Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Melahirkan


__ADS_3

Lima hari sudah berlalu sejak kedatangan Alisa ke kampung halamannya. Hari ini mereka harus pulang kembali ke kota Medan.


''Ma, Pa, Alisa pamit pulang ya? Hati-hati dan jaga kesehatan. Alisa tidak bisa menjaga Mama dan Papa karena Gilang membutuhkan Alisa disana..'' lirih Alisa dengan terisak.


Mama Alina mengelus tubuh Alisa dengan sayang. ''Tak apa nak.. memang itulah tugas kita sebagai seorang wanita. Harus ikut suami kemana pun kita pergi. Pesan Mama, jikalau ada masalah itu jangan kabur-kaburan. Tanya dulu kebenaran nya baru setelah itu kamu putuskan, hem?''


Alisa mengangguk patuh, ''Pa?'' Alisa mengurai pelukan nya dari Mama Alina dan memeluk Papa Yoga.


''Sabar.. itu kuncinya. Walaupun Masalah itu silih berganti datang, kamu harus kuat dan sabar. Jalani dengan ikhlas. Itu kuncinya. Papa selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Jangan lupa kabari kami saat cucu kami nanti lahir!'' Alisa tertawa begitu juga dengan Gilang.


''Gilang pamit Pa.. jika Papa butuh sesuatu hubungi Gilang! Ya?''


Papa Yoga mengangguk, ''Tentu, nak. Jaga istrimu. Hormon kehamilan sering membuat mode nya itu berubah-ubah. Hati-hati di jalan dan selalu jaga kesehatan. Doa Papa menyertai kalian berdua!''


''Terimakasih, Pa.. assalamualaikum..''


''Waalaikum salam...'' sahut keduanya.


Dengan segera mereka masuk ke mobil dan melambaikan tangan selamat tinggal pada kedua orang tua itu.


Gilang terpaksa menyewa seorang supir, karena ia mungkin tidak sanggup untuk membawa mobil ke Medan.


Sementara Andi, ia menyewa travel untuk keberangkatan mereka berdua ke Medan.


Mereka kembali semua ke kota Medan. Tempat dimana mereka di pertemukan dan tempat mereka mencari nafkah.


Baik itu Gilang maupun Alisa. Mata pencarian mereka berada di kota Medan. Kini mereka hanya akan menikmati hidup selagi nyawa belum di jemput oleh yang maha kuasa.


Hari-hari berlalu dengan tenang. Tanpa ada kemelut ataupun masalah lainnya.


Delapan bulan sudah berlalu dari kejadian itu.


Masih teringat jelas, pada saat Gilang mual muntah hingga tak sadarkan diri berujung kerumah sakit.


Mama Dewi yang mengetahui jika Gilang hamil simpatik, tertawa terbahak-bahak melihat Gilang yang semakin tersiksa dengan mual muntah itu setiap hari.


Tapi berbeda dengan Alisa, wanita dewasa itu biasa saja. Yang ada nafsu makannya semakin bertambah.


Dan pagi ini kediaman Gilang Bhaskara sedang heboh, karena Alisa sedari pagi perutnya semakin mulas tidak menentu.


''Huuffttt.. huffftt.. huffftt.. Allahu.. ssssttt....'' desis Alisa saat merasakan sakit.


Gilang meringis melihatnya. Keringat dingin sudah mengucur di dahinya. ''Kita kerumah sakit ya? Aku nggak tega lihat kamu kayak gini. Operasi aja ya?'' bujuk Gilang lagi.

__ADS_1


Bukan apa Gilang memaksa untuk operasi, karena kehamilan ini kembar dan begitu beresiko untuk Alisa, jadi dokter memutuskan hal itu.


Alisa tidak mau operasi, karena ia tau jika operasi penyembuhan nya akan lama. Sedangkan untuk persalinan secara normal, Alisa bisa menjamin nya.


Bahasa sakit yang ia rasakan hanya sebentar saja. Itu pengalaman nya selama melahirkan tiga orang anaknya.


''Sayang.. ayolah.. kita kerumah sakit ya?'' Alisa menggeleng.


Ia masih berusaha menahan rasa sakit saat sakit itu mendera perut bagian bawahnya yang begitu sakit.


''Huuffttt... nggak! Aku tidak mau kerumah sakit jika kamu ingin aku operasi! Lebih baik aku melahirkan dirumah saja! sssttt... huffftt.. huffftt..'' kata Alisa pada Gilang.


Gilang menyerah jika Alisa sudah seperti ini. Dia tidak tau harus membujuk Alisa dengan cara apalagi.


''Huffftt... huffftt.. huffftt.. bawa aku kerumah sakit untuk bersalin secara normal jika kamu ingin melihat aku selamat!'' ucap Alisa sambil mengelus perutnya yang semakin turun ke bawah.


