
Panitia pelaksana acara pernikahan Gilang dan Alisa sedang menyampaikan sepatah dua kata, berikut sambutan dari Papa Angga selaku pemilik acara ini.
Diluar gedung banyak sekali para tamu undangan yang semakin banyak masuk ke ballroom hotel untuk menyaksikan acara ijab qobul Gilang dan Alisa di suatu ruangan khusus di dalam hotel itu.
Ruangan yang sudah disulap dengan banyak taburan bunga mawar putih dan merah jambu.
Berikut meja ijab qobul nya. Gilang duduk dengan tenang, walau jantung terus berdegup bertalu-talu.
Tarik, buang, tarik, buang lagi hingga beberapa kali. Gilang memakai baju yang sama seperti Alisa.
Jas berwarna putih tulang lengkap dengan celananya. Beserta satu buah songket yang dipakaikan di pinggang Gilang, yang dibawa langsung dari Aceh oleh Tante Irma untuk pernikahan mereka.
Sepatah dua kata telah disampaikan oleh para penghulu. Kini giliran Gilang yang di berikan kesempatan untuk bisa membaca surah Ar-Rahman. Sebagai pembuka sebelum acara ijab qobul akan dimulai.
Gilang memegang mikrofon, sejenak ia menghela nafasnya. Setelah dirasa tenang Gilang menyandung bait perbait dari ayat Alqur'an surah Ar Rahman.
''Bismillahirrahmanirrahim, Arrahmann...''
Deg!
Alisa tertegun dengan suara itu. Dirinya yang sedang tertunduk, lansung mendongak melihat layar televisi yang ada di depan nya saat ini.
Dimana Gilang sedang membaca surah Ar Rahman tanpa ada mushaf Al-Qur'an didepan nya, sesuai dengan permintaan nya lima tahun yang lalu.
Mata Alisa mengembun. Ia terisak melihat layar di depan nya itu. Suara syahdu dan mendayu Gilang begitu menusuk relung kalbunya.
Ternyata pujaan hatinya itu menepati janjinya untuk bisa menghafal surah Ar Rahman saat acara pernikahan mereka berdua.
''Hiks.. Papi..'' lirih Alisa dengan air mata yang sudah menganak sungai.
Beruntungnya saat ini Alisa menggunakan makeup water proof jadi aman dari bencana air mata. Benar kata Mama Dewi.
Jika Alisa pasti akan menangis dengan setiap kejutan yang akan Gilang berikan untuknya. Alisa menatap televisi dengan terus terisak.
Sementara di ruangan sebelah, Gilang masih saja membaca surat Ar Rahman hingga akhir.
Setelah selesai. Barulah kata sambutan dari penghulu untuk kedua mempelai yang akan melaksanakan pernikahan yang kedua kalinya.
Sementara para pejalan kaki serta pejalan motor berhenti di pinggir jalan. Mereka ikut menyaksikan hari sakral dari seorang anak pengusaha Bhaskara Group yang terkenal di daerah Medan dan sekitarnya.
Mereka berdiri sambil bercakap-cakap dengan mata menatap fikous pada layar besar yang ada di depan mereka saat ini.
Suara penghulu yang terus terusan menggoda Gilang dan Alisa membuat suasana di penuhi canda tawa seketika.
''Tenang atuh Tong.. jangan gugup atuh.. santai Bro!'' celutuk Pak penghulu yang terkenal humoris itu disaat ingin menikahkan orang.
Gilang dan Alisa terkekeh.
''Baiklah cukup singkat pidato dari saya ya, untuk selanjutnya.. mari kita ikuti acara ijab qobul antara saudara Gilang dan saudari Alisa. Sudah siap, nak Gilang?''
''Alhamdulillah, sudah Pak!''
''Wuiihh.. ngebet banget ini kayaknya ya?'' goda pak penghulu lagi. Semua yang ada disana tertawa. Termasuk para penonton diluar sana.
__ADS_1
Alisa dan Gilang juga ikut terkekeh. ''Oke. Mari Nak Gilang berjabat tangan dengan Papa mempelai! Silahkan!'' ucap Pak penghulu menyerahkan mikrofon kepada panitia untuk di arahkan ke mulut Papa Yoga dan Gilang.
Papa Yoga dan Gilang berjabat tangan untuk melakukan ijab qobul. Papa Yoga selaku wali dari Alisa, ingin menyerahkan Alisa pada Gilang secara langsung.
''Bismillahirrahmanirrahim, Asyhaduanla ilaha ilallah Waasyhaduanna muhhammadurrasulullah.. Saudara Gilang Bhaskara Bin Angga Bhaskara, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya Alisa Febriyanti binti Yoga Sebastian dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas dan satu buah pusat perbelanjaan Alisa store dibayar tunai!''
Papa Yoga menyentak tangan Gilang dengan sedikit kuat. ''Saya terima nikah dan kawinnya Alisa Febriyanti binti Yoga Sebastian untuk saya, dengan mas kawin seperangkat perhiasan emas dan satu buah pusat perbelanjaan Alisa Store dibayar tunai!''
Deg!
Deg!
Alisa mematung mendengar suara itu. Suara yang kemarin malam di dengarnya. Mata itu kembali mengembun saat Papa Yoga dan Gilang disorot begitu jelas di depan mata Alisa.
''Bagaimana para saksi? Sah?''
