
Alisa bingung harus jawab apa. Satu sisi ia begitu senangnya jika pemuda di depan nya akan menikahi dirinya sebelum ia kuliah keluar negeri.
Ya, setelah lulus SMA Gilang akan meneruskan pendidikannya keluar negeri. Oleh karena itu, Gilang selalu memanfaatkan situasi agar selalu bisa bersama dengan keluarga kecil itu.
Ia sengaja mencuri kesempatan kebersamaan mereka. Karena setelah ini, akan lama waktunya bagi mereka untuk bertemu.
Gilang menghela nafasnya.
''Sayang.. gimana kamu mau nggak, menikah denganku? Sebelum aku berangkat ke luar negeri?? Aku tenang jika kalian sudah terikat denganku! Berbeda jika belum. Mau ya?? Masalah Papa, biarkan itu menjadi urusan ku! yang terpenting kau setuju dulu! Bagaimana?? Mau kan??''
Alisa bingung harus jawab apa. Ingin menjawab iya, tapi tak mungkin. Ingin menolak pun tidak bisa.
Ya Allah.. aku harus apa??
''Sayang...''
''A-aaku....'' Alisa menundukkan kepalanya tak berani menatap Gilang.
Sedang Gilang tau, jika ini akan berat untuk Alisa.
''Ya sudah, jangan dipaksa. Masih ada waktu. Aku tak akan memaksa mu. Pilihlah sesuai dengan keinginan hatimu. Karena apapun pilihan mu, aku akan mengikutinya.'' imbuh Gilang begitu bijak.
Membuat Alisa mendongak menatapnya. Gilang tersenyum.
''Maaf...'' lirih Alisa.
''Tidak apa-apa. Aku paham kok. Ya sudah, siapkan sarapannya segera! aku dan anak-anak akan pergi mengantar mereka ke sekolah.'' Imbuhnya lagi.
Sedangkan Alisa mengangguk. Setelah nya mereka sarapan bersama. Tak lama kemudian, satu persatu mereka pergi ke tempat tujuan masing-masing.
Andi ke tempat rental mobil untuk mengembalikan mobil milik teman nya itu. Sedangkan Gilang mengantar dua bocah rusuh bin kocak itu.
Sesampainya di sekolah Ira dan Lana. Mereka turun bersama, dengan seseorang disana yang menatap kagum pada Gilang.
Belum lagi siswi-siswi dari kelas tiga. Mereka berteriak histeris ketika melihat Gilang.
''Opa...''
''Boleh kenalan??''
''Mau dong di boncengan Opa...'' ucap mereka semua, membuat Ira memutar bola mata nya jengah.
Lain Ira lain lagi Lana. Bocah itu yang tadinya tersenyum begitu manis kini raut wajahnya berubah menjadi dingin dan datar.
''Pi.. kami masuk dulu ya.. ayo Bang!'' ajaknya pada Lana.
Sedangkan Lana hanya diam. Wajahnya datar tak ada ekspresi apapun. Gilang heran melihat Lana. Ada apa? Pikirnya.
Namun setelah ia pahami, jika Lana sengaja merubah raut wajahnya menjadi datar karena ada seseorang disana yang terus menatap nya tanpa kedip.
Gadis kecil berhijab. Seumuran dengan Lana. Ia terus saja menatap Lana. Sedang yang di tatap datar. Tanpa ekspresi. Gilang yang melihatnya terkekeh.
Emang ya.. titisan gue! beuhh.. dianya lebih datar dari gue euuyy!
Lagi, Gilang terkekeh melihat Lana berubah menjadi dingin seperti itu. Sedangkan Ira sudah berlalu setelah bersalaman tadi dengan Gilang.
Lana masih saja berdiri mematung disana. Gilang yang tidak tahan melihat Lana, akhirnya angkat bicara.
__ADS_1
''Bang! masuk gih! bentar lagi bel loh.." ucap Gilang masih dengan menatap Lana.
Lana menoleh kemudian mengangguk. Kemudian ia berlalu begitu saja dari hadapan Gilang, tanpa melihat seseorang disana yang berwajah sendu melihat kepergiannya.
