Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Maafkan aku, By...


__ADS_3

Masih dalam balutan selimut yang sama, Gilang masih saja ingin menyentuh Alisa. Wanita itu masih saja tertawa-tawa.


''Sayang? Mau lagi, boleh?'' tanya Gilang membuat Alisa yang sedang tertawa terdiam.


''Mau lagi? Bukannya kita baru saja ya melakukan nya?''


''Hehehe.. nggak enak kalau belum puas, tadi kamu asik tertawa-tawa saja. Aku jadi nggak konsen sayang. Tapi karena kepala bawahku semakin cenat cenut ya.. terpaksa dilanjutin lagi. Mau ya? Masih pingin.. tuh, coba kamu pegang. Udah berdiri lagi kan?'' ucap Gilang sambil menuntun tangan Alisa untuk menyentuh belalai gajahnya yang mulai beraksi lagi.


Alisa menghela nafasnya. ''Sudah ashar loh.. aku lapar. Sedari pagi belum makan. Baru bangun tidur udah dikasi makan jatah! Ck! Masa' iya sih, kayu laut itu nggak ada puasnya?!'' gerutu Alisa semakin kesal.


Padahal hatinya sedang bahagia saat ini. Ternyata yang ia inginkan terkabul. Ia ingin, Gilang menyusulnya ke kampung halaman.


Alisa kabur bukan tanpa tujuan. Ia punya tujuan tersembunyi dan hanya ia yang tau. Sedang Gilang yang akan mewujudkan nya.


Alisa tersenyum misterius. Gilang menatap nya dengan dalam. ''Sayang?''


''Eum?''


''Masalah kemarin itu, aku minta maaf. Aku tidak melakukan seperti yang terlihat Lis. Kamu salah paham padaku. Jika aku ingin melakukannya untuk apa aku menyusulnya sampai kesini. Aku punya saksi dan bukti untuk membuktikan hal itu kepada mu. Aku tidak melakukan hal serendah itu, Lis.. percaya padaku!'' pintanya dengan wajah sendu.


Sangat sakit kala mengetahui Alisa pergi tanpa pamit padanya karena hal itu. Alisa memegang wajah Gilang dan mendekat padanya.


Cup!


Cup!


Cup!


Cup!


Kecupan terakhir ia labuhkan pada bibir tipis Gilang yang semakin terlihat seksi di mata nya.


Alisa mengecup, memagut dan melumaaat bibir itu dengan lembut. Gilang ikut terbuai. Kedua tangannya sudah berpegang an pada tubuh polos Alisa.


Dirasa cukup, Alisa melepaskan pagutan itu. Ia tersenyum menatap Gilang yang masih menatap nya dengan dalam.


''Aku tidak marah padamu. Kesal? mungkin iya. Tapi semua itu hanya sebentar By. Rasa cintaku lebih besar daripada rasa kesalnya kepadamu. Aku percaya padamu. Tapi.. melihatnya dengan mata kepala sendiri itu lebih menyakitkan daripada sebuah gambar. Aku sudah merasakan hal yang sama seperti ini, By.''


Alisa menghela nafasnya. Kenangan tujuh belas tahun silam tiba-tiba saja memenuhi kepala nya.


Ia menatap Gilang dengan tersenyum lembut. ''Aku juga mendapati bang Emil juga berbuat sama seperti mu. Tapi bedanya ia tidak mengakui. Sedang kamu, sudah mengakui nya tadi. Aku belajar dari masa lalu, by. Masa lalu itu merupakan pelajaran untukku ke depannya jika aku berumah tangga lagi. Awalnya, memang sudah tidak percaya. Dengan gegabah aku mengambil keputusan untuk kabur dari rumah.''

