
Malam harinya di kediaman Gilang.
Semua undangan dan para sahabat Alisa sudah kembali ke tempat mereka masing-masing. Kini rumah itu sudah sunyi kembali.
Hanya tersisa kedua orang tua Gilang dan kedua orang tua Alisa. Ada Andi juga disana. Begitu juga kerabat Papa Angga.
Kedua adik Papa Angga dan juga kerabat dari Oma Diana juga masih disana. Besok, mereka baru akan kembali ke Singapura.
''Sudah malam, sebaiknya kalian istirahat. Biar Nara dan Algi sama Mama dan besan. Kami berdua yang akan mengurus mereka. Jika nanti Nara dan Algi ingin susu, kami bangunkan. Pergilah. Yang lain juga ya?'' ucap Mama Dwi kepada Gilang dan Alisa.
Mereka semua mengangguk, dengan perlahan Gilang menuntun Alisa hingga sampai kamar atas.
Karena Alisa baru saja melahirkan, Gilang menggendongnya ala bridal style untuk menuju kesana.
Kedua orang tau itu begitu terharu melihat pasangan beda usia yang saling mencintai itu.
''Cinta tak tau pada siapa ia memilih. Kita pun juga tak tau pada siapa hati kita berlabuh. Sama seperti Gilang dan Alisa ini. Sungguh Besan! Aku sangat bersyukur, karena putraku berjodoh dengan putra Pak besan! Terlepas jika mereka berdua memang sudah di jodohkan, tapi saya sebagai Papa nya bangga terhadap Gilang. Selama ia bertemu dengan Alisa, begitu banyak perubahan yang terjadi. Terimakasih Bu besan, karena telah melahirkan putri sebaik Alisa dan mendidiknya menjadi seorang istri yang baik dan patut di contoh. Dan saya yakin, dibawah naungan Alisa. Ke enam anaknya ini pasti akan sama seperti Papi dan Maminya. Menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah.'' Ujar Papa Angga dengan terus menatap bayi kembar itu.
Dan ketiga orang itu mengaminkan doa Papa Angga.
Sementara Gilang dan Alisa, sepanjang naik ke tangga ia sibuk dengan menggoda sang istri.
''Sayang?''
''Hem?''
''Kamu kok jadi ringan sih? Beda sama yang kemarin. Hingga kepayahan aku membawa mu. Sampai-sampai Abang menggendong mu untuk tiba di bawah. Kok bisa gitu ya?'' kata Gilang yang membuat Alisa terkekeh.
''Ya bisa lah.. kan dua pasukan mu sudah keluar? Jadi nggak mungkin dong tubuh ku ini masih berat seperti kemarin saat kalian menggendong ku untuk turun ke bawah?''
Gilang tertawa. ''Hahaha.. kamu benar sayang. Kalau seperti ini, aku semakin giat untuk menggempur mu! Pasti setelah ini, palung surga mu itu jadi rapet lagi kan?''
''Weleh? Mana ada seperti itu. Nggak mungkin rapat lagi sayang! Palingan juga kembali seperti semula. Kan aku udah ngeluarin lima kepala???''
''Yang bener? Nggak kembali lagi kayak pertama kali aku rasain?'' tanya Gilang sambil terus menaiki tangga dengan perlahan.
''Bisa.'' jawab Alisa dengan wajah seriusnya
__ADS_1
''Iyakah?''
''He'em.''
''Gimana caranya?''
''Mau tau?'' Gilang mengangguk.
''Mau tau atau mau tau banget??''
''Banget!''
''Oke! Kamu harus puasa selama lima tahun lagi. Sama seperti dulu. Mau?'' Alisa menggoda Gilang dengan senyum jahilnya.
Gilang mendelik tak suka pada Alisa. ''Mana bisa gitu sayang! Bisa mati berkarat aku gara-gara nahan diri lagi nggak bisa sentuh kamu kayak dulu! Lebih baik nggak rapat dari pada puasa selama lima tahun lagi! Nggak mau aku! Bisa pusing tujuh dunia in!'' Ucap Gilang begitu serius tapi ada seloroh di dalamnya.
Membuat Alisa tertawa-tawa. Para orangtua yang ada dibawah pun ikut terkekeh.
''Nggak mau aku sayang! Pokoknya, kalau kamu udah bersih, bakalan aku minta jatah lagi sama kamu! Satu hari aja aku pusing nggak nyentuh kamu? Gimana selama empat puluh hari?? Ishhh.. bisa-bisa kayu laut ku ini nggak perkasa lagi nanti nya!''
