Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Tega kamu!


__ADS_3

''Sayang... aku datang menyusul mu. Tega kamu pergi tanpa pamit padaku. Aku sangat kehilangan mu. Aku tak sanggup lagi Jika kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya. Jika kamu pergi, aku ikut! Kemana pun! Termasuk Jika kamu dipanggil oleh yang maha kuasa. Aku juga akan ikut bersama mu. Aku tidak ingin berpisah darimu. Aku sangat mencintai mu sayangku. Sangat mencintai mu. Aku membutuhkan mu, sayang! Sangat membutuhkan mu! Cup!''


Gilang mengecup bibir Alisa yang sedang tertidur lelap. Alisa merasa jika Gilang datang mendatangi nya di dalam mimpi. Ia merasakan Jika Gilang sedang mencumbui dirinya.


Alisa terisak, namun tidak menolak segala sentuhan Gilang. Yang ia tau itu cuma mimpi.


Padahal kenyataannya, Gilang lah sedang bersamanya.


Gilang tidak berhenti disitu. Ia terus saja melanjutkan aksinya. Ia sangat merindukan tubuh itu. Tubuh yang sudah membuatnya candu dan juga penawar dari sakitnya saat ini.


Gilang terus saja mengecup dan membelai apa yang ia jumpai, namun pada saat ingin menyentuh buah melon yang menggantung itu, tiba-tiba saja perutnya kembali mual.


Oh no! Jangan sekarang! Sial! umpat Gilang dalam hati.


Dengan segera ia berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan cairan pahit berwarna kuning di dalam kamar mandi mereka.


Suara muntahan Gilang begitu mengusik pendengaran Alisa yang sedang tertidur lelap. ''By? Kamu muntah lagi?'' igaunya


''Hueeekkk.. hueekk.. sayang.. hueekk..'' suara itu terus menggema di telinga Alisa.


''Ck! aku ngantuk By! Baru juga tidur udah kamu ganggu aja!'' sungut Alisa sambil berusaha mengangkat tubuhnya yang begitu berat.


''Sa-saya- hueeeekk... hueekk.. help me please Alisa!!'' pekik Gilang


Alisa terjingkat kaget. Ia terduduk dari tidurnya. Kepalanya terasa pusing karena bangun secara mendadak.


''Help me please.. hunny.. where are you? Please hunny... hiks.. I wish you hunny.. hiks Alisa... aaa..'' Gilang terisak di kamar mandi.


Ia meracau tidak jelas. Alisa yang benar sudah loading terkejut mendengar suara raungan Gilang yang begitu menusuk hatinya.


''Papi?? Kamu kesini? Sama siapa? Kapan kamu masuk ke kamar ini? Eh? Mungkin aku hanya sedang merindukan dirimu makanya sampai kebawa mimpi?'' gumam Alisa dengan mengusap tubuhnya yang terasa dingin.


''Brrr.. kok AC nya hidup? Siapa yang hidupkan ya? Aneh.'' gumamnya lagi.


Ia berniat ingin merebahkan tubuhnya kembali, namun tidak jadi karena merasa tubuhnya yang begitu dingin menusuk.


''Brrr... eh? Astaghfirullah! Kemana bajuku? Siapa yang membukanya?!'' pekik Alisa begitu panik. Ia melihat ke bawah jika bakunya sudah teronggok di lantai.


''Astaghfirullah! Siapa yang membuka bajuku?! Kenapa sampai terjatuh begini?! Allahu... hiks .. By... maaf.. siapa sih yang jail banget ini?! hiks.. tubuhku ternoda!!'' serunya dengan panik.


Gilang ingin tertawa mendengar Alisa panik seperti itu, namun ia tak punya tenaga lagi walau hanya untuk tertawa.


Pintu kamar mandi yang terbuka lebar sangat memudahkan Gilang mendengar suara Alisa yang sedang terisak memanggil namanya berulang kali.


''Hiks.. Papi... aku ternoda... aaa...'' Raung Alisa


Gilang terkekeh tanpa suara. ''Siapa yang menodai mu sayang.. cuma aku yang bisa menodai mu..'' bisik Gilang dengan suara lirih sambil terkekeh-kekeh.


