Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Hadiah buat Abang


__ADS_3

Setelah tiba di rumah Alisa, Lana masuk tanpa melihat Gilang lagi. Wajahnya begitu di tekuk. Kayak kain kusut dan masam kayak jeruk purut.


Gilang terkekeh melihatnya. Ia tetap bertahan Sampai dimana hadiah itu akan diberikan kepada-nya.


''Assalamualaikum..''


''Waalaikum salam...'' sahut Alisa.


Lana menyalami Alisa dan segera berlalu. Alisa yang melihatnya menjadi heran. Alisa melihat ke Gilang, bertanya melalui sorot matanya.


Gilang hanya tersenyum dan mengangkat bahunya. Alisa pun jadi cemberut. Gilang yang melihatnya terkekeh.


''Sayang.. kita makan dulu ya.. setelah makan baru aku ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!'' ucap Gilang, membuat pipi Alisa merona.


Gilang terkekeh lagi. Ia sangat suka menggoda Alisa. Mereka berdua masuk kedalam dan duduk lesehan dilantai.


Di sana sudah terhidang makanan yang sedari sore dimasak oleh Alisa.


Ada sayur capcai kesukaan Lana, ada ayam semur kesukaan Gilang dan juga rendang jengkol kesukaan Ira.


''Ini apa?? Jengkol bukan ya??'' tanya Gilang saat melihat rendang jengkol ada disana.


''Hooh, itu rendang jengkol Papi! Kakak sangat suka rendang jengkol! Apa lagi jika ada ikan asinnya.. hmmm.. nyammii.... sedaaappp..'' ujarnya sambil membayangkan semua makanan itu.


Alisa hanya tersenyum.


''Ya sudah hayo.. kita makan! Abang! Makan dulu, setelahnya boleh tidur lagi!'' panggil Alisa.


''Abang nggak makan, Mak! Abang nggak lapar!'' serunya dari dalam kamar Alisa.


''Beneran?? Abang nggak mau makan?? Ini ada rendang jengkol loh...'' bujuk Ira.


Mendengar nama jengkol, Lana ngacir berlari keluar.


''Ayok kita makan!'' serunya lagi pada semua yang disana.


Gilang terkekeh, ''katanya tadi nggak mau makan..??'' ledek Gilang.


''Nanti kalau nggak makan, kehabisan euuy rendang jengkol nya! secara kan kakak hantu nya jengkol??''


''Ih! mana ada... kamu tuh hantu nya jengkol! apalagi ketemu ikan asin! kamu semua yang ngabisin! kakak cuma ditinggal buntutnya doang!'' bantah Ira. Ia bersungut-sungut kepada Lana.


Gilang tergelak, hingga mata sipitnya semakin sipit. Alisa yang melihatnya terpesona. Ia tak berkedip memandangi Gilang.


''Kenapa, hem? Apakah aku terlihat tampan di mata mu??'' bisik Gilang di telinga Alisa.


Alisa yang mendengar ucapan Gilang, bulu kuduknya meremang. Alisa tersadar saat Gilang menyentuh tubuh bagian belakangnya.


Deg!

__ADS_1


Alisa melotot. Ia menoleh pada Gilang, yang juga sedang menatapnya, dengan menggerakkan alisnya naik turun.


''Ishh... Papi!! Ini kapan makannya? Jika Papi sama Mak, asikan sendiri?? Perut Abang udah keroncongan nih...'' tegur Lana.


''Eh?? Ah iya! ayo kita makan! Annisa masih bobok kan Kak??'' tanya nya pada Ira. Karena saat ditinggal tadi, Annisa belum tidur masih bermain.


"Iya, Mak! Adek udah bobok kok, udah capek main, kelelahan dan tidur sendiri dia nya..'' Ira terkekeh saat mengenang kelakuan Annisa sebelum tidur tadi.


''Ya sudah! mari kita makan! Papi ingin makan rendang jengkol kesukaan Abang! kita cobain ya..'' ujar Gilang sambil menyendok kan dua sendok rendang jengkol ke piringnya.


Alisa yang melihat nya dengan sigap mengambil nasi dan menaruhnya kedalam piring Gilang.


Gilang tersenyum. ''Terimakasih sayang!'' ucapnya dengan pelan, hanya ia dan Alisa saja yang dapat mendengar nya.


Alisa mengangguk, ''baca doa dulu! Abang!'' tegur Alisa.


''Hehehe.. saking lapar nya.. jadi lupa berdoa, Mak!'' sahut Lana.


Kemudian ia mulai berdoa, dan mereka menyantap makan malam yang tertunda.


Selesai makan, Lana ingin masuk kembali ke kamarnya, tapi tertahan karena panggilan Gilang.


''Abang..'' panggil Gilang.


''Ya! Ada apa Pi??'' sahut Lana.


Alisa yang mendengar Gilang akan memberikan hadiah kepada anaknya, menoleh.


''Hadiah??'' tanya Alisa.


''Ya, hadiah untuk putra dan putri kesayangan ku ini!'' sahutnya.


''Dalam rangka apa??'' tanya nya lagi.


