Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Pergi tanpa Pamit


__ADS_3

Alisa keluar dari hotel itu berpapasan dengan Andi. Andi menegurnya, namun tak dihiraukan oleh Alisa.


Ia berjalan tergesa dengan wajah basah air mata. Tibanya di samping motor, ia kaget saat melihat rantang yang ia siapkan untuk Gilang.


Alisa menghela nafas panjang. Ia mengusap kasar air mata yang berjatuhan di pipi chubby nya.


Ia kembali masuk dan menemui resepsionis hotel milik Gilang. ''Loh? Bu Alisa? Sedang apa disini Bu?'' tanya resepsionis itu.


Ia keluar dari meja dan mendekati Alisa yang berdiri dengan wajah datar. ''Berikan rantang ini pada Bos kalian. Katakan ini dari saya. Saya harus segera kembali ada keperluan mendadak.'' ucap Alisa dengan dingin.


Resepsionis wanita itu terdiam melihat wajah basah Alisa. ''Bu...'' panggilnya


''Berikan saja ini padanya. Makan tepat waktu, agar mual muntah nya tidak bertambah. Saya sudah menyiapkan pesanan nya. Tolong kamu berikan langsung padanya. Saya permisi pulang!'' ucap Alisa lagi.


Seseorang dibelakang nya mengernyitkan dahinya. ''Alisa? Isti tuan Gilang? Kenapa dia menangis? Ada apa? Terus, kenapa rantang itu ia serahkan kepada resepsionis bukan pada tuan Gilang langsung. Ini pasti ada yang tidak beres. Lebih baik aku mengikuti resepsionis itu saja. Mana tau, aku bisa membantu tuan Gilang nanti. Seperti nya ini bukan masalah sepele.'' gumam tuan Hamid.


Dengan langkah lebar ia berlari menyusul resepsionis yang tadi membawa rantang Alisa untuk Gilang.


Sebelum nya, ia sudah menghubungi Andi, asisten Gilang, jika Gilang sedang berada di kamar yang mana.


Sementara Alisa, ia pulang menuju ke toko roti. Tiba disana, ia berpamitan pada Fitri untuk pulang ke kampung.


Ada hal mendadak yang ia lakukan disana. Fitri, karyawan kepercayaan toko kue Alisa ini mengangguk pasrah.


Namun, ada yang aneh. Wajah bos nya itu sembab. Seperti baru saja habis menangis. Ingin bertanya, tapi takut mencampuri ranah pribadi sang bos. Lebih baik ia diam.


Suatu saat pasti akan ketahuan ada apa sebenarnya dengan bos nya itu. Sedangkan Alisa, dengan segera melaju kerumah.


Dimana Annisa, Lana dan Rayyan sudah ada dirumah sejak kepergian nya tadi. Tiba dirumah ia masuk tanpa mengucapkan salam.


Lana yang melihatnya kaget. Wajah pucat, sembab seperti baru menangis, belum lagi. Wajah itu datar tanpa ekspresi.


Lana menyusulnya ke kamar. Lana terkejut saat melihat Alisa mengeluarkan dua buah koper berukuran besar.

__ADS_1


Dengan tergesa Alisa memasukkan semua bajunya Rayyan, Annisa dan dirinya. Lana ingin bertanya, tapi melihat wajah Mak nya datar seperti itu, ia mengurungkan niatnya.


Setelah selesai, Alisa merogoh ponsel disaku gamisnya. ''Hallo Assalamualaikum, loket simp*t star, saya mau pesan tiket untuk berangkat ke Aceh hari ini. Apakah ada? Ya, dua orang. Oke, terima kasih. Saya akan segera kesana. Satu jam lagi saya tiba. Baik. Assalamualaikum..'' ucap Alisa dengan segera ia menghilangkan dompet yang berisi uang cahs dan kartu ATM miliknya.


Ia melihat Lana yang terbengong melihatnya. ''Mak sedang ada urusan di kampung. Jadi, hari ini juga Mak harus mudik. Abang di rumah ya? Nanti ada Papi yang nemenin Abang. Besok, kakak pulang kan?'' tanya Alisa pada Lana.


Lana tak menyahut, namun bertanya dengan hak lain, ''Kenapa? Apakah terjadi sesuatu antara Mak dan Papi?'' tebak Lana.


Alisa tersenyum sangat terpaksa. ''Mak sama Papi tidak ada masalah apapun. Baru saja Mak pulang dari hotel untuk membawa makanan pesanannya. Mak harus pergi. Jaga Papi mu. Mak pergi sekarang. Kedua adikmu Mak bawa. Ya?'' imbuh Alisa sembari tangan terus bergerak untuk menarik koper itu dan melewati Lana.


