Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Permintaan di masa lalu


__ADS_3

Kediaman keluarga Bhaskara sekarang sudah sunyi dari hiruk pikuk, Sorai Sorai yang memeriahkan acara ulang tahun Rayyan.


Kini ke enam orang itu sedang duduk berhadapan dengan Mama Dewi dan Papa Angga.


Kedua orang itu menuntut penjelasan dari Gilang tentang status mereka berdua. Gilang dan Alisa duduk berjauhan.


Sementara Rayyan dan Lana mereka tidak jauh duduknya dari mereka semua, termasuk Ira.


Ia sengaja di perintahkan untuk menunggu disana bersama ketiga adiknya. Mama Dewi menatap datar pada Alisa.


Alisa tau itu. Namun ia tetap tenang dan tersenyum saat Gilang tersenyum pada nya. Semua itu tak luput dari perhatian Mama Dewi dan Papa Angga.


''Sebelum aku menjelaskan statusku yang sebenarnya kepada Mama dan Papa, terlebih dahulu aku ingin berbicara kepada Alisa. Sebagai seseorang yang selama ini selalu ku sebut dalam doaku di setiap sujud ku. Alisa.. apakah masih ada kesempatan untukku agar bisa bersama mu? Pertanyaan yang pernah ku ajukan dulu saat aku masih SMA? Apakah masih berlaku sekarang Alisa??''


Deg!


Mama Dewi terkejut. Begitu juga dengan Papa Angga. Mereka menatap Alisa dan Gilang secara bergantian.


Alisa menatap kedua orang tua Gilang. Kemudian beralih menatap Gilang dengan tatapan sendunya.


''Maaf sebelumnya kepada Ibu Dewi, jika kehadiran saya disini sangat mengusik keluarga ibu.. dengan tidak mengurangi rasa hormat saya kepada kalian berdua, saya mohon maaf sebesar-besarnya karena saya, hubungan kalian menjadi buruk. Tak ada sedikitpun maksud dihatiku untuk mengambil dan menghasut Gilang agar mau bersama ku.'' Lirih Alisa dengan menunduk.


Sedangkan Gilang, ia merasa jika apa yang ia pikirkan pasti tidak akan terlaksana dengan baik. Karena ia tau seperti apa istri sah secara hukum nya ini.


Gilang menatap datar pada Alisa. Alisa melanjutkan lagi ucapannya. ''Aku sadar diri siapa aku.. Aku hanya seorang janda beranak tiga. Tidak pantas dan tidak layak berada disamping putra anda. Sedari dulu saya pernah mengatakan hal ini kepada Gilang, tapi ia tetap Keukeh ingin menikah dengan ku. Aku melarang nya, karena aku tau kalau kalian berdua pasti tidak merestuinya.''


Deg!


Mama Dewi tersentak dengan ucapan Alisa. ''Aku sudah merasakan pernikahan tanpa restu orang tua, sangat sakit. Jadi aku tidak mau mengulang hal yang sama lagi untuk kedua kalinya. Dulu, Papa ku juga melarang ku menikah dengan mantan suamiku. Tapi aku tetap nekad ingin menjadi istrinya. Dan sekarang? Terbukti apa yang dikatakan oleh Papa ku itu benar adanya. Maka dari itu aku melarang Gilang untuk menikahi ku tanpa izin dari kalian berdua.. Sakit sekali Gi.. hidup berumah tangga tanpa restu kedua orang tua. Aku kualat pada nya. Bahkan sampai saat inipun aku tak mengatakan kepada mereka jika aku sudah berpisah dengan suamiku. Walau hanya sekedar ingin berbicara melalui ponsel saja aku tidak berani. Aku malu...'' lirih Alisa lagi dengan air mata sudah mengalir di pipinya.


Bahu nya berguncang. Lagi Gilang merasakan sakit yang sama saat Alisa menangis mengingat masa lalu nya.


''Cukup Lis! Jangan lagi dilanjutkan jika kamu tidak sanggup, jika itu harus membuka luka lama lebih baik tidak usah.'' Ucap Gilang sembari berpindah duduk di dekat Alisa.


Alisa yang sadar mendongak, ''Stop! Berhenti disitu Gilang! Biarkan aku berbicara dulu..''


Gilang menurut. Akhirnya ia memilih duduk di depan orang tua nya lagi. Sementara Alisa berada di hadapan mereka bertiga.

__ADS_1


Alisa mencoba menahan sesak yang ada di dadanya dan melanjutkan lagi perkataan nya. ''Kamu bertanya kan Gi? Apakah aku mau menerima mu setelah sekian lama permintaan itu kamu tanyakan? Jika aku boleh jujur, aku menerima permintaan mu sejak dulu. Hanya saja.. kita berbeda Gi.. kamu orang berada, sukses dan masih muda. Masih banyak wanita yang sepantaran dengan mu untuk menjadi istrimu dan menjadi ibu sambung Rayyan..'' lirih Alisa dengan leher tercekat.


