Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Ayah


__ADS_3

Sedari pagi Emil sudah berdiri disana untuk menunggu kedua anaknya. Sesekali ia gelisah, melihat lagi ke jalan apakah ia ketinggalan atau memang kedua anaknya itu belum berangkat ke sekolah?


Saat sedang asyik-asyiknya melamun, ia melihat sekelabat bayangan yang mirip dengan putra nya.


Emil mengerjab, benar. Benar itu adalah putra dan putri nya sedang menuju ke sekolah. Sedang jarak dirinya dan kedua anaknya itu lumayan jauh.


Saat melihat kedua anak itu, ia berlari untuk mencegat mereka. Sesampainya disana...


''Assalamualaikum.. Kakak.. Abang...''


Deg.


Deg.


''A-ayah?!'' kejut kedua anak itu.


Emil tersenyum, ''Iya Nak! ini Ayah! Kalian apa kabar?? sudah lama sekali ya kita tidak bertemu? Oh iya, apakah Mak kalian ada?'' tanya nya dengan senyum terus mengembang di bibirnya.


''Untuk apa Ayah bertanya tentang Mak kami??'' sahut Ira dengan wajah datar.


Senyum yang tadinya mengembang kini berubah menjadi suram.


Ternyata kehadiran ku tidak di inginkan oleh mereka.. lirihnya dalam hati.


Namun ia mencoba untuk tegar. Jika semua ini demi kedua anaknya, maka ia akan bersabar.


''Ayah hanya ingin menemui nya sebentar, untuk mengetahui keadaannya seperti apa..'' lirih Emil begitu pelan.


''Untuk apa?? Apa untuk menyakitinya lagi?? Belum puaskah selama ini Ayah menyakiti fisik dan batin Mak kami??'' sahut Ira lagi.


Sahutan yang begitu menghujam ke jantung. Bibir Emil bergetar, tidak tau harus berbuat apa.


''Maafkan Ayah, Nak.. mari kita duduk dulu disana! sebentar... saja!'' pintanya dengan wajah memelas.


''Kami tidak bisa lama-lama! sebentar lagi kami masuk sekolah.'' sahut Ira lagi.


''Ya, hanya sebentar kok. Ayah kangen sama kalian..'' lirihnya lagi.


Ia sadar diri, jika kehadiran nya tidak di butuhkan oleh kedua anaknya. Emil tersenyum getir.


Setelah mereka duduk di bangku taman dekat dengan sekolah Ira dan Lana, Emil pun mulai membuka suara nya lagi.


''Ayah ingin minta maaf sama Mak kalian.. Ayah tau, Ayah salah.. Ayah terlalu banyak menyakiti fisik dan batinnya.. maka dari itu Ayah butuh waktu untuk bisa bertemu dengan kalian bertiga..'' sahutnya begitu lirih.


Emil menahan sesak di dadanya. Sedang kan Ira tersenyum sinis melihat Ayah nya ini.

__ADS_1


''Setelah sekian lama, kenapa baru sekarang Ayah datang? Di mana ayah saat kami membutuhkan Ayah?? Kenapa dengan teganya Ayah mengusir kami dari rumah, padahal saat itu Mak baru saja melahirkan! Kenapa baru sekarang Ayah datang disaat semua sudah kembali normal?! Kami tidak butuh kehadiran Ayah disini, pergilah!'' usir Ira.


Sekuat tenaga, ia menahan air mata itu agar tidak tumpah. Sedangkan Emil, tenggorokan nya tercekat hanya untuk mengeluarkan satu patah kata saja.


''Ma-maafkan Ayah, Nak..'' lirih Emil dengan bibir bergetar.


''Tidak ada yang perlu di maafkan disini! Sebaiknya Ayah kembali! Bukankan sekarang Ayah sudah bebas? Sudah tidak memiliki tanggungan lagi?? Sekarang Ayah bisa melakukan apa pun yang Ayah mau! Ayah bisa bersenang-senang dengan kekasih Ayah! Jadi buat apa datang kesini untuk menemui kami! Apakah Ayah sudah bosan dengan kekasih Ayah itu, hingga Ayah kembali pada Mak kami begitu?!''