Lagi, rasa mual itu mendesak untuk keluar. Hingga...


''Hueeekkk... hueeeekk... hueeeekk.. aaa.. hueeeekk... sayang.. bantuin... Bbbrrthh hueeeekk...''

__ADS_1


Deg!


Suara itu begitu familiar di telinga nya. Ia mendengar lagi suara muntahan itu begitu jelas terdengar.


Setelah sadar jika itu memang suara Gilang, suaminya. Alisa terjingkat dari duduknya dan berlari menuju ke kamar mandi yang pintunya sudah terbuka lebar.


''Papi!!! Astaghfirullah!! ya Allah sayang!'' melihat Gilang yang sudah tergeletak di lantai kamar mandi.


Alisa mendekati Gilang yang sudah tidak sadarkan diri. ''Ya Allah!! Sayang!! bangun!! Bangun By!!! Bangun!! hiks.. bangun!'' Seru Alisa semakin panik.


Perut bawahnya terasa kram, tapi tidak ia pedulikan. Yang penting Gilang dulu. Alisa mengigit bibirnya saat menahan rasa sakit yang tiada Tara di perut bagian bawahnya.


''Sssttt .. perutku kenapahh hah hah.. kok sakit? Allahuakbar! By! bangun! Laila anta Subhana ka ini Kuntu minaddholimin...'' Alisa menenangkan pikirannya yang sedang panik.


''Huffttt... huffftt.. tenang Alisa. Tenang... huffftt...'' berulang kali menghela nafas dan menetralkan jantung yang sedang berpacu hebat, Alisa segera memapah Gilang.


Namun tenaganya tidak kuat. Ia bangkit dan mengambil minyak kayu putih yang berada tidak jauh dari pintu kamar mandi.


Setelah itu, ia mulai menggosok minyak itu ke hidung, kepala dan tengkuk Gilang. Ia membuka baju kemeja Gilang yang berwarna biru laut.


Setelah nya ia buka celana bahan yang berwarna hitam. Gasper, serta kaos kaki Gilang.


Tersisa hanya CD saja. Setelah itu ia mengangkat kepala Gilang ke pangkuan nya. Kepala Gilang tepat di depan pusat intinya. Karena Alisa sengaja duduk dengan bersila.


Agar memudahkan dirinya untuk bisa menyadarkan Gilang. Hampir sepuluh menit Alisa menunggu, tapi Gilang tidak sadar juga.


Saat mereka masih di kamar mandi nan dingin. ''Apa segitu mual nya kamu hingga pulang menyusul ku kesini? Jika memang aku sangat berharga bagimu, kenapa kemarin kamu melakukan hal itu dengan gadis lain... hiks.. bangun..'' Isak Alisa dengan bibir bergetar.


Ia berinisiatif untuk mengambil sabun mandi miliknya yang beraroma bunga mawar, dengan segera ia oleskan di tangan nya. Setelah itu ia dekat kan di hidung Gilang.


Alisa tersenyum namun air mata itu menetes di pipinya hingga jatuh menimpa pipi Gilang.


Klep, klep.


Mata elang itu terbuka lebar. Pandangan mereka berdua bertemu. Alisa terisak melihat Gilang yang begitu lemah keadaan nya.


Sedangkan Gilang tersenyum haru. Ternyata sang istri masih ingat dengan nya. ''Sayang ku... hiks.. kenapa kamu pergi, hem? Kamu pergi ninggalin aku tanpa pamit! hiks .. tega kamu sayang! Tega kamu!'' kata Gilang dengan air mata beruraian.


Dengan segera ia bangkit dan membuka kaki Alisa dengan lebar. Ia masuk kesana dan berbaring dengan memeluk perut Alisa yang masih terasa kram.


Gilang terisak disana. Ia menciumi perut Alisa berulang kali. Ia sedang memikirkan perkataan tuan Hamid. Jika mungkin saat ini istrinya sedang mengandung anak mereka.


