Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Alisa ke kantor Bhaskara Group


__ADS_3

Dengan segera Alisa membuka laptop dan menyambungkan nya dengan Andi, di perusahan Bhaskara Group.


Setelah sambungan itu tersambung dengan Andi, Andi segera berbicara bahwa Alisa yang akan menggantikan Ging untuk sementara karena Gilang sedang sakit.


''Baiklah, meeting nya kita mulai Nyonya Alisa selaku istri Tuan Gilang yang akan menggantikan beliau untuk sementara waktu.'' ucap Andi, dengan segera mengarahkan monitor laptop ke layar besar di hadapan mereka.


Rapat pun dimulai.


Dengan lugas dan berwibawa Alisa menyampaikan kata demi kata tentang rapat itu.


Rapat yang sedang berlangsung adalah rapat tentang pembangunan mall di kawasan Medan raya.


Proyek itu akan berjalan sebulan dari sekarang, karena nominal angka pembanguan itu sudah di tetapkan semua.


''Baik, jika ada pertanyaan silahkan ajukan ke saya. Dan saya akan menyampaikan langsung kepada taun Gilang nantinya. Kita tutup sampai disini saja-,''


''Tunggu tuan Andi. Bagaimana kalau nyonya Alisa saja yang memimpin proyek ini selagi Tuan Gilang kurang sehat. Kira tidak tau, kapan tuan Gilang akan sehat. Jadi untuk sementara, bagaimana jika proyek ini ditangani langsung oleh istri Presdir. Karena saya melihat, Nyonya Alisa sangat paham dengan masalah ini. Mohon maaf sebelumnya Nyonya, Bolehkah saya bertanya?'' tanya salah satu manager pengembangan


''Silahkan! Jika menyangkut pekerjaan saya jawab. Tapi jika itu pribadi. Maaf! Saya tidak bisa!'' tegas Alisa. Gilang membuka matanya.


Ia menatap wajah Alisa yang begitu serius saat ini. Wajah ayu, namun terkesan dingin dan tegas itu membuat Gilang semakin menyukai nya.


atau itu terus menatap Alisa yang menatap pada arah laptop. Manager pengembangan itu terkekeh, ''Saya hanya ingin bertanya, apakah Nyonya punya usaha di bidang ini? Karena saya melihat, jika anda sangat mengetahui keinginan konsumen seperti apa.''


Alisa tersenyum, ''Ya, saya punya usaha di sekitar kota Medan ini. Anda tau Alisa Bakary?''


''Alisa Bakary? Toko kue yang di ujung jalan itu? Itu punya anda, Nyonya?'' manager pengembangan itu terkejut mendengar nama toko kue Alisa.


Bukan apa. Toko kue itu adalah langgaan para pengusaha sukses, para istri mereka sangat menyukai kue buatan Alisa ini.


''Ya, itu milik saya. Yang saya rintis sejak enam tahun yang lalu. Alisa Bakary itu toko utama saya. Anak cabang toko Alisa sudah menyebar di seluruh kota Medan ini,'' jelas Alisa.


Terpaksa ia membuka ladang usahanya itu pada manager pengembangan itu. Karena Alisa tau, jika karyawan Gilang itu sangat berkompeten orangnya.


Makanya ia bertanya, ''Masyaallah Nyonya.. maaf jika saya sempat berpikir jika Nyonya mengarang saja. Maaf Nyonya. Sekali lagi saya mohon maaf,'' imbuhnya dengan mengatupkan tangan di dada.


Andi terkekeh, ''Maksnya Pak Ridwan, jangan menyepelekan seseorang yang belum Anda kenal. Kenali dulu orangnya, baru anda bisa memutuskan. Apakah orang itu layak atau tidak. Terimakasih Nyonya Alisa, atas kehadiran anda.''

__ADS_1


Alisa tersenyum. ''Sama-sama Andi. Saya tutup. Assalamualaikum..''


''Waalaikum salam, Nyonya...'' jawab mereka semua yang ada disana.


Alisa menunduk dan terkejut melihat Gilang sedang menatapnya dengan instens. ''Astaghfirullah! Kaget aku! Kamu kenapa liatin aku begitu?'' tanya Alisa salah tingkah.


Gilang terkekeh, ''Kamu cocok jadi Presdir Sayang. Setiap kata dan jawaban dari pertanyaan dari mereka, bisa kamu jawab dengan lugas. Untuk sementara, kamu yang gantiin aku ya?''


''Aku??'' tunjuk Alisa pada wajahnya


Gilang mengangguk. ''Ya, kamu. Kayaknya untuk beberapa hari ke depan aku tidak akan sanggup mengurus semua pekerjaan ku. Aku akan tetap ke kantor, tapi bersama mu. Mau ya?'' pinta Gilang dengan tersenyum manis pada Alisa.


Alisa tersenyum dan mengangguk. ''Tentu, By. Apapun untukmu.''


''Terimakasih sayang.''


Keesokan paginya.


