
Lana dan Gilang pulang dalam keadaan diam mereka berjalan beriringan hanya saja hati dan otak mereka tak beriringan.
Lana masih mengingat bagaimana ustad Dhanu memaksa dirinya untuk membujuk Alisa agar mau menerima dirinya sebagai pengganti ayah kandungnya.
Lana tak berani menatap Gilang.. karena wajah Gilang terlihat datar tanpa ekspresi menandakan bahwa dirinya sedang dalam keadaan tidak baik. Lana hanya melirik saja dari ekor matanya.
Masih terngiang pertanyaan ustad Dhanu yang membuat Lana tak bisa menjawabnya.
''Tunggu Lana.. apa kabar Mak mu sehatkan?? apakah ayah masih sering datang untuk menemui kalian?? Bagaimana tawaran ustad dua hari yang lalu apakah Lana bersedia jika ustad menjadi ayah sambung kalian??''
Gilang diam dia yang tadinya sedang bahagia tiba tiba dikejutkan oleh pernyataan ustad Dhanu membuat darahnya mendidih. Tapi ia masih bisa menahannya hanya saja ekspresi nya itu sulit dibaca.
Lana yang melihat perubahan pada wajah Gilang menjadi takut.. ia tak berani menjawab ustad Dhanu. Lana memandang Gilang tapi Gilang hanya diam tanpa ekspresi itu membuat Lana serba salah.
Maafkan Abang Om.. Abang nggak bermaksud menyembunyikan semuanya dari Om hanya saja Abang tidak berani berkata takut menyinggung perasaan Om.. Om tau ? jauh dalam hati Abang, Abang lebih menyukai Om Gilang daripada Ustad Dhanu.. tapi apakah Om bersedia menjadi ayah buat Abang..??
''Maafkan Abang ustad.. untuk sekarang Abang nggak bisa jawab karena keputusan nya ada ditangan Mak..
Abang nggak berani ikut campur.. sudah cukup selama ini Mak menangis.. jangan sampai kedepannya Mak mengalami hal yang sama lagi..'' Lana memandang Gilang yang juga memandang dirinya.
''Bukan maksud Abang menolak ustad hanya saja Abang nggak punya hak apapun untuk memutuskan bisa saja nanti Abang bilang mau sedang Mak nggak mau gimana?? kan Abang yang salah jadinya karena maksa Mak untuk menerima ustad.. sekali lagi maafkan Abang.. Abang gak berani maksa Mak buat Nerima ustad.. Abang mohon ustad...'' ucap Lana dengan wajah sendunya.
Ustad Dhanu yang melihatnya menjadi sedih karena sudah ditolak mentah-mentah sebelum berjuang.
Gilang menarik pulang Lana tanpa berbicara. Ustad Dhanu yang melihatnya pun jadi bingung ada apa dengan pemuda itu pikirnya. Padahal dirinya kan cuma Om nya doang. Apakah ada sesuatu yang dia tak tau pikirnya. Lebih baik bertanya pada pak RT saja ia kan lebih tau tentang masyarakat nya.
Ustad Dhanu bertekad ingin mencari tau tentang Gilang siapa sebenarnya pemuda ini karena baru kali ini ia melihatnya belum lagi ia datang bersama dengan putra Alisa, ini semakin aneh.
Disaat pulang ustad Dhanu mampir ke RT setempat ia berbincang sesaat sebelum bertanya tentang Gilang. Karena rasa penasaran nya yang sudah diubun ubun ustad Dhanu langsung saja bertanya.
''Maaf ni sebelumnya pak RT apakah bapak tau pemuda yang sekarang tinggal dirumahnya Alisa??''
''Mbak Alisa yang janda itu ustad??'
''Ya benar! kira kira bapak tau siapa pemuda yang datang bersama dengan putranya,
Lana ??''
''Seorang pemuda?? Setau saya Mbak Alisa cuma punya satu orang putra nggak ada yang lain bahkan ketika ia melaporkan bahwa dirinya akan tinggal di kompleks ini tidak ada seorang pemuda yang ikut dengannya??''
