Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Henna


__ADS_3

Gilang masih saja bercakap-cakap dengan Alisa saat ia menyadari jika mobilnya belum ia matikan di luar sana.


''Astaghfirullah! Mobilku belum mati!" pekik Gilang dengan segera ia berlari keluar dan mematikan dua mesin yang hidup sedari tadi.


Alisa terbengong melihat nya. Setelah nya ia terkekeh-kekeh.


Ia juga mengunci pintu pagar mereka. Karena ketiga pegawai salon itu akan menginap dirumah mereka.


Mereka bertiga memang sengaja di sewa Gilang untuk perawatan tubuh Alisa. Mulai dari luluran, pijat hingga melukis Henna di tangan Alisa nantinya.


Mengingat Henna, Gilang dengan segera ia menghubungi Mama Dewi untuk menanyakan apakah sudah siap atau belum.


Mama Dewi bilang, Jika Henna sudah jadi. Sekarang sedang dalam perjalanan diantar oleh Andi dan Pak Kosim.


Gilang kembali ke dalam saat mendengar suara deru mesin mobil berhenti di luar.


Sementara dirinya sudah Sampai didalam, ia terpaksa menyuruh salah satu pegawai salon untuk mengambil Henna itu.


Setelah mengambil Henna itu dari Andi, Pak Kosim segera melajukan mobilnya untuk kembali ke kediaman keluarga Bhaskara.


Sementara dikamar Alisa dan Gilang, pegawai salon yang bernama Indah itu ingin mengukir Henna itu sekarang juga.


"Maat Nyonya, tuan, boleh saya masuk?"


"Ya, masuklah!" Sahut Gilang.


Saat ini Gilang sedang berdiri dihadapan cermin. Menyisir rambut karena baru saja berganti pakaian.


Alisa mengalihkan pandangannya ke arah lain. Gilang terkekeh geli. Ia tak perduli. Baginya kamar itu juga kamarnya.


"Maaf mengganggu, tuan, Nyonya. Saya ingin mengukir Henna ini di tangan Nyonya." ucap indah pegawai salon.


Alisa menoleh pada Gilang. Gilang tersenyum dan mengangguk. "Terima saja! Jangan di tolak! Itu aku yang menyuruh nya."


Alisa memicingkan matanya. "Maksudnya apa nih? Pakai henna segala yang kayak mau nikah aja!" ketus Alisa.

__ADS_1


Ia masih kesal karena tau jika Gilang akan menikah tiga hari lagi. Gilang terkekeh kecil melihat Alisa cemberut.


"Pakaikan saja, Mbak! Ini perintah!" tegas Gilang.


Alisa melengos lagi. Hatinya sangat kesal saat ini. "Bisa nanti saja sehabis isya? Ini sudah mau ashar loh.. nanggung!"


Indah tersenyum, " Baik. Kalau begitu saya tinggalkan ini disini ya Nyonya. Ini khusus untuk anda. Dari Suami dan kedua orang tua anda!"


"Apa maksud mu?" Indah mengulum senyum.


"Saya permisi Nyonya. Habis isya baru saya dan dan teman saya akan datang lagi kesini. Untuk sekarang kami istirahat dulu. Bolehkan tuan?" tanya Indah sembari melirik Gilang yang sedang fokus pada ponselnya.


"Ya, istirahat lah! Kamar tamu ada di bawah." Sahut Gilang tanpa menoleh pada gadis itu.


Gadis itu tersenyum. Dengan segera ia berlalu meninggalkan kamar Alisa, sebelum pergi, ia menatap figura besar yang ada di kamar itu.


"Sangat serasi! Dan Romantis!" celutuk nya. Dengan segera ia pergi meninggalkan kamar Alisa dan Gilang.


Dengan Alisa yang masih merajuk padanya. Gilang tau itu. Dengan segera ia mendekati pujaan hatinya itu dan duduk berhadapan dengan nya.


Gilang tersenyum, "Kesal Kenapa? Emang aku buat salah apa sama kamu?"


"Ck! Udah tau masih nanya! Awas sana! Belum sah!" ketusnya lagi.


Gilang tertawa. "Sebentar lagi kamu akan sah menjadi istriku. Dan aku berhak melakukan apapun padamu!" imbuh Gilang serius.