Alisa tertawa hingga mengeluarkan air matanya. Tapi setelah itu, ia meringis. ''Sok.. rasain! Kualat kan ketawain suami?'' ketus Gilang, Alisa terkekeh-kekeh.
Begitulah mereka jika sedang berdua. Tapi jika di tempat umum, mereka akan terlihat seperti pasangan yang begitu serius.
Semua karyawan nya juga sangat hormat kepada Gilang dan Alisa.
Delapan bulan berlalu.
Keseharian bersama bayi kembar yang begitu aktif membuat Alisa terkadang kewalahan. Algi yang begitu lincah merangkak, sedang Nara begitu lincah untuk maju menggunakan kedua tangannya.
Kedua putra Gilang itu begitu menggemaskan saat ini. Algi yang semakin mirip dengan Alisa, dan Nara semakin mirip dengan Annisa.
Bagai pinang di belah dua. Sangat mirip. Terkadang Annisa menjadi bahan ledekan Abang dan Papinya saat mereka berkumpul bersama.
Tapi Annisa tidak peduli. Ia sangat suka di ledek seperti itu. Baginya, ledekan Papi Gilang dan Lana itu merupakan semangat dan rasa kasih sayang mereka berdua untuknya.
Untuk mengurangi kesibukan Alisa mengurusi kedua anak kembarnya, Gilang dari tiga bulan yang lalu sudah menawari Alisa untuk mencari baby sitter.
__ADS_1
Tapi Alisa tidak mau.
''Ayolah sayang.. waktu mu hanya tersita untuk anak kita. Sedang aku? Kapan kamu bisa seperti dulu? Aku butuh kamu sayang! Bukan hanya anak kita. Tapi aku juga. Aku bisa mati jika tidak menyentuhmu setiap saat.''
''Papi!! Jangan ngomong seperti itu! Aku nggak suka! Oke! Kita cari baby sitter. Tapi sebelum itu, ubah dulu kamar ini harus menjadi dua bagian. Atau kamar Abang kita jadikan sebagai kamar Algi dan Nara untuk sementara. Tapi di sekat gitu? Agar Abang tidak terganggu saat belajar nya karena suara kedua adiknya. Gimana? Mau?''
Gilang tersenyum dan mengangguk. ''Seperti keinginan mu sayang! Besok, kamar ini akan direnovasi sedikit. Hanya cukup membuat sebuah pintu saja disana. Sedang Abang sudah bersedia turun ke kamar tamu untuk sementara. Lagipun, ia kan sebentar lagi mau mau jadi tentara? Jadi ya.. akan jarang pulang. Kalau pun pulang, ia pasti rela berbagi dengan Algi dan Rayyan nanti. Kamu tenang saja. Biar itu menjadi urusanku. Untuk malam ini aku melepaskan mu! Tapi tidak untuk nanti pagi. Setelah subuh, aku akan menagih janjimu. Tidakkah kamu lihat, jika kayu laut ku sudah mulai beraksi saat dekat denganmu seperti ini?'' tunjuk Gilang pada juniornya.
Alisa terkekeh, tanpa disadari oleh Gilang ia memegang benda lunak tak bertulang itu yang semakin mengeras saja saat Alisa menyentuh nya.
''Sssttt.. uhhh..'' desis Gilang.
Padahal tangan Alisa diluar berlapiskan kain sarung. Alisa terkekeh Melihat nya.
Saat ini kedua anak mereka sudah terlelap setelah tadi puas bermain dengan merayap kesana kemari hingga membuat Gilang yang ingin sekali menyentuh Alisa menjadi pusing sendiri.
Pusing tujuh keliling menghadapi benda lunak itu. Alisa semakin gencar untuk meluluhkan kayu laut yang semakin menegang itu.
Sesekali Alisa terkikik geli melihat wajah Gilang merem melek seperti orang ngigau dalam tidurnya.
Gilang tau jika Alisa sengaja membuatnya semakin tersiksa seperti itu.
Grep!
Hap
Pluk!
''Cup. Jangan salahkan aku, jika besok pagi kamu akan bangun kesiangan! Bersiaplah! Cup.''
Gilang mulai menyentuh tubuh yang selalu membuat nya candu. Dan sekali ingin lagi dan lagi.
💕💕💕💕
Pantengin terus ye?
Jangan sampai ketinggalan!
__ADS_1