Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)

Pelabuhan Terakhirku (Kamu Bukan Pembawa Sial)
Menyentuhmu, candu bagiku


__ADS_3

Warning!!


21+ Yang dibawah umur harap menyingkir! Othor nggak tanggung jawab ya? 😁😁


Happy reading..


💗💗💗💗


Gilang terus saja memperhatikan sikap Alisa. ''Jangan di gigit bibir nya. Nanti luka. Gigit aku aja ya? Sakit banget ya?'' tanya Gilang lagi, tangan itu mengusap perut bagian bawahnya yang tertutup baju tidur.


Alisa menggeleng lagi. Ia tetap menunduk. Gilang mencoba membujuknya untuk tidur lagi.


Untuk sejenak rasa mual itu sudah berkurang. Karena harum tubuh Alisa yang membuat nya tenang.


''Ayo tidur kalau begitu. Tubuhku masih lemas. Ayo.'' Alisa tetap diam.


Sesuatu di dalam dirinya memintanya untuk di tuntaskan. Melihat Alisa yang diam sambil menunduk, Gilang memanggil nya lagi.


''Sayang?''


Alisa memejamkan kedua matanya. Sangat malu ingin mengatakan nya. Tapi sesuatu di dalam dirinya itu terus memberontak.


Meminta dirinya untuk segera dilepaskan. Sekuat tenaga menahan rasa malu. Sementara Gilang terus saja menatapnya.


''Sayang?'' lagi panggilan itu Gilang ulangi.


''A-aku menginginkan mu..'' bisik Alisa begitu lirih, tapi Gilang bisa mendengar nya.


''Hah?'' sahut Gilang karena terkejut. Gilang belum konek.


Selama ini yang lebih dulu sering meminta nya Gilang. Alisa Hanya siap menerima pemberiannya.


''Aku menginginkan mu, Papi...'' kata Alisa sambil menatap sayu pada Gilang.


Gilang terkejut tapi tersenyum. ''Tentu. Aku juga menginginkan mu. Cup!'' tanpa menunggu lama bibir mereka sudah bertaut.


Gilang merebahkan tubuh chubby itu ke pembaringan dan mulai mencumbui dirinya. Hangat hembusan nafas Gilang membuat Alisa bergerak dengan sendiri nya.


''Ughhh..'' lenguhan itu terdengar oleh Gilang. Ia tersenyum.


Gilang semakin semangat menyentuh setiap inci, setiap lekuk tubuh yang sangat ia rindukan.


Padahal baru kemarin mereka berpisah. Tapi itulah namanya kebutuhan. Kebutuhan dan cinta itu menyatu menjadi satu.


Tiba di bagian buah bulat sintal seperti melon, Gilang terdiam. Ia melihat dengan seksama buah melon itu.


''Kamu gemukan ya sayang?''


''Eum??''


''Melon kamu lebih besar ini. Sama kayak aku lihat Lima tahun yang lalu. Saat kamu menyusui adek. Apa ini sakit!'' tanya Gilang sambil terus memijat lembut buah melon itu.


Sang empu tidak bisa berbicara lagi. Hanya terdengar suara lenguhan saja yang keluar dari mulutnya.


Tidak mendapat jawaban dari sang empu, Gilang dengan segera mengecup dan menghisap seluruh isi melon yang enak itu.


Alisa tidak bisa berpikir lagi. Tubuhnya semakin bereaksi saat tangan Gilang menyentuh buah melon itu.


Ia sedang menyesap buah itu seperti seorang anak yang sedang kehausan. ''Uuuhhh.. ssshhhh...'' desisnya lagi.


Tidak sampai disitu, ia pun kembali menyesap putik merah jambu yang semakin membengkak akibat ulahnya.

__ADS_1


Bibir bekerja begitu juga dengan kedua tangannya. Ia memberikan tanda bintang di setiap buah melon itu.


Alisa mengerang nik mat. Gilang semakin terbakar gairah. Sehari tak menyentuhnya membuat kepala Gilang jadi cenat cenut.