Gilang memutar bola matanya malas. ''Mau ngasi hadiah, nggak mesti dalam rangka apa sayang! Yang namanya hadiah, ya harus diberikan! Walaupun tidak ada acara apapun!'' sahutnya lagi.


''Apaan, Pi hadiahnya??'' tanya Ira.


''Makanya, sini duduk! Biar Papi tunjukkan apa hadiahnya! Ayo! kita buka bersama!'' imbuhnya, seraya membuka paper bag yang berisikan hadiah untuk mereka berdua.


Ira dan Lana menatap hadiah itu dengan seksama, saat Gilang mencoba mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam paper bag.


''Hah??'' Ira terkejut melihat isinya.


Sedangkan Lana mematung. Lain lagi dengan Alisa, ia heran dalam rangka apa pula Gilang memberikan hadiah berupa sebuah handphone untuk kedua anaknya.


''Ini dia.. hadiah dari Papi, untuk dua kesayangan Papi! Walaupun Papi belum tau, kakak dan Abang dapat peringkat berapa? Tapi Papi yakin! kalian berdua pasti mendapat kan peringkat pertama disekolah kalian!'' serunya, dengan menatap kedua putra dan putri Alisa.


Mata Ira berkaca-kaca, demikian juga dengan Lana. Ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin Papi nya itu tau, bahwa ia sangat menginginkan sebuah handphone dari tokonya itu.

__ADS_1


''Beneran, Pi??'' tanya Ira.


Gilang mengangguk, ''ya, anggap aja itu hadiah dari Papi untuk kalian berdua karena kalian mendapat kan peringkat! Ya.. memang terlalu cepat sih.. tapi anggap aja hadiah ini sebagai penyemangat untuk kalian berdua agar lebih semangat lagi dalam mengikuti ujian nya!'' imbuh Gilang lagi, serta menatap kedua anaknya Alisa.


"Terimakasih, Papi! Kakak nggak tau harus bilang apa sama Papi! Karena memang ini yang dibutuhkan oleh Kakak disekolah! Tanpa ini sangat sulit untuk belajar, Pi! Belum lagi semua materinya di share melalui grup sekolah. Sedangkan Kakak nggak punya..." lirih Ira.


Alisa terkejut mendengar nya. "Kenapa Kakak nggak bilang sama, Mak?? Jika kakak butuh sebuah handphone! Mak, kan bisa beli Nak! Mak akan usahakan! Apalagi ini menyangkut dengan sekolah mu!" ujar Alisa kesal, ia sangat kesal dengan putrinya ini.


"Bu-bukan begitu, Mak! Kakak nggak mau Mak ngutang sana sini, ataupun kredit handphone demi Kakak! Kakak nggak mau, Mak dikejar-kejar oleh penagih hutang! Sudah cukup, Kakak melihat Mak menangis karena harus melunasi hutang seorang diri! Kakak nggak mau itu!'' ujar Ira dengan bibir bergetar.


Gilang terkejut dengan ucapan Ira. ''Hutang?? Hutang apa?? Berapa??'' tanya nya.


''Kakak!'' sentak Alisa.


''Ma-maaf, Mak...'' cicit Ira.


''Lis! lihat aku! berapa hutang mu? Aku akan membayar nya! Sebutkan berapa jumlahnya! Malam ini juga aku akan melunasinya!'' seru Gilang. Ia sangat terkejut mendengar Alisa memiliki hutang yang belum lunas.


''Nggak ada! nggak ada yang perlu kamu bayar! Semuanya telah lunas dan usai!'' ucap Alisa, ia buang muka tak ingin melihat dirinya yang sedang menyembunyikan sesuatu.


''Ya sudah.. jika memang ada kasi tau aku ya?? Biar aku yang akan melunasi seluruh hutang-hutang mu itu!'' ujarnya pasrah.


Aku tau sayang.. kamu tak akan mengatakan nya padaku! Tapi aku akan bertanya kepada Kakak dan Abang! Mereka pasti bersedia mengatakan nya padaku! gumamnya dalam hati.


''Ayo sekarang buka kotak handphone nya! Biar sama-sama kita periksa! Dan ya, Lis! Aku minta KTP mu ya, untuk mengaktifkan kartu ini!'' ujarnya lagi.


Alisa mengangguk dan segera berlalu untuk mengambil KTP nya ke dalam kamar.


Sedangkan Lana masih mematung disana. Matanya berkaca-kaca saat melihat Gilang.


''Abang...''


''Hiks.. Papiii!!!!''


💕


Hayoo Abang kenapa itu??


Maaf ya kemarin othor cuma up date satu bab aja.. Maklum, Mak Mak punya bayi, jadi agak ribet sih!


Lagi pula othor harus nyiapkan dua novel sekaligus yang disebelah. Kalian udah Taukan??


Kalau belum tau, mampir aja! tinggalkan jejak disana ya? Agar othor tau, kalau kalian udah mampir!


Jika ada typo, maklum aja ya.. hape othor sering ngelek. Diketik apa yang keluar juga apa. Hadeuhhh..


😁😁😁


TBC

__ADS_1


__ADS_2