''Apakah Papi berubah? Apakah kelakuan nya sama seperti Ayah Emil? Hingga membuat Mak menangis seperti itu? Jangan bohong sama Abang, Mak! Jawab yang jujur!'' tegas Lana.


Alisa berhenti menarik kopernya. Tanpa berbalik Alisa menjawab pertanyaan Lana dengan dada yang begitu sesak.


Ia menggigit bibirnya. Tangannya pun terkepal erat di pegangan koper miliknya. Lana bisa melihat jika tangan itu bergetar.


''Tidak! Papi mu tidak seperti itu. Mak hanya butuh waktu untuk istirahat saja. Mak ingin menenangkan diri dan pulang ke kampung adalah solusinya! Jaga Papi mu! Urus dia dengan baik, selama Mak tidak ada disampingnya! Mak pergi. Assalamualaikum!'' ucap Alisa dengan segera ia keluar dengan menarik kopernya turun ke bawah.


Tiba di bawah, Rayyan menghampiri nya dan juga Annisa. ''Mami? Mami mau kemana?'' tanya Rayyan.


''Eh? Pulang kampung? Papi? Papi gimana? Apakah tidak ikut?'' tanya Annisa dan itu berhasil menghentikan langkah Alisa yang sudah berada ditengah ruangan.


Tanpa berbalik, Alisa berbicara lagi pada kedua anaknya itu. ''Adek mau ikut Mami atau enggak? Kalau enggak, Mami tinggalkan bersama Abang!'' tegas Alisa.


Rayyan menggeleng cepat. ''Ndaakk.. adek ikut Mami! Adek ikut!'' serunya dengan segera berlari ke hadapan Alisa.


''Kakak??'' tanya nya pada Annisa.


Annisa bingung. Ingin menolak tapi takut Mak nya marah. Ia menatap Lana. Lana mengangguk dan tersenyum.


''Kakak disini saja. Sama Abang. Kalau kakak pergi, siapa yang ngurusin Papi? Sementara Kak Ira belum pulang? Mak sama adek aja ya? Kakak disini saja. kakak tak apa di tinggal. Ada Mbak Sus nanti. Ya kan Mbak Sus?'' tanya Annisa pada Mbak Sus yang terdiam melihat Alisa pergi tanpa pamit pada Gilang.


''Oke. Kami pergi. Jaga diri baik-baik! Jika butuh uang jajan, pinta aja sama Papi kalian. Mak pergi. Assalamualaikum!''

__ADS_1


''Waalaikum salam...'' sahut Lana, Annisa dan mbak Sus.


Lana dan Annisa berlari keluar melihat Alisa pergi menggunakan travel. Lana tersenyum saat melihat Rayyan melambai padanya.


''Bye Abang! Adek mudik dulu ye?''


Lana terkekeh saat mendengar ucapan Rayyan. Begitu juga dengan Annisa. ''Hati-hati Mak, adek!'' seru Annisa.


''Ya!!!'' pekik Rayyan.


Bocah kecil itu begitu kesenangan karena pergi dengan mobil bersama Mami nya.


Lana menghela nafasnya. ''Pasti terjadi sesuatu. Kita tunggu Papi pulang saja. Papi pasti tau. Ayo, Dek kita masuk.'' ajak Lana pada Annisa.


''Ya.. kira-kira ada apa ya Bang? Kok, aneh aja gitu? Padahal Mak tadi kan baik-baik saja saat mengantar kan rantang ke kantor Papi?'' tanya Annisa sambil berjalan masuk ke rumah mereka.


''Entahlah. Abang pun tak tau. Jika Mak sudah bersikap seperti itu, pasti terjadi sesuatu dengan Papi. Tapi entah apa? Abang pun tak tau.'' jawab Lana


Sementara Alisa sedang didalam perjalanan. Ia menatap kosong pada jalanan yang sedang ia lewati.


Buliran bening itu mengalir membasahi pipinya. Rayyan mendongak dan melihat Alisa sudah terisak.


''Mami?? Mami kenapa? Kok nangis? Adek nakal ya?'' tanya bocah kecil mirip dengan nya itu dengan Maya mengembun.


Alisa yang sadar jika putranya itu menatapnya dengan sendu, segera memeluknya dengan erat.


Mereka berdua menangis bersama. Sementara sang supir hanya bisa diam menyaksikan ibu dan anak yang sedang menangis itu.


Alisa semakin sesegukan saat mendengar sebuah lagu yang dibawakan oleh Arif, Cinta Kau Balas Luka. Begitu pas saat ini dengan keadaannya.


Lagi dan lagi Alisa merasakan sakit hati. Entah apa yang tejadi Sampai Gilang tau, Alisa pergi tanpa pamit pada dirinya.


💕💕💕💕💕

__ADS_1


Hayoooo.. Mami kabur tuh!


__ADS_2