Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Penolakan Papa Yoga


__ADS_3

Pukul satu siang, mereka sudah masuk dalam kawasan rumah Alisa.


Gilang celingukan mencari titik yang di tunjuk oleh Google map. Ia terus menyusuri jalan setapak rumah Alisa.


Gilang melihat sekitar rumah calon mertua nya. Banyak rumah, tapi Hanay satu rumah yang berdiri megah.


Juga di depan rumahnya, ada kios seperti menjual segala kebutuhan rumahtangga. Mulai dari satu, ikan, daging serta jajanan lainnya.


Saat titik pada Google map Gilang mengarah pada satu rumah yang begitu sederhana daripada rumah yang lain, Gilang tersenyum.


Ia melihat seorang lelaki paruh baya sedang duduk santai disana. ''Papa..'' gumamnya saat melihat Papa Yoga sedang duduk di depan sana dengan koran ditangannya.


Gilang bergegas turun begitu juga dengan Andi dan Pak Kosim. ''Saya duluan ya Pak, Andi! Ingin menyapa calon mertua!'' celutuk Gilang dengan sedikit kekehan di bibirnya.


Sementara Papa Yoga, ia mengernyitkan dahinya saat melihat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya.


Terlihat seorang pemuda tampan turun dari mobil berwarna putih itu. Ia melenggang menuju ke rumahnya.


Saat Gilang mendekat Papa Yoga mematung. Ia menatap datar pada pemuda tampan dengan baju kemeja warna putih ia gulung sampai kesiku, celana jeans berwarna biru laut serta sepatu cats putih sangat menunjang penampilan nya saat ini.


Sebelum menuju ke rumah Alisa, Gilang, Andi dan Pak Kosim terlebih dahulu mandi saat mereka singgah di sebuah mesjid ketika subuh tadi.


Gilang semakin mendekati Papa Yoga, sedang Papa Yoga menatap datar pada Gilang. ''Assalamualaikum, Papa..''


Deg.


''Emil!!!'' seru Papa Yoga.


Ia begitu terkejut melihat kedatangan Emil di rumah nya. Tapi kenapa begitu muda ya? Gumam Papa Yoga.


Gilang tersenyum, ''Apa kabar Pa? Saya Gilang. Bukan bang Emil.'' Sahutnya masih dengan menatap Papa Yoga.


Gilang menjulurkan tangannya untuk menyalami tangan Papa Yoga. Refleks saja Papa Yoga memberikan tangannya untuk disalimi oleh Gilang.


''Untuk apa kamu datang kesini? Belum puas kau menyakiti putriku selama dua belas tahun ini!?''


Deg!


Deg!


''Maksudnya?''


''Untuk apa kau merubah penampilan seperti ini? Untuk membujuk saya begitu?! Saya tidak akan Sudi menerima kamu lagi menjadi menantu ku!!''

__ADS_1


Ddddduuuaaarrrr..


Gilang tersentak saat mendengar penolakan dari Papa Yoga. Ia menatap datar pada Papa Yoga.


''Pergi!! Aku tidak butuh seorang menantu bermuka dua seperti mu! Sedari dulu aku tidak pernah mengijinkan mu untuk menikahi putriku! Dan sekarang terbuktikan? Apa yang aku takuti? Pergi! Aku tidak butuh kehadiran mu disini! Adikku sedang menjemput Alisa kesana. Kamu tunggu saja!'' ujar Papa Yoga begitu datar dan dingin kepada Gilang.


''Papa salah paham. Saya bukan Bang Emil. Saya Gilang, Pa! Apakah wajah saya begitu mirip dengan nya? Hingga Papa pun membenci seseorang yang mirip dengan nya?''


Deg!


Papa Yoga terkejut ketika mendengar suara Gilang yang begitu lembut ketika berbicara dengan nya.


Ia menatap datar pada Gilang. Namun, Gilang tersenyum melihat Papa nya ini. Papa Alisa. ''Maaf, jika kehadiran saya disini mengganggu ketenangan Papa, sekali lagi saya tekankan. Saya bukanlah Bang Emil, saya Gilang. Gilang Bhaskara!''


Deg!


Seseorang di belakang Papa Yoga terkejut mendengar suara itu. Ia begitu mengenali suara itu.


''Saya tidak akan percaya padamu lagi Milham! Gara-gara kau! aku jauh dari putri ku satu-satunya! Pergi! aku tidak menginginkan kehadiran mu di disini!'' sentak Papa Yoga.


Gilang menutup Matanya. ''Sebentar Pa. Dengar dulu penjelasan saya!'' Gilang menarik tangan Papa Yoga yang akan segera berlalu masuk ke dalam rumahnya.