Emil tersentak mendengar ucapan Ira yang begitu pedas jika dibandingkan dengan umur nya.


Segitu dalam kah ia menyakiti kedua anak nya ini, hingga ia sampai mengatakan hal yang tidak pernah terpikirkan oleh nya.


''Maafkan Ayah, Nak...''


''Tidak perlu minta maaf Ayah! selama ini aku tau seperti apa kelakuan Ayah terhadap Mak kami. Apa salah Mak kami? Hingga dengan tega Ayah memukulnya tepat di depan mata kami?? Apa salah Mak kami hingga tega Ayah mengusir nya? Bukankah setiap rumah tangga itu ada ujian dalam hidupnya?? Apakah Ayah tidak tahu arti ujian apa?? Mengapa hanya karena satu kesalahan Mak kami, Ayah tega membuangnya begitu saja! Aku tau apa yang terjadi selama ini pada kalian berdua! Ingin aku melawan Ayah, tapi Mak selalu melarang, jika Ayah hanya sedang khilaf! Jika bukan karena Mak, mungkin sampai saat ini aku tidak sudi bertemu dengan Ayah!'' serunya dengan bibir bergetar.


Terasa di hantam oleh paluh Godam yang begitu besar, ketika buah hatinya berani mengatakan hal yang seharusnya tidak dikatakan oleh anak seumuran Ira.


''Aku sudah besar Yah! aku sudah baligh, jadi aku tau mana yang baik dan mana yang tidak baik. Bahkan di sekolah pun sering diajarkan harus berbuat baik kepada kedua orang tua, walaupun orang tau itu jahat terhadap kita!'' sindir nya lagi, membuat Emil menangis.


''Ma-maafkan Ayah, Nak.. Ayah salah.. Ayah datang kemari hanya ingin meminta maaf pada Mak kalian.. tidak ada maksud apapun Nak.. sungguh! sekalian Ayah ingin memberikan ini untuk kalian berdua..'' ucap Emil, sembari menyodorkan sebuah amplop berwarna putih dan coklat kepada Ira.


Ira menatap Emil dengan wajah datar. Sakit. Itulah yang di rasakan Emil sekarang. Putri kecilnya kini sudah besar.


''Untuk apa?''


''Untuk biaya kalian hidup Nak.. ini tanggung jawab Ayah.. Ayah memang sudah berpisah dari Mak kalian, tapi tanggung jawab Ayah tidak putus terhadap kalian bertiga. Terimalah! Jangan menolaknya Nak.. Ayah mohon.. selama enam bulan ini Ayah berusaha mencari nya untuk kalian bertiga.. maaf baru sekarang ayah bisa menemui kalian.. setelah kepergian kalian dari rumah, Ayah terus mencari dimana kalian berada. Butuh waktu berbulan-bulan untuk Ayah bisa menemukan kalian. Itupun karena Ayah sedang bekerja di komplek perumahan ini. Jika tidak pun, Ayah tidak akan tau, dimana keberadaan kalian semua...'' lirih Emil lagi.


''Kalaupun kalian pulang kampung itu tidak mungkin. Karena Ayah tau seperti apa Mak, kalian. Ia tidak akan pulang kampung karena terikat janji dengan Kakek kalian. Maafkan Ayah, Nak.. yang telah membuat kalian seperti ini.. Ayah tau, Ayah salah.. maafkan Ayah, Nak..'' pinta nya begitu berharap.


''Aku tidak bisa memaafkan Ayah, karena aku tidak berhak untuk memaafkan Ayah. Ada orang lain yang lebih berhak. Dan untuk uang ini, simpanlah untuk kebutuhan Ayah selama tinggal di perumahan ini. Kami sudah cukup dengan uang Mak kami. Tidak perlu uang dari Ayah lagi,'' sahut Ira, kemudian ia miringkan kepalanya, karena Lana berbisik padanya.


Setelah mendengar bisikan Lana, Ira mengangguk. Dengan Lana yang berlari menuju ke sekolahnya.


