
Aku melihat Mak dan papi saling berpelukan. Aku tersenyum melihatnya tapi ini aneh! Mak yang biasanya sangat benci jika didekati lelaki kenapa sekarang berbeda. Seperti ada sesuatu diantara mereka berdua.
Ada apa sebenarnya dengan Mak kami. Tak seperti biasanya Mak bisa sedekat itu dengan lelaki. Bahkan Mak yang mengajarkan aku tentang mana yang boleh didekati lelaki atau tidak. Jika adik kandung seperti Lana tidak apa apa karena dia mahram kita, tapi jika seorang lelaki seperti papi Gilang yang nggak punya status apapun bahkan belum menikahi Mak.. maka papi Gilang juga bukan mahram nya Mak kan..??
Aku jadi bertanya tanya sebenarnya Mak kenapa?? Kok bisa berbuat seperti itu dengan Papi Gilang?? Aku memang belum banyak tau tentang pengertian mahram sebenarnya hanya definisi nya saja bahwa mahram secara bahasa itu berasal dari kata haram yang berarti lawan kata halal. Artinya tidak boleh dan dilarang untuk melakukan.
Sedangkan menurut istilah dari kalangan ulama mahram didefinisikan sebagai semua para wanita yang haram untuk dinikahi selamanya karena sebab keturunan, persusuan dan pernikahan dalam syariat Islam. Hanya itu yang kutahu dari arti kata mahram dan juga Mak sering bilang jika lelaki selain dari adik kandung bukanlah mahram kita, benar atau tidak aku juga nggak tau .. karena dulu aku ingin mondok di pesantren tapi dilarang ayah, jadilah masuk sekolah umum.
Padahal Mak sangat menginginkan aku mondok di pesantren agar lebih banyak ilmu yang kudapat. Tapi nyatanya ayah melarang, katanya ayah tidak sanggup membiayai ketika aku mondok nantinya. Aku bertekad setelah lulus dari SMP ini aku akan mondok di pesantren.
Mak pernah bilang jika aku tidak boleh mengikuti jejaknya. Aku harus lebih dari dirinya. Tapi bagaimana mungkin itu bisa terjadi jika didepan mataku Mak dan Papi hampir saja berciuman ups! Aku jadi malu sendiri melihatnya dan untungnya karena aku terkejut refleks saja sih.. aku menjatuhkan gelas yang sedang ada ditanganku. Aku kaget sekali melihat mereka berdua.
Huuuhfftth hampir saja!!
Sungguh !! jauh didalam hatiku, aku senang melihat Mak bahagia bersama Papi Gilang.
Papi...
Ya, seorang lelaki muda yang pantas kupanggil Abang, kini akan segera menjadi Papi sambung kami bertiga. Dialah sosok yang selalu diceritakan oleh Abang, bahwa Papi selalu muncul dalam mimpinya. Sempat aku heran, bagaimana mungkin orang yang didalam mimpi bisa hadir di dunia nyata! itu sangat mustahil! Tapi itu benar adanya.. noh... buktinya beneran ada bersama kami sekarang.
Pernah sekali aku ingin melihatnya dengan sisi wanita dari diriku. Ingin aku tertarik padanya wajahnya nan tampan, tubuh tinggi tegap, kulitnya yang putih membuat aku menyukainya sebagai pasangan. Ya... kalian Taulah anak SMP itu udah gadis udah kenal yang namanya lelaki. Tapi aku menutup diri dari itu semua. Karena Mak pernah berpesan jangan sampai salah kaprah dalam pergaulan, baik buruk perbuatan kita akan ada pertanggung jawaban nya kelak di akhirat.
__ADS_1
Aku menuruti apa yang diperintahkan oleh Mak..
Lah... ini Mak kami kok bisa seperti ini?? Apakah karena terlalu sakit dimasa lalu hingga ia membutuhkan bahu untuk berasandar?? Selama ini Mak selalu menutup dirinya dari siapa pun tapi ini dengan Papi.. pemuda tampan yang pernah kami temui di warung makan, orangnya asik diajak ngomong, ramah serta nggak pelit! hehehe.. menambah nilai plus pada dirinya.
Sakit dimasa lalu yang dirasakan oleh Mak sangat parah ! Rasanya aku hampir mati ketika melihat keadaan Mak seperti itu, tapi aku hanya seorang anak kecil yang tidak bisa melakukan apa apa. Bukan aku tak tau apa yang terjadi dengan Mak kami. Aku tau semuanya... bahkan sangat tahu seperti apa setelah Mak dan ayah berpisah dan sebelum mereka berpisah.
Mak sangat tersiksa lahir dan batin. Tapi ia tak pernah menunjukkannya pada kami berdua. Aku dan Abang tau kondisi Mak. Mungkin jika kami berdua tidak ada, Mak pasti sudah gila sekarang. Mak bertahan hidup hanya demi kami berdua. Jika bukan karena kami Mak sudah tidak ada dimuka bumi ini.
Bukan bermaksud mendahului Allah, tapi inilah kenyataan pahit yang kami rasakan bersama.
Sungguh malang nasibnya Mak ku..
Aku adalah saksi hidup penderitannya... tapi Mak begitu kuat menghadapi semua ini belum lagi ketika beliau hamil adek, sungguh tertekan dirinya karena ayah selalu merendahkan harga dirinya. Aku ingin menangis tapi tak bisa.. ingin ikut campur membelanya dilarang. Mak bilang, biarlah semua kesalahan ditanggung oleh nya.
Dan sekarang, ketika beliau mendapatkan kebahagiaan.. apakah aku sebagai seorang anak yang menyaksikan betapa sulit hidupnya berani melarangnya untuk mendapatkan kebahagiaan??
Aku memang anak kecil baru gede.. tapi aku sudah baligh.. aku sudah tau mana yang boleh dan mana yang tidak. Sesaat aku termenung, ingin rasanya aku menegur nya secara halus agar Mak tidak sakit hati, tapi aku tak berani maka kaca yang pecahlah sebagai penghambat kesalahan mereka berdua.
Maafkan kakak Mak..
Kakak nggak bermaksud mengganggu.. hanya saja kalian hampir saja melakukan kesalahan yang fatal. Kakak harap Mak sama Papi maklum ya. Kakak tak berani menegur kalian berdua takutnya kalian malu. Belum lagi Abang yang ingin tau apa saja yang dilakukan Papi sama Mak makin runyam nantinya. Maka dari itu sengaja kakak menghentikan aksi kalian berdua.
__ADS_1
Maafkan kakak Mak..
Semoga Papi Gilang bisa memberikan kebahagiaan yang utuh buat Mak...
Kakan yakin! Papi pasti bisa membawa Mak ke jalan yang benar! melihat dari pribadinya yang begitu lembut serta penyayang namun tegas kepada kami bertiga, Papi adalah sosok ayah yang selama ini kami rindukan. Walau dirinya masih sangat muda itu tak jadi penghalang untuk menjadi kan dirinya seorang ayah dari tiga orang anak.
Semoga Allah mengabulkan setiap permintaan kakak..
Semoga Mak berbahagia bersama pilihan hati Mak..
Kakak sayaaaaangg banget sama Mak...
Semoga kakak juga akan bisa seperti Mak nantinya.
Untuk Papi, jaga Mak buat kakak.. buat dirinya selalu bahagia.. jangan biarkan ia menangis disetiap sujud malamnya! Kakak percaya! bahwa Papi dikirimkan memang untuk menyembuhkan luka dihatinya.
Kakak sayang Papi...
Sayaaaaangg banget..!
I Miss you Papi...
__ADS_1