''Tunggu Papa! Papa salah paham padaku. Aku bukan bang Emil, Papa. Aku Gilang-,''


Plaakk


Plaakk


''Astaghfirullah! Den Gilang!''


''Bos Gilang!!'' seru Andi dan Pak Kosim bersamaan.


Gilang mematung. Ia terkejut dengan kelakuan Papa Yoga yang begitu cepat berbalik dan menamparnya hingga tiga kali tamparan yang begitu kuat.


''Bos!!'' seru Andi, ia mendekati Gilang yang sedang berhadapan dengan Papa Yoga.


''Berhenti Andi!'' cegah Gilang sembari mengangkat sebelah tangannya ke udara. Andi berhenti di tempat.


Wajah Papa Yoga memerah karena menahan amarahnya. Tangannya mengepal erat melihat wajah Gilang yang tetap tersenyum padanya walau sudah tiga kali kena gampar.


Gilang terkekeh saat mengingat Lana. ''Papa tau, pantas saja Abang tidak mau pulang ke Aceh karena takut akan Papa gampar ayahnya. Seperti aku saat ini. Papi nya.'' celutuk Gilang begitu santai.


Dengan segera ia menarik tangan Papa Yoga untuk dibawa ke kursi tempat ia duduk tadi. Papa Yoga menurut saja. Gilang terkekeh. Dua orang di belakang Gilang, menatap bingung pada Gilang.

__ADS_1


Gilang tersenyum dan mengangguk. Andi dan Pak Kosim bernafas lega. Sementara Papa Yoga masih dengan nafas memburu nya.


''Jika Papa sedang di kuasai oleh emosi, sebaiknya Papa duduk. Jika tidak bisa, maka diam. Karena hanya dengan cara diam amarah itu akan mereda. Sangat sulit loh.. mengendalikan emosi yang sudah sampai di ubun-ubun? Gilang sudah merasakannya Papa. Tapi karena Alisa, Gilang sedikit demi sedikit berubah. Istighfar, Pa.. tidak baik berlarut-larut dalam dendam. Sebelum Papa menuduh seseorang, cari dulu buktinya. Apakah benar jika yang Papa duga itu benar adanya?''


''Maaf Pa, bukan maksud Gilang menggurui. Tapi Gilang belajar semua ini dari putri Papa. Alisa Febriyanti. Istri sah Gilang secara hukum!''


Deg!


Papa Yoga melotot melihat Gilang. Tangan nya terangkat untuk memukul Gilang kembali, tapi berhenti di udara karena mendengar ucapan Gilang selanjutnya.


''Jangan lakukan itu pada orang yang tidak bersalah Papa. Aku bukan Bang Emil. Aku Gilang Bhaskara! Papa perlu bukti? Baik, akan aku tunjukkan!''


Gilang merogoh dompet yang ada pada saku celana jeans bagian belakang. Ia membuka dompet itu dan mengambil KTP miliknya dan menyerahkan KTP itu pada Papa Yoga.


''Papa baca. Apakah benar jika aku adalah bang Emil? Bagaimana mungkin dalam waktu sekejap aku jadi berubah menjadi muda seperti ini? Bukannya bang Emil bitu lebih tua dari Alisa ya?'' tanya Gilang masih dengan menatap Papa Yoga.


Papa Yoga membeku di tempat saat membaca identitas Gilang. Tangan nya bergetar. Ia menatap Gilang yang sedang menatap Papa Yoga dengan tersenyum.


''I-ini... ke-kenapa wajahmu begitu mirip dengan Emil?''


Gilang terkekeh, ''Ini juga yang di pertanyakan Abang sama Kakak. Mereka juga menanyakan hal ini kepada Gilang, saat Gilang pertama kali bertemu mereka lima tahun yang lalu.''


Deg!


Lagi, Papa Yoga terkejut. ''Lima tahun yang lalu?'' tanya Papa Yoga masih dengan menatap Gilang.


Gilang tersenyum dan mengangguk. ''Ya, lima tahun yang lalu saat usia Gilang masih delapan belas tahun Papa.''


''Apa?!'' pekik Mama Alina.


Gilang tersenyum melihat wanita paruh baya berdiri dengan tubuh bergetar di belakang Papa Yoga.


''Assalamualaikum, Mama? Apa kabar?''


''Jadi.. kamu Gilang? Papi yang sering di ceritakan oleh Abang?''


''Apa?!'' pekik Papa Yoga.


Gilang tertawa melihat kedua orang tua Alisa yang terkejut karena Lana juga pernah cerita pada Mama Alina tentang nya.


''Ja-jadi...''


💕💕💕

__ADS_1


Hehehe.. kena gampar tuh Papi Gilang! 🤣🤣


TBC


__ADS_2