''Kak.. tolong terima ini.. jangan ditolak ya.. ini tanggung jawab Ayah terhadap kalian.. Ayah mohon.. jika kakak masih membenci Ayah, tidak masalah! ayah terima. Tapi tolong terima ini.. ini sebagai bukti tanggung jawab ayah untuk kalian.. gunakan ini untuk biaya sekolah kakak dan Abang. Hah, putra ku itu. Bahkan hanya untuk sekedar menyapa ku saja ia tidak mau..'' lirihnya lagi dengan suara tercekat.


Ira memejamkan kedua matanya. Agar air mata yang sedari tadi di tahan tidak tumpah.


''Ba-baik! kakak terima! Jaga diri Ayah! jangan tidur terlalu malam, itu tidak baik untuk kesehatan Ayah! Berubah lah ke arah yang lebih baik lagi. Tata kehidupan Ayah. Jangan berharap pada sesuatu yang tidak mungkin bisa kembali lagi. Kakak harap, Ayah sudah tidak seperti dulu Lagi. Kakak pamit, bel belajar sudah berbunyi.'' Imbuhnya, sembari berdiri dan ingin pergi.


''Kak..'' panggil Emil.


Ira menoleh, tapi tidak menyahuti panggilan Emil.


''Bolehkan Ayah memeluk mu sebentar saja??'' tanya Emil begitu berharap.

__ADS_1


Ira mengerjab, kemudian mengangguk pertanda setuju.


Grep.


Tanpa menunggu lama, Emil memeluk putrinya begitu erat. Ira membalas pelukan itu. Seberapa benci pun ia terhadap Ayahnya, namun rasa rindu itu mengalahkan segalanya.


Ira terisak dalam pelukan Emil, sedang Emil semakin memeluk erat putri sulungnya itu.


''Maafkan Ayah, Nak.. Ayah salah.. maafkan Ayah..'' lirih Emil dengan suara serak menahan tangis.


Ira tidak menjawab, Namun ia sesegukan dalam pelukan Emil. Setelah dirasa cukup, Emil melonggarkan pelukannya dan menangkup wajah Ira dengan tangan kasar nya.


Cup.


Emil mengecup kening nya begitu lama. Setelah selesai, ia mengusap air mata Ira yang terus berjatuhan di pipi tirus nya.


''Ayah sayang kakak dan juga adik-adik mu. Maafkan Ayah yang telah membuat kalian berempat terluka.. sekarang Ayah sudah mendapatkan hukuman nya. Putri Ayah sekarang sudah besar, jaga diri baik-baik. Jangan pacaran dulu. Itu akan menggangu sekolah mu nanti. Ayah harap, saat kita bertemu lagi nanti kalian sudah memaafkan Ayah, Nak.. sekali lagi maafkan Ayah.. Ayah sayang kalian semua..'' lirih Emil sembari melepaskan Ira, dan Ira pun berlari setelah mengecup tangan kasar Emil.


''Ayah sayang kalian, Nak.. maaf.. Ayah terlambat mengetahui nya.. maafkan Ayah..'' Emil menangis sendiri di taman dekat sekolah Ira.


Setelah lepas dari Emil, Ira tidak masuk ke kelas. Melainkan ia berlari menuju ke Mushola di dalam sekolahnya.


Sesampainya disana, ia menangis begitu pilu. Memukul dada nya yang begitu sesak. Sedangkan seseorang yang mengikuti nya terkejut melihat gadis itu menangis begitu pilu di dalam Mushola.


''Mengapa aku merasa jika tangisan mu ini begitu menyayat hati? Aku merasakan apa yang kamu rasakan. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa lelaki yang tadi memeluk mu? Hingga kamu menangis seperti ini ?? Haruskah aku mencari tau? Tapi di mana? Ada apa?? Jangan menangis.. tangisan mu begitu menusuk jantungku..'' lirih pemuda itu.


Tanpa sadar, ia pun ikut menangis melihat Ira yang juga sedang menangis.


''Kakak.. sa-sayang.. a-ayah.....''


💕


Sedih nggak?? Gimana rasanya jika kalian ada diposisi Ira??


Ada yang tau siapa pemuda ini??


Like dan komen!


Udah hari Senin loh.. boleh othor minta sedekah poinnya??


Boleh ya?? ya? ya?


Hihihi mode maksa 😒


TBC

__ADS_1


__ADS_2