Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Jangan pergi sayang


__ADS_3

Ummi Hani yang melihat Alisa melangkah masuk tergesa menggeleng kan kepalanya. Dari kejauhan ia melihat, Abi Hendra dan juga Raga sedang berjalan ke arah mereka dengan tergesa.


''By!''


''Ummi! kamu harus pulang bersama Ira dan Raga, Annisa mengamuk dirumah. Ayo sekarang. Biar Abi yang disini!'' ucap Abi Hendra dengan nafas terengah-engah.


''Astaghfirullah! lupa ummi, By! ya sudah, sebentar!''


''Kak! ayo kita pulang! biarkan Mak mu disini. Kan ada Abi nanti yang menemani. Ayo! Annisa ngamuk! Kiara udah menangis dirumah karena semakin susah untuk di diamkan!'' ucap ummi Hani, membuat Ira mengangguk cepat.


Tanpa berpamitan pada Alisa, mereka bertiga berlarian di koridor rumah sakit. Abi Hendra mendatangi Pak Kosim dan duduk di sebelah nya.


Mereka berdua saling berdiaman dengan pikiran melalang buana entah kemana. Memikirkan apa dan bagaimana sebaiknya penyelesaian untuk masalah Alisa ini.


Sedangkan didalam ruangan, Alisa mematung mendengar suara Gilang yang terus menerus memanggilnya sedari tadi.


Sesak Alisa melihat sang pujaan hati tergeletak tak berdaya dengan selang infus menancap di tangan nya.


Belum lagi selang oksigen yang terpasang ditubuh pujaan hatinya itu. Alisa menatap nanar pada bangkar di sebelah nya.


Di mana Lana juga sedang tergeletak tak berdaya dengan perban memenuhi seluruh tubuhnya.


Alisa semakin sesak dikala melihat bahwa Gilang sama sekali tidak melepaskan tangannya dari tangan Lana.


Alisa mendekati dua bangkar yang berdekatan itu. Alisa masuk di kedua sisi jagoan nya yang sedang tergeletak tak berdaya.


Alisa semakin sesak saat melihat ada buliran bening yang mengalir sudut mata Gilang dan sudut mata Lana.


Alisa menahan tangisnya dengan bibir bergetar ia berusaha untuk berbicara kepada dua orang yang begitu ia sayangi saat ini.


''Papi...'' ia memegang tangan Gilang yang masih menyatu dengan Lana.


''Abang...'' Alisa juga menyentuh tangan Lana dengan tangan gemetar.


Alisa membawa tangan dingin yang saling berpegangan itu ke pipinya. Ia mencium kedua tangan itu dengan air mata yang mengalir.


''Pi... bangun... Abang... bangun.. Mak udah ada disini.. ayo bangun.. apakah kalian berdua nggak sayang sama Mak lagi, hem? hiks.. bangun Nak.. bangun Pi.. hiks..'' Alisa terisak saat merasakan kedua tangan itu bergetar saat berada di genggaman nya.


Dengan kedua mata mereka mengeluarkan cairan bening. Melihat itu Alisa mengusapnya dengan sayang.


Cup.


Kecupan singkat di dahi Gilang.


Cup.

__ADS_1


Kecupan singkat di dahi Lana.


Lagi, buliran bening itu mengalir tanpa dipinta. Alisa terus saja menangis. Begitu juga dengan kedua jagoan nya itu.


''Bangun... hiks.. kalian tega ya ninggalin Mak sendiri?? Apakah hanya segini saja rasa sayang kalian kepada Mak?? hem? hiks.. Kamu juga Pi! katanya mau lanjutin sekolah kamu ke Amerika? Apakah sekarang nggak jadi?? Lalu gimana kita nanti menikah, hiks.. Ayo bangun! Abang juga? katanya mau ngasi sesuatu buat Mak? Mana? Abang mau ngasi apa buat Mak?? Apakah ini yang Abang maksud dengan hadiah?! Hadiah untuk membuat Mak menangis?! Hadiah yang sengaja kalian rencanakan untuk membuat Mak terluka?? Bangun! ini perintah! hiks..'' seru Alisa sembari terus saja terisak.


Gilang masih saja diam, begitu juga dengan Lana. Mereka berdua masih seperti patung.


''Kenapa kalian tega nyakitin Mak kayak gini sih?! Sakit tau! diginiin sama kalian berdua! Jika memang tujuan kalian berdua hanya untuk membuat Mak menangis, selamat! kalian berdua berhasil! hiks.. Apa lagi Sekarang?? Hadiah apa lagi yang akan kalian berikan sama Mak? hem? Jawab!'' sentak Alisa dengan sedikit meninggikan suaranya.


Alisa menangis lagi saat melihat dua jagoan nya itu masih tidak menyahuti nya.


