Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Latihan marawis


__ADS_3

Seminggu setelah kejadian itu, kini Alisa dan ke tiga anak nya sudah bisa hidup normal, walau sesekali Annisa masih rewel.


Jika Annisa rewel, maka Ira akan mengirimkan pesan pada Gilang. Maka akan dibalas dengan sebuah rekaman tentang Gilang yang sedang sibuk bekerja dari pagi hingga larut malam.


Annisa yang melihat nya tertawa senang. Alisa selalu saja menangis, tiap kali melihat Gilang sholat dan mengaji.


Bagaimana tidak, tiap kali Gilang berdoa, selalu menyebut nama nya dan juga ketiga anak nya.


Seminggu ini, mereka masih bisa berbalas pesan. Gilang tidak pernah menelpon mereka. Tapi semua kegiatan nya mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, Gilang rekam dan ia kirimkan ke ponsel Alisa.


Hari ini, Ira dan Lana mereka berdua ada sedikit tugas dari sekolah.


Jika Ira dengan acara camping nya. Sedang Lana dengan latihan marawis nya. Lana ikut latihan marawis, karena sekolah mereka terpilih sebagai penyambut dan penghibur tamu untuk pernikahan seorang anak pejabat.


Dari pagi hingga siang hari Lana terus saja latihan. Karena waktunya hanya seminggu lagi.


Mereka di bayar begitu mahal untuk mengisi acara marawis itu. Lana yang mendengar uang begitu banyak, mata nya berbinar senang.


Ia mati-matian latihan marawis. Alisa pun tau itu. Ia tak melarang putra nya dalam berkarya.


Apalagi, Lana terkenal dengan suara merdu nya ketika mengaji dan bernyanyi. Jadi tak heran, jika ia terpilih sebagai vokalis marawis nya.


Lana begitu sibuk hingga kadang pun jarang ada dirumah. Ia sibuk terus latihan untuk pertunjukan mereka di pesta pernikahan seorang anak pejabat.


''Abang! bantuin napa?! Berat ini bawaan kakak! Besok kakak mau camping loh... kamu jangan sering-sering ninggalin Mak ya? Kakak tiga hari loh disana nya??'' ucap Ira, dengan sesekali menatap pada Lana.


Sedangkan Lana sibuk dengan laptopnya. Karena sedang melihat pertunjukan marawis di channel YouTube.


Ia ingin melihat seperti apa para marawis itu bisa tampil dengan baik. Ia sama sekali tak merespon ucapan Ira, hingga Ira menarik laptop itu dari nya.


''Eh, eh, eh! kok diambil sih?! Abang belum selesai kakak! Balikin!!'' pekiknya marah.


Sembari merebut laptop itu dari tangan Ira. Sedangkan Ira cengengesan.


''Bairin! ntar kakak balikin aja nih laptop Sama kak Raga! wlek!'' ejeknya pada Lana.


Membuat Lana kesal. Ia berdecak sebal terhadap Ira.


''Ck! kakak! balikin nggak?!''


''Enggak! kalau kamu mau laptop ini, maka kamu harus dengarkan kakak! Kakak mau pergi selama tiga hari, jadi kamu harus bisa jagain Mak selama kakak pergi.. ingat! Kita sudah tidak punya tempat untuk berbagi lagi... seperti dulu ada Papi. Tapi sekarang?? Kita nggak punya siapa-siapa Bang... kamu pahamkan apa yang kakak bilang?? Jika nanti terjadi sesuatu dengan kakak, kamu harus bisa nguatin Mak, sama kayak Papi nguatin kita ya??'' Imbuhnya pada Lana.

__ADS_1


Membuat Lana mengerjab mendengar ucapan Ira. ''Kakak jadi aneh deh! masa' mau camping aja, harus ngomong kayak gitu?! Yang kayak akan pergi jauh aja dari kita! Nggak lucu kak! Abang nggak suka ah! kakak ngomong gitu! Nih ya? Abang yang harus bilangin kakak! Kakak harus bisa nguatin Mak, kalau terjadi sesuatu dengan Abang nantinya. Kita nggak tau masa depan kak... Abang harap, kakak sama bang Raga, kalian berdua bisa menjaga Mak kita! Sampai Papi kembali lagi...'' lirih Lana dengan bibir bergetar.


Buliran bening mengalir dari pipi tirus Ira. Ia meletakkan laptop dan mendekati Lana yang sedang menangis menelungkup wajahnya di lutut.


''Jangan nangis dek... kakak pun nggak tau apa yang akan terjadi setelah ini... hanya saja... perasaan kakak, nggak enak banget. Apalagi mengenai kak Raga... maka nya kakak bilang gitu ke kamu.. Jika terjadi sesuatu dengan kakak, kamu harus bisa nguatin Mak ya?? Kasian Mak kita sendirian dek..'' lirih Ira lagi masih dengan menangis.


Lana mengangguk kan kepalanya. Ira tersenyum dalam tangis.


''Ya sudah, itu laptopnya di buka! belajar lagi, agar nanti penampilan kamu kece badai!!!'' seru Ira, membuat Lana tertawa.