"Wuaahh.. kecil-kecil kamu sudah ada yang suka ya Bang! Pantas saja wajah mu jadi dingin seperti itu!" kekeh nya lagi.
Lama ia disana berdiri. Setelah terdengar suara bel berbunyi, barulah Gilang meninggalkan sekolah Ira dan Gilang.
Lima menit dijalan, ia sudah sampai di rumah Alisa. Sesampainya disana, ia melihat rumah itu begitu sepi.
Namun itu tak menyurutkan langkah Gilang. Ia tetap melangkah masuk ke dalam rumah itu.
''Assalamualaikum..'' ucap Gilang, tapi tak ada sahutan dari dalam.
Saat pintu terbuka terlihat Alisa sedang tidur dengan membelakangi pintu. Gilang mendekati Alisa.
Betapa terkejutnya Gilang, saat melihat buah melon Alisa menggantung keluar tanpa penutup apapun.
Rupanya Alisa tertidur saat menyusui Annisa. Bayi kecil itu masih terjaga. Melihat Gilang datang, bayi itu tertawa.
Tangannya terangkat keatas ingin menggapai Gilang. Gilang yang paham langsung saja mengambil Annisa dari Alisa.
Gilang menahan nafas saat melihat buah melon tergantung itu. Lagi, ia jadi panas dingin.
Saking panas nya, sesuatu di bawah sana terasa sesak.
"Aduh... ni tower nggak ada akhlak! masa' iya baru liatin doang udah berdiri kayak begini?? hadeuhhh.. gue tutupin ah, pakai kain. Biar nggak keliatan. Bahaya euuy.. bikin sport jantung gue! belum lagi nih cecunguk! bangun-bangun nggak ngomong dulu! ishh...'' Gerutunya pada pusaka nya yang sudah berdiri tegak di sana.
''Hadeeeuuhh... adek ngapain sih nyusu sama Mak, hingga tuh pabrik susu nongol kayak begitu?? Untung Papi! gimana kalau orang lain??'' gerutunya pada bayi kecil itu.
Sedangkan bayi kecil itu hanya tertawa-tawa saja melihat Gilang mengoceh tidak jelas. Setelah lelah bermain, akhirnya Annisa tidur diatas tubuh Gilang.
Lama mereka tertidur, hingga Alisa tersentak saat suara adzan berkumandang.
''Astaghfirullah! sudah dhuhur! lah? adek mana??'' ucapnya panik. Ia menoleh kesana kemari.
Tepat saat ia berbalik, ia melihat Annisa tertidur di dada Gilang. Alisa terkejut. Ia meraba buah melon yang yang masih keluar itu.
''Astaghfirullah! aduuhhh.. apa Gilang liat nggak ya tadi?? Ishh ishh.. bodoh kamu Lis! bisa-bisanya tertidur! hadeuuuhhh...'' gerutunya pada diri sendiri.
Setelah puas mengomel pada diri sendiri, Alisa bangkit menuju kamar mandi untuk wudhu dan sholat.
Beberapa hari di rumah Alisa, membuat Gilang begitu bahagia. Besok, adalah hari dimana Gilang akan mengikuti ujian akhir sekolah. Hari ini adalah hari terakhir Gilang berada dirumah itu.
Oleh karena nya selama seminggu, Gilang tidak akan kerumah Alisa. Gilang tetap ingin disana.
Tapi Alisa menolaknya. Alasannya adalah, jika ia tidak ingin menganggu pemuda itu yang akan ujian.
Belum lagi kadang anak-anak nya suka sekali rusuh saat Gilang ada di rumah mereka.
''Sayang.. aku tetap disini ya??'' pinta nya lagi. Sudah kesekian lagi ia merengek pada Alisa.
Tapi wanita itu tetap pada pendiriannya.
''Nggak boleh! kamu harus pulang Papi! Besok kamu ujian akhir. Apakah selama dua Minggu disini, kamu belum puas juga??''
Gilang menggeleng dengan wajah memelas nya.
__ADS_1
''Hadeeeuuhh.. capek bener aku nanganin nih bocah!'' seru Alisa.