Gilang mendengus. ''Aku tidak mau! Kamu kan tau, apa yang aku inginkan sedari dulu Alisa! Jika aku menginginkan mu, maka Kamulah yang aku mau! Bukan yang lain!'' tegas Gilang.


Alisa menatap Gilang. ''Aku tak pantas bersama mu.. aku janda-,''


''Lalu, apa bedanya dengan ku Alisa! Aku juga duda!''


Deg!


''Apa?!'' pekik Alisa.


Gilang terkekeh. ''Ya sayang! Aku duda beranak satu! Lima tahun yang lalu saat Vita selesai dari masa nifas nya datang menemui ku untuk menjatuhkan talak pada nya. Aku mengabulkan keinginan nya itu! Lalu apalagi yang kamu takutkan Alisa? Belum cukupkah waktu yang ku berikan selama ini untukmu? Apakah waktu lima tahun itu Kurang bagimu? Ataukah.. kamu ingin aku mati dulu baru kamu menerimaku?''


Alisa tersentak, ''Papi!!!'' pekik tiga orang disana.


Sedang Alisa mematung. Begitu juga dengan Mama Dewi dan Papa Angga. Sungguh, mereka melihat jika Gilang yang sekarang begitu berbeda dengan Gilang yang dulu.


Sekarang ia sangat dewasa. Tegas dalam bersikap, tidak goyah akan apapun. Jika dia mengatakan ya, maka akan ya. Begitupun sebaliknya.


''Bu-bukan seperti itu Gi..''


Alisa terisak. Ia tidak ingin melanjutkan lagi ucapan itu. Ia lebih memilih bangkit dan pergi dari hadapan mereka bertiga dengan membawa serta ketiga anaknya, tapi tidak dengan putra Gilang.


''Sudah cukup saya disini. Ayo Nak, kita pulang!''


Ketiga anak itu patuh dan segera mengikuti Alisa yang sudah lebih dulu berjalan ke depan.


Bocah kecil itu menatap nanar pada Alisa yang pergi meninggalkan nya begitu saja.


''Mami... adek ikut... Mami.. hiks.. hiks..''


Alisa menulikan telinga nya. Ia terus berjalan tanpa melihat kebelakang lagi. Gilang yang melihatnya mengusap kasar wajahnya.


''Bahkan waktu lima tahun yang ku berikan, kamu masih sama Alisa! Apa kurang nya aku hingga kamu menolakku? Kita sama Lis! Kita sama! Kamu janda, aku duda? Lalu dimana tidak pantasnya kita berdua, bisa kamu jelaskan Alisa??''


Alisa menghentikan langkahnya namun tidak berbalik, begitu juga dengan ketiga anaknya. Sedang Rayyan masih mengikuti Alisa.

__ADS_1


Bocah kecil itu bergelayut di kakinya, meminta belas kasih agar mau membawa ikut bersama nya.


''Bukan kamu yang tidak pantas denganku, tapi akulah yang tidak pantas bersanding dengan pangeran dari keluarga Bhaskara! Kamu berdarah biru, sedangkan aku rakyat jelata, Papi! Lebih baik kamu lupakan aku! Dan untuk Rayyan, sampai kapanpun Rayyan tetaplah putraku! Mami pulang ya, Nak? Adek disini bersama Papi dan Oma, Opa. Cup!''


Alisa mengecup dahi Rayyan, membuat putra Gilang itu semakin histeris begitu juga dengan Alisa.


Ia berjalan tergesa, sesaat seperti dunia ini berputar, namun ia tetap ingin berjalan. Gilang yang melihat Alisa pergi tanpa membawa putra nya meradang.


''Berhenti Alisa Bhaskara! Sekali kamu melangkah dari pintu itu, maka aku akan mengutuknya karena sudah melawan ku suami mu!''


Deg!


Deg!


Jantung Alisa bergemuruh hebat. Tapi Alisa tidak peduli. Toh, secara hukum tapi belum sah secara agama kan? Pikirnya.


Ia terus melanjutkan langkahnya, dengan tergesa-gesa ia berjalan, hingga semakin membuat Gilang meradang.


Tangannya terkepal erat, hingga buku buku di tangannya memutih.


''Berhenti kataku! Apakah kamu tidak mendengarkan titahku Alisa Febriyanti binti Yoga Sebastian?? Aku mengharankan mu untuk melangkah keluar dari rumah ini walau hanya satu langkah saja!''


Ddddduuuaaarrrr..


Brrrruuuaakkk..


''Maaaakkkk!!!!''


Deg!


Deg!


TBC


Yuhuuu... makin seru khan??


Okey! sambilan menunggu cerita Gilang update, yuk mampir dulu di cerita teman aku nih!

__ADS_1



Like dan komen klean selalu di tunggu! 😘😘


__ADS_2