Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Ngantuk, mual, muntah?


__ADS_3

Sebulan setelah pertemuan antara suami sah dan mantan suami Alisa, kini Gilang dan Alisa semakin romantis saja.


Kejadian dimana mereka ketahuan sama Fitri begitu membuat Alisa malu. Sementara Gilang biasa saja.


Wajahnya itu datar tanpa ekspresi. Namun, telinga nya memerah saat Fitri menyindir mereka tentang pasangan pengantin baru yang bisa bebas kapan saja dan dimana saja untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan.


Alisa malu setengah mati. Semenjak hari itu, hubungan Gilang dan Alisa semakin bertambah lengket saja.


Bagaimana tidak, jika setiap malam Gilang selalu menggempur Alisa. Kadang Alisa ingin mengeluh, tapi tidak berani saat wajah Gilang berubah menjadi sendu.


Hanya satu yang Gilang inginkan dari Alisa. Bahwa bibit unggul yang ia tanamkan di rahim Alisa akan segera tumbuh dengan cepat.


Itulah yang Gilang katakan pada Alisa. Alisa hanya bisa pasrah. Dan Gilang pun tidak pernah lupa untuk meminta pada yang kuasa, agar benih yang ia taburkan cepat tumbuh menjadi seonggok daging.


Yang akan berubah menjadi seorang bayi, menjadi pelengkap hubungan mereka berdua di dalam rumah tangga mereka.


Pagi ini setelah subuh Gilang tidur lagi. Ia tidak sanggup jika tidak tidur. Matanya begitu berat saat akan di buka.


Seperti ada lem dimatanya. Alisa yang sudah selesai masak pun naik keatas. Guna untuk melihat sang suami, apakah sudah bangun atau belum.


Ceklek!


Pintu terbuka. Alisa menggeleng kan kepala saat Gilang begitu terlelap dalam gelungan selimut tebal.


Ia mendekati Gilang dan duduk di sebelah. ''By...'' panggil Alisa.


Tak ada sahutan. Lagi, ia mencoba lagi untuk membangun kan Gilang. ''Sayang... Papi... bangun ih! Udah siang loh.. nggak kerjakah??'' tanya Alisa dengan segera menelusup kan tangannya untuk menuju benda kesukaan nya itu.


Benda lunak tak bertulang. Jika tidak on, di akan lembek seperti jeli. Entah kebiasaan dari mana Alisa menjadi seperti itu.


Selama sebulan ini, ia sangat suka memainkan benda lunak itu. Yang selalu akan On, jika Gilang sudah sadar dari tidurnya.


Alisa terkikik geli saat merasakan tubuh Gilang menggeliat di dalam selimutnya. ''Ehm.. sayang... jangan ganggu ih! ngantuk banget ini... hooaamm.. nyam.. nyam..'' gumam Gilang masih dengan mata terpejam.


Alisa terkikik geli. ''Bangun sayang. Udah siang loh.. masa' kamu direktur nya kesiangan sih? Udah keseringan loh kamu kesiangan. Malu ih, sama Karyawan?''


Gilang menggeliatkan tubuhnya. ''Ngantuk sayang.. temani bobok ya?'' pinta Gilang masih dengan mata terpejam.

__ADS_1


''Kamu aneh deh! Udah sebulan ini masa kamu ngantuk terus sih tiap pagi? Ada apa sih? Kita periksa aja ya?'' bujuk Alisa masih dengan memegang benda lunak tak bertulang itu.


''Enak sayang.. hemm.. ngantuk!'' celutuk Gilang.


Alisa semakin heran dengan tingkah Gilang. Dengan terpaksa ia harus kerja ekstra untuk berusaha memaksa Gilang bangun tidur dan berangkat ke kantor.


''Sayang... sssstt... jangan... aku ngantuk loh..'' lirih Gilang dengan mata terpejam.


Alisa tidak peduli. Hanya dengan cara itu Alisa bisa membuat Gilang bangun. Dan benda lunak tak bertulang itu akan segera on.


''Jangan salahkan aku, jika kamu akan kelelahan nanti! aku tidak akan melepaskan mu sayang!'' ucap Gilang begitu menantang di mata Alisa.


Alisa semakin tersenyum menggoda pada Gilang. Dengan cepat Gilang menerkam Alisa agar Wanita nya itu kelelahan dibawah kungkungan nya.


Dua jam kemudian, pertempuran itu baru selesai. Gilang bangkit dengan menggendong Alisa menuju ke kamar mandi dalam selimut yang sama.