Itulah yang Gilang rasakan tadi pagi. Tiba-tiba saja pusat tubuh nya bereaksi. Belalai gajah yang tertidur itu bangun tiba-tiba membuat Gilang panik.


Ingin disalurkan kepada siapa? Sedang sarangnya saja masih sangat jauh. Jika anak-anak tau, 'kan bisa malu. Belum lagi Andi dan tuan Hamid.


Mereka pasti tau. Dengan terpaksa Gilang memuntahkan isi perutnya. Ia dengan sengaja mengorek kerongkongan nya agar semua orang di dalam mobil itu tidak tau.


Butuh satu jam untuk Gilang bisa membuat belalai gajah yang sudah bangun itu tertidur kembali. Dirasa sudah mendingan, Gilang menangis memanggil Alisa.


Agar semua itu tidak ketahuan, ia rela membuat dirinya harus memuntahkan seluruh isi perutnya.


Makanya tadi, setibanya ia dirumah Papa Yoga, ia langsung ngacir ke kamar karena belalai gajahnya itu kumat lagi.


Dan kebetulan, Alisa sedang tidur dengan pose yang begitu seksi. Membuat sesuatu yang terbalut celana itu mendesak ingin keluar.


Ia mencumbui sang istri yang sedang terlelap, tapi semua itu harus gagal saat mual dan muntah itu tiba-tiba saja kambuh.


Ambyar sudah fantasi Gilang ingin menjamah sang istri yang sedang terlelap. Dan sekarang?


Ia sedang beraksi. Menyalurkan rasa ingin tadi pagi yang sempat tertunda karena sarangnya Tidak ada.


Saat ini Gilang masih bermain-main dengan bintang-bintang yang berkelipan di tubuh sang istri.


Tubuh itu sesekali menggeliat, sesekali melenguh. Alunan paduan suara yang begitu merdu terdengar di telinga Gilang.


Ia semakin gencar membuat sang empu melepaskan nya terlebih dahulu.


Ah..


Uh...


Melihat Gilang tersenyum, Alisa bangkit dan duduk. Dengan sekejab ia mendorong tubuh Gilang hingga terlentang.


Gilang terkejut. Namun, tersenyum saat Alisa ingin mengambil alih kemudi. ''Aku menginginkan mu. Biar aku yang bekerja. Setelah aku puas, kamu boleh mengambil alih kemudi. hem?'' ucap Alisa tepat di hadapan wajah Gilang.


Hembusan nafas Alisa semakin membuat hasrat Gilang terpancing. Ia memejamkan kedua matanya saat merasakan Alisa sedang mencumbui dirinya.


''Aku menginginkan mu, By!''


''Tentu. Seperti yang kamu inginkan sayang.. ah.. cup!'' dengan cepat Gilang mengecup putik merah jambu milk Alisa saat merasakan belalai gajahnya memasuki sarangnya. Yang sengaja di tekan oleh Alisa.


Selanjutnya terjadilah seperti apa yang mereka inginkan berdua. Saling berbagi keringat dan peluh bersama-sama.


Puas dengan Alisa yang merajai tubuhnya, kini sang empu jatuh terkulai di tubuh sang suami.


Gilang terkekeh. ''Kamu sangat pintar ya! Baru sebulan loh.. kamu sudah pintar membuat banyak gaya dalam bercinta, hem? Apakah dulu dengan bang Emil juga seperti ini?'' tanya Gilang dengan mengusap tubuh belakang Alisa yang polos.


Alisa mendongak kan kepalanya. ''Tidak. Hanya dengan mu aku berani membuat fantasi liar ku bermain. Kamu orang pertama, By!''


''Benarkah??''


''Ya, kamu yang selalu membuatku ingin mengulangi lagi dan lagi.'' jawab Alisa dengan wajah merona.


Gilang tertawa. Suara tawa itu hingga terdengar keluar. Ira dan Lana saling pandang, kemudian terkikik geli.


Setelah itu, mereka lari ngacir ke bawah dimana kedua adiknya sudah menunggu. Saling sikut satu sama lain membuat heboh rumah nenek Alina dan Kakek Yoga.


