Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Hidup masing-masing


__ADS_3

Setelah Raga pergi, kini Hendra dan pak Kosim yang pergi. Hendra tak sempat melihat seperti apa rupa Gilang.


Karena teringat akan perkataan Raga tadi, Raga bersedia membayar biaya untuk pengobatan Lana.


Suami sah secara hukum Alisa, belum secara agama. Alisa jatuh terduduk di tepi bangkar Gilang.


Sangat sakit melihat orang yang kita cintai menangis di hadapan kita. Inilah yang dirasakan Gilang sekarang.


''Sayang...'' panggil Gilang dengan lirih.


Alisa mendongak. ''Hiks, aku harus apa Gi? Putra ku menolak mu! Apa yang harus aku perbuat? Agar putraku mau menerima mu? Hiks, hiks..'' ucap Alisa. Ia terisak sembari menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


''Aku tau putra ku itu seperti apa sayang.. dia hanya sedang terluka.. dia kecewa karena harus menyaksikan pernikahan Papinya dengan orang lain.. bukan dengan mu.. aku tau putra ku itu Lis! Jangan khawatir, ya? Aku yakin, jauh di lubuk hatinya ia juga menginginkan keberadaan ku. Semua yang dia katakan hanya untuk menutupi luka hatinya... aku tau putraku seperti apa Lis.. dia hanya kecewa... hiks..'' lirihnya begitu pelan.


Gilang juga terisak ketika mengingat Lana. Alisa semakin tersedu di tepi bangkar Gilang. Sekarang ia sudah duduk di kursi di tepi bangkar Gilang.


Dengan kepala ia sungkupkan pada kedua tangannya di atas bangkar Gilang. Gilang pun ikut menangis melihat pujaan hatinya tersedu seperti itu.


''Sa-sayang.. dengarkan aku! Walaupun aku menikahinya, tapi aku tetap mencintai mu! Cintaku tak pernah terbagi dengannya.. Kamu istri pertama ku Lis, sedang Vita.. dia istri kedua ku. Jadi jangan khawatir ya? Demi harus menepati janjiku kepada kedua orang tuaku, aku rela perasaan ku terluka karena harus menikahi nya.'' Imbuh Gilang, masih dengan mengusap kepala Alisa.


Kemudian Gilang melanjutkan lagi. ''Aku akan tetap menjalani tugasku sebagai seorang suami, baik itu padamu, ataupun kepadanya. Tapi tidak untuk nafkah batin. Jika kau tidak ku berikan, maka Vita pun tidak ku berikan. Aku harus adil kepada kalian berdua. Walau aku tau, kau belum sah untuk ku sentuh, sedang Vita sudah sah untuk ku sentuh. Tapi aku harus menjaga hati kalian berdua.. berat bagiku Lis menjalani semua ini.. namun, aku bisa apa? Jika memang seperti inilah takdir yang harus aku jalani..'' lirih Gilang lagi.


Alisa mendongak dan menoleh pada Gilang. Sedangkan seseorang diluar sana berdiri mematung mendengar ucapan Gilang.


Bagai di tusuk sembilu tajam langsung tepat mengenai jantungnya. Vita tersentak saat mendengar, jika ia adalah istri kedua, sedang yang di dalam istri pertama.


''Ja-jadi a-aku pe-pelakor??'' gumamnya terbata pada diri sendiri.


Tadi pada saat ia berlari kebelakang rumah sakit, tak sengaja mendengar ucapan mertuanya yang mengatakan, jika mereka akan mencari Alisa agar bisa menghukum wanita itu karena telah membuat putra nya kecelakaan karena putra Alisa.


Vita terkejut saat mengetahui itu, belum lagi sekarang jika wanita yang di cintai Gilang sedang bersama nya.


''Nggak! mereka nggak boleh tau! aku harus cepat sebelum mereka! bisa gawat nanti! aku bisa menikah dengan Gilang saja aku sudah bersyukur ia menerimaku, walaupun cinta itu sudah tidak menjadi milikku! tapi aku seorang wanita. Aku paham akan hal itu! Sebaiknya aku harus menemui mereka, dan menyuruh wanita itu pergi sebelum semuanya terlambat.'' gumam Vita pada diri sendiri.

__ADS_1


Setelah nya ia berlari sekuat tenaga ke kamar Gilang. Tiba disana, ia terkejut mendengar ucapan Gilang yang begitu menusuk hatinya.


Niat hati ingin melerai malah mendengar ucapan yang begitu menyakitkan. Vita menahan bulir bening yang akan mengalir ke pipi nya.


''Tapi aku tidak bisa Gi.. kamu sudah menjadi milik orang lain.. sebaiknya kita hidup masing-masing saja setelah ini. Aku tak mau mengganggu hubungan mu dengan istri sah mu! Dia berhak bersama mu! Kamu harus bisa membuatnya nyaman dan bahagia ketika berada di sisi mu. Bisakan Gi?? Aku tau, dia juga sama seperti diriku. Kami wanita lemah Gi! Aku mohon, jangan menolak keberadaan nya. Bukankah dulu kamu pernah mengatakan, jika suatu saat terjadi sesuatu padamu, maka itu adalah takdir yang harus kamu jalani? Masih ingat?? Dan ya, inilah takdir mu! Takdir mu dengan nya! bukan dengan ku! Pahamilah posisi ku Gilang.. bukan aku tidak mencintai mu.. tapi memang ini yang harus kita jalani. Jalani takdir mu GI.. jika memang kita ditakdirkan untuk bersama, sejauh apapun kita melangkah, tak tau sesulit apapun, maka ia akan menemukan kita karena memang itulah takdir kita!'' jelas Alisa panjang lebar.