Selesai mandi, mereka berdua turun ke meja makan dimana hanya ada seorang asisten rumah tangga yang sedang menunggu mereka. Sementara Annisa sudah ke sekolah bersama Lana.


Mbok Nah namanya. Wanita paruh baya itu sengaja dibawa Gilang untuk membantu Alisa selama Alisa berada di toko kue miliknya.


Mbok Nah tersenyum melihat pasangan pengantin baru itu. ''Selamat pagi neng Alisa, den Gilang?'' goda Mbok Nah


Alisa jadi malu.


Plak!


''Astaghfirullah! Sakit sayang! Isshh.. ini kdrt namanya!'' seru Gilang dengan bibir manyun.


Mbok nah tertawa. Begitu juga dengan Alisa. ''Hahaha.. ngambek dia Mbok!'' kata Alisa.


Gilang semakin cemberut. Alisa dengan segera mengambilkan makan untuk Gilang. Cukup satu piring.


Mbok Nah tersenyum melihat pasangan romantis beda usia itu. ''Sayang?'' panggil Gilang dengan wajah pucat.


''Hem?'' sahut Alisa masih dengan cekatan mengambil nasi putih yang masih mengepul kan uap panasnya.


''Aku kok pingin muntah ya? Mual gitu perutku? Kayak diaduk-aduk cium bau nasi putih ini! Bbrrrthhh hueeekk...'' ucapan Gilang berhenti.

__ADS_1


Karena Gilang ingin muntah, dengan cepat ia lari ke westafel di dekat meja makan. Sampai disana Gilang memuntahkan ciaran dari dalam perutnya.


''Hueeekkk... hueeekk.. bbrrrthhh.. hueeekk...'' Gilang memuntahkan cairan yang tersisa di dalam perutnya saat ini.


Karena belum sarapan sama sekali.


Alisa dengan segera memijit tengkuk nya. ''Kamu masuk angin, By? Aku pijat ya?'' tanya Alisa masih dengan memijit perlahan tengkuk Gilang.


Gilang tidak bisa berbicara. Perutnya benar-benar di kocok. Mengingat bau nasi saja Gilang sudah muntah lagi.


Alisa semakin panik dibuat nya. ''Ayo, duduk dulu! Biar ku ambilkan kayu putih dulu itu di atas kulkas.''


''Disini saja sayang.. aku mual bau nasi itu. Bau tubuhmu lebih enak daripada bau itu.. disini saja ya? Jangan kayu putih! Aku nggak suka! Bau nya bikin eneg!'' ucap Gilang dengan segera ia memeluk tubuh Alisa yang sedang berdiri dihadapan nya.


Bau harum tubuh Alisa menenangkan nya. Gilang memejamkan matanya saat merasakan tangan halus Alisa mengelus tubuhnya.


Mbok Nah terdiam melihat Gilang. Ia jadi menerka-nerka. ''Jangan-jangan...''


Ponsel Gilang berbunyi. Dengan segera Alisa mengangkat nya. ''Assalamualaikum Andi? Ada apa?''


''Bos Gilang dimana Mbak? Ini meeting nya mau mulai loh .. udah dua jam lebih kami tunggu. Klien kita pada ngamuk ini!'' Seru Andi dengan panik.


Alisa menoleh pada Gilang yang masih memeluk dirinya. ''By?''


''Kamu aja sayang.. aku nggak sanggup. Kepala ku pusing! Kamu aja ya? Yuk kita ke kamar aja. Aku nggak bisa ke kantor ini..'' lirih Gilang masih dalam pelukan Alisa.


''Oke. Andi! Katakan pada klien kita untuk menunggu sebentar! Five minuts! Ayo, By! Kamu sanggup jalan kan?''


Gilang mengangguk. ''Segera siapkan Andi. Biar saya yang tangani! Saya tutup telepon nya!''


''Siap Mbak! Ini yang saya suka dari mbak Alisa! Cepat tanggap! Bos kenapa sih, Mbak?'' tanya Andi penasaran.


''Kayaknya masuk angin deh. Nanti biar saya lihat tubuhnya. Kita selesai kan dulu pertemuan ini. Setelah itu, baru kamu By!''


''Ya,'' jawab Gilang.


Tiba dikamar, Gilang berbaring berbantalkan paha Alisa. Dengan segera Alisa membuka laptop, dan mulai menyambungkan ke Andi di kantor Bhaskara Group.

__ADS_1


💕💕💕💕


Hehehe.. maaf ya agak telat yang satu ini. Keriting jari othor ngetiknya! Kebanyakan novel on going! 😅😅


__ADS_2