''Terus siapa kira kira pemuda itu?? Mengapa dirinya begitu dekat dengan putranya Alisa?? Saya jadi heran apakah mereka tinggal bersama??''
''Kalau untuk itu saya kurang tau ustad.. menurut saya mungkin itu sepupunya atau saudara jauhnya kan bisa saja kalau mbak Alisa sedang kedatangan tamu seperti dua hari yang lalu ada dua orang yang datang kerumahnya dan pada saat itu saya melihat sendiri bahwa mereka seperti sedang menjenguk Alisa karena banyak sekali barang bawaannya..''
Ustad Dhanu berpikir apakah pemuda malam itu adalah Gilang??
''Sebentar pak RT apakah pemuda itu masih sangat muda kira kira masih SMA kulitnya putih hidung mancung dan tubuhnya tinggi serta ada belahan tengah dirambutnya??'' ucapnya
''Loh loh kok ustad tau?? Memangnya ustad kenal dengan pemuda itu??'' tanya pak RT karena kebingungan
''Haah sudah kuduga..''
''Memangnya kenapa ustad??''
''Tidak apa apa pak RT, ya sudah hari sudah mulai malam sebaiknya saya pulang. Terimakasih pak RT atas informasinya. Saya permisi Assalamualaikum..''
Pak RT yang bingung melihat tingkah ustad Dhanu jadi heran '' waalaikum salam.... sebenarnya apa tujuan ustad Dhanu bertanya seperti itu apakah pemuda itu mengganggu' dirinya?? Atau apa?? Ah ya sudahlah jika memang ada sesuatu pasti aku akan mendapatkan kabar dari warga.'' ucapnya bermonolog sendiri.
Setelah pulang dari rumah pak RT ustad Dhanu berniat ingin menemui Alisa secara langsung tapi tanpa diduga ia melihat Lana dan Gilang sedang duduk di kursi mengahadap ke taman serta membelakangi jalan dimana mereka pulang. Mereka berdua tak menyadari jika ustad Dhanu berdiri tak jauh dari mereka.
Niat hati ingin berbicara lagi dengan putra pujaannya tapi malah rasa sakit yang ia dapat kan. Ia mendengar kan setiap ucapan Lana untuk Gilang yang membuat darahnya mendidih seperti terbakar.
__ADS_1
Panas!
Sakit!
Hancur!
Disaat yang bersamaan.. tetapi ia tetap bersabar dia mendengar kan apa yang mereka bicarakan.
Ustad Dhanu yang sudah tidak tahan mendengar pujian Lana untuk Gilang mendatangi mereka berdua.
''Ehem...''
Deg!
Mereka berdua saling pandang dan menoleh kebelakang betapa terkejutnya mereka berdua apalagi Lana wajahnya pucat pasi sedangkan Gilang merubah ekspresi nya menjadi datar kembali.
''Ustad Dhanu !!'' ucap mereka berdua.
''Ya ini saya kenapa kalian terkejut seperti itu??
Apakah ada sesuatu yang sedang kalian bicarakan??'' Ia menahan gejolak di dadanya agar tidak menghajar Gilang.
''Eng-enggak ada ustad kita hanya sedang berbicara saja berdua..'' ucap Lana dengan menunduk ia tak berani memandang wajah nya.
''Tentang apa??''
''I-it-itu te-tentang...'' Lana tak bisa menjawabnya ia memandang Gilang
''Kenapa Lana tak memberi kesempatan untuk ustad agar lebih dekat dengan Mak kalian?? Kenapa hanya Gilang saja yang kamu berikan kesempatan?? Apa bedanya kami berdua ?? Kami sama sama lelaki yang membedakan adalah saya sudah matang sedang dirinya masih muda! Apakah Mak kalian lebih menyukai yang muda??''
Deg!