Alisa dan Gilang sudah bersiap-siap untuk ke kantor. Annisa dan Lana terbengong melihatnya.


Begitu juga dengan Rayyan. Mata bulat bening mirip Vita itu, mengedip-ngedip lucu. ''Mami?? Kamu mau kemana?'' tanya Rayyan dengan segera turun dari kursi makan dan berlari menuju Alisa dan Gilang yang sedang berjalan bersama.


Rayyan mengerucut kan bibirnya. ''Adek mau kita Mami aja ke kantor! Titik! Ndak mau ke sekolah. Bosen! Ketemu temannya itu-itu aja!'' ketus Rayyan membuat Alisa dan Gilang tertawa.


''Gimana Pi? Dibawa aja?'' tanya Alisa pada Gilang.


''Ya, dibawa aja. Kalau nggak nanti putra kamu akan ngamuk lagi kayak waktu itu.'' ucap Gilang mencebik kan bibir nya.


Lana dan Annisa terkekeh. ''Hooh Mak. Adek bawa aja. Kakak nggak mau denger suara Adek ngamuk satu harian Mak. Pusing!'' celutuk putri bungsu Alisa.


Rayyan mendelik pada Annisa. ''Kakak....'' rengek Rayyan


Alisa tertawa melihat nya. ''Ya, sudah. Abang sama kakak dirumah aja ya? Kalau udah pulang, langsung pulang ke rumah. Ada Mbok Nah yang akan menemani kalian berdua. Oke??''


''Ashiaaapp Bu Bos!'' seloroh Lana.


Semua yang ada disana ikut tertawa melihat tingkah Lana.

__ADS_1


Selesai sarapan pagi, mereka semua pergi menuju ke tujuan masing-masing. Alisa dan Gilang ke kantor oleh supir mereka.


Karena Gilang tidak bisa menyetir sendiri. Biasanya ada Andi. Tapi hari ini, Andi tau jika Alisa ikut bersama Gilang untuk ke kantor.


Satu jam kemudian, mereka tiba di kantor Bhaskara Group. Turun dari mobil, semua karyawan menyambut kedatangan Alisa dengan hangat.


Mereka semua sudah mengenal Alisa. Karena ketika pernikahan mereka diadakan, seluruh karyawan kantor ikut untuk memeriahkan acara pernikahan itu.


Alisa dan Gilang di bawa masuk keruangan Presdir. Tiba disana, Gilang sudah tidak tahan dengan bau parfum semua orang itu.


Secepat kilat Gilang berlari menuju toilet yang ada didalam ruangan Presdir itu. Karena sudah tidak sanggup lagi dengan mual diperutnya, Gilang memuntahkan semua cairan yang ada didalam mulutnya.


''Hueeekkk... hueeekk... hueeekk...'' suara muntahan Gilang, terdengar hingga ke telinga Andi.


Andi terkejut melihat Gilang mual muntah seperti itu. Sedari pertama datang tadi, Andi sudah melihat Jika wajah Bos nya itu sangat pucat.


Walau wajah itu datar, tapi Andi dapat melihat saat Gilang berusaha menahan sesuatu yang akan keluar dari mulutnya.


''Apa jangan-jangan...''


''Andi!!'' seru Alisa.


''Saya Mbak!'' dengan cepat ia berlari menuju kamar tempat Gilang biasa beristirahat setelah jam kantor selesai.


''Ada apa Mbak? Apakah Bos sakit lagi?''


Alisa menoleh, Alisa bingung ingin mengatakan nya tapi karena sangat ingin, terpaksa ia meminta pada Andi.


''Begini, tadi saat saya masuk ke lobi. Saya melihat ada seseorang sedang membawakan bekal seperti roti bakar Bandung. Wanginya.. emmm.. enak banget. Bolehkah kamu memanggilnya kesini? Saya bayar pun tak apa. Kami berdua sangat ingin makanan itu Ndi. Boleh ya?'' pinta Alisa dengan sangat.


Andi bingung. ''Maksud Mbak, saya harus meminta salah satu karyawan disini yang ada kotak bekalnya, yang isinya roti bakar Bandung dibawa kemari?''


Alisa mengangguk cepat. ''Sayang.. pingin roti bakar itu. Lapar..'' lirih Gilang dengan mata terpejam.


Wajahnya begitu pucat. ''Ayo, Ndi! Segera. Suami saya sedang menginginkan roti bakar itu. Tolong ya? Saya pun pingin juga roti itu. Nanti saya ganti deh, ya kan By?'' tanya Alisa pada Gilang.


Gilang mengangguk lemah. Andi menghela nafasnya. ''Alamat tersiksa aku ini! Pastilah Si Bos sedang ngidam! Hadeuhhh...'' gumam Andi dalam hati.

__ADS_1


''Oke. Anak segera saya bawakan. Saya permisi dulu.'' imbuh Andi, dengan segera pemuda itu berlalu meninggalkan Gilang dan Alisa yang saling tersenyum manis karena makanan yang mereka inginkan akan segera datang.


__ADS_2