''Kalian tega! Kalian tega ninggalin Mak sama kakak, sama adek! Kalian berdua tega ninggalin kami bertiga! Mak harus apa?? Kalain tau, jika kalian pergi.. Mak akan dengan siapa?? Jangan tinggalin Mak.. bangun.. aku membutuhkan kalian berdua.. bangun.. hiks.. aku tanpa kalian seperti kayu tanpa daun.. Apa gunanya aku hidup, jika pelindungku sudah tidak ada?? Bangun hiks.. hiks.. banguuuunnnn... haaaaa... aaaaa... baaanguuunnn....'' jerit Alisa.


Begitu sesak dadanya saat kedua orang yang begitu ia sayangi sekarang tak menjawab ucapannya sama sekali.


Tak disangka, genggaman dua tangan itu semakin bergetar. Dua tangan itu semakin kuat bertaut.


Alisa yang masih menangis tersentak saat merasakan tangan nya sudah berbalik di genggam oleh kedua orang tidur lelap itu.


Melihat itu seutas senyum terbit dari bibirnya. ''Bangun! kalian berdua harus bangun! Bangun!!! atau???''


Kedua tangan itu semakin kuat menggenggam tangan Alisa. Alisa tersenyum lebar. ''Mak akan pergi selamanya dari kalian berdua!!'' serunya dengan nada dingin.


Deg, deg, deg.


Saking kuatnya, Alisa sampai meringis. Tapi Alisa senang, jika pancingan nya untuk mereka berdua berhasil.


''Ja-ngan.. per-gi.. Mak..''


''Ja-ngan.. per-gi.. sa-yang..''


Ucapan mereka berdua bagai angin segar yang berhembus ke tubuh Alisa. Begitu menyejukkan hatinya.


Buliran bening semakin banyak mengalir di pipi tirus nya. Alisa tertawa. Ia tertawa jika usahanya berhasil untuk membawa mereka kembali.


Padahal mereka berdua telah di nyatakan koma oleh dokter. Karena benturan yang begitu keras, membuat keduanya tidak sadarkan diri.


Gilang terluka di bagian tulang belakang karena terbentur trotoar, sedangkan Lana dada serta kepala mengalami luka parah.


Maka dari itu, jika mereka bangkit dengan cepat berarti itu adalah sebuah keajaiban untuk mereka berdua.


Alisa tertawa dalam tangis saat kedua jagoannya sudah sadar. Ia mengecup tangan yang saling bertautan itu berulang kali.


Setelah nya ia mengecup seluruh wajah putra kesayangannya. Membuat mata Lana bergerak-gerak.

__ADS_1


Kemudian beralih pada Gilang. Pertama ia kecupi dahi Gilang lumayan lama sambil menyalurkan kasih sayang nya.


Turun ke kedua mata Gilang yang terpejam. Pipi kiri dan kanan tak luput dari kecupan Gilang.


Terakhir... bibir.


Cup.


Gilang membuka mata nya. Wajah Alisa tepat di atas wajah Gilang.


Cup.


Lagi, Alisa mengecupi... hidung Gilang! Membuat pemuda itu terkekeh dibalik penutup hidung saluran pernapasan yang terhubung ke tabung oksigen.


Alisa membulat kan matanya. ''Papiiiii!!!!'' pekik Alisa.


Membuat pemuda itu terkekeh lagi. Sedangkan seseorang diluar sana, menatap nanar pada mereka berdua. Rasa sesak itu menyeruak ke dadanya.


Tapi ia tak bisa mengatakan apapun. Karena dia dan Gilang sudah tidak seperti dulu lagi. Hancur sudah harapannya saat melihat Gilang lebih senang dengan wanita lain dibanding dirinya.


Tanpa dirasa buliran bening itu mengalir di pipi mulusnya. Karena tak tahan, gadis itu lebih memilih pergi.


Ia berlari ke taman belakang yang ada dibelakang rumah sakit itu. Sedangkan dua orang didalam sana, masih saja saling melempar godaan.


Terutama Gilang. Ia sangat suka melihat Alisa tertawa dan tersenyum seperti itu.


''Istriku...'' lirih Gilang lagi.


Membuat Alisa jengah dengan panggilan Gilang sedari tadi. Lana yang melihat hanya tersenyum saja.


Namun setelahnya, wajah itu berubah jadi datar kembali.


Alisa dan Gilang yang melihat Lana, keheranan. Ada apa pikir mereka.


''Mak.. kita keluar dari sini!!''


Deg.


Deg.


💕


Hehehe ketipu ya? bukan bibir yang dicium melainkan hidung!! 🤣🤣


Eh? Ada apa tuh sama bang Lana?? 🤔🤔

__ADS_1


TBC


__ADS_2