Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Terkejut


__ADS_3

''Kak! Kok para orang tua pada diam-diam an sih?! Aneh deh! Tadi yang kayak semangat banget ingin jumpa tamu nya! Eh? pas jumpa? malah diam-diam an ! mana Mak, muka nya masam lagi?? Ada apa ya kak??'' tanya Lana pada Ira yang ditatap bingung oleh Raga.


Mira juga menatap Lana dengan instens. Ditatap seperti itu, Lana cuek aja. Ia terus melihat Maura yang begitu menggemaskan di matanya.


''Kamu ngomong apa sih, Bang?? Mungkin lagi membicarakan hal yang membuat Mak tak nyaman??'' elak Ira.


Padahal sedari tadi, ia tau apa yang sedang di bahas oleh para orang tua itu. Raga menatap Ira dengan dalam.


''Kakak kenapa liatin aku begitu?!'' ketus Ira.


Raga menghela nafas panjang. ''Masih... aja jutek! Maaf Sayang... Kakak sudah berulang kali minta maaf, tapi kamu masih saja jutek kayak begitu??''


''Biarin!'' ketusnya lagi.


Lana yang melihat Ira dan Raga, tertawa. Sangat lucu menurutnya kedua pasangan itu. Mira terus saja menatap Lana.


''Kenapa kamu natap aku kayak begitu?! Aku nggak punya hutang sama kamu ya!'' Ketus Lana, membuat Raga dan Ira saling pandang.


''Bang Lana kenapa marah sama Kakak Maura??'' celutuk gadis kecil itu.


Lana menghela nafas panjang. ''Nggak ada apa-apa! hanya saja Abang tidak nyaman ditatap kayak begitu oleh Kakak mu!'' sahutnya.


''Emang, Abang ada masalah apa sih sama Mira??'' tanya Ira.


Lana menoleh. ''Nggak ada apa-apa!'' sahutnya dengan wajah datar.


Sedangkan gadis bernama Mira itu menunduk. Ia takut melihat wajah Lana yang sudah berubah menjadi datar.


''Maaf Bang...'' celutuk Mira.


Lana menoleh. ''Nggak ada yang perlu di maafin! Semuanya sudah lewat! Mulai sekarang, jangan ganggu aku lagi! Biar aku dengan Maura aja, ya kan Dek??'' tanya nya pada gadis kecil itu.


Maura mengangguk. ''He'em. Ayam crispy nya enak Bang! Maura mau lagi!'' imbuhnya dengan mata berbinar senang.


Lana terkekeh. ''Sebentar ya! Abang ambilkan dulu! kamu makan yang itu dulu, habiskan!'' titah Lana dan dingguki oleh Maura.


Setelah nya Lana berlalu ke dapur dan mengambil ayam crispy lagi. Lana yang melihat semua orang tua diam-diam an menggerutu di dapur.


''Ishh.. sedari tadi masih diam-diam an juga?! Aneh!'' gumamnya.


''Eh? Siapa yang diam-diam an??'' celutuk ummi Hani mengagetkan Lana yang sedang mengambil ayam crispy.


''Astaghfirullah! ummi! Kaget abang! hadeuhhh... hampir aja nih ayam terbang!''


Ummi Hani yang mendengar nya tertawa. ''Mana ada ayam yang sudah dimasak bisa terbang?? Kamu mah aneh Bang! Itu tadi, siapa yang kamu bilang diam-diam an?? Para orang tua yang diluar kah??'' tanya ummi Hani, dan mendapat anggukan dari Lana.

__ADS_1


Membuat ummi Hani terkekeh, ketika mengingat perkataan Pak Madan tadi.


Para tetua diluar masih saja berdiam diri setelah ucapan pak Madan yang menyinggung Alisa.


Raut wajah Alisa berubah menjadi masam. Abi Hendra terdiam tidak tau harus bicara apa.