Alisa menoleh menatap Gilang. Gilang tersenyum. "Persiapkan dirimu! Tiga hari dari sekarang kita akan menikah. Tidak dirumah tapi di hotel milik Keluarga Bhaskara Group. Mama yang menginginkan ini. Menikah saja tanpa ada yang lain lagi." imbuh Gilang dengan tersenyum smirk melihat wajah Alisa yang kebingungan.


"Kita? Menikah? Tiga hari lagi? Jadi yang kemarin itu..." Alisa membulatkan matanya menatap Gilang.


Gilang tertawa lagi. Puas sekali ia menggoda Alisa. Kesal, ia timpuk Gilang dengan bantal berulang kali.


Puas sekali hari ini, ia menggoda Alisa. Lelah dengan adu tempur sama bantal, Alisa jatuh terkapar Karena kelelahan.


Gilang hanya bisa tertawa saja melihat pujaan hati nya itu. "Aku tidak akan menikahi perempuan lain, sementara ada kamu di sisiku. Kalau pun Suatu saat nanti kamu pergi meninggalkan ku, maka aku pun ikut dengan mu. Aku tidak ingin berpisah dengan mu. Kamu segalanya bagiku. Alisa.." lirih Gilang di telinga Alisa

__ADS_1


Alisa diam tidak menyahuti ucapan Gilang. Karena ia sendiri sudah terlelap. Akibat obat yang diberikan oleh Gilang tadi.


Gilang tersenyum melihat pujaan hatinya itu. Tak ada kata bosan, setiap kali memandangi Alisa yang sedang tertidur.


Selepas isya, Gilang sudah bersiap dikamar nya dengan membentang sebuah ambal tebal yang sengaja ia pesan dari Andi tadi sore.


Mengingat malam ini Alisa akan diukir Henna di tangan nya, pasti lah ia tidak akan mau tidur di ranjang. Takut kotor katanya.


Gilang sudah bisa menebak itu. Indah dan kedua teman yang lain masuk ke kamar utama milik Gilang dan Alisa setelah mendapatkan izin dari Gilang.


Selaku tuan rumah dan suami Alisa. Alisa sudah duduk menyender di tepi dinding saat kedatangan indah dan dua temannya yang lain.


"Sudah siap Nyonya?''


Alisa mengangguk. Saat ini ia menggenakan baju lengan pendek sebatas siku agar mempermudah untuk Indah mengukir Henna di kedua tangannya.


Gilang duduk di sebelah Alisa dengan tangan sibuk memegangi laptop yang ada dipangkuan nya.


Ia tak peduli dengan ke empat orang itu yang terus berbicara ngalor ngidul bersama Alisa. Ukiran Henna itu terus memenuhi kedua tangan Alisa.


Selesai dengan tangan, sekarang kaki Alisa yang akan di ukir. Gilang melihat sekilas. Namun buru-buru ia mengalihkan pandangan nya ke laptop lagi.


"Hadeuhhh..baru kaki saja aku sudah panas dingin begini. Gimana kalau semuanya? Ck! Lima tahun puasa, ya begini jadinya. Apa nggak berkarat ya pusaka ku ini," gumam Gilang dalam hati ketika melihat kaki mulus Alisa membuat darahnya berdesir dan tubuhnya menjadi panas dingin.


Ia sesekali melirik Alisa yang terus saja berbicara pada ketiga gadis muda itu. Gilang tersenyum melihat Alisa yang begitu luwes terhadap sesama.


Tidak sombong walau sudah memilki harta banyak. "Kamu satu dari seribu wanita yang ada di dunia ini Lis.. sangat sulit mencari wanita idaman sepertimu! Aku tidak akan berpaling ke lain hati. Hatiku hanya untukmu. Aku akan meminta sama Allah, agar Allah mengunci hatiku hanya untuk mu saja. Istriku. Ya.. walaupun nanti banyak godaan yang datang di dalam rumah tangga kita. Percayalah, hanya kamulah tempat aku berpulang. Tempat terakhir dimana aku melabuhkan hatiku. Alisa Febriyanti."


💕💕💕💕


Maaf ya kemarin othor nggak update. Tapi tenang.. udah othor gantikan dengan tiga bab panjang-panjang.


Sampai keriting nih jari othor.


Boleh dong hadiahnya? Biar othor tambah semangat? 😉

__ADS_1


Hihihi...


__ADS_2