
Dua insan yang bersatu, ibaratnya satu tubuh dua jiwa. Layaknya pasangan yang lain, Alisa dan Gilang pun demikian.
''Pi.. ''
''Hem..''
''Bangun... itu anak-anak udah pada liatin kita terus dari tadi. Ayo, ah! tujuan kita kemari kan untuk piknik?? Setelah ini nantinya kalian bertiga akan sibuk dengan sekolah lagi..'' lirih Alisa.
Ia menghela nafas panjang. ''Gi.. andai Papa ada disini.. pastilah aku mau jika kamu akan menikahiku.. masalahnya... Papa tidak tau sama sekali tentang perpisahan ku dengan ayah anak-anak. Sampai sekarang yang beliau tau, jika aku masih hidup dengan bang Emil...'' lirih Alisa lagi.
Gilang yang merasa nyaman dalam pangkuan Alisa, tiba-tiba mendengar curahan hati yang selama ini disimpan rapat oleh pujaan hatinya. Mendadak sigap, ia ingin mendengar lebih lanjut tentang cerita Alisa.
Gilang mencoba mendengarkan apapun yang dikatakan oleh Alisa. Ia masih tetap setia membenamkan seluruh wajah nya di perut Alisa.
Hangat dan nyaman.. Gilang terbuai. Apalagi tangan Alisa selalu saja mengelus rambutnya saat Gilang tidur dipangkuan nya.
''Apa yang harus aku katakan Gi.. aku nggak sanggup ketemu Papa.. karena Papa pernah mengatakan, jika terjadi sesuatu dengan pernikahan ku, maka aku tidak boleh memberi tahunya sama sekali.. Apa aku salah Gi..??'' tanya Alisa sembari menunduk melihat Gilang, yang juga sedang menatapnya.
Gilang tersenyum, ''kamu nggak salah kok. Hanya saja sebaiknya kamu tetap harus memberitahukan segala nya kepada kedua orang tua mu. Karena dengan mereka mengetahui semua ini, pasti mereka akan menerima mu. Percayalah sayang.. tidak ada orang tua yang membuang anaknya. Mungkin Papa punya alasan, kenapa dulunya beliau melarang mu menikah dengan Bang Emil..? Siapa taukan??'' imbuh Gilang, membuat Alisa merenung.
''Tapi aku belum siap ketemu Papa, Gi.. aku butuh waktu.. paling tidak sampai akte cerai kami dikeluarkan oleh pengadilan agama..'' ujar Alisa membuat Gilang mengangguk.
Gilang bangkit dan duduk. Ia menatap Alisa yang juga menatapnya. ''Ayo kita pada anak-anak. Kayaknya mereka udah pada bosan deh, lihat tuh! muka Abang udah kayak kanebo kering! kusut mansut! tak enak di pandang!'' seru Gilang, membuat Alisa terkekeh.
Benar saja, Lana sudah berubah menjadi cemberut. Muka nya kusut kayak cucian belum di setrika. Ia duduk sendiri di pondok dengan kaki yang terlipat bersila.
Melihat kedatangan kedua orangtuanya, Lana menunduk. Sedangkan Annisa heboh. Ia begitu senang ketika melihat Gilang.
Bayi kecil itu terus saja menggumam tidak jelas, membuat Gilang terkekeh. Alisa pun ikut terkekeh.
''Kayaknya putri mu yang satu ini, tidak ingin jauh dari mu ya, Pi??'' goda Alisa.
Gilang tertawa, ''kamu bisa saja sayang! Ayo sini sama Papi! Kita main kuda-kudaan!'' seru Gilang.
__ADS_1
Gilang melihat Alisa yang terdiam, kemudian membisikkan sesuatu.
''Sekarang aku main kuda-kudaan dengan putriku. Tapi nanti.. aku main kuda-kudaan denganmu! setelah halal!'' imbuhnya sambil berbisik, dengan mengedipkan mata nya genit.
Alisa melototkan matanya. Gilang tertawa puas. Sedangkan Ira dan Lana mereka memandang dengan cengo kedua orang itu.
Sedangkan Andi, buang muka melihat kemana saja asalkan jangan dihadapkan pada dua pasang anak manusia yang sedang di mabuk cinta itu.
Dasar si bos! Tadi aja gregetan! kayak orang butuh belaian! Nah sekarang? hadeuuuhhh.. gerutu Andi di dalam hati.
