Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Malam terakhir bersama mu


__ADS_3

Setelah kepergian pak Kosim dan wanita tua itu, Lana dan Ira kembali masuk kedalam untuk membereskan semua isi rumah yang diserahkan oleh anak-anak nya ustad Dhanu.


Sedangkan seseorang disana menatapnya dengan nanar. Hatinya bagai di iris sembilu ketika melihat putra dan putri nya tinggal di perumahan yang sama ia tempati.


Dia adalah Emil. Milham Syahputra. Mantan suami Alisa dan ayah kandung dari ketiga anaknya.


''Maafkan ayah Nak.. ayah belum berani untuk menemui kalain berdua.. padahal kita tinggal satu komplek disini.. sudah sebulan ayah disini.. dan baru hari ini ayah bisa melihat kalian dari dekat. Andai..'' lirih Emil sembari membuang nafasnya yang begitu sesak.


''Besok saja aku menemui kedua anakku. Aku akan datang ke sekolah nya. Untuk hari ini cukup sampai disini. Maafkan Abang dek.. Abang terlambat menyadari nya.. setelah menyadari semua ini.. sekarang sudah terlambat.. kau bukanlah istri ku lagi..


tapi sudah menjadi mantanku.. maafkan aku.. karena aku emosi kau yang menanggung akibatnya. Untuk sekarang aku belum berani bertemu dengan mu. Aku menunggu waktu yang tepat untuk bisa bertemu dengan mu Dek..'' lirih Emil sembari mengusap sebulir bening yang mengalir di pipinya.


Emil beranjak pergi setelah dirasa hati dan pikiran nya terasa tenang. Besok, ia tunggu sampai besok.


Ia akan menemui kedua anaknya setelah enam bulan lamanya. Kedatangan nya pun untuk mengantarkan sesuatu untuk Alisa dan juga ketiga anaknya.


Di rumah sakit.


''Sayang.. aku ke Mushola sebentar ya, udah masuk waktu Maghrib. Kamu tak apa kan aku tinggal??'' tanya Gilang sembari menatap Alisa yang duduk di tepi bangkar di mana Annisa tertidur.


''Ya, pergilah! Nanti aku sholat disini saja sendiri.'' sahut Alisa sembari menoleh ke Gilang.


Gilang tersenyum, kemudian berlalu pergi dari ruangan Annisa. Baru saja Gilang keluar dari ruangan, sudah ada pak Kosim di depan nya.


''Assalamualaikum Den Gilang...''


''Waalaikum salam pak! Ayo kita sholat dulu. Setelah nya baru cerita tentang masalah akta itu. Ayo pak, kita sholat!'' ajak Gilang.


''Ya, ayo... tapi ini suratnya bagaimana Den?? Kita bawa saja??'' tanya pak Kosim


''Kemarikan!'' setelah mengambil map berwarna merah itu, Gilang masuk ke dalam ruangan Annisa.


''Lis! titip ini! aku mau sholat dulu!'' imbuhnya sembari memberikan map itu pada Alisa.


''Ha? Ya.'' sahutnya seperti orang bingung.


Setelah memberikan map itu pada Alisa, Gilang berlalu menuju ke Mushola untuk menunaikan sholat Maghrib.

__ADS_1


Alisa selesai melaksanakan sholat isya tapi Gilang belum juga kembali. Saat ingin membuka pintu, Gilang pun membuka pintu juga.


''Astaghfirullah!'' kejut Alisa.


Gilang mengerjab. ''Ada apa??''


''Nggak ada, aku mau ke kantin mau beli makan untuk makan malam. Dan juga aku belum mandi ini masih baju yang kamu berikan tadi siang pada ku. Bisakah kamu menunggu adek sebentar?'' tanya Alisa.


''Ya. Mandilah, tapi dengan air hangat ya? Ini sudah malam untuk mandi pakai air dingin. Ini baju mu dan makan malam kita.'' imbuhnya sembari menyodorkan satu buah paper bag berisi baju ganti Alisa dan juga makanan.


''Terimakasih Gi... tanpa kamu, apalah aku...'' lirih Alisa begitu pelan.


Gilang tersenyum dan mendekati Annisa. ''Tidak perlu berterima kasih, mulai sekarang apapun kebutuhan mu akan ku penuhi. Ambil ini.'' Gilang menyerahkan satu buah kartu ATM pada Alisa.


''Untuk apa??''


''Untuk keperluan mu dan anak-anak! Selama dua Minggu ini aku tidak bisa menemani mu dirumah sakit. Aku harus ke kantor mengurusi pekerjaan ku, sebelum aku berangkat ke Amerika. Jadi.. ku mohon jangan tolak, ini sebagai salah satu bentuk pertanggung jawaban ku untuk mu dan juga anak-anak kita nantinya. Kamu nggak usah kahawatir isinya. Isinya lebih dari yang kamu bayangkan!'' Gilang mengedipkan matanya pada Alisa.