__ADS_1


''Maaf.. maafkan aku By.. bukan maksudku pergi tanpa pamit darimu. Hanya saja.. saat itu aku memang benar-benar kecewa melihatmu dan gadis itu tidur di ranjang yang sama. Ya.. walau pun terlihat jelas jika sebenarnya wanita itu yang memeluk dan hampir mencium mu. Aku hanya takut saat itu. Takut, jika kamu akan meninggalkan ku sama seperti bang Emil. Dari pada aku ditinggalkan, lebih baik aku meninggalkan! Jika kamu memang sayang padaku. Pastilah kamu menyusul ku kesini. Maafkan aku By.. aku pergi tanpa pamit padamu...'' lirih Alisa dengan bibir bergetar.


Air mata itu jatuh di pipi mulusnya. Gilang mengusap air mata itu. ''Terimakasih, Karena kamu sudah percaya padaku. Tapi aku akan tetap membuktikan padamu, jika aku tidak melakukan hal seperti itu. Dan ya, ada satu kejutan lagi untuk mu. Mungkin saat ini, wanita itu sudah ada dibawah bersama keluarga kita! Ayo mandi besar dulu. Tak jadi aku meminta jatah lagi. Nanti malam sajalah kalau begitu. Saking pinginnya aku, Sampai lupa ngidupin alat peredam suara di kamar kita! Haisshh.. mau lah aktivitas kita tadi terdengar sampai keluar! Ck! Cup!'' ia mengecup lagi putik merah jambu yang semakin membengkak itu akibat ulahnya.


Alisa hanya tertawa saja. Dengan segera Gilang mengangkat tubuh chubby Alisa dan masuk ke kamar mandi.


Dua puluh menit kemudian, mereka baru keluar. Dengan Alisa yang berjalan agak perlahan.


Karena perut bawah dan pusat intinya lumayan sakit. ''Huffttt..'' ia membuang nafasnya untuk menahan rasa sakit di perut bagian bawahnya.


Gilang merasa kasian melihat Alisa seperti itu. ''Kita sholat dulu ya? Setelah ini aku akan panggil dokter atau bidan atau apalah. Yang penting kamu harus diperiksa. Jangan menolak sayang. Aku yakin terjadi sesuatu dengan mu..'' lirih Gilang dengan menundukkan wajahnya.


Alisa tersenyum, ''Ayo kita sholat. Aku duduk aja ya? Nggak sanggup berdiri aku. Sakit banget ini perutnya. Ssssttt.. kok aneh ya? Aku berasa perut ku ini keras loh.. kayak perut berisi janin? eh? Apa kau hamil ya? Hamil anak kita?!'' seru Alisa dengan wajah terkejut.


Gilang tersenyum, ia sudah bisa menebaknya. Tapi butuh kepastian dulu dari dokter ataupun bidan.


''Nanti saja itu. Kita sholat dulu sayang.. ayo!'' ajaknya lagi, Alisa mengangguk patuh.


Mereka berdua melakukan sholat ashar yang tertunda karena Alisa curhat tadi. Setelah selesai, ia baringkan Alisa di ranjang dengan kepala menyender pada kepala ranjang.


''Aku tinggal ya? Mau kerumah dokter dulu. Cup!'' Gilang mengecup kening Alisa


Gilang tersenyum, ''Tentu. Sebentar!'' Gilang turun setelah memastikan Alisa tetap di ranjang.


Tidak boleh bergerak sedikitpun. Gilang turun melewati kamar kedua anaknya. Dari atas sana sudah terdengar kehebohan karena ulah keempat anaknya.


Rayyan dan Lana yang lebih mendominasi. Tiba disana Gilang menyapa Papa Yoga dan Mama Alina.


''Pa, Ma?'' sapa Gilang pada dua orang paruh baya yang sedang tertawa terbahak melihat tingkah Rayyan.


''Eh? iya nak, ada apa? Alisa belum bangun?'' tanya Mama Alina.


Gilang tersenyum, ''Sudah Ma. Hanya saja...'' ucapan Gilang terhenti karena tuan Hamid baru datang dari luar di temani Andi sang asisten setia.


''Assalamu'alaikum..'' ucap kedua orang itu.