Membuat Gilang semakin tersedu. Begitu juga wanita diluar sana. Ia jatuh terduduk karena mendengar ucapan dari wanita yang ia tau jika wanita itu adalah istri pertama Gilang.


''Alisa... sayang.. aku mohon.. jangan pergi dariku.. aku tak bisa hidup tanpa mu.. aku bertahan selama ini karena mu.. aku mohon jangan tinggalkan aku..'' pinta Gilang dengan harap.


''Aku tidak akan meninggalkan mu GI.. jika bukan kamu yang meminta nya.. aku akan tetap disini. Dihati dan pikiran mu.'' sahut Alisa dengan menyentuh kepala dan dada Gilang sambil terus menangis.


Gilang dan Alisa sama-sama menangis. Vita begitu tersentuh dengan ucapan Alisa. ''Aku berjanji Mbak.. aku tak akan merebut Gilang dari mu.. tapi aku akan menjadi istri yang baik untuknya. Jika tugasku sudah selesai bersama nya, maka aku akan pergi. Tapi sebelum itu aku menginginkan bagian dari diri Gilang ada bersama ku, sebagai penebus rasa bersalah ku pada nya. Maaf Mbak.. bukan egois, tapi inilah tujuanku ingin menikahi Gilang. Karena kesalahan dimasa lalu, membuatku sangat bersalah padanya. Hiks, aku berjanji, setelah tugasku selesai, aku akan pergi dari hidup Gilang. Aku akan pergi dan meninggalkan bagian dari diriku dan Gilang padamu nantinya. Aku berjanji Mbak!'' ucap Vita di balik pintu yang tertutup sedikit.


''Kamu janji kan sayang?? Kamu nggak bohong kan??'' tanya Gilang, dengan menggenggam tangan Alisa.


''Ya, aku berjanji pada mu! Aku tidak akan pergi dari mu jika bukan kamu yang meminta nya.. sekarang kita harus hidup terpisah. Kamu dengan kehidupan mu, dan aku dengan kehidupan ku. Kita harus menjalani takdir ini. Aku harap, kamu menerima.. siapa tadi namanya??'' tanya Alisa dengan bingung.


Gilang terkekeh. ''Vita.''


Sedangkan Gilang berdecak. ''Sayang...''


Alisa tertawa. ''Kamu suaminya Gi.. kamu harus bisa menuntun nya kejalan yang benar! Jangan sia-sia kan gadis sepeti nya..'' lirih Alisa dengan wajah sendu.


Sedangkan Vita, semakin tersedu mendengar ucapan Alisa. ''Maaf dan terimakasih Mbak.. aku sayang sama Mbak.. aku janji, suatu saat aku bertemu dengan mu, aku akan mengucapkan ribuan terimakasih padamu karena telah sudi menerima madu seperti ku didalam pernikahan mu...'' lirih Vita lagi.


''Pakai ini!'' titah Gilang.


''Apa ini??'' sahut Alisa dengan wajah bingung.


''Pakailah! mulai sekarang, apapun yang aku berikan kepada Vita, maka kamu juga mendapatkan nya! Aku harus adil bukan??'' ledek Gilang.


Alisa tertawa. ''Ya, ya, ya! terserah anda tuan Gilang! Aku mah apa atuh..??''

__ADS_1


Sekarang gantian Gilang yang tertawa begitu juga dengan Vita. Ia terkekeh di balik pintu yang tertutup sedikit.


''Tadi pagi aku memakaikan cincin padanya sebagai mahar pernikahan kita. Dan sekarang aku memakaikan cincin ini, sebagai pengikatmu, agar kamu selalu ingat, jika aku adalah suami mu! Pemilik sah dari dirimu! Sekarang pakai!'' titah Gilang.


Alisa tersenyum. Gilang mengambil jari manis Alisa sebelah kanan untuk di pakaikan cincin biasa tapi sangat cantik ketika Alisa yang memakai nya.


''Cantik!'' celutuk Gilang.


Membuat Alisa memutar bola mata malas. ''Vita bahkan lebih cantik jika memakai cincin ini!'' sahut Alisa lagi.


''Sayang...'' rengek Gilang dengan sedikit mendelik.


''Apa?? Vita juga kan istrimu?? Apa? ingin melupakan status istri yang lain karena sedang bersama ku begitu?!'' ketus Alisa pula.


Gilang tergelak, tak lama setelahnya ia meringis menahan sakit. ''Ssssttt.. berjanjilah padaku, walau apapun yang terjadi padaku, jangan pernah tinggalkan aku ya? Karena aku akan mati tanpamu!''


''Hidup dan mati itu milik Allah, bukan milik kita! Aku hanya manusia biasa, jika aku menjadi penyemangat untukmu, berarti aku ini istimewa bukan??'' sahut Alisa dengan sedikit jumawa.


Gilang tertawa begitu juga dengan Vita. Tak lama, tubuhnya menegang kala melihat dua pasang paruh baya sedang berjalan mendekati nya.


Ia bangkit dan mencegat empat orang itu dengan sedikit mengeraskan suaranya. ''Mama!!! Papa!!!'' pekik Vita


Membuat kedua orang di dalam ruangan itu terkejut.


Deg.


Deg.


Deg.


💕


Hayo... ketemu nggak nih kira-kira sama tuh Mama mertua??

__ADS_1


Ikuti terus kelanjutannya!


TBC


__ADS_2