''Sah!''
''Sah!'' jawab saksi kedua belah pihak mempelai.
''Alhamdulillah... bakalallahuma 'alaikuama wajama'a baina kuma fi Khairi..'' Pak penghulu membaca di untuk keberkahan Alisa dan Gilang.
Gilang bernafas lega. Begitu juga dengan Papa Yoga. Tapi tidak dengan Alisa. Ia berdiri di tempat duduknya saat mendengar suara ijab qobul yang di ucapkan oleh kedua orang yang begitu ia sayangi.
''Perhiasan emas? Alisa store? Bukankah itu... Allahuakbar!!'' seru Alisa terjingkat kaget.
Alisa oleng kebelakang.
Alisa jatuh terhenyak di kursi setelah menyadari jika mahar yang diberikan Alisa adalah sesuatu yang dulu pernah ia jual dan ia urus Selama Gilang diluar negeri.
Alisa menatap nanar pada mereka berdua. Air mata itu terus beruraian. Pada saat ia masih membeku dengan ucapan ijab qobul Gilang dan Papa Yoga, seseorang memanggil Alisa untuk masuk ke dalam ruangan acara.
''Ayo Nyonya. Anda sudah di tunggu! Waktunya untuk bertemu dengan sang suami!'' ucap MUA yang tadi memekik Karena ulah Alisa.
Alisa tak menyahut, namun ia bangkit saat para MUA mengajaknya untuk masuk ke dalam ruangan dimana ada Gilang dan Papa Yoga.
Dua kali hari ini ia begitu terkejut. Jantungnya masih bertalu-talu. Matanya menatap nanar pada layar televisi yang terpampang jelas di depan nya.
Sangat jelas terlihat disana, jika Gilang dan Papa Yoga saling melempar senyum bahagia. Alisa mengikuti langkah para MUA yang menuntun nya untuk masuk keruangan ijab qobul mereka.
Tiba di depan pintu, Alisa terhenyak lagi. Ia menatap seluruh ruangan itu dengan pandangan yang begitu terkejut.
Tubuhnya oleng ke belakang saking terkejutnya. Gilang belum tau jika Alisa sudah berada di belakang nya saat ini.
Walaupun masih jauh. Tapi Papa Yoga sudah tersenyum melihat kedatangan Alisa. Lagi, Alisa terhenyak mendapati seluruh keluarga besarnya ada disana.
Mereka tersenyum melihat Alisa. Mama Dewi melihat Alisa yang berdiri mematung disana dengan wajah terkejut nya, mendekati Alisa.
''Ayo sayang! Suami mu sudah menunggu mu disana.'' imbuh Mama Dewi dengan memegang lembut tangan Alisa.
Wanita paruh baya itu begitu cantik dengan baju kebaya senada dengan baju yang dipakai Alisa saat ini.
Alisa menoleh pada Mama Dewi yang tersenyum manis padanya. ''Mama?''
__ADS_1
Mama Dewi mengangguk. ''Selamat datang di keluarga besar Bhaskara, Alisa Bhaskara!'' sambut Mama Dewi.
Gilang menoleh pada mereka berdua saat mendengar suara Mama Dewi. Gilang terpana melihat Alisa.
''Sangat cantik!'' celutuk nya tanpa sadar.
Pak penghulu terkekeh mendengar celutukan Gilang yang menatap istrinya tidak berkedip. Sementara Alisa, menatap ke seluruh ruangan itu, dan saat matanya bertemu dengan mata seorang paruh baya yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca, tertegun.
''Mama?'' panggil Alisa dengan mata yang sudah berkabut mendung.
''Iya sayangku! Putriku! Buah hatiku! Jantungku! hiks.. nafasku.. hiks..''
''Hiks.. Mamaa...'' Alisa luruh kelantai. Kakinya tak sanggup lagi menopang seluruh tubuhnya.
Papa Yoga dan Gilang segera berlari mendekati Alisa yang sedang tersedu di lantai.
Mereka semua panik melihat Alisa, namun tidak dengan Gilang. Ia tertawa melihat Alisa begitu terkejut.
''Berarti sukses dong, kejutanku??''
''Apa?!!'' pekik Alisa lagi.
Gilang semakin tertawa. Gemas dengan kelakuan Gilang, Alisa merebut tas selempang milik salah satu MUA dan mengarahkan ke tubuh Gilang.
Pluk!
Pluk!
''Jahat!! Kau menipuku Gilang!!'' sentak Alisa.
Bukannya marah, Gilang malah tertawa terbahak bahak melihat Alisa begitu kesal padanya.
Tas selempang itu terus menerus menepuk tubuh Gilang dengan kuat, tapi Gilang masih saja tertawa.
Alisa semakin geram, bukannya marah tapi bibir itu justru tersenyum namun air mata terus menangis. Semua yang melihat itu terkekeh-kekeh.
''Sayang?''
Deg!
''Papa!!!''
💕💕💕💕💕
Hehehe.. gimana?? Seru nggak? Masih mau lagi?
Kalau mau, hadiahnya dong? Sajennya buat othor!
Biar othor tambah semangat lagi menulis kelanjutan kisah Gilang dan Alisa. 😁😁
Mumpung hari Senin, bagi vote, dan bunganya untuk othor ya? Besok othor update dua lagi deh 😁😁
Hihihi..
__ADS_1