Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Mimpi yang jadi kenyataan


__ADS_3

Sambil terus berjalan, tak puas puasnya Gilang menggoda Alisa. Gilang tau ini dosa. Tapi, hanya dengan Alisa lah ia bisa menjadi dirinya sendiri.


Sesekali Alisa mencebik, dan itu sangat membuat Gilang gemas ingin melahap lagi bibir itu.


Baru memikirkan bibirnya saja, tower alami di bawah sana sudah mulai sesak. Sambil terus berjalan, Gilang merasa kan sesuatu yang lain saat mereka berdekatan seperti ini.


Tangan Gilang masih nangkring di pinggang ramping Alisa. Sesekali ia melihat wajah yang imut dan baby face itu.


Kamu cantik sayang.. kayaknya aku akan gila deh.. jika sesuatu yang sesak ini tidak bisa di lepaskan. Tapi nanti akan berujung dosa... nggak mungkin dong calon imam mesjid dan ulama jadi terbuang percuma begitu saja? Ishh.. elu sih tong?! Tau banget sih sama rumah elu?? Hadeuuuhhh.. turun Napa woy.. sesak inihhh.. bisik Gilang dalam hati.


Ia menggigit bibir nya saat tangan Alisa menyentuh tangannya. Membuat sesuatu disana terasa semakin sesak saja.


Hadeuhhh.. diam Napa sih?! gue nggak kuat, ah!


Alisa yang menyentuh tangan Gilang mendongak. Alisa melihat wajah Gilang yang memerah, dan bibirnya yang terus di gigit.


''Gi.. kamu kenapa??


Gilang diam, ia masih terus berusaha menetralkan sesuatu yang terasa sesak. Sungguh, ia tak kuat rasanya menahan gejolak itu.


Astagfirullah...


Berulang kali Gilang beristighfar, tapi sentuhan Alisa semakin membuat nya menjadi-jadi.


Alisa yang melihat Gilang wajahnya semakin memerah, panik.


''Papi! kamu kenapa?? Wajah mu kenapa memerah seperti ini??" tanya nya saat mereka sudah sampai di kursi panjang tempat anak-anak sedang bermain.


Gilang memejamkan matanya. Alisa semakin panik.


"Pi.. buka mata mu! Kamu Kenapa?? Apa yang sakit? Apa yang harus aku lakukan? Hah? Jawab Pi.." ucap Alisa dengan panik.


Bibirnya sudah bergetar, matanya memanas melihat Gilang yang diam saja tanpa menoleh.


"Pi.. ngomong.. hiks.. kamu kenapa??" tanya nya lagi, air mata sudah mengalir di pipinya.


Mendengar Alisa menangis, Gilang membuka matanya. Ia tersenyum, "panggilkan Andi.." titahnya, Alisa mengangguk.


"Andi!!!" teriaknya,


Andi yang merasa terpanggil menoleh, ia melihat Alisa melambaikan tangannya agar ke tempat mereka.


Andi setengah berlari melihat Alisa yang panik terus menerus mencoba berbicara kepada Gilang.


"Ada apa Mbak?? Loh? Bos Gilang kenapa??" tanya nya, ia pun berubah menjadi panik.


"Nggak tau.. tadi baik-baik aja! sekarang malah wajahnya memerah seperti ini! aku harus apa Andi?? Gi.. bangun! Andi udah ada nih.." ujarnya, membuat Gilang membuka matanya.


Andi yang melihat Gilang, mata sayu penuh kabut gairah, melototkan matanya.


"Apa yang bisa saya bantu Bos??"


"Belikan saya Lemon tea cup besar! cepat! hanya itu yang saya butuhkan!" imbuhnya, dengan segera memejamkan matanya kembali.

__ADS_1


Andi mengangguk, dan berlari ke market didekat hotel tersebut. Jauh, tapi Andi tetap berusaha berlari secepat mungkin untuk membeli pesanan Bos nya itu.


Sedangkan Alisa bingung harus berbuat apa. Semakin ia menyentuh Gilang, semakin Gilang berdesis.


Alisa heran melihatnya, Namun lama-kelamaan Alisa paham apa yang terjadi pada Gilang.


Ia melototkan matanya. "Jangan bilang kamu..." ucapannya terhenti saat Gilang membuka matanya dan melihat Alisa.


Ia tersenyum dengan wajah yang semakin memerah.


"Ihh.. pikiran mu jorok Papi!! Gimana sih?! Kok malah mikirin kesana! ini sekarang siapa yang mau tanggung jawab??"


Gilang tersenyum, "kamu!"


"Hah?? Aku?? kok aku sih?! Yang punya pemikiran juga kamu! Kenapa pula jadi aku yang harus tanggung jawab." Imbuhnya kesal sembari duduk di bangku dekat dengan Gilang.


Gilang terkekeh, "inilah yang aku takutkan sayang! jika aku bersentuhan dengan mu! sedikit saja.. maka efeknya akan seberat ini." Ujarnya sembari merebahkan kepalanya di pangkuan Alisa.


Alisa tak menolak. Seperti ada magnet yang menarik nya agar tetap bersama Gilang. Ia menerima kepala Gilang diatas pangkuannya.


Sementara Gilang masih tetap sama. Merasakan rasa sesak yang terus menggebu.


''Sayang...''


''Hem...'' sahutnya dengan sedikit menunduk.


''Nikah yuk!''