Sedangkan istri pak Madan, ummi Aini menjadi salah tingkah ketika di tatap oleh Alisa.


''Lis... masihkah kau marah?? Maaf.. tadi hanya keceplosan. Nggak ada niat untuk mengejek mu.. Maaf Lis...'' ucap Pak Madan sembari menunduk.


Ummi Aini mengusap lengannya, membuat guru di sekolah Lana dan Ira itu menghela nafas panjang.


''Saya tanya sekali lagi! Apa yang salah dengan status janda saya?! Apakah itu mengganggu Anda?! Jika memang mengganggu Anda, silahkan angkat kaki dari sini! Saya tidak mengundang anda untuk datang kerumah saya!'' ketus Alisa.


Membuat Abi Hendra melotot tak percaya dengan ucapan Alisa. ''Lis! Ingat! kak Madan ini yang paling tua diantara kita! kamu nggak boleh ngomong gitu... sabar...'' tegur Abi Hendra.


Membuat Alisa berang menatap nya. ''Umur boleh tua! Tapi mulut tidak bisa dijaga buat apa kalau punya umur tua, jika mulut kayak ember bocor!?'' Ketus Alisa lagi, yang membuat Abi Hendra menahan tawanya.


Ummi Hani tertawa keras di dapur begitu juga dengan Lana. Sadar jika ia terus di sudutkan oleh cinta pertama nya itu, Pak Madan menoleh pada Alisa.


''Aku minta maaf, jika perkataan ku tadi menyinggung mu.. nggak ada maksud apapun Lis.. sungguh.. aku yang salah karena tidak lihat situasi. Kamu nggak salah kok jadi janda.. kamu juga nggak salah jika menyukai pemuda yang lebih muda dari mu... Akulah yang salah karena telah mengatai mu.. Maaf...'' lirih Pak Madan lagi.


Wajahnya berubah menjadi sendu. Mengingat Alisa begitu tidak menyukai kehadiran nya. Padahal inilah waktu yang ia tunggu-tunggu, setelah kian tahun lama nya.


Cinta pertama yang tak pernah bisa hilang, karena menempati ruang yang terdalam di dalam lubuk hatinya.


Membuat pak Madan dan istri terkejut. Begitu juga dengan ummi Hani dan Abi Hendra. Bahkan anak-anak pun mematung mendengar ucapan Alisa.


''Papi...'' lirih Lana dan masih terdengar oleh ummi Hani.


Ia menoleh pada Lana. Sedangkan Lana matanya sudah berkaca-kaca. Begitu juga dengan Ira dan Annisa.


Bayi kecil yang tadinya sedang tertawa lebar, kini mengatup kan mulutnya karena mendengar Alisa menyebut nama Gilang.


Raga yang paham menyentuh tangan Ira. Ira menoleh dengan raut wajah tak terbaca. Raga sakit melihat nya.


''Menangislah! jika dengan menangis membuat hatimu lega..'' bisik Raga di telinga Ira.


Ira memejamkan kedua matanya.


Tes


Tes


Buliran bening menetes membasahi hijab nya. Raga mengusapnya dengan sayang. Semua itu tak luput dari perhatian Mira dan Maura.

__ADS_1


''Pemuda yang kau sebut berondong bodoh, karena mau menerima janda seperti ku, adalah jodoh Masa depan ku! jauh sebelum aku di pertemukan dengan kalian berdua. Mungkin inilah takdir yang harus aku jalani, sebelum aku bertemu dengan nya, terlebih dahulu, Allah memantaskan diriku untuknya. Begitu pun sebaliknya..'' lirih Alisa dengan bibir bergetar.


Lagi, Pak Madan terkejut mendengar ucapan Alisa.


Ya, pak Madan telah mengungkit tentang status jandanya dan juga Gilang sebagai berondong Alisa.


Sebenarnya, perkata an pak Madan itu tidaklah salah. Ia hanya terkejut mendapati kenyataan jika Alisa, cinta pertama nya yang sukar ia lupakan hingga sekarang ini telah menjadi janda.