''Apa yang anda inginkan ustad Dhanu?? mengapa harus memaksa Lana seperti itu?? Apakah anda tau jika perasaan itu tak bisa dipaksakan ??''
Ustad Dhanu mengepalkan tangannya ''Ya saya memang memaksa Lana untuk membujuk Mak nya agar mau menerima saya apakah ada yang salah??''
Gilang memandang Lana '' tak ada yang salah ustad.. keadaan lah yang membuat kita jadi seperti ini.. Apakah ustad pernah berfikir hubungan yang dipaksakan tidak akan pernah berhasil apalagi putra nya sendiri yang mengatakan bahwa dirinya tidak ingin memaksa, bukankah itu suatu penolakan secara halus?? Suatu hubungan pernikahan itu tidak hanya menyangkut kedua belah pihak tapi juga yang ikut bersama nya?? Apakah ustad sudah berfikir seperti itu sebelumnya??'' ucap Gilang
Ustad Dhanu diam '' Saya tidak memaksakan kehendak hanya saja saya memang ingin memilikinya apakah saya salah? Saya juga seorang duda mempunyai anak dua masih kecil sama seperti Lana maka dari itu saya ingin mempersunting Mak nya Lana untuk menjadi ibu sambung bagi anak anak saya.. Sebelum saya datang kerumahnya mereka alagkah baiknya saya tanya Lana dulu karena ini menyangkut juga tentang dirinya apakah Lana bersedia menerima saya menjadi ayah sambung untuk kalian??'' ucapnya mantap
Ddduuuuaaarrr...
Suara petir menggelegar dimalam gelap menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Bersamaan dengan itu Gilang terkejut, ia terkejut karena itu adalah sebuah lamaran yang ditujukan kepada Alisa melalui anaknya. Jantung Gilang berpacu dengan cepat ia memandang Lana yang juga memandangi dirinya.
Sedang ustad Dhanu tersenyum sinis melihat reaksi Gilang walau hanya diam tapi ia tau kalau Gilang terkejut.
''Bagaimana Lana? Apakah Lana bersedia?? Jika Lana bersedia maka malam ini juga ustad akan datang ketumahmu.'' ucapnya bangga seolah Lana menerima pinangan nya itu.
Lana masih diam ia tak berani mutuskan sesuatu yang menyangkut dengan masa depan Mak nya. Lana memandang Gilang sedangkan Gilang tersenyum diatas rasa takut yang mendera dirinya. Gilang mengusap kepala Lana dan tersenyum.
''Ayo bang .. dijawab.. Om nggak pa pa kok.. semua keputusan ada ditangan Abang.. apapun yang menjadi pilihan Abang Om tetap menghargainya..''
Lana yang mendengar Gilang berbicara seperti itu terharu, berarti pilihannya sudah tepat! Lana memeluk Gilang dan menangis ia mendongak melihat Gilang, ia tersenyum begitu juga dengan Gilang ia membalasnya dengan mengusap kepala Lana dengan sayang.
Interaksi Lana dan Gilang tak luput dari perhatian ustad Dhanu sesat ia merasa tak percaya diri melihat Lana begitu menyayangi Gilang terlihat seperti ayah dan anak saja.
Lana berbalik ia menghapus air matanya.
''Maafkan Abang ustad.. bukan maksud Abang menolak .. hanya saja jauh sebelum pertemuan Abang dengan ustad Abang terlebih dahulu sudah bertemu dengan Om Gilang..''
Lana menarik nafasnya '' sejak pertama kali Abang melihat Om Gilang Abang sudah menyukainya hanya saja Abang tidak berani mengatakan nya sama Mak Karna Abang tau Mak sedang dalam kondisi yang tidak baik jika hanya fisik masih bisa diobati tetapi disini hatinya lah yang terluka.''
__ADS_1
''Abang tetap berusaha meluluhkan hati Mak dengan cara Abang sendiri.. dan ustad tau? Mak Abang berhasil keluar dari rasa sakitnya.. sekarang Mak lebih sering tersenyum.. itu berkat siapa??''
