Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Tragedi berdarah


__ADS_3

''Tunggu Papi nak!!! Dengarkan dulu!!!'' pekik Gilang sembari berlari.


''Nggak!!! Abang anggak mau dengar Papi!!! Papi bohong!!!!!'' pekik Lana juga.


Mereka sama-sama berlomba untuk berlari. Pak Kosim dan Vita melihat Gilang dan Lana semakin jauh, menghela nafas lelah.


''Aduhh.. kencang banget sih larinya?! Engap nih dada Bapak!'' keluh nya pada diri sendiri.


Sedang Vita yang berada di belakang Pak Kosim terus berlari meninggalkan orang tua itu yang masih menarik nafasnya.


Wussshhhh...


''Hadeeeuuhh .. kalau masih muda sih enak! bisa kayak angin larinya! Nah ini?? udah bangkotan! nafas pun tinggal atu-atu! hah!!!'' gerutu Pak Kosim.


Jika Lana tidak dalam keadaan sakit hati, pastilah ia akan tertawa ngakak. Pak Kosim terkekeh mengingat Lana.


''Astaghfirullah! Den Gilang! Lana!'' pekiknya setelah sadar jika dua orang itu sedang lomba lari disana.


''Tunggu sayang!!! Tunggu Papi, Nak... Papi akan jelaskan!!!'' teriak Gilang lagi dengan terus mengejar Lana yang semakin ke tengah jalan.


Lana mengusap kasar air mata yang mengalir di pipinya. ''Hiks! Nggak! Papi bohong!! Abang nggak percaya lagi sama Papi!!!! Papi jahaaaattt... Abang benci Papiii...'' pekik Lana, dengan terus berlari hingga ke tengah jalan.


Lana berlari ke tengah jalan, karena kurang konsentrasi. Baginya sekarang ialah lari.


Orang-orang yang melihat Lana berlari ke tengah jalan memekik ketakutan. Dari kejauhan terlihat sebuah sedan begitu kencang.


Begitu juga dengan Gilang. Ia semakin mengejar Lana tak peduli dengan teriakan orang-orang yang menghentikan aksi kejar mengejar mereka.


''Woy!! Awas!!!''


''Minggirrrr!!!''


''Bahaya!!!!'' pekik mereka semua. Tapi tak dihiraukan oleh kedua orang itu.


Vita yang ketinggalan jauh masih berusaha mengejar walau nafas sudah tersengal-sengal.


Dengan baju kebaya nya sudah terbuka sedikit, dan juga rambutnya yang dipasangi bunga melati sudah awut-awutan.


Ia masih berusaha mengejar Gilang yang sedang mengejar anak kecil itu. Sedangkan di mesjid, para tamu jadi gaduh.


Acara pernikahan Gilang menjadi ajang pembicaraan para orang sekompleks. Mama Dewi begitu marah pada anak kecil yang dikejar oleh Gilang.

__ADS_1


Sedangkan nan jauh disana, seorang ibu hatinya begitu gelisah. Hatinya terus berdebar sedari Lana pergi.


''Ya Allah... ada apa ini.. Abang... Papi...'' lirihnya dengan mata terpejam.


Sebuah sedan melaju begitu kencang. Lana tidak dapat menghindar, karena dia berada di tengah jalan. Begitu juga dengan Gilang.


Hingga...


Brrraaaaakkkk...


''Tidaaaaaakkkkk...'' pekik Gilang saat melihat tubuh Lana dihantam oleh mobil sedan yang melaju begitu kencang.


Tubuh Lana jatuh berguling-guling diatas aspal hingga membentur pembatas jalan. Sedangkan mobil yang menabrak Lana, menabrak sebuah ruko kosong hingga menimbulkan suara yang begitu dahsyat.


''Tidaaaaaakkkkk... putrakuuuuu... aaaakkkhhhh...'' pekik Gilang sambil berlari mengejar Lana yang sudah terkapar tak berdaya.


Dengan darah mengucur di sela hidung, mulut dan kepalanya. Gilang meraung sambil berlari.


''Abaaaaaangggg... putrakuuuuu... tidaaaaakkk.....'' pekiknya lagi saat melihat Lana terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


Gilang merangkul Lana, dengan air mata yang bercucuran. ''Sayang Papi!!! bangun Nak!! jangan tinggalin Papi!!! Papi nggak bohong sama Abang!!! Papi nggak akan ninggalin Abang Nak!! Bangun sayang!!! bangun!! hiks!'' Gilang terus memeluk tubuh Lana yang bersimbah darah.


Gilang tak peduli dengan baju putihnya. Yang ia tau putra nya sedang terluka. ''Ba-bangun Nak!! jangan tinggalin Papi!! Papi sayang Abang!! nggak ada niat sedikitpun di hati Papi untuk ninggalin Abang!! Papi terpaksa Nak! karena ini kemauan kedua orang tau Papi!! Papi harus menunaikan janji mereka!! bangun Nak!! Papi harus mengikuti takdir yang sudah tergores Nak!! Bangun!! jangan tinggalin Papiii!! Jika kamu pergi, maka Papi pun akan ikut bersama mu!! Bangun sayang!! hiks!'' tangis Gilang semakin pecah saat melihat tubuh Lana tidak ada reaksi apapun.