Begitu juga dengan Alisa yang berdiri di depan pintu kamar mereka. Ia mendengar semua perkataan kedua anak nya.


Ingin bertanya, tapi takut Ira akan marah begitu juga dengan Lana. Alisa lebih memilih diam, walau hati dan pikiran nya bertanya-tanya, ada apa dengan kedua anak nya itu.


''Oke! terimakasih kak! Abang sayang kakak mmmuuaaccchh...'' ucap Lana sembari memberikan ciuman jauh untuk Ira dan di balas Ira dengan tertawa.


''Ada apa dengan kedua anak ku?? Kenapa kesannya mereka berdua akan pergi meninggalkan ku?? Eh? Astagfirullah! Kenapa pula pikiran ku ini? Ck! Bodoh kau Alisa! Mereka kan cuma anak-anak??'' gumam nya pada diri sendiri sembari berlalu meninggalkan kedua anak nya yang masih tertawa-tawa itu.


Keesokan harinya, Lana ikut latihan di sekolah mereka. Walau memakai seragam sekolah tapi mereka tetap semangat.


Karena sekolah mereka di tunjuk untuk menjadi salah satu penerima tamu untuk acara pernikahan seorang pengusaha sukses.


Hingga membuat pengusaha itu tertarik dengan putra kedua Alisa itu.


Tidak hanya di dalam sekolah, tapi juga diluar sekolah. Siapa lagi kalau bukan Maulana Akbar.


Putra kedua Alisa ini memiliki bakat multitalenta. Ia yang masih kecil, tapi sudah bisa berceramah, bisa berdakwah sembari bernyanyi juga prestasi nya itu luarrrrrr biasa.


Ia pernah menang menjuarai tim sepak bola antar sekolah. Juga pernah menang ikut MTQ antar sekolah dan juga ikut cerdas cermat menang juara satu.


Sungguh prestasi yang membanggakan. Walau demikian, Lana tidaklah sombong. Ia di didik dengan baik oleh Alisa.


Agar tidak sombong dengan apapun yang di miliki nya. Karena segala sesuatu yang mereka punya itu semuanya milik Allah.


Mereka diberi tugas hanya untuk menjaga dan merawatnya dan menyalurkan pada tempat yang sepatutnya disalurkan.


Walaupun keluarga mereka tidak lengkap, tapi lihatlah anak broken home seperti mereka. Baik-baik saja bukan??


Lana sangat terkenal disekolah nya. Ia sangat di senangi oleh semua guru. Bahkan ada seorang guru yang bersedia anak nya di jodohkan dengan Lana.


Tapi Lana, dasar anak koplak. Malah ia menyahuti guru itu dengan guyonan. Jadilah, semuanya tertawa karena perkataan nya itu.

__ADS_1


''Lana! kita harus latihan sampai waktunya tiba. Satu Minggu lagi! Kamu siapkan??'' tanya seorang guru yang bernama pak Madan.


Beliau seorang guru Bahasa arab dan juga tentang ilmu Agama disekolahnya Lana. Ia memiliki dua orang putri, yang dua-duanya menyukai Lana.


''Siap Pak! Apa bapak udah ada liriknya agar saya bisa hafal nanti saat dirumah??'' tanya Lana.


Pak Madan mengangguk. ''Tentu. Ini liriknya. Kamu hafalkan, besok kita latihan lagi oke? Hari ini cukup sampai disini!'' imbuhnya, sembari membereskan seluruh peralatan untuk marawis.


''Siap pak!!'' sahut seluruh anak-anak yang ikut marawis dengan Lana.


''Lana! tunggu! ada yang ingin saya tanyakan sama kamu!'' cegahnya saat melihat Lana ingin pergi.


Lana yang mendengar pak Madan berbicara, menoleh dan mengangguk kan kepalanya.


''Maaf sebelumnya jika Bapak lancang bertanya ini pada mu. Yang ingin bapak tanyakan ialah... Apakah nama ibu mu bernama Alisa Febriyanti putri dari Pak Yoga Sebastian??''


Deg.


Lana terkejut. Bagaimana mungkin ia tau tentang Mak nya.


''Dari mana bapak tau jika nama Mak saya Alisa Febriyanti?? Apakah pak Madan mengenal nya??'' tanya Lana.


''Jadi benar?? Ka-kamu putra Alisa???'' Bukan menjawab malah balik bertanya.


Lana mengangguk. ''Ya. Nama Mak saya Alisa Febriyanti binti Yoga Sebastian, lahir di Aceh dan menikah di Aceh tapi pindah ke Medan karena ayah kami tinggal disini. Tapi sekarang sudah tidak bersama lagi...'' lirih Lana dengan wajah sendu.


''Aa-apa?!? Ya Allah Lis....''


💕


Ada yang kenal siapa pak Madan ini??


Jika kalian tau cerita ALisa sebelum ini, pastilah kalian tau siapa itu Madan ya!


Ikutin terus kelanjutannya!


Semakin dalam semakin seruuuuuu uhuyyyyy.. 😄😄😄


Maaf baru update, othor kehabisan kuota euuuyyy..


TBC

__ADS_1


__ADS_2