''Siapa??'' tanyanya
''Om Gilang!! semenjak kehadiran Om Gilang dikeluarga kami, Mak lebih banyak tersenyum dibanding kan dulu lebih banyak diam dan termenung.. Om Gilang ibarat obat penyembuh bagi kami ia datang disaat yang tepat jika saja Om Gilang tidak ada mungkin Mak Abang seperti mayat hidup! Seperti raga tanpa nyawa! Abang selalu berdoa agar Allah membuka hati Mak lagi seperti dulu dan Alhamdulillah berhasil.''
Ustad Dhanu termangu mendengar ucapan Lana ia jadi memikirkan seberapa berat rasa sakit yang didapat oleh Alisa hingga Gilang lah yang menjadi perantara untuk mereka.
''Jadi??''
''Jadi.... Abang lebih memilih Om Gilang daripada ustad yang baru saja bertemu.. memang.. Om Gilang juga seperti itu tapi tak tau entah kenapa Abang seperti terikat dengan nya seperti kami sudah dipertemukan diwaktu lalu.. Abang juga nggak mengerti dengan perasaan ini yang jelas Abang mau Om Gilang yang jadi Papi untuk kami bertiga.. sekali lagi maafkan Abang ustad..''ucapnya seraya menunduk tak kuasa memandang wajah ustad Dhanu yang muram.
Gilang terharu ia memeluk Lana sambil menangis.. mengusap kepalanya dengan sayang.
Lama mereka terdiam hingga hujan gerimis kecil kecil menimpa tubuh mereka barulah mereka tersadar.
''Baiklah jika itu yang menjadi keputusan mu ustad menghargainya.. terimakasih atas kesempatan yang Lana berikan berapa hari ini pada ustad, untuk kedepannya ustad tidak akan memaksa Lana lagi.. dan untukmu Gilang.. selamat ya maaf jika saya terlalu menekan Lana.."
''Tidak apa apa ustad semua sudah ada jalannya hanya tinggal kita saja yang menentukan akan seperti apa jalan yang kita lalui itu.. kita tidak akan tau pada siapa hati ini berlabuh.. semoga ustad mendapatkan jodoh yang terbaik"
''Amiiinnn.. semoga saja terimakasih Gilang.. dan Lana setelah ini jangan sampai tidak mengaji lagi ya.. karena hal ini kita para lelaki harus profesional jika menyangkut pekerjaan benar tidak..??"
"Benar ustad tapi ... Abang kerja apa sama ustad??"
"Kamu bekerja sebagai murid ustad untuk mendapatkan pahala kelak yang akan kamu
serahkan kepada Mak mu nanti.. paham??.''
Lana nyengir "hehehe paham ustad".
Ustad Dhanu mengacak rambut Lana.
"Ya sudah ustad balik dulu ya kalian juga pulanglah hari sudah semakin malam belum lagi hujan deras sebentar lagi turun.. ayo buruan balik nanti basah.. Gilang besok jangan lupa belajarnya ya seperti biasa.." ia tersenyum kepada Gilang
"Insyaallah ustad.."
"Assalamualaikum..."
"Wa'alaikum salam...."
Aku tau aku bodoh tidak bisa berjuang..bohong jika aku mengatakan aku tidak menyukai Alisa tetapi aku tidak bisa memaksakan kehendak ku padanya.
Biarlah waktu yang menjawab semuanya..
Aku tidak tega melihat putra orang yang kucintai terluka karena diriku..biarlah aku mengalah asalkan mereka bahagia..
Aku yakin Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik untukku disana...
Semoga kalian berbahagia
Ustad Dhanu mengusap air bening yang mengalir di pipinya. Ia rela dan ikhlas jika memang itu yang menjadi keputusan Lana. Buat apa memaksakan kehendak jika nanti akhirnya terluka.
Biarlah ia yang mengalah asalkan mereka bahagia...
Semoga saja...
πΈπΈπΈπΈ
See you...
π€π€π€π€
__ADS_1