Membuat Alisa memutar bola mata malas. ''Ya.. ya.. ya.. terserah anda tuan Gilang Bhaskara!'' sahut Alisa sembari masuk kedalam kamar mandi VVIP rumah sakit itu. Membuat Gilang terkekeh.


Gilang tersenyum, wangi inilah yang nantinya yang akan dirindukan olehnya lebih kurang empat tahun ke depan.


Sesampainya disana, GIlang mengajak Alisa untuk makan malam bersama. Makan malam terakhir bersama Alisa.


''Sayang..''


''Hem,'' sahut Alisa.


''Ambil ini dan simpanlah!'' Gilang menyodorkan map tadi yang ia berikan kepada Alisa.


''Apa ini Gi??''


''Bacalah!'' Alisa menoleh Gilang. Gilang mengangguk sembari bibir nya mengulas senyum tipis.


Alisa membuka dan membaca nya, ''I-ini...'' lirih Alisa sembari menoleh lagi pada GIlang.


Gilang mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


''Mulai sekarang tanah serta rumah itu resmi menjadi milik mu. Pakailah uang yang ada dalam ATM itu untuk merenovasi dapur yang sudah habis terbakar itu. Aku akan lihat setelah empat tahun ke depan, apakah rumah itu sudah kamu pakai atau tidak. Semua itu akan terlihat ketika aku kembali nanti.'' ujar Gilang dengan menatap Alisa begitu dalam.


''Tapi Gi.. ini terlalu berlebihan! Aku dengan mu tidak memiliki hubungan apapun.''


''Lantas? Apa yang menjadi masalahnya?'' sahut Gilang.


''Aku hanya orang lain di kehidupan mu GI.. aku tidak pantas menerima semua ini. Terkecuali...'' Alisa menatap Gilang yang juga sedang menatapnya.


''Kau adalah istriku! eh maksudnya, kau adalah calon istriku Alisa! Semua ini tidak ada sedikit pun dari orang tuaku. Ini murni hasil keringatku sendiri. Dan rencananya sih akan kutitipkan kepada mu selama aku pergi..'' imbuhnya dengan sesekali melihat Annisa.


''Kenapa??''


''Tidak ada jawaban untuk pertanyaan mu sayang! yang jelas semua ini adalah tanggung jawab ku terhadap mu dan anak-anak. Izinkan aku yang mengurus kehidupan kalian mulai dari sekarang. Aku ingin, kau selalu bergantung pada ku sayang.. jadikan aku sebagai tempat keluh kesah mu.. jadikan aku tempat kamu mengadu.. jadikan aku tempat mu berpulang dari lelah dan letih mu.. aku ikhlas menerima mu apa adanya. Aku tidak menuntut mu apapun. Yang aku inginkan hanya.. kamu selalu ada di dekatku dan selalu menemani ku hingga kita menua bersama.. Lis.. aku cinta dan sayang sama kamu. Aku tak peduli jika umur mu lebih tua dariku.. yang aku tau.. aku mencintai kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirimu.. kamu pelengkap di dalam hidup ku Lis .. berjanjilah satu hal.'' ujar Gilang begitu panjang, membuat Alisa tertegun untuk sesaat.


''Alisa... sayang..'' panggil Gilang


''Eh? i-iya..''


''Berjanjilah satu hal pada ku.. bahwa apapun yang terjadi ke depan nya, jangan pernah meragukan ku. Apapun yang terjadi pada kita berdua ke depannya anggaplah itu takdir untuk kita. Karena setelah itu pasti akan ada hikmah dibalik yang terjadi. Aku mohon Lis.. jangan pernah pergi dari kehidupan ku sampai kapanpun. Kita boleh berpisah sementara. Tapi kita tidak boleh saling menjauh dan membenci. Jika suatu saat kejadian seperti ini terjadi.. aku mohon! Bersabarlah! Sama seperti kau selalu bersabar atas kelakuan suami mu yang dulu. Aku sangat, sangat, sangat mencintai mu Alisa Febriyanti. Bersabarlah hingga waktunya tiba. Jika waktu itu telah tiba, maka alam sendiri lah yang akan menyatukan kita berdua.'' ucapnya penuh dengan kata-kata ambigu.


Alisa hanya memandangnya saja. Mau dijawab apa pun dia tak tau harus jawab apa.


''Kamu dengarkan sayang??''


''Aku...''


💕


Othor usahain deh update nya dua bab tiap hari biar cepat kelar.


Karena setelah ini, othor akan buat cerita tentang Ira putri pertama Alisa.


Ikutin terus ya!


Like dan komen!


TBC

__ADS_1


__ADS_2