Ia dapat merasakan jika kedua buah hatinya akan segera keluar. Sebenarnya sudah dari kemarin Alisa merasakan mulas di perutnya.


Tapi Alisa tau, jika itu belum saatnya. Dan pagi ini benar-benar terasa setelah tadi subuh Gilang meminta lagi haknya untuk menjenguk buah hati mereka.


Alisa tidak bisa melarang, karena itu haknya. Lagi pun belum sakit parah. Hanya nyeri-nyeri di pinggang saja.


Gilang mengangguk, ''Oke. Alhamdulillah jika kamu mau ke rumah sakit. Akan aku hubungi dokter Indah dan bidan Mutia. Mereka harus standby sebelum kita tiba disana,'' imbuh Gilang.


Setelah selesai, Gilang segera menggendong Alisa untuk turun ke bawah. Ngeyel nya Alisa, ia tetap bertahan di kamar atas padahal Gilang sudah mengingat kan nya.


Pelan-pelan Gilang turun tangga satu persatu. Takut jika Alisa nanti terjatuh dari gendongan nya.


Lana yang melihat Gilang kepayahan segera membantu nya. Mereka berdua membopong Alisa pelan-pelan untuk turun ke bawah.


Tiba di bawah, Ira dan Annisa sudah menunggu mereka. Sementara Rayyan sedang menginap dirumah Oma Dewi.


Oma Dewi dan Opa Angga sudah terlebih dahulu menuju rumah sakit saat tadi Gilang menghubungi mereka.


''Ayo, Pi! Mobilnya udah kakak panaskan!'' kata Ira.


Gilang mengangguk. Dengan segera ia membuka pintu belakang dan menurunkan Alisa.


Susah payah Alisa masuk ke mobil, sampai Lana terpaksa harus mengangkat pan*at Mak nya untuk segera masuk.


Setelah itu ia tertawa. Begitu juga dengan Ira. Alisa terkekeh, tapi tidak dengan Gilang, wajah itu pucat pasi.


Mereka paham apa yang sedang di alami Gilang. Begitu juga dulu dengan ayah Emil. Serangan panik, tapi Gilang berbeda.

__ADS_1


Ia hanya diam dengan bibir terus memucat. Lana terus berusaha berbicara padanya agar serangan panik itu berkurang.


Dan ya, berhasil. Alisa menghela nafas lega. Dua puluh menit mereka tiba dirumah sakit Ibu dan anak.


Disana sudah ada Oma Dewi dan Opa Angga yang sedang cemas menunggu kedatangan Alisa.


Melihat mobil Gilang memasuki pekarangan rumah sakit, dengan cepat Oma Dewi berlari. Ia menyuruh dua orang perawat laki-laki untuk mendorong bangkar yang sudah ia siapkan.


Gilang membuka pintu dengan terburu-buru. Hampir saja ia terjungkal karena menabrak bangkar yang di dorong tergesa oleh dua perawat itu.


Ingin tertawa sebenarnya, tapi mengingat Alisa yang sedang sakit mereka tidak jadi tertawa.


Dengan sigap Gilang membopong Alisa dan merebahkan nya di bangkar.


Pyaar..


Alisa terdiam. Ia terdiam rasa meringisnya. Ia merogoh baju bagian bawahnya. ''Basah! Aku mau melahirkan! ssssttt.. huffftt.. huffftt.. eeeegghhh...'' serunya dengan terus mengejan.


Oma Dewi dan Gilang panik bukan main. ''Ya Allah sayang! tunggu dulu! Jangan disini! Tahan dulu itu si kembar agar tidak lahir di jalan begini!'' seru Gilang dengan panik.


Lana tertawa begitu juga dengan Ira. Saat ini ia sedang menggendong Rayyan. ''Hahah.. mana ada bisa ditahan Papi! Keluar ya keluar atuh...''


''Hahaha... Papi ada-ada saja!'' kata Lana ikut menimpali


''Lebih cepat lagi, menantu saya akan melahirkan ini. Dokter Indah! Bidan Mutia!'' Seru Mama Dewi dengan berjalan cepat mengikuti bangkar Alisa yang seperti berlari.


Kedua orang yang dipanggil segera keluar. Dengan cepat, mereka berdua membawa Alisa keruang bersalin.


Hanya Gilang yang di izinkan untuk masuk. ''Kita periksa dulu ya?'' kata bidan Mutia.


Dan saat ia ingin memeriksa jalan lahir Alisa, kepala salah satu bayi Alisa sudah menyembul.


''Astaghfirullah! Bayinya mau keluar!'' serunya dengan panik.


Gilang terdiam, ia linglung seperti orang bingung.


''Gilaaaangggg... eeeegghhh...''


Deg!


''Sa-sayang!''


💕💕💕💕💕

__ADS_1


Noh.. baby twins akan launching tuh.. siapkan kembang yang banyak ya untuk mereka? 😁😁


__ADS_2