Mereka berdua berjalan mendekati Gilang dan anggota keluarga lainnya. Ia terkejut melihat Gilang yang sudah turun dengan wajah berseri. Berbeda dengan tadi pagi. Begitu pucat dan lesu.


''Tuan Gilang? Sudah enakan?'' tanya tuan Hamid sambil mendudukkan dirinya lesehan dilantai bersama yang lain.


Gilang tersenyum, ''Alhamdulillah sudah tuan. Tuan dari mana? Kenapa banyak sekali paper bag seperti ini? Habis borong baju kah?''

__ADS_1


Tuan Hamid tertawa. ''Ya, betul sekali. Tadi saya ingin keluar dan jalan-jalan. Saya ajak Tuan Andi untuk menemani saya. Ya.. seperti inilah kejadian nya. Saya jadi Mak Mak gila belanja. Lihat barang antik, lansung saja di beli!'' ucap tuan Hamid dengan terkekeh-kekeh.


Gilang tertawa. ''Ada ada saja tuan ini. Oh iya Pa! hampir saja lupa! Disini mana ada dokter Pa? Alisa sedang sakit perutnya. Makanya sedari pagi ia tidak turun untuk makan. Dan saat Gilang masuk tadi ia sedang tertidur lelap. Ayo, Pa. Temani Gilang untuk menemui dokternya. Kakak! ambilkan makan untuk Mak. Tadi katanya sangat lapar! Ayo!'' ucap Gilang dengan terburu-buru.


Ia jadi panik sendiri. Padahal tadi di kamar ia begitu tenang. Eh, tak tau nya ia sudah panik saat melihat Alisa meringis menahan sakit tadi.


Papa Yoga dan Mama Alina terkejut. ''Ya, ayo.'' ajak Papa Yoga.


''Tunggu nak! Biarkan Papa saja yang menyusul dokter Andini. Kamu disini saja. Alisa lebih membutuhkan mu saat ini. Ayo, temani istrimu. Biar Mama yang ambilkan makanan nya. Papa! Ayo cepat!'' titah Mama Alina semakin panik.


Papa Yoga mengangguk patuh. Dengan segera ia berlari keluar dan mengendari motor tuanya ke rumah dokter Andini, sepupu Papa Yoga.


Sementara Gilang menoleh pada tuan Hamid dan Andi. ''Tuan istirahat lah. Anggap aja rumah sendiri. Jangan sungkan! Kamu juga Andi!''


''Siap Bos!'' sahut Andi.


''Kakak! Jagain adek kamu. Papi mau ngurusin Mak dulu ya? Adek sama Kakak ya? Mami lagi sakit, hem?'' ucap Gilang pada ketiga anaknya.


Mata Rayyan berkaca-kaca. ''Mami sakit?? hiks.. Mami...'' isaknya.


Gilang tersenyum dan memeluk putra sulungnya itu. ''Tak apa. Jangan nangis. Mau lihat Mami?'' Rayyan mengangguk. ''Ya,'' sahutnya masih dengan terisak.


''Oke! Kita lihat Mami. Tapi Abang jangan nangis, hem?''


''Abang??'' ulang Rayyan


''Ya, Abang. Bang Lana dan Bang Rayyan! Berarti adek bukan adek lagi ya?''


''Loh? Kenapa?'' tanya Mama Alina yang terkejut dengan ucapan Gilang.


Gilang tersenyum, ''Kita tunggu dokter saja. Jika tebakan ku ini benar, maka saya akan memberikan hadiah untuk tuan Hamid!'' imbuh Gilang dengan tersenyum begitu lebar pada tuan Hamid.


Taun Hamid tertawa. ''Berarti benar ya dugaan saya? Aishh.. berasa kayak cenayang saja saya tuan Gilang!''


''Hahaha...'' semua yang ada disana tertawa mendengar ucapan tuan Hamid.


Semoga saja!


💕💕💕💕💕


Hehe.. gimana? kita kasi apa nih tuan Hamid?

__ADS_1


__ADS_2