Alisa terkejut dan menggeleng. ''Kamu pikir, nikah itu mudah apa?? Siapa yang akan menjadi waliku nanti?? Papa ku jauh dari kita? Sedangkan Papa masih hidup, nggak mungkin dong.. sewa wali hakim?? Nggak sah nanti nikah nya!'' sungut Alisa.


''Sayang...''


''Apa!'' ketusnya, membuat Gilang lagi dan lagi terkekeh.


Hasrat yang tadi membara, kini tiba-tiba saja senyap entah kemana. Yang di pikirkan olehnya hanyalah Alisa yang sedang jutek.


Benar kata orang, jika pikiran positif maka tubuh pun positif. Otak dan tubuh itu sinkron.


''Sayang... Mami... cintaku...''


''Apaan sih?! ishh...'' desis Alisa.


''Kamu tau nggak??''


''Enggak...'' sahutnya dengan cepat. Membuat Gilang terkekeh lagi.


''Dengar dulu napa?! ishh... jadi gini loh.. pernah dalam mimpi kita bertemu seperti ini, duduk di bawah pohon rindang, dengan kepalaku ada di pangkuan mu. Saat itu aku baru saja mendapatkan masalah besar, ketika aku tertidur dan memejamkan mata, kita bertemu di Padang luas dengan banyak ilalang dan sebuah pohon rindang, juga kursi yang berukuran unik seperti ini.'' imbuh Gilang, Alisa merenung.


''Saat itu aku baru saja tertidur, lalu kamu tiba-tiba datang dan kita bertemu disini. Lihatlah! bukankah kursi yang kita duduki ini sama persis dengan yang ada di dalam mimpi kita?? Kamu ngerasa nggak, jika mimpi itu nyata untuk kita berdua. Salah satunya, aku tidur dipangkuan mu, dengan kamu menunduk dan tangan mu mengelus rambutku. Seperti sekarang ini.'' imbuhnya lagi.


Alisa tertegun.


Benar, apa yang di katakan Gilang. Ia juga pernah bermimpi yang sama saat dirinya dulu pernah merasakan sakitnya patah hati karena kedua orangtuanya tak merestui hubungan nya dengan Emil.p

__ADS_1


Rasa sakit itu masih terasa hingga sekarang. Alisa memejamkan matanya.


Tes


Sebulir bening menetes di dahi Gilang. Gilang terkejut saat mendongak, mendapati Alisa yang tengah menengadah keatas dengan buliran bening terus menetes di pipi tirusnya.


''Lis.. jangan menangis.. sakit rasanya melihat kamu menangis seperti ini..'' lirih Gilang dengan segera membenamkan wajahnya ke perut Alisa.


''Andai.. aku mendengar kan apa yang dikatakan Papa.. pastilah semua ini tidak akan seperti ini Gi... sakit rasanya..'' lirih Alisa sambil terisak.


Gilang semakin memeluk Alisa dengan erat. Ira dan Lana yang melihat kedua orang tua mereka menangis, berlari menghampiri mereka.


''Papi...''


''Mak...''


''Bos...''


Mereka bertiga bersamaan sampai disana. Dengan terengah-engah Andi baru saja tiba.


Ada apa lagi dengan si Bos??


''Andai aku tidak menikah dengannya.. pastilah sekarang aku bersamamu Gi...'' lirih Alisa lagi, dengan menundukkan kepalanya dikening Gilang.


Mereka berdua terisak, membuat ketiga orang itu bingung. Andi yang paham akan situasi, mengajak anak-anak itu bermain kembali, tetapi Annisa tidak mau.


Ia ingin bersama Gilang disana. Sedangkan Gilang sedang tidak bisa di ajak bicara.


Jadilah Andi yang jadi korban keganasan Annisa. Bayi kecil itu meraung, secepat kilat Ira dan Andi membawa bayi kecil itu berlari, dan bersyukur nya bayi itu tertawa membuat dua orang itu bisa bernafas lega.


Lana yang tau, memilih ikut Ira disana. Sebelum ia pergi, ia berbalik melihat kedua orang tuanya yang masih larut dalam nestapa.


''Jangan bicara seperti itu sayang.. jika bukan karena putra dan putri mu, mana mungkin sekarang kita ada disini?? Inilah takdir yang harus kita terima. Jika kamu dan aku memang sudah ditakdirkan seperti ini jalan pertemuan nya. Siapa yang tau, jika aku nanti juga menjadi seperti mu?? Kan tidak ada yang tau takdir sayang.. jalani saja.. seperti yang pernah kamu katakan padaku.. ikhlaskan! maka hati kita akan menjadi tenang!''


Alisa tertawa dalam tangis. Begitu juga dengan Gilang. Mereka berdua adalah pasangan yang dipisahkan karena takdir lah yang menentukan mereka akan hidup seperti apa. ( Nggak tau nya ya, kerjaan si othor ! 😄😄)


Toh, jika memang berjodoh sejauh apapun dan seberat apapun, pasti mereka akan bersatu jua.


Mimpi yang berharap akan menjadi kenyataan. Satu mimpi terwujud, apakah mimpi yang lain akan menyusul mereka berdua??


Entahlah!


💕


Sebentar lagi menuju konflik! Siapkan hati ya..


Othor aja rasanya nggak rela, menulis part lanjutan setelah ini..


Tapi apalah daya.. jika memang seperti itu skenario nya.. 🤣🤣🤣


Like dan komen jangan lupa!


Mamacih... 😘😘

__ADS_1


TBC


__ADS_2