Mereka semua asik bermain hingga waktu menunjukkan pukul 1.30 siang. Waktunya untuk istirahat. Sebelumnya mereka sholat di mushola terdekat dengan taman safari ini.
Karena pemilik taman ini menyediakan Mushola bagi umat muslim yang berkunjung ke tempat tersebut.
Setelah menunaikan ibadah sholat yang tertunda, kini mereka sedang makan siang di pondok.
Cuaca yang begitu terik membuat semua orang begitu haus. Kebetulan disana ada yang jual es keliling. Kesempatan buat Lana.
''Oke! panggil kemari Abang es nya!'' titah Gilang.
Lana berlari mengajak Abang es ke tempat mereka. Sesampainya disana, Abang es itu langsung saja membuatkan untuk mereka semua.
Lana sangat senang melihat Abang es begitu baik padanya. Bagaimana tidak, jatah satu orang satu es, sedang untuk Lana dapat double.
''Yes! Abang dapat dua uhuy.. makasih Abang es..'' ucap Lana membuat Abang es itu tersenyum.
''Sama-sama Abang...''
Setelah nya, Gilang membayar semua pesanan es mereka. Gilang mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah dan memberikan kepada abang-abang es itu.
''Ambil aja kembalian nya..'' ucap Gilang sambil tersenyum.
Abang-abang itu matanya berkaca-kaca. ''Terimakasih Dek.. selama ini belum ada yang memberikan lebih untuk bayaran es Abang.. tapi kamu.. haahh.. Abang mendoakan semoga rumah tangga kalian berdua kekal untuk selamanya. Kalian akan bersama-sama sampai maut memisahkan kalian berdua.. Samawa ya Dek.. sekali lagi terimakasih..'' ucapnya dengan menundukkan kepalanya sedikit kemudian berlalu dari hadapan mereka semua.
__ADS_1
Alisa tertegun. Sedangkan Gilang tersenyum, ia menatap Alisa yang melamunkan Abang-abang itu. Gilang tau, pasti Alisa memikirkan perkataan Abang es tadi.
''Mbak...''
''Eh? Apa Gi..''
''Doa nya baik loh.. semoga kita akan selalu bersama sampai maut memisahkan kita berdua. Tapi aku tidak ingin dipisahkan oleh maut! Aku mau jika kau pergi karena maut, maka aku juga ikut dengan mu karena maut! Kita akan dikuburkan satu liang lahat. Aku tidak ingin berpisah dengan mu walau sedetik pun! Jika suatu saat terjadi sesuatu diantara kita berdua... percaya lah.. kaulah tempat aku berpulang. Kau lah tempat aku kembali. Kaulah rumah ku. Kaulah tempat terakhir di mana aku melabuhkan hatiku. Jadi... jangan kecewa jika suatu saat mendapati diriku tidak bersama mu. Jangan pernah menyalahkan takdir! Karena takdir lah yang menyatukan kita berdua, bersabarlah! Dan berdoa. Hanya doa yang bisa mengubah takdir mu dan takdir ku!'' imbuh Gilang dengan menatap Alisa dalam.
Sedang yang ditatap matanya berkaca-kaca. Begitu juga dengan tiga orang disana. Ungkapan hati Gilang itu begitu menyentuh hati mereka.
Alisa terharu. Ia menunduk dan menangis sedangkan Annisa yang melihat Gilang sedang memegang tangan ibunya tertawa.
Ia bergumam-gumam tidak jelas.
''Lihatlah Mbak.. bahkan anak kecil seperti adek aja tau.. jika kita memang ditakdirkan bersama. Lihatlah! ia begitu bahagia saat kita berkumpul bersama disini.'' ujar Gilang sembari menatap Annisa di tangan Andi.
Alisa terisak.
Semoga apa yang dikatakan oleh orang itu benar adanya.. aku hanya takut.. takut akan status kita yang berbeda.. dan juga kasta kita sangat jauh berbeda.. bagaikan langit dan bumi Gilang.. entah kita bisa bersatu atau tidak, hanya Tuhan lah yang tau..
Tapi jika suatu saat kita bersatu, maka aku berjanji. Aku akan datang kembali kesini untuk mengucapkan terimakasih padanya. Karena dia telah mendoakan kebahagiaan kita dengan tulus.
Aku akan menunggu dimana hari kamu akan mempersunting diriku untuk menjadi istri mu Gilang Bhaskara.
Aku sangat mencintaimu Gilang.. sekarang ataupun nanti... Alisa.
💕
Gimana?? masih mau lanjut??
TBC**
💕
__ADS_1