Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Shock berat


__ADS_3

Lagi, Papa Yoga terkejut. ''Lima tahun yang lalu?'' tanya Papa Yoga masih dengan menatap Gilang. Tapi wajahnya begitu kentara terlihat jika beliau begitu terkejut mendengar ucapan Gilang.


Gilang tersenyum dan mengangguk. ''Ya, lima tahun yang lalu saat usia Gilang masih delapan belas tahun, Papa.'' Sahut Gilang masih dengan tersenyum manis.


''Apa?!'' pekik Mama Alina. Mama Alina berdiri dibelakang Papa Yoga menatap Gilang dengan wajah terkejut.


Gilang tersenyum melihat wanita paruh baya berdiri dengan tubuh bergetar di belakang Papa Yoga.


Ia beranjak mendekati Mama Alina dan mengulurkan tangannya untuk menyalami Mama Alina.


''Assalamualaikum, Mama? Apa kabar?'' ucap Gilang, ia membawa wanita paruh baya itu duduk di sebelah nya.


Wanita tua itu begitu terkejut dengan fakta yang baru ia dengar. ''Jadi.. kamu Gilang? Papi yang sering di ceritakan oleh Abang?'' tanya Mama Alina menatap mata Gilang dengan sayu.


Terlihat mata tua itu begitu merindukan Alisa. Ia hanya bisa bertanya kepada adik iparnya tentang Alisa, tidak berani berbicara pada Alisa secara langsung.


Takut Papa Yoga marah jika tau, selama ini Mama Alina sering mengirimkan uang untuk Alisa disana.


Gilang terkekeh melihat reaksi dua paruh baya yang berada di hadapan nya ini. Gilang menatap dua paruh baya, yang begitu mirip dengan Alisa.


Tapi Alisa begitu mirip dengan Papa Yoga. Hanya mata dan bibir saja yang mirip dengan Mama Alina.


Melihat itu Gilang terkekeh. ''Kenapa kamu tertawa seperti itu?! Jelaskan dulu apa maksudmu tadi?''


''Yang mana, Pa?'' sahut Gilang pura-pura bingung.


''Tadi kamu bilang, jika kamu sudah menikahi Alisa sejak lima tahun yang lalu secara hukum? Bagaimana bisa?! Sedang aku Papa nya saja tidak menikahkan nya?! huh?! Jelaskan! tanpa ada yang di tutupi!'' tegas Papa Yoga, begitupun mama Alina mengangguk setuju.


''Setuju! Ayo kita masuk kedalam rumah. Bawa serta itu .. siapa? Pengawal mu kah?'' tanya Mama Alina dengan sedikit kebingungan menatap dua orang di belakang Gilang.


Gilang terkekeh, Andi dan Pak Kosim maju untuk bersalaman dengan dua paruh baya yang menatap bingung kepada mereka berdua.


''Saya Andi, Pak! Asisten Bos Gilang di kantor!'' ucap Andi mengenalkan dirinya pada Papa Yoga.


Papa Yoga terkejut lagi, kembali ia menerima uluran tangan dari Pak Kosim. ''Saya supir pribadi den Gilang nggak hanya sekarang, tapi sedari dulu saya lah yang jadi supir pribadi keluarga Bhaskara.'' Ucapnya, masih dengan tersenyum ramah.


Dada Pak Yoga terasa sesak saat mendengar penuturan Pak Kosim. Papa Yoga memandang Gilang dengan wajah piasnya, membuat Gilang tertawa.


''Jangan terkejut Papa. Inilah aku. Gilang Bhaskara, suami sah secara hukum Alisa sejak lima tahun yang lalu. Sebelum aku berangkat ke luar negeri untuk menuntut ilmu. Ayo Pa, Ma. Kita bicara di dalam. Tidak enak di dengar tetangga. Tuh lihat, udah banyak tetangga yang melihat kita loh..'' imbuh Gilang, dengan segera ia bangkit dan menggandeng dua paruh baya yang sedang membeku itu karena ucapan Gilang tadi.


''Andi, bawa pakaian saya masuk ke kamar Alisa. Bapak juga ya? Kita masuk dulu! Nanti Gilang jelaskan di dalam ya?'' imbuhnya, dengan segera mengajak paruh baya itu untuk masuk kedalam.


''Baiklah..'' sahut Papa Yoga pasrah saat di gandeng Gilang untuk dibawa masuk kedalam rumah Alisa.

__ADS_1


Gilang masuk sebelumnya ia melepaskan sepatu nya. Ia meletakkan di sudut di tempat sepatu milik Papa Yoga.


''Duduk, Nak. Mama ke dapur dulu buat minum sama Makan siang kalian. Kebetulan kami belum makan, kita makan dulu ya? Jangan menolak!'' tegas Mama Alina.


Gilang terkekeh melihat tingkah Mama Alina yang sibuk ingin menjamu mereka. Gilang menatap Papa Yoga yang juga sedang menatapnya.


''Pa.. Gilang izin ke dapur ya? Bantu Mama?''