Sementara di dalam kamar yang sedang panas itu, Gilang sedang mengambil alih kemudi.

__ADS_1


Ia menghentak dan menghujam begitu lembut dan nikmat di tubuh sang istri. ''Menyentuhmu, candu bagiku. Uh.. nikmat nya... hah..'' racau Gilang.


Ah ..


Suara desahaan itu sahut menyahut di kamar mereka. Beruntung nya ke empat anak mereka sedang bermain di bawah.


Sedang asyik-asyiknya menghujam dan menyentak, Gilang tiba-tiba saja berhenti dan terdiam sesaat.


Alisa yang merasakan dirinya yang sedang di tumbuk berhenti, membuka matanya dan melihat Gilang.


Gilang menengadah keatas...


Brruuutt..


Brruuutt...


Brrutt


Brrutt..


Brrruuuuuttt. .


Begitu panjang suara sesuatu itu hingga membuat Alisa melongo melihat Gilang. Sedangkan Gilang ia bernafas lega.


''Ah.. leganya...'' kata Gilang.


''Hahahaahaha...'' Alisa tertawa terbahak bahak mendengar suara musik yang dihasilkan dari tubuh Gilang.


Dirinya yang tadi sedang menikmati rasa nikmat itu tiba-tiba mendengar suara itu mendadak tertawa terbahak.


Gilang tidak peduli. Belalai nya masih berdiri di dalam palung surga sang istri. Ia terus menghujam dan menyentak palung surga itu.


Sementara Alisa sudah tidak merasa kan lagi rasa nikmat yang sedang Gilang berikan pada tubuhnya.


Buhahahaha....


Suara tawa Alisa masih bergema di kamar itu. Gilang lupa menghidupkan peredam suara. Khusus kamar mereka Gilang sudah sediakan alat itu.


Takutnya kejadian mereka sedang bertukar keringat, bisa terdengar sampai keluar. Dan benar saja, Andi yang baru saja ingin mengetuk pintu itu tidak jadi memanggil Gilang.


Dari dalam sana terdengar suara lenguhan Gilang dan suara tertawa Alisa yang begitu seksi.


Andi mengusap kedua telinga nya. Setelah itu ia berlalu pergi dengan wajah merah merona. Ia mengusap wajahnya berulang kali karena suara itu masih terngiang di telinga nya.


Sedangkan Alisa, ia tidak bisa konsen lagi. Hatinya begitu geli saat Gilang buang angin di saat mereka bercinta.


Gilang pun ikut terkekeh, karena Alisa yang terus saja tertawa-tawa di sela-sela aktivitas mereka berdua.


Rasa nikmat dari palung surga milk Alisa masih dapat Gilang rasakan. Tapi tidak dengan Alisa, sedari suara heboh itu keluar dari tubuh Gilang, Alisa sudah tidak bisa menahan tawanya.


Hingga satu jam kemudian, Gilang ambruk menimpa tubuh Alisa yang masih saja tertawa-tawa karena rasa geli yang menggelitik hatinya.


''Hahaha.. kamu kentut By? Hahaha..''


Gilang terkekeh. ''Hehehe.. maaf sayang. Kebelet banget itu gas mau keluar setelah kayu lautku masuk kedalam rumahnya. Ya... aku keluarin lah! Kalau ku tahan, pastilah menyembur dengan kotoran nanti. Mau kamu lagi enak-enak bercinta malah kecipratan tai??''


''Buahahah a hahahaha...'' Alisa tidak bisa menahan tawanya lagi


Ia terus tertawa hingga Gilang pun ikut tertawa. Rasa kesal dan marah yang tadinya masih mendominasi hatinya, kini lenyap entah kemana.


Hatinya sedang geli mengingat tingkah Gilang tadi saat bercinta dengan nya malah mengeluarkan gas beracun yang berakhir dengan perut Alisa di kocok habis habisan karena terus saja tertawa.

__ADS_1


💕💕💕💕💕


🤣🤣🤣🤣🤣 Sakit perut othor tertawa 🤣🤣🤣


__ADS_2