keropos, begitu juga dengan atapnya. Sudah bolong-bolong. Tapi karena sering di tempel oleh Papa Yoga, jadi tidak bocor.


Namun ketika siang harinya, atap itu pastilah terlihat berlubang semua. Papa Yoga menghela nafasnya.


Ia menatap Gilang. ''Kapan kita bisa mengerjakan nya?''

__ADS_1


''Hari ini juga!'' sahut Gilang. Papa Yoga menghela nafasnya lagi.


''Waktu Gilang hanya sebentar disini Papa. Tiga hari lagi Gilang akan pulang ke Medan. Gilang ambil cuti sepuluh hari untuk liburan disini. Jadi.. Papa maklum ya? Tak apakan? Nanti jika ada kekurangan bahan atau apapun itu, Papa bisa beritahu Gilang. Karena jika rumah ini sudah siap, kami akan berlibur kesini nantinya di akhir tahun saat libur semester tiba.'' Imbuh Gilang dengan tersenyum lembut pada Papa Yoga.


''Oke. Mari kita keluar untuk membeli segala bahannya dan akan Papa tunjukkan seseorang yang bisa merubah rumah ini nanti. Untuk harga, Papa serahkan padamu. Kamu sendiri yang nego nanti. Dan untuk bentuk rumah, kamar berapa dan dimana, semua itu kamu yang menentukan nya.''


''Beneran Pa? Boleh nih?''


''Tentu, Nak. Papa bisa menikmati hari tua dengan Mama mu saja sudah sangat bersyukur. Dan sekarang kamu ingin menyenangkan kami. Tentu saja Papa tidak akan menolaknya. Ayo kita bersiap! Lebih cepat lebih baik!''


Gilang tertawa, begitu juga dengan Mama Alina dan Tante Irma. Pak Kosim dan Andi, mereka berdua sudah sibuk sedari tadi.


Mereka sedang mengeluarkan semua barang-barang Alisa dari kamarnya serta rumah itu akan di renovasi besok pagi.


Untuk sementara, Gilang dan Papa Yoga akan tinggal di kediaman tante Irma. Karena rumah Tante Irma yang paling dekat diantara rumah saudara Papa Yoga yang lainnya.


Saat ini kedua Manusia berbeda generasi itu sedang berbelanja kebutuhan rumah yang akan di renovasi.


Setelah selesai nego harga barang, serta berapa nominal pembayaran nya, Gilang dan Papa Yoga melanjutkan lagi perjalanan untuk belanja barang-barang yang akan diisi di kamar Alisa dan di kamar atas nantinya.


Semuanya Gilang yang bayar. Sedangkan uang yang ada Papa Yoga, digunakan untuk renovasi rumah.


Sebenarnya Papa Yoga menolak. Tapi dasar Gilang, selalu saja melibatkan Alisa dalam masalah itu. Terpaksa Papa Yoga mengangguk setuju.

__ADS_1


Buang yang lama ganti dengan yang baru. Begitu kata Lana saat mereka tadi menghubungi nya.


💕💕💕💕💕


__ADS_2