Pak Madan juga menyebut, jika Alisa menyukai berondong muda. Alisa yang tidak terima jadi marah.


Pak Madan tidak sadar jika ucapan nya itu, memantik api kemarahan di hati Alisa. Sebab, mengatai diri nya dan juga Gilang.


''Cukup sampai disini, Kak! Jangan mengejek ku lagi.. sudah cukup selama ini penderitaan yang aku alami.. kalian bahkan tidak tau, seperti apa rasa sakit yang aku alami. Jika bukan karena Gilang, mungkin sampai saat ini aku tidak akan mau berbicara dengan nama nya le la ki! Hanya Gilang yang bisa mengubah pendirian ku selama ini. Awalnya aku juga membenci dirinya, karena aku menganggap, jika semua lelaki itu sama. Sama breng sek nya. Tapi tidak! Gilang tidak seperti itu. Bahkan untuk menyentuh ku saja, ia meminta ijin dulu pada ku. Terkadang Aku yang tidak sadar diri, selalu ingin berdekatan dengan nya! Aku tidak munafik, jika aku memang merindukan sentuhan seorang lelaki. Aku wanita normal, Kak...'' lirih Alisa lagi.


Membuat ummi Hani berjalan kearahnya dan memeluk Alisa dengan erat. Mereka berdua menangis di hadapan tamu nya.


Pak Madan dan istri. Beliau sangat merasa bersalah karena ucapan nya itu membuka luka lama yang sudah Alisa tutup.


''Maafkan aku Lis... maaf...'' lirih pak Madan dengan air mata yang sudah menetes.


Abi Hendra menengadah kan Wajahnya keatas. Agar cairan bening itu tidak tumpah di hadapan Para tamu nya.


Semuanya hening. Tanpa suara. Yang terdengar hanyalah suara Isak tangis para wanita dan juga kedua anak Alisa.


Abi Hendra yang melihat kondisi sudah tidak stabil lagi, angkat bicara.


''Lupakan yang telah lalu.. biarkan ia terkubur disana. Sekarang yang ada dihadapan kita adalah masa sekarang dan masa depan. Ayo, kita membuka lembaran baru dengan mengikat anak-anak kita menjadi sebuah keluarga besar. Jika putra ku dengan putri Alisa, Maka putri Kak Madan dengan putra Alisa. Gimana?? Bisakan untuk menyambung sesuatu yang telah terputus??'' tanya Abi Hendra sembari menatap Pak Madan.


''Ya, aku setuju! Karena ini juga merupakan janji kami berdua dulu nya sebelum Alisa lebih memilih Bang Emil, dibanding aku saat itu.'' sahut pak Madan.


Alisa yang mendengar nya mendelik. ''Enak aja bilang aku! kamu tuh yang sudah dari orok udah di jodohkan sama Aini! Kamu pikir aku tidak tau tentang kisah mu itu?!'' ketus Alisa membuat pak Madan tersenyum kikuk.


Sedangkan ummi Aini, malu melihat Alisa. ''Sudahlah Lis... semua itu sudah berlalu.. benar kata Kak Madan. Sebaiknya kita menyambung tali silaturahim dengan menjodohkan salah satu putri dan putra mu kepada kami, agar tetap saling mengingatkan tentang kisah masa lalu yang belum usai! Benar begitu??'' tanya ummi Hani.


Alisa memutar bola mata malas. ''Enak di elu! tak enak di gue!''


''Hah??''


💕


Hayo loh... Mak Alisa kangen Papi Gilang. Hingga gaya ngomong nya pun jadi ke ikutan! 😄😄😄


Senin kan?? Vote nya yak? Bagi-bagi dong Sama othor yang remahan ini.. buat karya othor semakin banyak yang baca?? 😁😁


Hihihi.. ngarep!

__ADS_1


TBC


__ADS_2