''Eh? Nggak usah? kamu disini saja! Jelaskan dulu sama Papa, eh? ehm.. apa maksudmu dengan mengatakan jika Alisa sudah sah menjadi istrimu?''


Gilang tersenyum lagi. ''Baik, kita tunggu Mama saja ya? Biar sama-sama mendengar nya.''


Mereka terdiam setelah ucapan terakhir dari Gilang. Sepuluh menit kemudian, Mama Alina tiba disana dengan membawa banyak makanan.


Gilang yang melihatnya bangkit dan membantu wanita paruh baya itu. ''Loh, kamu duduk saja. Kita makan dulu. Baru setelahnya kita berbicara. Papa!''


Papa Yoga menghela nafas panjang. ''Baiklah Mama ..'' lirih Papa Yoga pasrah.


Gilang terkekeh, setelah nya mereka makan bersama karena waktu sudah menunjukkan pukul satu lewat dua puluh menit.


Selesai makan, Gilang izin melaksanakan sholat dhuhur di kamar Alisa. Mama Alina mengijinkan.


Begitu juga dengan Andi dan Pak Kosim. Mereka sholat berjamaah diruang tamu rumah Papa Yoga dengan Gilang sebagai imamnya.


Lima belas menit berlalu, kini Gilang sudah duduk di antara dua orang paruh baya yang sedang menunggu penjelasan nya.


Wajah Gilang begitu serius saat ini. Papa Yoga terdiam melihat raut wajah Gilang. ''Jelaskan!'' titah Papa Yoga.


Gilang menghela nafasnya. ''Waktu pertama kali Gilang bertemu dengan Alisa, saat itu Alisa sudah bercerai dari bang Emil!''


''Apa?!'' pekik Papa Yoga.


''Ma-maksud nya?'' tanya Mama Alina.


''Sebenarnya waktu itu...'' Gilang menceritakan semuanya kepada dua paruh baya itu, bagaimana dan seperti apa saat pertama kali bertemu Alisa.


Ia tidak akan menutupinya lagi. Mulai dari ia melihat Alisa sampai ia ingin melamar Alisa. Hingga Lana dan Ira mengalami kecelakaan yang begitu membuat Alisa terpukul saat itu.


Gilang juga menceritakan jika dirinya sudah menikah, sesudah mendaftar pernikahan mereka ke KUA lima tahun yang lalu.


Ia ingin menikahi Alisa secara resmi, tapi Alisa menolaknya karena Papa Yoga. Juga sekarang ia kembali untuk mendengarkan persetujuan Alisa.


Ia menceritakan semua tanpa ada yang di tutupi nya. ''Maka dari itu, Gilang sengaja datang kemari karena permintaan Alisa. Ia ingin menikah, jika Papa mengizinkan nya untuk menikah lagi dengan Gilang. Tapi jika Papa menolaknya.. maka selamanya Gilang tidak akan mau menikah lagi..'' lirih Gilang dengan wajah sendu.

__ADS_1


Mama Alina begitu shock mengetahui fakta dari Gilang, jika Alisa sudah bercerai dari Emil pada saat anak ketiga mereka lahir enam tahun silam.


Begitu juga dengan Papa Yoga, wajahnya pucat pasi. Tubuhnya bergetar mendengar kabar mengejutkan yang disampaikan Gilang.


Bibirnya kelu untuk berbicara kepada Gilang. Ada rasa senang dihatinya saat tau jika Alisa sudah bercerai dari Emil.


Pemuda yang tidak pernah ia restui menikahi putrinya. Saat ini kedua paruh baya itu begitu shock.


Shock berat.


Mengetahui fakta yang selama ini disimpan Alisa hingga enam tahun lamanya. Ia menatap sendu pada Gilang.


''Bahkan, Alisa tidak berani untuk pulang kesini karena takut melihat Papa kecewa pada nya. Karena tidak menuruti perintah Papa dulu nya. Gilang sudah berulangkali membujuknya untuk ikut, tapi Alisa tetap tidak mau. Ia takut melihat kalian berdua terluka karena perlakuan nya dulu. Karena tidak mendengar kan ucapan kalian yang ternyata benar adanya..''


''Ya Allah.. putriku...'' lirih dua orang itu bersama an.


Papa Yoga dan Mama Alina menangis tersedu. Begitu juga dengan Gilang. Sedangkan Seseorang nan jauh disana bersin-bersin.


''Hatcccihhh.. hatcihh... hatcihh..''


''Mak pilek??''


''Eh? nggak.. cuma bersin aja.''


''Siapa ya kira-kira yang menyebutku terus menerus?'' Gumam Alisa.


💕💕💕


Mau lagi??


Besok ye!


Halo ha.. hari Minggu gini enaknya nya rebahan kali ya? Tapi othor nggak bisa! Hihi..


Sibuk nulis euuuyyy.. 🤣🤣


Mampir yuk di cerita temen othor yang satu ini! Cerita nya menarik loh..


Karya nya : Pipih Permatasari.



Like dan komen klean selalu othor tunggu! 😘😘

__ADS_1


Selamat menikmati akhir pekan...


__ADS_2