Alisa pun sama. Ia pun ikut terisak melihat tubuh Gilang berguncang seperti itu. Dan anehnya, perutnya yang tak terasa kram kini sudah mereda.


Gilang semakin nyaman saat memeluk dan mencium perut Alisa. Dirasa puas, Gilang mengurai pelukan nya dari tubuh Alisa dan duduk tegak menghadap Alisa yang juga sedang menghadap padanya.


Gilang mengusap air mata yang mengalir di pipi chubby Alisa. Gilang tersenyum walau mata sembab karena menangis.


Alisa semakin tersedu saat Gilang mengusap ubun-ubun nya. Dengan segera Alisa menubruk dada bidang yang sudah tidak memakai baju itu.


''Hiks.. jangan tinggalkan aku lagi.. aku akan mati tanpa mu Lis..'' Isak Gilang sambil memeluk tubuh Alisa.

__ADS_1


''Aku tidak melakukan hal itu dengan nya. Kamu salah paham sayang.. kamu salah paham.. hiks.. jangan pergi lagi..'' isaknya lagi.


Alisa semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh hangat itu. Ia semakin nyaman saat berada di pelukan Gilang. Begitu pun sebaliknya.


Dirasa cukup, Gilang mengurai pelukan nya dari Alisa. Ia menatap sang istri yang masih sesegukan menatap nya.


Cup!


Cup!


Cup!


Cup!


Gilang mengecup keningnya, kedua matanya, terakhir di bibir tipis sang istrinya. Ia memagut dan melumaat benda lunak yang membuat candu setiap harinya.


Rasa manis bercampur asin akibat air mata Alisa yang terus mengalir, membuat Gilang melepaskan pagutan nya.


Ia menatap Alisa dengan lembut. ''Ayo kita ke kamar, disini dingin. Mana aku nggak pakai baju lagi. Nanti aku jelaskan, ya?''


Alisa tidak menjawab, namun ia berdiri perlahan karena perut bagian bawahnya masih sesekali terasa kram.


''Sssssttt...'' desis Alisa sambil berjalan keluar dari kamar mandi.


Gilang terkejut. ''Kamu kenapa? Apanya yang sakit? hem?'' tanya Gilang begitu khawatir.


Genggaman nya dipegang Alisa begitu kuat. ''Ayo, duduk dulu. Kenapa?'' tanya Gilang lagi.


Alisa menunduk dan mengusap lembut perutnya. Gilang tertegun melihat itu. ''Kenapa? Apa ada masalah dengan perutmu? Kita ke dokter! Ayo!'' ajaknya.


Dengan segera Gilang bangkit dari berlutut nya dan mengambil baju di dalam lemari itu. Namun kalau Gilang berhenti saat Alisa mencekal nya.


Gilang berbalik. ''Ada apa? Aku mau pakai baju, sebentar!'' katanya. Ia berbalik lagi namun, Alisa tetap menahannya.


Akhir nya Gilang pasrah. ''Kamu sakit loh.. kiat ke rumah sakit ya?'' pintanya dengan sangat lembut Anda Alisa.


Mata Alisa mengembun. Ia menggeleng. Gilang mendekatinya dan duduk disebelah Alisa. Saat ini mereka sudah duduk di pinggir ranjang.


Alisa menunduk. Ia menggigit bibir bawahnya. Malu ingin mengatakan keinginan nya.


Gilang terus saja memperhatikan sikap Alisa. ''Jangan di gigit bibir nya. Nanti luka. Gigit aku aja ya? Sakit banget ya?'' tanya Gilang lagi.


Alisa menggeleng lagi. Ia tetap menunduk. ''Ayo tidur kalau begitu. Tubuhku masih lemas. Ayo.'' Alisa tetap diam.


Sesuatu di dalam dirinya memintanya untuk di tuntaskan. ''Sayang?''


''A-aku menginginkan mu..''


''Hah?''


💕💕💕💕💕💕

__ADS_1


🤣🤣🤣 Ha .. ha.. Pimgin apa hayoo..


Mami pingin apa sih? Barangkali Mak othor bisa jadi apa msh kamu? 🤔🤔😅😅


__ADS_2