Membuat Lana tertawa. Sedangkan Ira cekikikan. Gilang melihat mereka menertawai dirinya mendelik.
''Boleh ya.. please... my love.. my future Wife.. please ..'' ucapnya lagi dengan wajah begitu memprihatinkan.
Ira dan Lana tertawa.
''No! no! no! you understand Papi??'' sahut Alisa sengaja menunjukkan wajah garang nya pada Gilang.
Gilang menunduk. Ia menyerah. Alisa tetap pada pendiriannya. Sekali tidak, tetap tidak.
''Ya sudah, Papi balik dulu ya.. assalamualaikum..'' lirihnya.
Alisa yang melihat nya menahan tawa. Sedangkan Ira dan Lana mengikuti Gilang dari belakang.
''Sabar Pi.. setelah ujian berakhir, Papi boleh kok kesini lagi. Ya kan Kak??'' tanya pada Ira.
Ira mengangguk. ''Hooh. Papi tenang aja.. kita masih bisa berbicara lewat dunia maya.. agar selalu bisa terjaga.. kan Papi udah kasi kami sesuatu yang berguna jika Papi dan kami berjauhan??'' tanya Ira.
Gilang tersenyum. ''Ya, Papi ingat! ya sudah, Papi pulang ya? Jaga diri kalian baik-baik! Seminggu loh Papi nggak kesini?? Duh piye iki kalau aku rindu??'' selorohnya di depan anak-anak.
Ira dan Lana tertawa. Gilang pun tertawa. Baginya kebahagiaan anak-anak Alisa adalah yang utama.
Melihat mereka tertawa seperti ini, membuat Gilang begitu senang. Anak-anak Alisa tidak menuntut apapun darinya selain hanya bisa pulang dan tetap bersama dengan mereka.
Sungguh sederhana. Tapi kesederhanaan itulah yang membuat Gilang begitu betah jika di rumah Alisa.
Gilang menghela nafasnya. Berat. Tapi tetap harus dijalani.
Ia kembali menatap rumah itu. Rumah yang selama dua Minggu ini menerima dirinya dengan lapang dada tanpa ada paksaan ataupun mengusir dari sang empunya rumah.
Gilang tersenyum pada sepasang anak manusia yang masih berdiri di hadapan pintu mereka.
Berharap jika orang yang dicintainya pun hadir disana untuk mengantar nya pulang ke tempat nya.
Tak disangka, saat Gilang ingin pergi, terdengar suara yang begitu lembut menyapa pendengaran.
''Hati-hati di jalan Papi... kami selalu disini menantimu.. sekarang atau pun nanti! pergilah! Berjuang demi masa depan mu dan kita! Aku akan setia menunggu mu disini! Doaku selalu menyertai mu.. semangat dalam belajarnya agar nanti lulus dan bisa kuliah keluar negeri.. Aku sayang Papi..'' lirih nya di ujung Kalimat.
Begitu pelan, hinnga nyamuk pun tak bisa mendengar. Tapi tidak dengan Gilang, ia mendengar jelas apa yang Alisa katakan.
Gilang tersenyum sangat manis. ''Pasti! hati-hati dirumah! jaga dirimu dan juga anak-anak. Jika ada apa-apa segera hubungi aku.. aku juga sayang pada mu Lis.. assalamualaikum..'' imbuhnya seraya berlalu meninggalkan Alisa yang berdiri mematung disana.
Berat melepas kan seseorang yang sudah bertahta di hati. Tapi itu harus ia lakukan karena Gilang punya kehidupan nya sendiri.
Toh, apapun yang akan menjadi takdirnya nanti, pasti akan menemukan jalannya. Hanya tinggal bersabar saja.
Selamat tinggal sayang.. setelah ini kita akan berjumpa lagi.. tapi setelah aku sukses dan lebih bisa menjadi layak bersanding dengan mu!' gumam Gilang dalam hati.
Aku akan menunggu mu GI.. disini! Sekarang ataupun nanti!
💕
Dua hati yang sudah terikat begitu sulit untuk dipisahkan.
Akankah Gilang akan kembali lagi ketempat Alisa setelah kembali ke rumahnya??
__ADS_1
Tunggu kelanjutannya!
TBC