Ketika Lana membuka mata, terlihat wajah Gilang yang begitu sendu dan terisak. Wajah yang dulu begitu tampan kini berubah menjadi sangat jelek.


Dengan darah Lana di wajah dan bajunya, serta mata Gilang yang sembab karena masih menangis.


Lana tersenyum. ''Uhukk! Pa-pi..''


Gilang menunduk, ia terkejut mendengar suara Lana. ''Kamu bangun Nak?? Jangan tinggalin Papi Nak, Papi nggak bohong sama kamu sayang, Papi terpaksa menuruti keinginan kedua orang tua Papi Nak.. bukankah Abang sering bilang, jika kita harus patuh menuruti apapun keinginan orang tua kita??'' ucap Gilang masih dengan bercucuran air mata.


Lana tersenyum. ''A-bang ta-u.. Pi.. to-long ja-ga uhuk! Mak dan ka-kak ju-ga uhuk! a-dek Pi! A-bang sa-ngat me-nya-ya-ngi Pa-pi.. uhuk! uhuk! Asyhaduanla ilaha ilallah Waasyhaduanna muhhammadurrasulullah.....'' setelah mengucapkan kata-kata indah untuk yang terakhir kalinya mata Lana terpejam, begitu juga tangan yang tadinya menyentuh pipi Gilang, kini terkulai tak berdaya.


Gilang mematung melihat Lana sudah tak bergerak lagi. ''Kamu kenapa diam Bang?? Papi masih mau ngomong loh.. Papi belum selesai bicaranya! Bangun Abang!! Bangun!!'' sentak Gilang.


Deg.


Sedangkan dua orang yang berada di belakang Gilang mematung. Pak Kosim terkejut begitu juga dengan Vita.


''Bangun Lana! Papi masih ingin bicara dengan mu! Ayo bangun! Maulana Akbar!!!'' sentak Gilang lagi.

__ADS_1


Air mata yang belum lagi kering kini mengalir lagi, hingga sulit untuk ditahan. ''Bangun Papi bilang!!! Bangun Lana!!! Bangun Maulana Akbar!!!! Banguuuunnnn haaaaa ... tidaaaaakkk... putrakuuuuu .. aaaaakkkkhhhhtttt...'' raungan Gilang begitu menusuk hati siapa saja yang mendengar nya.


''Hiks! Bangun Papi bilang! Bangun Abang!!! jangan tinggalin Papi Nak... banguuuunnnn.... tidaaaaakkk... kau tidak boleh pergiiiii... maafkan Papi Nak... maafkan Papiii.... banguuuunnnn.....'' raungnya lagi.


Pak Kosim tak tahan melihat raungan Gilang, beliau juga ikut menangis dan jatuh terduduk di aspal jalan.


Sedangkan orang-orang mematung melihat kondisi itu. Apalagi Vita. Ia sangat shock kala mengetahui jika anak kecil itu adalah putra Gilang.


Tapi dengan siapa? Pikirnya.


Gilang terus terisak dan meraung sembari memeluk tubuh Lana. Ia memeluk Lana begitu kuat.


Sadar akan Lana yang sudah tak bergerak lagi, Gilang bangkit dan membopong tubuh Lana yang bersimbah darah.


Gilang berjalan tak tentu arah. Ia ingin membawa putra nya itu pulang kerumah mereka. Rumah Alisa.


Tatapan Gilang kosong, dengan air mata yang terus mengalir. Pak Kosim masih saja menangis.


Berbeda dengan Vita, gadis itu seperti tak tau harus berbuat apa. Melihat Gilang yang begitu shock membuatnya berpikir, apakah ini karena dirinya??


Gilang terus berjalan hingga ke seberang jalan sana. Tepat saat ingin menyeberang, sebuah sedan melaju tak terkendali hingga menyerempet Gilang yang sedang memeluk tubuh Lana.


Brraakkkk


''Tidaaaaaakkkkk...'' pekik Vita.


Pak Kosim terkejut. ''Astaghfirullah!!! Den Gilang!!!!'' pekik Pak Kosim.


Gilang jatuh berguling-guling dengan Lana masih dalam pelukan nya. Mereka berdua berpelukan begitu erat.


Dengan tubuh Lana diatas tubuh Gilang. Mereka berdua jatuh ke tepi trotoar. Demi menyelamatkan Lana, Gilang rela tubuhnya terbentur trotoar.


Air mata Gilang masih saja bercucuran. Tangannya semakin erat memeluk Lana. Putra kesayangannya.


Sekilas dalam mata yang terpejam, terlihat Alisa sedang tersenyum padanya, begitu juga Ira dan Annisa.


Gilang pun ikut tersenyum. ''Pa-pi sa-ngat me-nya-ya-ngi ka-lian se-mua.. maaf-kan Pa-pi....'' setelah mengucapkan kata-kata itu, Gilang pun ikut terpejam.


Laila hailallah muhhammadurrasulullah..


Setelah nya hanya gelap dan suara tangisan orang-orang yang melihat dua anak manusia jatuh terkapar dengan banyak darah di sekujur tubuhnya.

__ADS_1


💕


Scroll ke bawah ya! 👇


__ADS_2